Lupus Eritematosus
Laporan Diskusi
Asuhan Keperawatan Pada Pasien
Dengan Gangguan SLE
Kelompok 8
1. Nur Zaefudin I1B020036
2. Ignatia Maria P. K. I1B020037
3. Inez Sandya E. I1B020038
4. Jihan Farah R. I1B020041
5. Fikri Tsaqif A. I1B018067
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN
PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEPERAWATAN
2021
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang.
Penyakit lupus atau Lupus Eritematosus adalah penyakit
autoimun kronis yang dapat menyebabkan peradangan di beberapa bagian tubuh,
termasuk kulit, sendi, ginjal, hingga otak. Lupus bisa dialami oleh siapa saja,
tetapi lebih sering dialami oleh wanita. Penyakit ini merupakan salah satu
penyakit dengan setting dewasa dan belum banyak orang memahami dengan tepat apa
yang dimaksud dengan SLE.
Penderita SLE sering mendapatkan
berbagai tekanan karena kondisi fisiknya. Penderita SLE akan merasa tidak
percaya diri. Kondisi Sosial menjadi suatu hambatan bagi penderita lupus untuk
menyesuaikan dirinya dalam berperilaku di dalam kalangan masyarakat karena
kurang percaya diri terhadap individu-individu yang lain akibat perbedaan
sosial terhadap dirinya sehingga penderita lupus cenderung merasa diasingkan
oleh banyak orang (Fitri,2018).
Pembahasan dilakukan berdasarkan
asuhan keperawatan. Asuhan
keperawatan merupakan suatu proses keperawatan yaitu suatu metode sistematis
dan ilmiah yang digunakan perawat untuk memenuhi kebutuhan klien dalam mencapai
atau mempertahankan keadaan biologis, psikologis, sosial dan spiritual yang
optimal melalui tahapan pengkajian keperawatan.
Pengetahuan mengenai SLE ini perlu
disebarluaskan mengingat nilai kepentingannya untuk masyarakat dan kalangan
perawat. Penyebarluasan informasi ini bisa menggunakan berbagai media misalnya
blog yang di posting melalui internet. Internet dipilih karena dinilai bisa
menjangkau daerah secara luas sehingga semua pihak bisa memperoleh akses
pengetahuan SLE ini.
B. Tujuan.
Tujuan dari pembahasan kasus penyakit ini antara lain :
1. Mengetahui pengertian penyakit SLE
secara umum.
2. Mengetahui bagaimana penyakit SLE
bisa menjangkit manusia.
3. Mengetahui bagaimana asuhan
keperawatan yang diperlukan untuk pasien dengan penyakit SLE.
4. Hasil dari pembahasan bisa dipublikasikan melalui blog.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
A. Overview.
1. Pengertian.
Penyakit
Autoimun merupakan penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia yang
biasa terjadi pada kaum wanita. Autoimun merupakan gangguan sistem kekebalan
tubuh akibat gagalnya pertahanan kestabilan kondisi tubuh, sehingga sistem imun
menyerang tubuh yang sehat dianggap sebagai benda asing yang harus dimusnahkan.
Systemic Lupus Erythematosus (SLE) adalah suatu penyakit
autoimun pada jaringan ikat. Pada SLE
ini, sistem imun terutama menyerang inti sel. Lupus atau SLE berasal dari
bahasa latin yang berarti anjing hutan. Istilah ini mulai dikenal sejak abad
ke-10. Dan eritematosus berarti merah. Ini untuk menggambarkan ruam merah pada
kulit yang menyerupai gigitan anjing hutan di sekitar hidung dan pipi. Sehingga
dari sinilah istilah lupus tetap digunakan untuk penyakit Systemic Lupus Erythematosus.
2. Etiologi.
Penyebab dari gangguan autoimun
masih belum dapat dipastikan, namun ada beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi, antara lain:
a. Genetik atau keturunan
Merupakan faktor risiko utama dari
penyakit autoimun adalah faktor genetik.
b. Lingkungan
Termasuk gaya hidup dan pola makan
yang tidak sehat. Misalnya lingkungan yang terpapar berbagai zat kimia.
c. Hormon
Terdapat asumsi bahwa penyakit
autoimun terkait dengan perubahan hormon, seperti saat hamil, melahirkan, atau
menopause.
d. Infeksi.
Gejala autoimun juga dapat dipicu
atau diperburuk infeksi tertentu.
e. Efek epigenetik
Yaitu perubahan fenotipe atau ekspresi
genetika yang
disebabkan oleh mekanisme selain perubahan sekuens DNA dasar.
3. Patofisiologi.
a.
Aktivasi
sistem imun bawaan (sel dendritik, monosit/makrofag) oleh DNA dari kompleks
imun, DNA atau RNA virus dan RNA dari protein self-antigen.
b. Ambang batas aktivasi sel imun
adaptif (limfosit T dan limfosit B) yang lebih rendah dan jaras aktivasi yang
abnormal.
c. Regulasi sel T CD4+ dan CD8+, sel B
dan sel supresor yang tidak efektif.
d. Penurunan pembersihan kompleks imun
dan sel yang mengalami apoptosis.
4. Manifestasi
Klinis.
Berdasarkan American College of Rheumatology (ACR) manifestasi klinis pasien
SLE, antara lain, lesi kulit, arthritis, gangguan ginjal, kelainan neurologis,
perubahan hematologis, dan semua yang masuk dalam kriteria tersebut.
5. Pemeriksaan
Diagnostik.
Hasil pemeriksaan laboratorium dan
tes diagnostic dapat digunakan perawat sebagai data objektif yang disesuaikan
dengan masalah kesehatan klien. Hasil pemeriksaan diagnostik dapat membantu
terapis untuk menetapkan diagnosis medis dan membantu perawat untuk
mengevaluasi keberhasilan asuhan keperawatan (Nursalam,2009).
6. Penatalaksanaan.
Penatalaksanaan pasien SLE
memerlukan jangka waktu panjang. Prinsip utama pengobatan SLE yaitu untuk
mengurangi peradangan pada jaringan tubuh yang terkena dan menekan
ketidaknormalan sistem kekebalan tubuh. Penatalaksanaan pasien SLE meliputi
pengobatan secara nonfarmakologis (edukasi, dukungan sosial, dan psikologis,
istirahat, tabir surya), dan pengobatan secara farmakologis meliputi pemberian
terapi imunosupresan (siklofosfamid, mycophenolate
mofetil (MMF), azatioprin, metotreksat, siklosporin), antimalaria
(hidroksiklorokuin), kortikosteroid, dan OAINS (Obat Anti Inflamasi
Non-Steroid) (Guntur Cokro Nugroho, et al. 2015).
7. Pemeriksaan
Penunjang.
Pemeriksaan penunjang minimal lain
yang diperlukan untuk diagnosis dan monitoring, antara lain :
a. Hemoglobin, leukosit, hitung jenis
sel, laju endap darah (LED)
b. Urin rutin dan mikroskopik, protein
kuantitatif 24 jam, dan bila diperlukan kreatinin urin.
c. Kimia darah (ureum, kreatinin,
fungsi hati, proil lipid)
d. PT, aPTT pada sindrom antifosfolipid
e. Serologi ANA
f. Foto polos thorax
g. Anti ds-DNA (memantau sumber klinis
dan respon terapi)
h. C3 & C4
i.
EKG,
mendeteksi kerusakan katup dan otot jantung
j.
Foto
rontgen, mendeteksi adanya cairan pada paru-paru
Pemeriksaan tambahan lainnya
tergantung dari manifestasi SLE. Waktu pemeriksaan untuk monitoring dilakukan
tergantung kondisi klinis pasien.
8. Komplikasi.
Menurut Sari (2018) SLE dapat
menyerang semua organ di tubuh sehingga dapat menimbulkan berbagai komplikasi,
diantaranya :
● Urologi : lupus nefritis, gagal
ginjal
● Neurologi : gangguan memori,
gangguan bahasa, gangguan kognitif
● Kardiovaskuler : anemia, vaskulitis,
perikarditis, infark miokard akut
● Respirasi : pleuritis, efusi pleura,
pneumonia
● Muskuloskeletal : osteoporosis,
fraktur, avaskular nekrosis tulang
● Infeksi akibat penggunaan steroid
Selain itu
lupus juga dapat mengakibatkan peningkatan risiko perdarahan, serta pembekuan
darah. Jika lupus menyerang otak, gejala yang dirasakan adalah sakit kepala,
pusing, perubahan perilaku, halusinasi, bahkan kejang dan stroke (Halodoc,
2018). Penyakit lupus juga dapat menyebabkan komplikasi pada masa kehamilan,
seperti kelahiran prematur, preeklamsia, serta keguguran.
B. PEMBAHASAN.
1. Kasus.
Pasien wanita bernama X berusia 23
tahun memiliki keluhan lupus di daerah wajah. Wanita tersebut mengeluh sakit di
bagian tersebut. Setelah dilakukan pemeriksaan TTV, wanita tersebut memiliki
tekanan darah 120/80 mmHg, suhu badan 370 C. Pasien mengeluh lemah dan nyeri.
Pasien mengeluh cemas dengan keadaan tubuhnya dan merasa tidak percaya diri
ketika bertemu dengan orang lain. Luka yang dialami pasien memerah karena
inflamasi dan terasa sakit. Berdasarkan luka yang dialami pada daerah wajah
pasien dikhawatirkan mengalami infeksi.
2. Asuhan
Keperawatan.
a)
Pengkajian.
Sumber
data yang perlu dikaji oleh perawat antara lain :
1. Riwayat Keperawatan
-
Sakit
pada bagian luka (DS)
-
Rasa
tidak nyaman (DS)
-
Inflamasi
pada daerah luka (DO)
-
Rasa
lemah dan nyeri (DS)
2. Pemeriksaan TTV
Tekanan
darah 120/80 mmHg, suhu badan 370 C (DO)
3. Riwayat Psikososial
-
Pasien
mengalami rasa cemas (DS)
-
Pasien
kurang percaya diri (DS)
b)
Diagnosis.
1. Gangguan konsep diri : perubahan
citra tubuh dan harga diri yang berhubungan dengan proses penyakit
2. Resiko infeksi berhubungan dengan
rasa sakit pada bagian luka.
3. Keletihan berhubungan dengan
peningkatan aktivitas penyakit,rasa nyeri dan depresi
c)
Tujuan.
Sasaran yang diharapkan ketika
dilakukan asuhan keperawatan adalah timbulnya rasa percaya diri dari pasien
serta berkurangnya rasa sakit yang diakibatkan adanya resiko infeksi pada
daerah luka.
d)
Intervensi.
|
Diagnosa keperawatan |
Intervensi |
|
Resiko infeksi berhubungan dengan rasa
sakit pada bagian luka |
Pencegahan infeksi Observasi : ●
Monitor tanda dan gejala infeksi lokal
dan sistemik Terapeutik : ●
Batasi jumlah pengunjung ●
Berikan perawatan kulit pada area edema ●
Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak
dengan pasien dan lingkungan pasien ●
Pertahankan teknik aseptik pada pasien
beresiko tinggi Edukasi : ●
Jelaskan tanda dan gejala infeksi ●
Ajarkan cara mencuci tangan dengan
benar ●
Ajarkan etika batuk ●
Ajarkan cara memeriksa kondisi luka
atau luka operasi ●
Anjurkan meningkatkan asupan cairan ●
Anjurkan meningkatkan asupan nutrisi Kolaborasi : ●
Kolaborasi pemberian imunisasi, jika
perlu |
|
Keletihan berhubungan dengan Peningkatan
aktivitas penyakit, rasa nyeri dan depresi |
1.
Edukasi
aktivitas/istirahat Observasi
: ●
Identifikasi
kesiapan dan kemampuan menerima informasi Terapeutik
: ●
Sediakan
materi dan media pengaturan aktivitas dan istirahat ●
Jadwalkan
pemberian pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan ●
Berikan
kesempatan kepada pasien dan keluarga untuk bertanya Edukasi
: ●
Jelaskan
pentingnya melakukan aktivitas fisik / olahraga secara rutin ●
Anjurkan
terlibat dalam aktivitas kelompok, aktivitas bermain atau aktivitas lainnya ●
Anjurkan
menyusun jadwal aktivitas dan istirahat ●
Anjurkan
cara mengidentifikasi kebutuhan istirahat (mis. Kelelahan, sesak napas saat
aktivitas) ●
Anjurkan
cara mengidentifikasi target dan jenis aktivitas sesuai kemampuan 2.
Manajemen energi Observasi
: ·
Identifikasi
gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan ·
Monitor
kelelahan fisik dan emosional ·
Monitor
pola dan jam tidur ·
Monitor
lokasi dan ketidaknyamanan selama melakukan aktivitas Terapeutik ·
Sediakan
lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mis. Cahaya, suara, kunjungan) ·
Lakukan
latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif ·
Berikan
aktivitas distraksi yang menenangkan ·
Fasilitasi
duduk di sisi tempat tidur, jika dapat berpindah atau berjalan Edukasi ·
Anjurkan
tirah baring ·
Anjurkan
melakukan aktivitas secara bertahap ·
Anjurkan
menghubungi perawat jika tanda dan gejala kelelahan tidak berkurang ·
Ajarkan
strategi koping untuk mengurangi kelelahan Kolaborasi ·
Kolaborasi
dengan ahli gizi tentang cara meningkatkan asupan makanan |
|
Gangguan konsep diri : perubahan citra
tubuh dan harga diri yang berhubungan dengan proses penyakit |
Orientasi
Realita Observasi
: ·
Monitor
perubahan orientasi. ·
Monitor
perubahan kognitif dan perilaku. Terapeutik
: ·
Hadirkan
realita (beri penjelasan alternatif dan hindari perdebatan. ·
Libatkan
dalam terapi kelompok orientasi. ·
Berikan
waktu istirahat dan tidur yang cukup, sesuai kebutuhan. Edukasi
: ·
Anjurkan
perawatan diri secara mandiri. |
e)
Evaluasi.
Evaluasi merupakan
langkah terakhir dari proses keperawatan untuk mengetahui sejauh mana tujuan
dari rencana keperawatan tercapai. Evaluasi ini dilakukan dengan cara
membandingkan hasil akhir yang teramati dengan tujuan dan kriteria hasil yang
dibuat dalam rencana keperawatan.
Evaluasi ini akan
mengarahkan asuhan keperawatan, apakah asuhan keperawatan yang dilakukan ke
pasien berhasil mengatasi masalah pasien ataukan asuhan yang sudah dibuat akan
terus berkesinambungan terus mengikuti siklus proses keperawatan sampai
benar-benar masalah pasien teratasi.
f)
Dokumentasi.
Manfaat dokumentasi keperawatan sangat banyak, salah satunya untuk menyimpan samua data atau informasi klien/pasien. Apabila terjadi suatu masalah yang berhubungan dengan perawatan atau profesi keperawatan, maka dokumentasi ini yang akan menjadi barang bukti di pengadilan.
BAB 3
PENUTUP
A. KESIMPULAN.
Berdasarkan
penjelasan dari kasus diatas maka penyakit SLE merupakan salah satu penyakit
autoimun. suatu
penyakit autoimun pada jaringan ikat.
Pada SLE ini, sistem imun terutama menyerang inti sel. Lupus atau SLE berasal
dari bahasa latin yang berarti anjing hutan. Istilah ini mulai dikenal sejak
abad ke-10. Dan eritematosus berarti merah. Ini untuk menggambarkan ruam merah
pada kulit yang menyerupai gigitan anjing hutan di sekitar hidung dan pipi.
Sehingga dari sinilah istilah lupus tetap digunakan untuk penyakit Systemic Lupus Erythematosus.
Asuhan keperawatan diperlukan untuk memberikan intervensi sesuai respon yang diberikan oleh pasien.Asuhan keperawatan dibuat dengan beberapa langkah.Hal tersebut dilakukan dengan tujuan agar intervensi yang diberikan tidak salah sasaran.
DAFTAR PUSTAKA
Al,
R.J.D.R.S. and Bandung, I., Gambaran Umum Penatalaksanaan Systemic Lupus
Erythematosus pada Pasien. Prosiding
Pendidikan Dokter ISSN, 2460,
p.657X.
Halodoc,
R. 2018. Komplikasi Akibat Lupus yang
Harus Diperhatikan. [Online] <https://www.halodoc.com/artikel/4-komplikasi-akibat-lupus-yang-harus-diperhatikan>
[Diakses pada 13 September 2021].
Khasanah, Y. C. 2017. Potensi
Koekspresi Chimeric Antigen Receptor (CAR) dan Gen FOXP3 Pada Sel 7 Regulators
Sebagai Modalitas Terapi Penatalaksanaan Autoimun. Exsnce of Scientific Medical Journal , 26-30.
Karuniawaty, T. P., Sumadiono, &
Satria, C.D. 2016. Perbandingan Diagnosis Systemic Lupus Erythematosus
Menggunakan Kriteria American College of Rheumatologi dan Systemic Lupus
International Collaborating Clinics. Jurnal
Sari Pediatri, 18(4): 300.
Kasjmir, Y. L. 2011. Diagnosis dan Pengelolaan Lupus Eritematosus
Sistemik. Perhimpunan Reumatologi Indonesia.
P2PTM Kemenkes RI. 2018. Pemeriksaan apa saja yang dibutuhkan untuk
mendiagnosis LES ? [Online] <http://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/penyakit-paru-kronik-dan-gangguan-imunologi/pemeriksaan-apa-saja-yang-dibutuhkan-untuk-mendiagnosis-les> [Diakses pada 13 September
2021].
Saputri, W. G. 2019. Gambaran Risiko Infeksi Pada Pasien Anak
dengan Systemic Lupus Erythematosus (SLE) di Ruang Melati 4 Inska RSUP Dr.
Sardjito. Karya Tulis Ilmiah. Akademi
Keperawatan “YKY”. Yogyakarta.
Sari, D.P. 2018. Diagnosis Lupus Eritematosus Sistemik.
[Online] <https://www.alomedika.com/penyakit/alergi-dan-imunologi/lupus-eritematosus-sistemik/diagnosis> [Diakses pada 13 September
2021].
LAMPIRAN
Dokumentasi diskusi mandiri
Senin, 13 September 2021
Link Google Formulir
https://forms.gle/JR86cjQd44jMg98V7
Selamat mengerjakan


Comments
Post a Comment