Laporan Diskusi ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN COVID 19
Laporan Diskusi
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN COVID 19
Di susun oleh:
Kelompok 2 Kelas Alih Jenjang
1. IKA KARTINI ANDRIYANI NIM I1F020007
2. SUTINAH NIM I1F020009
3. CANDRA ALFIANTO NIM I1F020010
4. DIOS ALFITA DORA NIM I1F020011
5. DWI HERI PURNOMO NIM I1F020012
PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO
2021
DAFTAR ISI
BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). SARS-CoV-2 merupakan coronavirus jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Ada setidaknya dua jenis coronavirus yang diketahui menyebabkan penyakit yang dapat menimbulkan gejala berat seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Tanda dan gejala umum infeksi COVID-19 antara lain gejala gangguan pernapasan akut seperti demam, batuk dan sesak napas. Masa inkubasi rata-rata 5-6 hari dengan masa inkubasi terpanjang 14 hari. Pada kasus COVID-19 yang berat dapat menyebabkan pneumonia, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal, dan bahkan kematian
Covid-19 sebagai pandemi sudah berlangsung lebih dari 1 tahun sejak kemunculannya di awal tahun 2020, hal ini menjadi permasalahan kesehatan yang menimpa hampir seluruh negara di dunia. Angka kejadian covid-19 dari bulan ke bulan semakin meningkat, sempat menurun di akhir tahun 2020, tetapi kembali meningkat di akhir semester pertama tahun 2021 seiring dengan adanya hari raya Idul Fitri, dimana masyarakat Indonesia berat untuk tidak melakukan kegiatan mudik yang sudah menjadi tradisi setiap tahunya, walaupun hal itu sudah dilarang oleh pemerintah. Namun masyarakat tetap acuh dengan himbauan pemerintah, dan ditambah lagi dengan masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan 5 M ( memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas ) Semua negara berusaha menurunkan angka kesakitan dan kematian dengan berbagai cara, pun dengan cara melakukan penelitian untuk menghasilkan vaksin yang bertujuan untuk menghadang laju penularan penyakit ini.
Penularan virus corona yang sangat cepat karena inilah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan virus corona sebagai pandemi pada 11 Maret 2020 (Mona, 2020). Status pandemi atau epidemi global menandakan bahwa penyebaran COVID-19 berlangsung sangat cepat. Beberapa langkah cepat dilakukan oleh pemerintah agar virus corona ini tidak menular dengan cepat, seperti menerapkan work from home (WFH), Social Distancing, dan lain-lain (Tursina, 2020). Masyarakat juga diedukasi untuk menerapkan pola hidup sehat (Suprabowo, 2020) dengan mencuci tangan dengan sabun sesering mungkin, memakai masker ketika bepergian keluar rumah (Pratiwi, 2020), (Machendrawaty, Yuliani, Setiawan, & Yuningsih, 2020), serta menjaga jarak (Mardiana & Darmalaksana, 2020), (Masrul et al., 2020).
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran skrining pasien dengan gangguan Covid-19.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui tanda dan gejala pasien Covid-19.
b. Untuk mengetahui bagaimana cara penularan Covid-19.
c. Untuk mengetahui kapan kontak erat dengan pasien Covid-19.
d. Untuk mengetahui bagaimana cara pencegahan Covid-19.
e. Untuk mengetahui tentang prosedur isolasi mandiri pasien Covid-19.
BAB II
Tinjauan Pustaka
1. Kasus :
Perawat Flo bertugas di Puskesmas Kaliaja, mendapat laporan bahwa keluarga bapak Soiman sedang menjalani isolasi mandiri karena pak Soiman kontak erat dengan salah satu rekan kerjanya yang positif Covid-19. Perawat Flo melakukan kunjungan rumah untuk mendata keluarga bapak Soiman yang terdiri dari 5 orang.
2. Pembahasan (Integrasi teori dan penelitian yang relevan untuk menyelesaikan kasus), termasuk asuhan keperawatan
Dari kasus tersebut langkah pertama yang harus dilakukan oleh petugas flo adalah melakukan skrining resiko covid 19. Screening Covid-19 dilakukan oleh petugas medis yang berkompeten sesuai dengan pedoman protokol penanganan Covid-19 yang diterbitkan Kementerian Kesehatan. Screening bisa dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas. Prosedur ini penting demi keamanan pasien itu sendiri serta orang lain yang berada di sekitarnya, termasuk petugas medis yang menangani. Berdasarkan protokol penanganan Covid-19, Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan mengatakan ada dua cara screening Covid-19 yang bisa dilakukan di puskesmas. Cara pertama adalah rapid test untuk memeriksa keberadaan antibodi. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sampel darah terduga pasien corona. Cara kedua adalah lewat swab test dengan metode polymerase chain reaction (PCR). Pemeriksaan ini dijalankan dengan mengambil sampel cairan dari pangkal hidung atau tenggorokan pasien. Tapi, sebelum prosedur screening Covid-19 itu dilakukan, pasien akan diwawancarai serta pemeriksaan epidemiologi oleh petugas flo. Petugas flo akan menanyakan sejumlah hal yang berkaitan dengan Covid-19. Misalnya:
● Pernahkah datang ke wilayah yang masuk zona merah terpapar Covid-19 dan apa saja aktivitasnya di sana
● Apakah pernah berinteraksi dengan terduga pasien Covid-19
● Apakah mengalami gejala yang berhubungan dengan Covid-19
● Apakah pernah mengikuti acara yang dihadiri orang dalam jumlah banyak saat pandemi corona
Dari jawaban atas pertanyaan di atas serta pertanyaan lain yang berkaitan, petugas flo akan menentukan tindakan selanjutnya baik itu rapid test maupun swab test.
Petugas flo juga dapat memilih cara screening Covid-19 menggunakan cek list atau aplikasi goegle form. Tapi screening ini hanya berupa penilaian diri sendiri atau self-assesment yang mirip dengan tahap wawancara dalam screening di fasilitas kesehatan. Dengan screening ini sebanyak 80 persen pasien Covid-19 bergejala ringan bisa mendapat perawatan mandiri di rumah hingga pulih. Adapun rumah sakit diprioritaskan bagi pasien dengan gejala dan komplikasi berat. Screening Covid-19 adalah protokol penanganan virus corona yang wajib dilakukan. Keluarga pak soiman harus memberikan keterangan yang jujur untuk membantu mencegah penyebaran corona.(Danawati,2020).
Penyebaran penularan COVID-19 terjadi dengan cepat. Dari kasus diatas Orang yang memiliki riwayat kontak dengan kasus probable atau konfirmasi COVID-19. Riwayat kontak yang dimaksud menurut kemenkes (2020) antara lain:
1. Situasi lainnya yang mengindikasikan adanya kontak berdasarkan penilaian risiko lokal yang ditetapkan oleh tim penyelidikan antara lain:
2. Kontak tatap muka/berdekatan dengan kasus probable atau kasus konfirmasi dalam radius 1 meter dan dalam jangka waktu 15 menit atau lebih.
3. Sentuhan fisik langsung dengan kasus probable atau konfirmasi (seperti bersalaman, berpegangan tangan, dan lain-lain).
4. Orang yang memberikan perawatan langsung terhadap kasus probable atau konfirmasi tanpa menggunakan APD yang sesuai standar epidemiologi setempat.
Langkah selanjutnya yang dilakukan petugas flo adalah Manajemen kesehatan masyarakat. Manajemen kesehatan masyarakat merupakan serangkaian kegiatan kesehatan masyarakat yang dilakukan terhadap kasus. Kegiatan ini meliputi kegiatan karantina/isolasi, pemantauan, pemeriksaan spesimen, penyelidikan epidemiologi, serta komunikasi risiko dan pemberdayaan masyarakat.Dari kasus pak soiman, petugas flo melakukan upaya karantina/isolasi dilakukan sesuai kondisi dan status kasus. Karantina adalah proses mengurangi risiko penularan dan identifikasi dini COVID-19 melalui upaya memisahkan individu yang sehat atau belum memiliki gejala COVID-19 tetapi memiliki riwayat kontak dengan pasien konfirmasi COVID-19 atau memiliki riwayat bepergian ke wilayah yang sudah terjadi transmisi lokal. Isolasi adalah proses mengurangi risiko penularan melalui upaya memisahkan individu yang sakit baik yang sudah dikonfirmasi laboratorium atau memiliki gejala COVID-19 dengan masyarakat luas ( kemenkes, 2020).
Tindakan petugas flo sesuai panduan kemenkes (2020) menemukan kasus probable maka dilakukan manajemen kesmas meliputi:
a. Dilakukan isolasi
Isolasi keluarga pak soiman adalah isolasi pada kasus probable
b. Pemantauan terhadap kasus probable dilakukan berkala selama belum dinyatakan selesai isolasi sesuai dengan definisi operasional selesai isolasi. Jika sudah selesai isolasi/pemantauan maka dapat diberikan surat pernyataan selesai isolasi.
c. Apabila kasus probable meninggal, tatalaksana pemulasaraan jenazah sesuai protokol pemulasaraan jenazah
d. Penyelidikan epidemiologi Penyelidikan epidemiologi tetap dilakukan terutama untuk mengidentifikasi kontak erat
e. Komunikasi risiko Petugas kesehatan memberikan komunikasi risiko kepada kontak erat PEDOMAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN 50 CORONAVIRUS DISEASE (COVID-19) REVISI KE-5 kasus berupa informasi mengenai COVID-19, pencegahan penularan, pemantauan perkembangan gejala, dan lain-lain.
Hal penting yang harus dilakukan petugas flo menurut Herlina(2021) adalah apa yang harus dilakukan dirumah oleh pak soiman jika terpapar dengan gejala ringan atau tanpa gejala, sehingga tidak perlu harus dirawat di Rumah Sakit. Hal ini diharapkan dapat menekan angka kejadian baru dan mengurangi tingkat penularan yaitu edukasi isolasi mandiri tentang paisien,keluarga.lingkungan dan kamar, dan kegiatan harian.
Edukasi isolasi mandiri
Pasien:
1. Menggunakan masker saat bertemu sesama anggota keluarga dengan menjaga jarak 1 meter
2. Usahakn tidur dan kamar mandi terpisah
3. Personal hygiene, cuci tangan dan protokol batuk
4. Baju,piring,dan gelas kotor segera dicuci terpisah
5. Ukur suhu 2x
6. Melaporkan gejala dan tanda ke petugas kesehatan
Keluarga
1. Keluarga yang kontak erat segera melapor kepada petugas kesehatan
2. Menggunakan masker dan jaga jarak minimal 1 meter
3. Rutin cuci tangan dan membersihkan area yang disentuh pasien
Lingkungan dan kamar
1. Cahaya dan ventilasi cukup,buka jendela berkala
2. Bersihkan kamar setiap hari
Kegiatan Harian
1. Buka jendela kamar
2. Berjemur matahari selama 10-15 menit, pada pukul 10.00-13.00 wib
3. Rajin cuci tangan
4. Olag raga rutin 3-5 kali seminggu
5. Makan bergizi seimbang 3x sehari secara terpisah dengan keluarga
6. Pisahkan cucian kotor dengan pakaian kotor keluarga lainya
7. Bersihkan kamar setiap hari,gunakan masker
8. Cuci alat makan sendiri setelah selsai digunakan
9. Periksa suhu tubuh dan saturasi oksigen setiap pagi dan malam hari
10. Tidur dikamar pribadi yang terpisah dengan anggota keluarga.
Pelayanan keperawatan petugas flo berupa bantuan, diberikan karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, dan kurangnya kemauan menuju kemampuan melaksanakan kegiatan sehari-hari. Dokumentasi merupakan aspek penting dari praktek keperawatan. Sistem dokumentasi yang ideal harus memberikan informasi yang komprehensif, menunjukkan hasil dan standar pasien. Asuhan keperawatan merupakan hal sangat penting bagi seorang perawat. Kemampuan memberikan pelayanan yang baik serta kemudian dapat secara efektif mengkomunikasikan tentang perawatan pasien tergantung pada seberapa baik kualitas informasi yang diberikan serta dokumentasi yang disediakan untuk dimanfaatkan oleh semua profesional kesehatan dan antar bidang pelayanan kesehatan. Dokumentasi didefinisikan sebagai segala sesuatu yang tertulis atau tercetak yang dapat diandalkan sebagai catatan tentang bukti bagi individu yang berwenang.
Pendokumentasian asuhan keperawatan pada pasien COVID-19 sangatlah penting.
1. Dokumentasi Pengkajian Keperawatan
Dokumentasi pengkajian keperawatan merupakan catatan tentang hasil pengkajian yang dilaksanakan untuk mengumpulkan informasi dari pasien, membuat data dasar tentang pasien, dan membuat catatan tentang respons kesehatan pasien. Pengkajian yang komprehensif atau menyeluruh, sistematis yang logis akan mengarah dan mendukung pada identifikasi masalah-masalah pasien. Masalah-masalah ini dengan menggunakan data penkajian sebagai dasar formulasi yang dinyatakan sebagai diagnosa keperawatan Adapun Pada pasien yang dicurigai COVID-19 (memiliki 3 gejala utama demam, batuk dan sesak) perlu dilakukan pengkajian:
Riwayat perjalanan: Petugas kesehatan wajib mendapat secara rinci riwayat perjalanan pasien saat ditemukan pasien demam dan penyakit pernapasan akut. Pemeriksaan fisik: Pasien yang mengalami demam, batuk dan sesak napas dan telah melakukan perjalanan ke Negara atau Daerah yang telah ditemukan COVID-19 perlu dilakukan isolasi kurang lebih 14 hari.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinis mengenai seseorang, keluarga, atau masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan atau proses kehidupan yang aktual atau potensial. Diagnosis keperawatan sejalan dengan diagnosis medis sebab dalam mengumpulkan data-data saat melakukan pengkajian keperawatan yang dibutuhkan untuk menegakkan diagnosa keperawatan ditinjau dari keadaan penyakit dalam diagnosa medis. Hasil pengkajian dan respon yang diberikan pasien, paling banyak diagnosis keperawatan yang diangkat pada COVID-19 adalah:
a. Infeksi berhubungan dengan kegagalan untuk menghindari patogen akibat paparan COVID-19
b. Hipertermia berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme
c. Pola napas tidak efektif terkait dengan adanya sesak napas
d. Kecemasan terkait dengan etiologi penyakit yang tidak diketahui
Tujuan dan kriteria hasil Cegah penyebaran infeksi Pelajari lebih lanjut tentang penyakit dan penatalaksanaannya Kontrol suhu tubuh Frekuensi napas kembali normal Kecemasan menurun
3. Intervensi Keperawatan
Pada tahap ini perawat membuat rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah dan meningkatkan kesehatan pasien. Perencanaan keperawatan adalah suatu rangkaian kegiatan penentuan langkah-langkah pemecahan masalah dan prioritasnya, perumusan tujuan, rencana tindakan dan penilaian asuhan keperawatan pada pasien/klien berdasarkan analisis data dan diagnosa keperawatan.
Berikut intervensi keperawatan yang dapat dilakukan pada pasien dengan COVID-19 Monitor vital sign: Pantau suhu pasien; infeksi biasanya dimulai dengan suhu tinggi; monitor juga status pernapasan pasien karena sesak napas adalah gejala umum covid19. Perlu juga untuk dipantau saturasi oksigen pasien karena sesak napas berhubungan dengan kejadian hipoksia Maintain respiratory isolation: Simpan tisu di samping tempat tidur pasien; buang sekret dengan benar; menginstruksikan pasien untuk menutup mulut saat batuk atau bersin (menggunakan masker) dan menyarankan pengujung (siapa saja yang memasuki ruang perawatan) tetap menggunakan masker atau batasi/hindari kontak langsung pasien dengan pengunjung. Terapkan hand hygiene: Ajari pasien dan orang yang telah kontak dengan pasien cuci tangan pakai sabun dengan benar Manage hyperthermi: Gunakan terapi yang tepat untuk suhu tinggi untuk mempertahankan normotermia dan mengurangi kebutuhan metabolisme Edukasi: Berikan informasi tentang penularan penyakit, pengujian diagnostik, proses penyakit, komplikasi, dan perlindungan dari virus.
4. EVALUASI
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu pasien dari masalah status kesehatan yang dihadapi kestatus kesehatan yang baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan. Proses pelaksanaan implementasi harus berpusat kepada kebutuhan klien, faktor-faktor lain yang mempengaruhi kebutuhan keperawatan, strategi implementasi keperawatan, dan kegiatan komunikasi. Tujuan keperawatan dapat dipenuhi jika dibuktikan dengan: Pasien dapat mencegah penyebaran infeksi Pasien dapat belajar lebih banyak tentang penyakit dan penatalaksanaanya Suhu tubuh pasien kembali normal Pernapasan pasien normal Kecemasan pasien berkurang ( siringoringo,2020)
Bab III
Penutup
Virus Covid-19 adalah sebuah virus yang menyerang saluran pernapasan manusia dan mudah ditularkan melalui droplet dan kontak erat penderita dengan orang yang sehat. Virus ini sudah menyerang dunia dan menjadi bencana pandemi selama hampir 2 tahun lamanya, sehingga banyak memakan korban bahkan sampai dapat berkembang bermutasi menjadi jenis virus Covid-19 yang lain. Orang yang terinfeksi Covid-19 ini memiliki berbagai gejala seperti batuk, rasa nyeri dan sakit, hidung tersumbat, konjungtivitas, sakit tenggorokan, diare, anosmia (hilang indra rasa dan penciuman), ruam, dan sesak napas. Oleh karena itu dalam mengatasi dan menanggulangi pandemi ini perlu berbagai cara diantaranya, melakukan 5M dengan baik ( mamakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas) dan melakukan vaksinasi.
Penyaringan atau screening Covid-19 adalah langkah penting dalam mencegah penularan penyakit yang diakibatkan virus corona ini. Screening merupakan tindakan awal yang dilakukan petugas kesehatan terhadap pasien yang datang ke rumah sakit. Tindakan ini menentukan langkah selanjutnya, apakah pasien harus segera dirujuk ke rumah sakit khusus rujukan Covid-19, perlu menjalani tes permulaan, atau bisa diperiksa secara umum sesuai dengan keluhan.
Screening Covid-19 dilakukan oleh petugas medis yang berkompeten sesuai dengan pedoman protokol penanganan Covid-19 yang diterbitkan Kementerian Kesehatan. Screening bisa dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas hingga rumah sakit. Prosedur ini penting demi keamanan pasien itu sendiri serta orang lain yang berada di sekitarnya, termasuk petugas medis yang menangani.Dalam screening, diperlukan kerja sama dari pasien demi mendapatkan hasil yang valid. Ketidakjujuran dalam pemberian keterangan akan berakibat fatal karena berpotensi menyebarkan virus corona ke orang-orang yang berinteraksi dengan pasien, khususnya dokter dan perawat.
DAFTAR PUSTAKA
Danawati,Dewi . (2020). Apa itu Screening Covid-19 serta Metodenya. Retrieved from https://primayahospital.com/covid-19/screening-covid-19/
Machendrawaty, N., Yuliani, Y., Setiawan, A. I., & Yuningsih, Y. (2020). Optimalisasi fungsi mesjid di tengah pandemic Covid 19: Telaah syar'i, regulasi dan aplikasi. UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Mardiana, D., & Darmalaksana, W. (2020). Relevansi Syahid Ma’nawi dengan Peristiwa Pandemic Covid-19: Studi Matan Pendekatan Ma’anil Hadis. Jurnal Perspektif, 4(1), 12-19.
Masrul, M., Tasnim, J. S., Daud Oris Krianto Sulaiman, C. P., Purnomo, A., Febrianty, D. H. S., Purba, D. W., . . . Ramadhani, Y. R. (2020). Pandemik COVID-19: Persoalan dan Refleksi di Indonesia. Medan: Yayasan Kita Menulis.
Mona, N. (2020). Konsep Isolasi Dalam Jaringan Sosial Untuk Meminimalisasi Efek Contagious (Kasus Penyebaran Virus Corona Di Indonesia). Jurnal Sosial Humaniora Terapan, 2(2).
Pratiwi, A. D. (2020). Gambaran Penggunaan Masker di Masa Pandemi Covid-19 Pada Masyarakat di Kabupaten Muna. Prosiding Nasional Covid-19, 52-57.
Siringoringo, P. A. (2020). Pelaksanaan Dokumentasi Asuhan Keperawatan Pada Pasien Covid-19. doi:10.31219/osf.io/vktpw
Suprabowo, G. Y. A. (2020). Memaknai Hospitalitas di Era New Normal: Sebuah Tinjauan Teologis Lukas 10: 25-37. HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen, 5(1), 43-58.
TURSINA, A. (2020). COVID-19 dan lansia: Pusat Penerbitan Unisba (P2U) LPPM UNISBA. Widiyani, R. (2020). Latar Belakang Virus Corona, Perkembangan hingga Isu Terkini. Retrieved from detik News
https://www.kemkes.go.id/article/view/20031700001/Dokumen-Resmi-dan-Protokol-Penanganan-COVID-19.html
LAMPIRAN
A. Link Gform
https://forms.gle/WZoDJRAHBxN2yRS66
B. FORM PENGKAJIAN KASUS COVID 19
FORM SCREENING COVID 19
|
NAMA |
: |
|
|
UMUR |
: |
|
|
JENIS KELAMIN |
: |
|
|
NIK |
: |
|
|
ALAMAT |
: |
|
|
PEKERJAAN |
: |
|
|
HUBUNGAN DENGAN PENDERITA
|
: |
|
SCREENING PENGKAJIAN
1. Mengalami gejala seperti di bawah ini
a. Dema
b. Pusing
c. Batuk
d. Nyeri sendi
e. Salah satu gejala
f. Semua gejala
2. Kontak fisik langsung dengan Penderita covid 19?
a. Berpelukan
b. Berjabat tangan
c. Berpegangan tangan
d. Salah satu dari jawaban diatas
3. Mempunyai riwayat komorbid
a. Ya
b. Tidak
4. Kontak erat dengan Penderita covid 19?
a. Ya
b. Tidak
5. Jenis Penyakit Komorbid
a. Kanker
b. Diabetes
c. PPOK
d. HIV/Defisiensi Imun
e. Penyakit lever kronik
f. Obesitas
g. Asma
h. Kelainan Darah
i. Sakit Jantung
j. Gangguan ginjal kronik
k. Gangguan syaraf / neurologi
l. Kehamilan
6. Di rumah memakai masker
a. Ya
b. Tidak
7. Apakah sudah melapor ke Satgas Covid setemapat
a. Sudah
b. Belum
8. Apakah sudah mendaptkan vaksinasi covid-19
a. Ya
b. Tidak
9. Apakah termasuk dalam OTG
a. Ya
b. Tidak
10. Kapan kontak terakhir dengan Penderita?
Jawab……
11. Selalu melakukan cuci tangan ?
a. Ya
b. Tidak
c. Mungkin
12. Sejak kapan mulai timbul gejala?
Jawab….
13. Apakah tinggal satu rumah dengan Penderita?
a. Ya
b. Tidak

Comments
Post a Comment