TUBERKULOSIS PARU
Laporan Diskusi
Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Penyakit Tuberkulosis Paru
Kelompok 2
- Qonata Putri Wulandari I1B020018
- Refinda Dian Saputri I1B020020
- Erika Amelia I1B020021
- Anis Pritha Arni Indrayani I1B020024
- Silfi Emilia I1B020025
Program Sarjana Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan
Universitas Jenderal Soedirman
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit tuberkulosis paru menjadi salah satu masalah kesehatan bagi masyarakat khususnya orang dewasa. Tuberkulosis (TB) disebabkan oleh bakteri yang disebut mycobacterium tuberculosis yang paling sering menyerang paru-paru. Sekitar seperempat dari populasi dunia memiliki infeksi tuberkulosis, yang berarti orang telah terinfeksi oleh bakteri TB tetapi tidak (belum) sakit dengan penyakit tersebut dan tidak dapat menularkannya (WHO, 2020).
Tiga puluh negara dengan beban tuberkulosis tertinggi menyumbang 87% kasus tuberkulosis baru pada tahun 2019. Delapan negara menyumbang dua pertiga dari total, dengan India memimpin, diikuti Indonesia, China, Filipina, Pakistan, Nigeria, Bangladesh, dan Afrika Selatan (WHO,2020). Berdasarkan data dari WHO, di Indonesia kasus TB mencapai angka 1.000.000 kasus dan jumlah kematian akibat penyakit tuberkulosis diperkirakan mencapai 110.000 kasus per tahun (Promkes Kemenkes RI, 2019).
Penularan bakteri mycobacterium tuberculosis melalui droplet yang tersebar di udara. Pasien yang memiliki penyakit TB paru mengalami batuk atau bersin dapat menularkan ke orang lain. Bakteri dapat bertahan di udara selama beberapa jam lamanya, sehingga cepat atau lambat droplet yang mengandung bakteri mycobacterium tuberkulosis akan terhirup orang lain. Jika sudah terhirup oleh orang lain maka bakteri akan mengendap di paru-paru dan berkembangbiak, sehingga orang tersebut terinfeksi bakteri TB.
B. Tujuan
1. Mengetahui penyakit tuberkulosis paru
2. Mengatahui asuhan keperawatan pada pasien tuberkulosis paru
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Overview Gangguan Sistem Penyakit
a. Definisi
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberkulosis. Sumber penularan yaitu pasien TB BTA (bakteri tahan asam) positif melalui percik renik dahak yang dikeluarkannya. TB dengan BTA negatif juga masih memiliki kemungkinan menularkan penyakit TB meskipun dengan tingkat penularan yang kecil (Kemenkes RI, 2015).
b. Etiologi
Tuberculosis disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Kuman ini dapat menyerang semua bagian tubuh manusia, dan yang paling sering terkena adalah organ paru (Abd. Wahid, 2013). Proses terjadinya infeksi pada penyakit tuberculosis biasanya secara inhalasi dan sebagian besar melalui inhalasi basil berupa droplet. Droplet ini mengandung nukleus organisme atau nukleus kering yang dipindahkan melalui aliran udara. Hal ini dapat terjadi ketika seseorang berbicara, tertawa, atau menyanyi dapat mengeluarkan droplet yang terinfeksi ke udara. Tidak setiap orang akan terkena Tb, karena organisme nukleus harus sampai ke bagian jalan napas yang berlebih untuk dapat tersangkut di dalam alveoli tempat nukleus tersebut berkembang biak (Hurst, 2015).
c. Patofisiologi
Infeksi TB terjadi melalui udara, yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman basil tuberkel yang berasal dari orang-orang yang terinfeksi. Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya di inhalasi sebagai unit yang terdiri dari satu sampai tiga basil. Gumpalan basil yang lebih besar cenderung tertahan di saluran hidung dan cabang besar bronkus dan tidak menyebabkan penyakit. Setelah berada dalam ruangan alveolus, biasanya dibagian bawah kubus atau paru atau di bagian atas lobus bawah, basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan. Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat tersebut dan memfagosit bakteri namun tidak membunuh organisme tersebut. Sesudah hari-hari pertama, leukosit diganti oleh makrofag. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi, dan timbulkan pneumonia akut. Pneumonia selular ini dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga tidak ada sisa yang tertinggal, atau proses dapat berjalan terus difagosit atau berkembang biak dalam di dalam sel. Basil juga menyebar melalui getah bening menuju ke kelenjar getah bening regional. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloid, yang dikelilingi oleh limfosit. Reaksi ini biasanya membutuhkan waktu 10 sampai 20 hari. Nekrosis bagian sentral lesi memberikan gambaran yang relatif padat dan seperti keju disebut nekrosis kaseosa. Daerah yang mengalami nekrosis kaseosa dan jaringan granulasi disekitarnya yang terdiri dari sel epiteloid dan fibroblas menimbulkan respons berbeda. Jaringan granulasi menjadi lebih fibroblas membentuk suatu kapsul yang mengelilingi tuberkel.
Lesi primer paru disebut Fokus Ghon dan gabungan terserangnya kelenjar getah bening regional dan lesi primer disebut Kompleks Ghon. Respon lain yang dapat terjadi pada daerah nekrosis adalah pencairan, yaitu bahan cairan lepas ke dalam bronkus yang berhubungan dan menimbulkan kavitas. Bahan tuberkel yang dilepaskan dari dinding kavitas akan masuk ke dalam percabangan trakeobronkial. Proses ini dapat berulang kembali dibagian lain dari paru, atau basil dapat terbawa sampai ke laring, telinga tengah atau usus. Walaupun tanpa pengobatan, kavitas yang kecil dapat menutup dan meninggalkan jaringan parut fibrosis. Bila peradangan merada, lumen bronkus dapat menyempit dan tertutup oleh jaringan parut yang terdapat dekat dengan taut bronkus dan rongga. Bahan perkijuan dapat mengental dan tidak dapat kavitas penu dengan bahan perkijuan, dan lesi mirip dengan lesi berkapsul yang tidak terlepas. Keadaan ini dapat tidak menimbulkan gejala demam waktu lama atau membentuk lagi hubungan dengan bronkus dan menjadi tempat peradangan aktif. Penyakit dapat menyebar melalui getah bening atau pembuluh darah. Organisme yang lolos dari kelenjar getah bening akan mencapai aliran darah dalam jumlah kecil yang kadang-kadang dapat menimbulkan lesi pada berbagai organ lain. Jenis penyebaran ini dikenal sebagai penyebaran limfohematogen, yang biasanya sembuh sendiri. Penyebaran hematogen merupakan suatu fenomena akut yang biasanya menyebabkan TB miler, ini terjadi apabila fokus nekrotik merusak pembuluh darah sehingga banyak organisme masuk kedalam sistem vaskular dan tersebar ke organ – organ tubuh. (Sinaga dalam Sylvia, 2015)
d. Gambaran Klinis
1. Nafsu makan menurun
2. Berat badan sulit naik, menetap, dan malah mengalami penurunan tanpa sebab yang jelas (kemungkinan masalah gizi sebagai penyebab harus disingkirkan dahulu dengan tatalaksana yang adekuat selama 1 bulan.
3. Demam subfebris yang berkepanjangan, terutama jika berlanjut hingga 2 minggu (penyebab demam kronis yang lain seperti infeksi saluran kemih, tifoid, atau malaria perlu disingkirkan)
4. Pembesaran kelenjar superfisial di daerah leher, aksila, inguinal, atau tempat lain.
5. Keluhan respiratorik berupa batuk kronis lebih dari 3 minggu aau nyeri dada
6. Keluhan gastrointestinal, seperti diare persisten yang tidak sembuh dengan pengobatan baku.
e. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Keperawatan:
1. Meningkatkan bersihan jalan napas
- Dorong peningkatan asupan cairan
- Ajarkan tentang posisi terbaik untuk memfasilitasi drainase
2. Dukung kepatuhan terhadap regimen terapi
- Jelaskan bahwa TB adalah penyakit menular dan bahwa meminum obat adalah cara paling efektif dalam mencegah transmisi
- Jelaskan tentang medikasi, jadwal dan efek samping
- Instruksikan tentang risiko resistensi obat jika regimen medikasi tidak dijalankan dengan ketat dan berkelanjutan
- Pantau tanda tanda vital dengan seksama san observasi lonjakan suhu atau perubahan status klinis pasien
B. Pembahasan
a. Kasus
Seorang ibu umur 52 tahun ruang rawat dari IGD dengan diagnosa medis TB Paru dada pneumothorax partial di kedua lapang paru. Pada saat pengkajian pasien mengatakan sesak nafas dan batuk berdahak. Pengkajian fisik didapatkan suara bunyi ronchi di ½lapang paru bawah. Frekuensi nafas 26 kali/menit. Klien tampak susah untuk mengeluarkan dahak saat batuk. Klien mengatakan bahwa dirinya tinggal dengan orang yang mengkonsumsi rokok 2 pak/hari selama 25 tahun. Klien juga mengatakan tidak nafsu makan, mual, muntah. Klien kehilangan tonus otot, BB turun 11 kg, konjungtiva anemis. P 30 x/menit, TD 90/60 mmHg, N 120 x/menit, S 37°C.
b. Pengkajian
1. Identitas klien
Nama : Ny.E
Umur : 52 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Garegeh
Pekerjaan : IRT
2. Riwayat Kesehatan
a) Riwayat Kesehatan Sekarang
Keluhan Utama: pada saat pengkajian pasien mengatakan sesak nafas dan batuk berdahak. Pengkajian fisik didapatkan suara bunyi ronchi di ½ lapang paru bawah. Frekuensi nafas 26 kali/menit. Klien tampak susah untuk mengeluarkan dahak saat batuk. Klien juga mengatakan tidak nafsu makan, mual, muntah. Klien kehilangan tonus otot, BB turun 11 kg, konjungtiva anemis. P 30 x/menit, TD 90/60 mmHg, N 120 x/menit, S 37°C.
b) Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Klien mengatakan bahwa dirinya tinggal dengan orang yang mengkonsumsi rokok 2 pak/hari selama 25 tahun.
c) Riwayat Kesehatan Keluarga
Tidak ditemukan riwayat kesehatan keluarga
c. Analisa Data
- Klien tampak susah untuk mengeluarkan dahak saat batuk
- Bunyi ronkhi di ½ lapang paru bawah
- Klien kehilangan tonus otot
- BB menurun 11 kg
- Konjungtiva terlihat anemis
- P 30 x/menit, TD 90/60 mmHg, N 120 x/menit, S 37°C
- Klien mengatakan sesak napas
- Klien mengatakan batuk berdahak
- Klien mengatakan tinggal dengan orang yang mengkonsumsi rokok 2 pak/hari selama 25 tahun
- Klien mengatakan tidak nafsu makan, mual dan muntah
No | Data | Masalah Keperawatan |
1 | Data Subjektif - Klien mengatakan sesak napas dan batuk berdahak - Klien mengatakan saat bernapas agak dalam Data Ojektif - Klien tampak susah mengeluarkan dahak saat batuk - Bunyi ronkhi di ½ lapang paru bawah Data Tambahan - P 30 x/menit, TD 90/60 mmHg, N 120 x/menit, S 37°C | Ketidakefektifan bersihan jalan napas |
2 | Data Subjektif - Klien mengatakan tidak nafsu makan - Klien mengatakan mual dan muntah Data Objektif - BB turun 11 kg - Konjungtiva klien terlihat anemis - Klien kehilangan tonus otot | Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan |
3 | Data Subjektif - Klien mengatakan lemas - Klien mengatakan tidak nafsu makan, mual dan muntah Data Objektif - Konjungtiva klien terlihat anemis - Klien kehilangan tonus otot | Ketidakefektifian perfusi jaringan (perifer) |
4 | Data Subjektif - Klien mengatakan masih sering batuk-batuk dan susah mengeluarkan sputum - Klien mengatakan tinggal dengan orang yang mengkonsumsi rokok 2 pak/hari selama 25 tahun Data Objektif - Klien terlihat sering batuk-batuk | Resiko penyebaran infeksi |
d. Diagosa Keperawatan
1. Ketdakefektifan bersihan jalan napas b.d pus yang berlebihan.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia, mual, muntah dan batuk produktif.
3. Ketidakefektifan perfusi jaringan (perifer) b.d penurunan konsentrasi Hb dalam darah.
4. Resiko penyebaran infeksi b.d kerusakan jaringan atau terjadinya infeksi lanjutan.
e. Tindakan keeprawatan yang akan dilakukan
1. Pemeriksaan fisik lengkap
2. Pemasangan suction
3. Berikan oksigen bisa pernapasan kurang cukup
4. Pantau intake dan output
5. Jaga privasi klien, agar bakteri tidak menular
6. Kolaborasi dengan dokter tuberkolustatik, untuk kemajuan pengobatan secara bakteriologis, radiologic dan klinis.
Rencana Asuhan Keperawatan pada Pasien Dengan Tuberkulosis Paru-Paru
No | Diagnosa Keperawatan | (Tujuan/Kriteria Evaluasi) Hasil NOC | Intervensi NIC | Aktivitas Keperawatan |
1. | Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d pus yang berlebihan
Data Subjektif - Klien mengatakan sesak napas dan batuk berdahak - Klien mengatakan saat bernapas sangat dalam Data Ojektif - Klien tampak susah mengeluarkan dahak saat batuk - Bunyi ronkhi di ½ lapang paru bawah
| Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, klien akan: - Menunjukkan Status Pernapasan: Kepatenan Jalan Napas, dibuktikan dengan indicator gangguan (1: Sangat Berat, 2: Berat, 3: Sedang, 4: Ringan, 5: Tidak Ada Gangguan) Kriteria Hasil: 1. Kemudahan bernapas 2. Pergerakan sputum keluar dari jalan napas 3. Pergerakan sumbatan keluar dari jalan napas 4. Batuk efektif 5. Mengeluarkan secret secara secara efektif 6. Mempunyai jalan napas yang paten
- Menunjukkan Status Pernapasan: Ventilasi, dibuktikan dengan indicator gangguan (1: Sangat Berat, 2: Berat, 3: Sedang, 4: Ringan, 5: Tidak Ada Gangguan) Kriteria Hasil: 1. Pergerakan udara masuk dan keluar paru lancar 2. Pada pemeriksaan auskultasi, memiliki suara napas yang jernih 3. Mempunyai irama dan frekuensi pernapasan dalam rentang normal 4. Mempunyai fungsi paru dalam batas normal
| 1. Manajemen Jalan napas : memfasilitasi kepatenan jalan napas 2. Pengisapan jalan napas : mengeluarkan sekret dari jalan napas dengan memasukkan sebuah katetetr pengisap kedalam jalan napas oral dan/atau trakea 3. Pengaturan posisi : mengubah posisi pasien atau bagian tubuh pasien secara sengaja untuk memfasilitasi kesejahteraan fisiologi dan psikologi 4. Pemantauan pernapasan : mengumpulkan dan mengananlisis data pasien untuk memastikan kepatenan jalan napas dan pertukaran gas yang adekuat 5. Bantuan ventilasi : meningkatkan pola napas spontan yang optimal, yang memaksimalkan pertukaran oksigen dan karbon dioksida dalam paru. | Pengkajian 1. Kaji dan dokumentasikan hal-hal berikut ini : - Kefektifan pemberian oksigen dan terapi lain - Kefektifan obat resep - Kecendrungan pada gas darah arteri, jika tersedia - Frekuensi, kedalaman, dan upaya pernapasan - Faktor yang berhubungan seperti nyeri, batuk tidak efektif, mukus kental, dan keletihan 2. Auskultasi bagian dada anterior dan posterior untuk mengetahui penurunan atau ketiadaan ventilasi dan adanya suara napas tambahan 3. Pengisapan jalan napas (NIC) : - Tentukan kebutuhan pengisapan oral atau trakea - Pantau status oksigen (tingkat SaO² dan SvO²) dan status hematodinamik (tingkat MAP (mean anterial preasure) dan irama jantung) segera sebelum, selama dan setelah pengisapan 4. Catat jenis dan jumlah sekret yang dikumpulkan |
2 | Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia, mual, muntah dan batuk produktif Data Subjektif - Klien mengatakan tidak nafsu makan - Klien mengatakan mual dan muntah Data Objektif - BB ↓ 11 kg - Konjungtiva klien terlihat anemis - Klien kehilangan tonus otot
| Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, klien akan: - Menunjukkan Status gizi : asupan makan dan cairan, dibuktikan dengan indicator gangguan (tidak adekuat, sedikit adekuat, cukup adekuat, adekuat , sangat adekuat) Kriteria Hasil: 1. Menjelaskan komponen diet bergizi adekuat 2. Melaporkan tigkat energi yang adekuat
- Menunjukkan berat badan : massa tubuh dibuktikan dengan indicator gangguan (1: Sangat Berat, 2: Berat, 3: Sedang, 4: Ringan, 5: Tidak Ada Gangguan) Kriteria Hasil: 1. Mempertahankan berat badan 2. Mempertahankan massa tubuh dan berat badan dalam batas normal
| 1. Manajemen gangguan makan : mencegah dan menangani pembatan diet yang sangat ketat dan aktivitas berlebihan atau memasukkan makanan dan minuman dalam jumlah banyak kemudian berusaha mengeluarkan semuanya 2. Manajemen elektrolit : meningkatkan keseimbangan elektrolit dan pencegahan komplikasi akibat dari kadar elektrolit serum yang tidak normal atau diluar harapan 3. Pementauan elektrolit : mengumpulkan dan mengananlisis data pasien untuk mengatur keseimbangan elektrolit 4. Pemantauan cairan : pengumpulan dan analisis data pasien untuk mengatur keseimbangan cairan 5. Manajemen cairan dan elektrolit : mengatur dan mencegah komplikasi akibat perubahan kadar cairan dan elektrolit 6. Manajemen nutrisi : membantu atau menyediakan asupan makanan dan cairan diet seimbang 7. Terapi nutrisi : pemberian makanan dan cairan untuk mendukung proses metabolik pasien yang malnutrisi atau beresiko tinggi terhadap malnutrisi 8. Pemantauan nutrisi : mengumpulkan dan menganalisis data pasien untuk mencegah dan meminimalkan kurang gizi 9. Bantuan perawatan – diri : makan : membantu individu untuk makan 10. Bantuan menaikkan berat badan : memfasilitasi pencapaian kenaikan berar badan
| Pengkajian 1. Tentukan motivasi pasien untuk mengubah kebiasaan makan 2. Pantau nilai laboratorium, khususnya transferin, albumin dan elektrolit 3. Manajemen nutrisi (NIC) : - Ketahui makanan kesukaan pasien - Tentukan kemampuan pasien untuk mengetahui kebutuhan nutrisi - Pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan - Timbang pasein pada interval yang tepat |
3 | Ketidakefektifan perfusi jaringan (perifer) b.d penurunan konsentrasi Hb dalam darah
Data Subjektif - Klien mengatakan lemas - Klien mengatakan tidak nafsu makan, mual dan muntah Data Objektif - Konjungtiva klien terlihat anemis - Klien kehilangan tonus otot
| Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, klien akan: - Menunjukkan integritas jaringan : kulit dan membran mukosa yang dibuktikan dengan indicator gangguan (1: gangguan eksterm, 2 ; berat, 3 : sedang, 4 : ringan, 5 : tidak ada gangguan ) : Kriteria Hasil : 1. Suhu, sensasi, elastisitas, hidrasi, keutuhan dan ketebalan kulit
- Menunjukkan keseimbangan cairan yang dibuktikan dengan indicator gangguan (1: Sangat Berat, 2: Berat, 3: Sedang, 4: Ringan, 5: Tidak Ada Gangguan) Kriteria Hasil: 1. Tekanan darah 2. Nadi perifer 3. Turgor kulit | 1. Perawatan sirkulasi : insufisiensi arteri : meningkatkan sirkulasi arteri 2. Perawatan sirkulasi : insufisiensi vena : meningkatkan sirkulasi vena 3. Manajemen cairan/elektrolit : mengatur dan mencegah komplikasi akibat perubahan kadar cairan atau elektrolit 4. Manajemen cairan : meningkatkan keseimbangan cairan cairan dan mencegah komplikasi akibat kadar cairan abnormal atau tidak diinginkan 5. Manajemen sensasi perifer : mencegah atau meminimalkan cidera atau ketidaknyamanan pada pasien yang mengalami per bahan sensasi 6. Surveilans kulit : mengumpulkan dan menganalisis data pasien untuk mempertahankan integritas kulit dan membran mukosa
| Pengkajian 1. Kaji ulkus statis dan gejala selulitis (yaitu, nyeri, kemerahan dan pembengkakan pada ektermitas) 2. Perawatan sirkulasi (insufisiensi arteri dan vena) (NIC) : - Lakukan pengkajian komprehensif terhadap sirkulasi perifer (misalnya, kaji nadi perifer, edema, pengisian ulang kapiler, warna dan suhu [ekstermitas]) - Pantau tingkat ketidaknyamanan atau nyeri saat melakukan latihan fisik, pada malam hari, atau saat instirahat [arterial] - Pantau status cairan, termasuk asupan dan haluaran 3. Manajemen sesasi perifer (NIC) : 4. Pantau pembedahan ketajaman atau ketumpulan atau panas atau atau dingin (pada perifer) |
4 | Resiko penyebaran infeksi b.d kerusakan jaringan atau terjadinya infeksi lanjutan
Data Subjektif - Klien mengatakan masih sering batuk-batuk dan susah mengeluarkan sputum - Klien mengatakan tinggal dengan orang yang mengkonsumsi rokok 2 pak/hari selama 25 tahun Data Objektif - Klien terlihat sering batuk-batuk
| Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, klien akan: - Menunjukkan pengendalian resiko komunitas : penyakit menular yang, dibuktikan dengan indicator gangguan (1: tidak pernah, 2 : jarang, 3: kadang – kadang, 4 : sering, 5 : selalu) Kriteria Hasil: 1. Memantau perilaku seksual terhadap resiko pajananan PMS 2. Mengikuti strategi pengendalian pemajanan 3. Menggunakan pengendalian penularan PMS
- Menunjukkan keparahan infeksi yang dibuktikan oleh pengendalian risiko komunitas ; penyakit menular, status imun, keparahan infeksi : bayi baru lahir, pengendalian resiko : penyakit menular seksual dan penyembuhan luka : primer dan sekunder. Kriteria Hasil : 1. Terbebas dari tanda dan gejala infeksi 2. Menggambarkan faktor yang menunjang penularan infeksi 3. Melaporkan tanda dan gejala serta mengukuti prosedur skrining dan pemantauan | 1. Perawatan sirkulasi : insufisiensi arteri : meningkatkan sirkulasi arteri 2. Manajemen penyakit menular : bekerja bersama komunitas untuk menurunkan dan mengelolah insiden dan prevalesni penyalit menular pada populasi khusus. 3. Skrining kesehatan : mendeteksi resiko atau masalah kesehatan dengan memanfaatkan riwayat kesehatan, pemeriksaan kesehatan, dan prosedur lainnya. 4. Perlindungan infeksi : mencegahan dan mendeteksi dini infeksi pada pasien yang beresiko. 5. Surveilans : komunitas : mengumpulkan, menginterpretasikan dan menyintensis data secara teraarah dan kontinu untuk mengambil keputusan di komunitas. | 1. Pantau tanda dan gejala infeksi (misalnya, suhu tubuh, denyut jantung, drainase, penampilan luka, sekresi, penampilan urine, suhu kulit, lesi kulit, keletihan dan malaise. 2. Kaji faktor yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi (misalnya : usia lanjut, usia kurang dari 1 tahun, luluh imun, dan malnutrisi) 3. Pantau hasil laboratorium (hitunglah darah lengkap, hitung granulosit, absolut, hitung jenis, protein serum, dan albumin 4. Amati penampilan praktik higiene personal untuk perlindungan terhadap infeksi. |
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang kebanyakan kasus menyerah sistem pernapasan, penyakit ini disebabkan oleh bakteri Myobacterium Tuberculosis. Berdasarkan kasus Ny.E, ditemukan empat masalah keperawatan yang diperoleh dari analisis data dan pengkajian yaitu ketidakefektifan bersihan jalan napas, ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan, ketidakefektifan perfusi jaringan, dan resiko penyebaran infeksi. Dari keempat masalah tersebut ditentukan diagnosa keperawatanya, kemudian perawat menentukan tindakan keperawatan yang akan dilakukan yang dituangkan dalam rencana asuhan keperawatan. Rencana asuhan keperawatan pada kasus bersumber dari NOC dan NIC dan disusun secara komprehensif.
Setelah membaca materi penyakit Tuberkulosis dan Asuhan keperawatannya, teman-teman bisa mencoba quiz untuk mengukur pemahaman teman-teman terkait penyakit Tuberkulosis dan Asuhan keperawatannya.
Link quiz: https://forms.gle/mEEE3k6uqaQqsHX38
Selamat mengerjakan.
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat. (2019). Apa itu TOSS TBC dan Kenali Gejala TBC. Jakarta: Promkes Kemenkes RI. Diakses pada 14 September 2021, dari https://promkes.kemkes.go.id/apa-itu-toss-tbc-dan-kenali- gejala-tbc
Sinaga, Nia O. (2020). Gambaran Karakteristik Pasien Tuberculosis Paru (Tbc).
Smeltzer, S. (2013). Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth,Ed.12. terjemahan oleh Devi Y. & Amelia K. Jakarta: EGC.
Tanto, C., et al. (Eds). (2014). Kapita Selekta Kedokteran (4th ed). Jakarta: Media Aesculapius.
World Health Organization (WHO). (2020). Tuberculosis (TB). Geneva: WHO. Diakses pada 13 September 2021, dari https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/tuberculosis


Comments
Post a Comment