STROKE
LAPORAN DISKUSI
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN STROKE
5. Endah Puspita I1B020052
PROGRAN STUDI SARJANA KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU-ILMU
KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDRAL SOEDIRMAN
BAB I
Pendahuluan
A.
Latar Belakang
Stroke merupakan suatu kondisi
dimana otak tidak mendapat suplai darah secara maksimal karena sumbatan atau
pecahnya pembuluh darah di otak, hal tersebut dapat mengakibatkan sel-sel dalam
otak mengalami gangguan atau bahkan kematian karena tidak mendapatkan suplai
darah secara semestinya. Penderitanya biasanya akan memiliki gejala Sakit
kepala yang muncul secara tiba-tiba seperti berputar dan gangguan keseimbangan,
rabun dengan pandangan 1 mata kabur secara tiba-tiba, kebas dan kesemutan
diseluruh tubuh, pelo saat berbicara, gerak separuh tubuh yang melemah secara
tiba-tiba, serta senyum yang tidak simetris (P2PTM Kemenkes RI, 2019) .
Menurut World Health Organization
(WHO) stroke merupakan gejala yang didefinisikan suatu gangguan fungsional otak
yang terjadi secara mendadak dengan tanda dan gejala klinik baik fokal maupun
global yang berlangsung 24 jam atau lebih, di Indonesia sendiri penyakit ini
menduduki posisi ke-3 setelah penyakit jantung dan kanker (Permatasari,2020).
Dengan prevelensi stroke tertinggi berada di daerah Nangro Aceh Daru salam yang
mencapai 16,6 per 1.000 penduduk (Kabi
etc. , 2015).
Menurut
Davenport dan Dennis, secara garis besar stroke dapat dibagi menjadi dua bagian
yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragi (Kabi etc. ,
2015). Stroke iskemik adalah kurangnya suplai darah pada otak akibat terjadinya
penyumbatan pada pembuluh darah yang ada di otak, sedangkan stroke hemoragi
adalah terganggunya suplai darah ke otak karena pecahnya pembuluh darah yang
ada di otak.
Ada beberapa faktor risiko yang
dapat dimodifikasi bisa menyebabkan tingginya angka dari penyakit stroke ini,
diantaranya adalah hipertensi, penyakit jantung, diabetes militus, merokok,
gaya hidup yang tidak sehat, serta tingkat aktivitas yang rendah (Pusdatin
Kemenkes RI, 2019). Selain faktor risiko yang dapat dimodifikasi ada juga
faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi pemicu tingginya angka penderita stroke
seperti
usia, ras, gender, genetik, dan riwayat Transient Ischemic Attack atau stroke
sebelumnya (Kabi etc. , 2015).
B.
Tujuan
Tujuan dari
pembahasan penyakit stroke ini adalah :
1.
Mengetahui berbagai hal tentang penyakit stroke secara umum.
2.
Mengetahui bagaimana penyakit stroke menyerang manusia.
3.
Mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada pasien stroke
sesuai dengan kasus yang ada.
4.
Hasil dari pembahasan dapat diunggah melalui blog.
BAB II
Tinjauan Pustaka
A.
Overview Gangguan Sistem Penyakit Stroke
Tn. X berusia 35 tahun dengan berat badan 60 kg dan tinggi
badan 150 cm. Tn. X mengalami lemas dan pusing berputar secara terus menerus.
Beliau juga diketahui memiliki riwayat hipertensi yang telah diderita selama 10
tahun. Tn. X mengatakan cemas akan kesehatannya, terlihat bingung saat ditanya
kondisinya, dan merasa malu dengan orang sekitar karena seringkali pelo ketika
sedang berbicara dengan orang lain. Beliau juga mengalami kesulitan berjalan
pada kaki bagian kiri. Berdasarkan informasi dari keluarga, Tn.X didapati
jarang melakukan olahraga dan pola makan tidak teratur. Tn.X juga merupakan
perokok aktif. Setelah dilakukan pemeriksaan TTV, diketahui tekanan darah Tn. X
170/100 mmHg, RR: 24x/menit, DN: 100x/menit.
B.
Pembahasan
1.
Pengertian Stroke
Stroke
merupakan gangguan peredaran darah otak yang menyebabkan deficit neurologis
mendadak akibat iskemia atau hemoragi sirkulasi syaraf otak (Sudoyo Aru).
Istilah stroke biasanya digunakan secara spesifik untuk menjelaskan infark
serebrum. Kemudian ada juga pengertian lain mengenai stroke , yaitu stroke
adalah kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke otak terganggu atau
berkurang akibat penyumbatan (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah
(stroke hemoragik). Tanpa darah, otak tidak akan mendapatkan asupan oksigen dan
nutrisi, sehingga sel-sel pada sebagian area otak akan mati. Kondisi ini
menyebabkan bagian tubuh yang dikendalikan oleh area otak yang rusak tidak
dapat berfungsi dengan baik.
2.
Etiologi Stroke
a.
Stroke Iskemik, yaitu
tersumbatnya pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah ke otak tersumbat
sebagian atau menyeluruh.
1)
Stroke trombotik
merupakan stroke yang terjadi ketika gumpalan darah terbentuk di salah satu
pembuluh darah arteri yang memasok darah ke otak, pembentukan gumpalan darah
ini disebabkan oleh timbunan lemak atau plak yang menumpuk di arteri
(aterosklorosis) sehingga menyebabkan berkurangnya aliran darah.
2)
Stroke embolik
merupakan suatu penyumbatan suplai darah ke bagian otak yang disebabkan oleh
gumpalan atau embolus, stroke ini terjadi ketika bekuan darah atau puing-puing
(embolus) bergerak dari satu bagian tubuh dan terjebak di arteri sempit di
otak, menghalangi aliran darah ke otak.
3)
Hipoperfusion sistemik
merupakan gangguan denyut jantung yang disebabkan oleh aliran darah ke seluruh
bagian tubuh berkurang (Paduastuti, 2011).
b.
Stroke Hemoragik yang
disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah ke otak. Hampir 70% kasus stroke terjadi pada penderita hipetensi
1)
Stroke intraserebral
merupakan kondisi darurat ketika pembuluh darah yang pecah menyebabkan
pendarahan di dalam otak, dimana tekanan darah tinggi dan trauma adalah 2
penyebab utamanya.
2)
Stroke subraknoid
merupakan pendarahan pada ruang antara otak dan jaringan yang menutupi otak.
Terdapat
beberapa faktor yang bisa menyebabkan penyakit stroke, diantaranya yaitu :
a.
Faktor resiko medis
penyakit antara lain :
1)
Hipertensi
2)
Penyakit Jantung
3)
Diabetes Mellitus
4)
Hiperlipidemia (peninggian
kadar lipid dalam darah)
5)
Aterosklerosis
(pengerasan pembuluh darah)
6)
Riwayat Stroke dalam
keluarga
7)
Migrain
b. Faktor resiko perilaku
antara lain:
1)
Usia lanjut
2)
Obesitas
3)
Merokok (pasif aktif)
4)
Akohol
5)
MendengkurNarkoba
6)
Kontrasepsi oral
7)
Suku bangsa (negro/spanyol)
8)
Jenis kelamin (pria)
9)
Makanan tidak sehat
(junk food, fast food)
10)
Kurang olah raga
c. Terdapat faktor lainya :
1) Faktor keturunan, dimana orang memiliki anggota keluarga
yang pernah mengalami stroke, berisiko tinggi mengalami penyakit yang sama juga.
2)
Dengan bertambahnya
usia, seseorang memiliki risiko stroke lebih tinggi dibandingkan orang yang
lebih muda.
3. Manifestasi Klinis
a.
Sakit kepala hebat
yang datang tiba-tiba, disertai kaku pada leher dan pusing berputar (vertigo)
b.
Nyeri kepala hebat
c.
Susah bicara atau pelo
d.
Mengalami kelemahan
karena gangguan pada keseimbangan dan koordinasi
e.
Hilangnya penglihatan
secara tiba-tiba atau penglihatan ganda
f.
Penurunan kesadaran
g.
Gangguan fungsi otak
4.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan untuk penegakan
diagnosis stroke:
a.
Tes darah
Tes darah dilakukan untuk memeriksa beberapa hal berikut
ini:
1)
Kadar gula dalam darah
2)
Jumlah sel darah untuk mengetahui kemungkinan adanya infeksi
3)
Kecepatan pembekuan darah (hemostasis)
4)
Keseimbangan zat kimia dan elektrolit dalam darah untuk
mengetahui fungsi organ
b.
CT scan
CT scan dapat menghasilkan gambar otak
secara detail, sehingga dokter dapat mendeteksi tanda-tanda perdarahan, tumor,
dan stroke.
c.
MRI
Pemeriksaan MRI menggunakan
gelombang radio dan magnet untuk menghasilkan gambaran detail dari otak pasien.
MRI dapat mendeteksi jaringan otak yang mengalami kerusakan akibat stroke
iskemik dan perdarahan otak. Dalam proses pemeriksaan MRI, dokter juga dapat
menyuntikkan zat pewarna ke dalam pembuluh darah agar dapat melihat kondisi
aliran darah di pembuluh arteri dan vena lebih jelas.
d.
Elektrokardiografi
Pemeriksaan elektrokardiografi dilakukan untuk mengetahui aktivitas listrik pada jantung, sehingga dokter dapat mendeteksi adanya gangguan irama jantung atau penyakit jantung koroner yang mungkin menyertai.
e.
USG doppler karotis
Pemeriksaan ini menggunakan gelombang suara untuk
menghasilkan gambar detail aliran darah dalam pembuluh arteri karotis di leher.
Arteri katoris merupakan arteri yang menuju ke otak dan terdapat di setiap sisi
leher. Dengan USG doppler karotis, dokter dapat mendeteksi timbunan lemak
(plak) dan memeriksa kondisi aliran darah di dalam arteri karotis.
f. Ekokardiografi
Pemeriksaan ini menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambar detail jantung. Ekokardiografi dilakukan untuk mendeteksi penurunan fungsi pompa jantung dan sumber gumpalan di dalam jantung yang mungkin bergerak dari pembuluh darah jantung ke pembuluh darah otak, sehingga menyebabkan stroke.
5. Pathway
6. Perencanaan Asuhan Keperawatan
|
Data |
Etiologi |
Masalah |
|
DS: Pasien diketahui jarang olahraga
Pasien mengalami pusing berputar secara terus. DO: Pasien terlihat sulit berjalan
TD : 170/100
mmHg, DN :
100x/menit, RR: 24x/menit
Hipertensi
selama 10 tahun
|
Intoleransi aktivitas |
Gangguan mobilitas fisik |
|
DS: Pasien
merasa cemas akan
keadannya
DO: Pasien
terlihat bingung saat ditanya kondisinya |
Khawatir akan perubahan dalam peristiwa hidup |
Kecemasan/Ansietas |
|
DS: Pasien
mengatakan sering pelo ketika berbicara
DO: Pasien terlihat malu saat berbicara |
Kesulitan berbicara |
Hambatan Komunikasi Vebal
|
|
DS : Dari keluarga pasien diketahui mengalami pola makan tidak teratur
DO: BB 60 kg, TB
150 cm |
Gangguan nutrisi |
Ketidakseimbanagn kebutuhan nutrisi tubuh |
|
Diagnosis |
Tujuan |
Perencanaan |
|
Hambatan Mobilitas Fisik berhubungan dengan penurunan rentan gerak
yang dibuktikan dengan Klien yang jarang berolahraga, mengalami pusing yang
berputar secara terus-menerus disertai dengan lemas, mengalami kesulitan
berjalan, TD = 170/100mmHg, DN = 100x/menit, RR = 24x/menit, serta memiliki
riwayat hipertensi yang telah diderita selama 10 tahun. |
Setelah
dilakukan intervensi keperawatan selama 24 jam kebugaran fisik meningkat
dengan kriteria : a.
Rentan pergerak meningkat b.
Kekuatan otot meningkat c.
Fungsi pernapasan meningkat d.
Fungsi kardiovaskuler meningkat.
|
Terapi
latihan : Kontrol otot Observasi : -
-Identifikasi kesiapan pasien dalam melakukan
aktivitas -Orientasi
ulang pasien terhadap kesadran tubuh -Orientasi
ulang pasien terhadap fungsi gerak tubuh Teraputik : -
-Berikan pakaian yang tidak menghambat
pergerakan pasien -
-Sediakan privasi selama latihan apabila
diperlukan -
-Bantu pasien menyusun tujuan yang realistis
dan dapat diukur Edukasi : -Berikan
petunjuk langkah demi langkah untuk
setiap Latihan -Instruksikan
pasien untuk melakukan secara berulang. -Gunakan
alat visual untuk memfasilitasi belajar pasien dalam melakukan latihan
Kolaboorasi
: -
-Kolaborasikan dengan ahli terapi fisik,
okupasional, dan rekreasional dalam mengembangkan dan menerapkan program
latihan sesuai dengan kebutuhan. -
-Konsultasikan dengan ahli terapi fisik untuk
menentukan posisi optimal bagi pasien selama latihan dan jumlah pengulangan -
-Kolaborasikan dengan pemberi perawatan dirumah
terkait protocol latihan dan kegiatan sehar-hari. |
|
Ansietas atau kecemasan berhubungan dengan ketakutan
yang dialami Tn. X. Dia khawatir dan merasa malu dengan orang sekitar karena
seringkali pelo ketika sedang berbicara dengan orang lain. |
Setelah dilakukan perawatan selama 1 X 24 jam
diharapkan pasien dapat : a.
Mengidentifikasi dan mengungkap gejala kememasan yang terjadi b.
Tidak merasakan malu ketika berbicara dengan orang lain akibat
kecemasannya c.
Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktifitas
menunjukan berkurangnya kecemasan..
|
Penurunan kecemasan. Observasi : -
Gunakan pendekatan yang menyenangkan -
Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien -
Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur -
Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut Terapeutik -
Dengarkan dengan penuh perhatian-Identifikasi tingkat kecemasan -
Bantu pasien mengenai Situasi yang menimbulkan kecemasan Edukasi -
Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi -
Instruksikan pasien menggunakan teknik relaksasi Berikan obat untuk
mengurangi kecemasan Kolaborasi : -
Mengkolaborasikan dan membantu jadwal dalam menyusun jadwal terapi
bersama dengan klien -
Kolaborasi dengan tim kesehatan lain mengenai terapi apa yang
diperlukan serta obat apa yang dibutuhkan. |
|
Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan
kesulitan berbicara dibuktikan dengan pelo saat berbicara dan terlihat malu
ketika berbiara. |
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 6x24
jam diharapkan masalah pada pasien teratasi dengan Kriteria hasil: -
Pasien menjadi lebih ekspresif saat berbicara -
Pasien percaya diri saat berbicara -
Pasien dapat berbicara dengan jelas dan dipahami lawan bicaranya -
Mampu mengkomunikasikan kebutuhan dengan lingkungan sosial
|
Peningkatan Komunikasi: Kurang berbicara -
Mengenali emosi dan perilaku pasien sebagai bentuk komunikasi pasien. -
Menyesuaikan gaya komunikasi untuk memenuhi kebutuhan klien -
Menginstruksikan pasien untuk berbicara dengan pelan -
Mengulangi apa yang telah pasien katakan untuk validasi -
Kolaborasi bersama keluarga dan terapis wicara untuk mengembangkan
rencana agar bisa berkomunikasi secara efektif -
Menggunakan penguatan atau memotivasi pasien dengan cara yang tepat -
Memonitor pasien terkait perasaan frustasi, kemarahan, depresiatau
respon lain kaibat sulit berbicara. |
|
Defisit nutrisi berhubungan dengan nafsu makan menurun dan
pola makan tidak teratur. |
Setelah dilakukan intervensi keperawatan, defisit nutrisi
menurun dengan kriteria hasil : a. Keinginan
untuk makan meningkat b. Asupan
makanan meningkat c. Energi
untuk makan meningkat d. Asupan
nutrisi meningkat e. Stimulus
untuk makan meningkat
|
Manajemen
nutrisi Obeservasi : a.
Identifikasi status
nutrisi b.
Identifikasi
kebutuhan kalori dan jenis nutrien c.
Monitor asupan
makanan Terapeutik : a.
Lakukan oral
hygiene sebelum makan, jika perlu b.
Sajikan makanan
secara menarik dan suhu yang sesuai c.
Berikan makanan
tinggi serat untuk mencegah konslipasi d.
Berikan makanan
tinggi kalori dan tinggi protein e.
Berikan suplemen
makanan, jika perlu Edukasi : a.
Ajarkan diet yang
diprogramkan Kolaborasi : a.
Kolaborasi dengan
ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan,
jika perlu
|
Masalah prioritas dalam kasus ini yaitu gangguan mobilitas fiSIKk dengan etiologi intoleransi aktivitas dibuktikan dengan data DO dan DS sebagai berikut:
DS: Pasien diketahui jarang olahraga, pasien mengalami pusing berputar secara terus.
DO: Pasien terlihat sulit berjalan, TD : 170/100 mmHg, DN : 100x/menit, RR: 24x/menit, Hipertensi selama 10 tahun
7. Tata Laksana
a. Stadium Hiperakut
Tindakan pada stadium ini dilakukan di instalasi gawat darurat dan merupakan tindakan resusitasi serebro kardio pulmonal bertujuan agar kerusakan jaringan otak tidak meluas. Pada stadium ini, pasien diberi oksigen 2/menit dan cairan kristaloid/ koloid; hindari pemberian cairan dekstrosa atau salin dalam H, O. Dilakukan pemeriksaan CT scan otak, elektrokardiografi, foto toraks, darah perifer lengkap dan jumlah trombosit, protrombin time/INR, APTT, glukosa darah, kimia darah (termasuk elektrolit); jika hipoksia, dilakukan analisis gas darah. Tindakan lain di Instalasi Rawat Darurat adalah memberikan dukungan mental kepada pasien serta memberikan penjelasan pada keluarganya agar tetap tenang.
b. Stadium Akut
Pada stadium ini, dilakukan penanganan faktor-faktor etiologik maupun penyulit. Juga dilakukan tindakan terapi fisik, okupasi, wicara dan psikologis serta telah sosial untuk membantu pemulihan pasien. Penjelasan dan edukasi kepada keluarga pasien perlu, menyangkut dampak stroke terhadap pasien dan keluarga serta tata cara perawatan pasien yang dapat dilakukan ke luarga.
c. Stroke Iskemik
Terapi umum: Letakkan kepala pasien pada posisi 30, kepala dan dada ada satu bidang; ubah posisi tidur setiap 2 jam; mobilisasi dimulai bertahap bila hemodinamik sudah stabil. Selanjutnya, bebaskan jalan napas, beri oksigen 1-2 liter/menit sampai didapatkan hasil analisis gas darah. Jika perlu, dilakukan intubasi. Demam diatasi dengan kompres dan antipiretik, kemudian penyebabnya; jika kandung kemih penuh, dikosongkan (sebaiknya dengan kateter intermiten). Pemberian nutrisi dengan cairan Isotonik, kristaloid atau koloid 1500-2000 mL dan elektrolit sesuai kebutuhan, mengandung glukosa atau salin isotonik. Pemberian nutrisi per oral hanya kadar gula darah menelan atau jika fungsi menelannya baik; jika didapatkan gangguan>150mg& harusdikoreksi sampai batas gula darah sewaktu 150 mg% dengan kesadaran menurun, dianjurkan melalui selang nasopastrik. Insulin drip intravena kontinu selama 2-3 hari pertama. Hipoglikemia (kadar gula darah < 60 mg% atau < 80 mg% dengan Eejala) diatasi segera dengan dekstrosa 40% iv sampai kembali normal.
d. Stroke Hemoragik
Terapi umum: Pasien stroke hemoragik harus dirawat di ICU jika volume hematoma >30 mL, perdarahan intraventrikuler dengan hidrosefalus, keadaan klinik cenderung memburuk. Tekanan darah harus diturunkan mmHg, diastolik >120 mmHg, MAP >130 mmHg, dan volume hematom sampai tekanan darah premorbid atau 15-20% bila tekanan sistolik x180 bertambah. Bila terdapat gagal jantung, tekanan darah harus segera diturunkan dengan labetaloliv 10 mg. (pemberian dalam 2 menit) sampai 20 mg (pemberian dalam 10 menit) maksimum 300 mg; enalapriliv0.625-1.25mg per 6jam; kaptopril3 kali 6,25 25 mg per oral. Jika didapatkan tanda tekanan intrakranial meningkat, posisi kepala dinaikkan 30, posisi kepala dan dada di satu bidang, pemberian manitol dan hiperventilasi (pCO, 20-35 mmHg), Penatalaksanaan umum sama dengan pada stroke iskemik, tukak lambung diatasi dengan antagonis H2 parenteral, sukralfat, atau inhibitor pompa proton; komplikasi saluran napas dicegah dengan fisioterapi dan diobati dengan antibiotik spektrum luas.
BAB III
Penutup
A.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa
penyakit stroke merupakan kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke otak
terganggu atau berkurang akibat penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah. Tanpa
darah, otak tidak akan mendapatkan asupan oksigen dan nutrisi, sehingga sel-sel
pada sebagian area otak akan mati. Secara etiologi, stroke terbagi menjadi dua
jenis yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik. Faktor yang bisa menyebabkan
penyakit stroke yaitu faktor resiko medis dan faktor resiko perilaku, selain
itu terdapat faktor keturunan dan usia. Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan
untuk penegakan diagnosis stroke meliputi tes darah, CT scan, MRI,
elektrokardiografi, USG doppler karotis dan ekokardiografi. Penatalaksanaan
stroke pada stadium hiperakut dilakukan di instalasi gawat darurat dan
merupakan tindakan resusitasi serebro kardio pulmonal, selanjutnya pada stadium
akut dilakukan penanganan faktor etiologik maupun penyulit selain itu juga
dilakukan tindakan terapi fisik sedangkan pada stroke iskemik dan stroke
hemoragik dilakukan terapi umum. Berdasarkan kasus diatas terkait asuhan
keperawatan pada pasien stroke, dapat disimpulkan pada data DO dan DS serta
etiologi masalah dapat diperoleh masalah
prioritas yang dialami klien yaitu hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan
penurunan rentan gerak. Adapun tindakan perencanaan untuk masalah prioritas
tersebut yaitu dengan terapi latihan melalui kontrol otot dengan tujuan
dilakukan intervensi keperawatan yaitu rentan pergerak dan kekuatan otot akan
meningkat.
B.
Referensi
Butcher K. H., dkk.
2018. Nursing Interventions
Classification (NIC) (Terjemahan). Elsevier.
Moorhad S., dkk. 2018.
Nursing Outcomes Classification (NOC)
(Terjemahan). Elsevier.
NANDA Internasional.
2018. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan
Klasifikasi 2018-2020. Ed. 11 (Terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran.
Kabi,
Glen Y. C. R., dkk. 2015. Gambaran Faktor
Risiko Padapenderita Stroke Iskemik Yang Dirawat Inap Neurologi Rsup Prof. Dr.
R. D. Kandou Manado Periode Juli 2012 -Juni 2013. Volume
3, Nomor 1. Hal. 457-462. Diakses pada tanggal 17 September 2021.
Pusdatin Kemenkes RI. 2019. Stroke don’t be the one. infodatin-stroke-dont-be-the-one.pdf. diakses pada
tanggal 17 September 2021.
Permatasari, Nia. 2020. Perbandingan
Stroke Non Hemoragik dengan Gangguan Motorik Pasien Memiliki Faktor Resiko
Diabetes Melitus dan Hipertensi. Vol 11, No, 1, Juni 2020, pp;298-304
p-ISSN: 2354-6093 dan e-ISSN: 2654-4563. Hal. 299-304. Diakses pada tanggal 17
September 2021.
Yonata Ade 1, Arif Satria Putra Pratama. 2016. Hipertensi sebagai Faktor Pencetus
Terjadinya Stroke. Volume 5, Nomor 3, Hal. 17-21. Diakses pada tanggal 17
September 2021.




Comments
Post a Comment