DIABETES MELITUS TIPE II
Laporan
Diskusi
Asuhan
Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Diabetes Melitus Tipe 2
Kelompok
7
1. Maria
Felisitas Were I1B018075
2. May
Worabay I1B018100
3. Fatma
Fathunni'mah I1B020012
4. Lusi
Setiawati I1B020014
5. Farah
Triandari I1B020015
6. Faridhatul
Izza I1B020016
Program
Studi Sarjana Keperawatan Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan
Universitas Jenderal Soedirman
BAB
1. PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Diabetes melitus (DM)
merupakan gangguan metabolik yang ditandai dengan adanya kadar gula dalam darah
diatas normal yang disebabkan oleh berbagai aspek. Salah satu penyebab dari
diabetes melitus yaitu retensi insulin. Hal ini menjadi penyebab terjadinya diabetes
melitus tipe 2. Diabetes melitus merupakan penyakit global yang sering
dijumpai. Berdasarkan data dari organisasi Internastional
Diabetes Federation (IDF), pada tahun 2019, 463 juta orang usia 20-79
tahun di dunia menderita diabetes atau
setara dengan angka prevalensi 9,3%. Proporsi kejadian diabetes melitus yaitu
5-10% DM tipe 1 dan 90-95% DM tipe 2 (American
Diabetes Association, 2020). Indonesia sendiri merupkan negara ke tujuh di
dunia dengan penyandang diabetes melitus terbanyak dengan jumlah 10,7 juta
orang dan oleh Perkeni (2019), diperkirakan akan naik menempati peringkat enam
pada tahun 2040. Proporsi dari diabetes melitus di Indonesia sendiri yaitu 90%
merupakan kasus DM tipe 2 (Kemenkes, 2018).
Tingginya kasus
diabetes melitus yang terjadi dan bahaya komplikasi serius yang ditimbulkan
dari diabetes melitus mengharuskan penatalaksanaan secara medis dan asuhan
keperawatan harus diterapkan dengan sebaik-baiknya. Dalam menerapkan asuhan
keperawatan, diperlukan perencanaan yang tepat dan rasional agar kasus diabetes
melitus dapat tertangani dengan baik. Asuhan keperawatan yang disusun haruslah
sesuai dengan standar intervensi yang ada. Oleh karena itu, perawat harus
memiliki kompetensi dalam menyusun asuhan keperawatan berdasarkan standar yang telah
ditetapkan dalam menangani kasus DM tipe 2.
B. Tujuan
- Untuk mengetahui apa itu DM tipe II.
- Untuk mengetahui etiologi dan faktor risiko DM tipe II.
- Untuk mengetahui patofisiologi dari DM tipe II.
- Untuk mengetahui manifestasi klinis dari DM tipe II.
- Untuk mengetahui cara penanganan dari penyakit DM tipe II.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
A. Overview Gangguan Sistem Penyakit
Diabetes melitus
merupakan suatu penyakit yang ditandai oleh adanya hiperglikemia yang terjadi
karena adanya kerusakan sekresi insulin maupun kerja dari insulin.Tipe diabetes
melitus ada tiga yaitu Diabetes Melitus tipe I, Diabetes Melitus tipe II, dan
Diabetes Melitus Gestasional. Dari tiga tipe diabetes melitustersebut, sekitar
90-95% pasien terkena Diabetes Melitus tipe II. Menurut penelitian dari WHO,
lebih dari 1,4 miliar orang dewasa memiliki risiko terkena penyakit dikarenakan
kurangnya aktivitas fisik seperti olahraga. Pada tahun 2016,didapatkan lebih
dari seperempat orang dewasa di seluruh dunia tidak cukup berolahraga. Hal
tersebut menunjukkanntingginya risiko terkena penyakit Diabetes Melitus tipe
II. Terutama pada saat pandemi Covid-19, dimana seseorang dihimbau untuk
mengurangi aktivitas di luar rumah. Sehingga memicu peningkatan risiko terkena
penyakit Diabetes Melitus tipe II di dunia.
Penyakit Diabetes Melitus tipe II disebabkan oleh resistensi insulin atau penurunan produlksi jumlah insulin. Diabetes Melitus tipe II sering terjadi pada pasien dengan umur >30 tahun dan pasien dengan masalah obesitas. Penanganan pertama penyakit Diabetes Melitus tipe II yaitu dengan diet dan olahraga, serta dengan agens hipoglemikorah sesuai dengan kebutuhan pasien. Apabila tidak ditangani dengan baik, maka dapat menyebabkan komplikasi berupa komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular.
B. Pembahasan
a. Pengertian Diabetes Melitus II
Diabetes Melitus merupakan sekumpulan gangguan metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) akibat kerusakan pada sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya (Brunner&Suddarth, 2010). Diabetes Melitus II merupakan penyakit hiperglikemia yang diakibatkan oleh penurunan sensitivitas sel terhadap insulin (resistensi insulin) atau terjadi karena produksi jumlah insulin yang menurun..
b.
Etiologi Diabetes
Melitus II
Penyebab Diabetes Melitus II yaitu resistensi insulin atau
produksi jumlah insulin. menurun.
c. Faktor Risiko Diabetes Melitus II
-
Obesitas
-
Hipertensi
-
Riwayat keluarga terkena DM
-
Dislipedimia (kenaikan kadar lemak darah)
-
Umur
-
Faktor genetik
-
Alkohol dan rokok
d.
Manifestasi Klinis
Diabetes Melitus II
-
Poliuria (banyak kencing)
-
Pholiphagia (banyak makan)
-
Polidipsia (banyak minum)
-
Keletihan dan mudah lelah
-
Kebas di tangan atau kaki
- Perubahan pandangan menjadi kabur
-
Luka yang lambat sembuh
e.
Patofisiologi
Menurut (Corwin, EJ. 2009) masalah utama dari Diabetes Melitus
tipe II yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Pada keadaan
normal insulin akan berikatan dengan reseptor khusus di permukaan sel. Hal
tersebut mengakibatkan terjadinya reaksi dalam metabolisme glukosa di intrasel.
Resistensi insulin pada penyakit Diabetes Melitus tipe II bersamaan dengan penurunan reaksi intrasel. Oleh sebab itu,
insulin tidak bekerja secara efektif dalam menstimulasi pengambilan glukosa
oleh jaringan.
Pada penderita Diabetes Melitus tipe II terjadi akibat sekresi
insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang
normal/ sedikit meningkat. Jika sel β tidak menyeimbangkan peningkatan insulin
maka akan mengakibatkan penyakit Diabetes Melitus tipe II.
f.
Pathway
(Corwin, EJ. 2009)
g.
Komplikasi Diabetes
Melitus II
Komplikasi akut:
1.
Hipoglikemia
Hipoglikemia merupakan kondisi kadar glukosa darah di bawah nilai
normal (<50 mg/dl).
2.
Hiperglikemia
Hiperglikemia merupakan kondisi ksdar glukosa darah meningkat
secara tiba-tiba.
Komplikasi kronis:
1.
Komplikasi makrovaskuler
Komplikasi makrovaskuler
(pembuluh darah besar) dapat memengaruhi sirkulasi koroner, pembuluh darah perifer, dan pembuluh
darah otak sehingga dapat menyebabkan munculnya penyakit jantung koroner (PJK),
gagal jantung kongestif, dan stroke.
2.
Komplikasi mikrovaskuler
Komplikasi mikrovaskuler
(pembuluh darah kecil) dapat memengaruhi mata dan ginjal .
Selain itu, dapat mengontrol glukosa darah
untuk menunda atau mencegah adanya awitan komplikasi mikrovaskuler maupun makrovaskuler. Sehingga dapat mengakibatkan munculnya penyakit kebutaan,
gangguan ginjal (nefropati),gangguan mata (retinopati/kebutaan), serta
amputasi.
h.
Penatalaksanaan Medis
Diabetes Melitus II
-
Nutrisi
Tujuan dari
penatalaksanaan nutrisi yaitu untuk mencapai dan mempertahankan kadar glukosa
darah dan tekanan darah dalam kisaran normal, profil lipid dan lipoprotein yang
menurunkan risiko penyakit vaskuler, mencegah atau menghambat munculnya
komplikasi kronik, memenuhi kebutuhan nutrisi individu, dan menjaga kepuasan
untuk makan (Brunner &
Suddarth, 2010).
-
Olahraga
Tujuan dari
penatalaksanaan olahraga yaitu karena olahraga penting untuk meningkatkan
keefektifan kerja insulin.
-
Pemantauan
Tujuan dari penatalaksanaan pemantauan yaitu untuk mengkaji dan melakukan modifikasi
terhadap pengontrolan kadar glukosa darah dan asupan nutrisi klien.
-
Terapi farmakologis
1.
Terapi primer untuk Diabetes Melitus Tipe 1 yaitu insulin.
2.
Terapi primer untuk Diabetes Melitus Tipe 2 yaitu penurunan berat
badan.
-
Edukasi
Pemberian edukasi
bertujuan untuk upaya pencegahan secara primer, sekunder, maupun tersier.
i.
Pemeriksaan Penunjang
-
Pemeriksaan Glukosa Darah
1. Pemeriksaaan Gula Darah
Puasa (GDP)
2. Pemeriksaan Gula Darah
Sewaktu (GDS)
3. Pemeriksaan Gula Darah 2
jam PostPradial (GD2PP)
-
Pemeriksaan glukosa per oral (TTGO)
j.
Pencegahan Diabetes Melitus
II
1. Pencegahan premordial
Contoh pencegahan
premordial penyakit Diabetes Melitus 2 yaitu terciptanya kesadaran bagi
masyarakat bahwa mengonsumsi makanan fastfood
tidak baik bagi kesehatan, pentingnya melakukan aktivitas olahraga, dan
obesitas tidak baik untuk kesehatan.
2. Pencegahan primer
Contoh pencegahan primer
penyakit Diabetes Melitus 2 seperti pencegahan secara dini pada kelompok orang
yang memiliki risiko tinggi terkena
penyakit Diabetes Melitus dengan cara menerapkan
perilaku hidup bersih dan sehat.
3. Pencegahan sekunder
Contoh pencegahan
sekunder yaitu kegiatan penyuluhan tentang penyakit Diabetes Melitus 2.
4. Pencegahan tersier
Contoh pencegahan
tersier yaitu pelayanan kesehatan yang holistik dan kolaborasi
antardisiplin ilmu yang dibutuhkan dalam mencegah terjadinya kecacatan lebih
lanjut.
Ny. Z berumur 69 tahun memiliki keluhan badan
lemas dan pusing. Dari hasil pengkajian Ny. Z, tekanan darah 110/70 mmHg, Nadi
88 x/menit, Respirasi 22 x/menit dan suhu 36, 2 C, BB 65 kg, TB 158 cm. Ny. Z mengeluh
sering kali BAK sekitar 6 kali dalam sehari dan sering merasa kantuk. Ny. Z
juga mengeluhkan mengenai luka di kaki yang dialaminya selama 1 bulan yang
tidak sembuh-sembuh dengan balutan verban yang bersih, sering kram pada
pergelangan dan mudah merasa lapar dan haus. Selain itu, Ny. Z mengatakan
pandangannya menjadi kabur. Hasil pemeriksaan darah menunjukkan GDS 235 mg/dl,
GDP 145 mg/dl, dan GDPP 220 mg/dl. Sehingga Ny. Z didiagnosis menderita
Diabetes Melitus Tipe 2.
PENGKAJIAN
1. Identitas pasien
Nama : Ny. Z
Usia : 69 tahun
2. Alasan masuk
Klien datang dengan
keluhan badan lemas, pusing, sering merasa kantuk. Klien juga mengeluhkan
sering BAK sekitar 6 kali perhari, sering kram pada pergelangan kaki, sering
merasa haus dan lapar.
3. Riwayat kesehatan
-
Riwayat kesehatan sekarang: Klien dalam keadaan lemah dan pusing.
Klien mengeluh sering BAK sekitar enam kali perhari. Klien mengatakan bahwa ia
sering merasa haus dan lapar, dan pandangan kabur.
-
Riwayat kesehatan terdahulu: mengalami luka pada kaki yang tidak
sembuh-sembuh selama satu bulan dan terpasang balutan verban yang bersih.
4. Pemeriksaan Fisik
-
BB : 65 kg
-
TB : 158 cm
-
TTV : TD 110/70
mmHg,
-
Nadi :88 x/menit
-
Respirasi :22 x/menit
-
Suhu
:36,2ºC
5. Pemeriksaan Penunjang
-
GDS 235 mg/dl
-
GDP 145 mg/dl
-
GDPP 220 mg/dl
ANALISIS DATA
- Defisit volume cairan b.d gejala poliuria ditandai
dengan:
DS:
●
Pasien sering buang air kecil sebanyak 6 kali
●
Pasien mudah merasa haus
●
Pasien merasa lemas
DO:
●
GDS 235 mg/dl
●
Pasien tampak sering minum
●
Pasien tampak sering buang air kecil
- Kerusakan integritas sistem integumen b.d kerusakan
jaringan nekrosis
DS:
●
Pasien mengeluhkan luka tidak sembuh-sembuh
DO :
●
Terdapat luka di kaki
●
Terpasang verban
- Hambatan mobilitas fisik b.d adanya luka gangren diabetik
DS:
●
Pasien mengatakan sering mengalami kram pada pergelangan kaki
DO :
●
Terdapat luka di kaki
●
Pasien merasa lemas
DIAGNOSA KEPERAWATAN
- Defisit volume cairan b.d gejala poliuria
- Kerusakan integritas sistem integumen b.d kerusakan
jaringan nekrosis
- Hambatan mobilitas fisik b.d adanya luka gangren diabetik
PERENCANAAN
|
NO. |
Diagnosa Keperawatan |
Tujuan |
Intervensi |
|
1. |
Defisit volume cairanb.d gejala
poliuria
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan
klien dengan diagnosa kelebihan volume
cairan dapat teratasi dengan kriteria hasil : ⮚
Fluid balance : 1. Mempertahankan urine output sesuai dengan
usia dan BB, BJ urine normal, HT normal 2. Tekanan darah, nadi suhu tubuh dalam batas
normal. |
⮚
FluidManagement 1. Pertahankan Catatan intake dan output yang
kuat 2. Monitor vital sign |
|
2. |
Kerusakan integritas sistem integumen b.d kerusakan jaringan
nekrosis
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan
klien dengan diagnosa kerusakan integritas
sistem integumen dapat teratasi dengan kriteria hasil : ⮚
Tissue
integrity : 1. Jaga kulit agar tetap bersih dan kering 2. Mobilisasi pasien ( ubah posisi pasien ) 3. Perfusi jaringan normal 4. Tidak ada tanda infeksi 5. Ketebalan dan tekstur
jaringan normal 6. Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya cedera berulang 7. Menunjukkan terjadinya proses penyembuhan
luka setiap 2 jam sekali
|
⮚
Pressure
ulcer prevention wound care : 1. Monitor kulit akan
adanya kemerahan 2. Oleskan lotion
atau minyak/ babyoil pada daerah yang
tertekan 3. Monitor aktivitas
dan mobilisasi pasien 4. Monitor status
nutrisi pasien 5. Memandikan pasien
dengan sabun dan air hangat 6. Observasi luka:
lokasi, demensi, keadaan luka, jaringan nekrotik, tanda-tanda infeksi lokal,
formasi tektur 7. Ajarkan keluarga
tentang luka dan perawatan luka
|
|
3. |
Hambatan mobilitas fisik b.d adanya luka gangrendiabetik
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan
klien dengan diagnosa Hambatan mobilitas
fisik dapat teratasi dengan kriteria hasil : ⮚
JointMovement : Active • Mobility Level • Selfcare : ADLs • Transfer performance 1. Klien meningkat dalam aktivitas fisik 2. Mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas 3. Memverbalisasikan perasaan
dalam meningkatkan kekuatan dan kemampuan berpindah 4. Memperagakan penggunaan alat bantu
|
⮚
Exercise therapy : ambulation 1. Monitor vital sign
sebelum dan sesudah latihan dan lihat respon pasien saat latihan 2. Konsultasi dengan
terapi fisik tentang rencana ambulasi sesuai dengan kebutuhan 3. Bantu pasien untuk
menggunakan tongkat saat berjalan dengan cegah terhadap cedera 4. Ajarkan pasien
atau tenaga kesehatan lain tentang teknik ambulasi untuk mobilisasi (walker) 5. Kaji kemampuan
dalam mobilisasi 6. Latih pasien dalam
pemenuhan kebutuhan ADL secara mandiri sesuai kemampuan 7. Dampingi dan bantu
pasien saat mobilisasi dan bantu
penuhi kebutuhan ADL 8. Berikan alat bantu
jika klien memerlukan 9. Ajarkan pasien
bagaimana merubah posisi dan berikan
bantuan jika diperlukan |
IMPLEMENTASI DAN
EVALUASI
|
Diagnosis Keperawatan |
Implementasi |
Evaluasi |
|
Defisit volume cairan b.d gejala poliuria |
1. Mengkaji keadaan umum
dan TTV pasien 2. Mengkaji intake dan
output pasien 3. Mengkaji status
nutrisi pasien 4. Memberikan edukasi
tentang asupan nutrisi adekuat 5. Memberikan edukasi
terkait kebersihan alat reproduksi |
S : - Pasien mengatakan sering buang air kecil sebanyak 6 kali - Pasien mudah merasa haus - Pasien merasa lemas O: - GDS 235 mg/dl - Pasien tampak sering minum - Pasien tampak sering buang air kecil A : Masalah belum teratasi P : Intervensi dilanjutkan |
|
Kerusakan integritas sistem integumen b.d kerusakan jaringan
nekrosis |
1. Mengkaji adanya warna
kemerahan pada kulit pasien 2. Mengkaji pengetahuan
pasien tentang perawatan luka 3. Memberikan lotion
pada area yang tertekan 4. Mengajarkan kepada
pasien terkait cara relaksasi yang benar untuk mengurangi adanya area
tekanan 5. Mengkaji status
nutrisi pasien 6. Mengobservasi luka
pasien 7. Memberikan edukasi
kepada pasien dan keluarganya tentang luka dan perawatan luka |
S: - Pasien mengeluhkan luka tidak sembuh-sembuh O: - Terdapat luka di kaki - Terpasang verban A: Masalah belum teratasi P: Intervensi dilanjutkan |
|
Hambatan mobilitas fisik b.d adanya luka gangrendiabetik |
1. Mengkaji keadaan umum
dan TTV pasien 2. Mengkaji adanya
infeksi pada luka 3. Mengkaji pengetahuan
pasien tentang gerakan relaksasi 4. Melakukan kolaborasi dengan terapis terkait pemberian ambulasi sesuai dengan kebutuhan
pasien 5. Mengajarkan kepada
pasien tentang upaya mobilisasi yang baik dan benar 6. Mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami
|
S: - Pasien mengatakan sering mengalami kram pada pergelangan kaki O: - Terdapat luka dikaki - Pasien merasa lemas A: Masalah belum teratasi P: Intervensi dilanjutkan |
DOKUMENTASI
SOAL
1. Menurut pemahaman Anda,
seperti apakah penyakit diabetes melitus 2? (Short essay)
2. Penyakit Diabetes
Melitus tipe II disebabkan oleh resistensi insulin (BENAR/SALAH)
3. Apakah penyakit Diabetes
Melitus tipe II merupakan penyakit turunan (BENAR/SALAH)
4. Berikut ini merupakan
faktor risiko dari Diabetes Melitus tipe II, kecuali ( pilihan ganda )
a. Umur
b. Obesitas
c. Kebas
d. Hipertensi
5. Pola makan yang baik
merupakan salah satu tindakan pencegahan dari penyakit Diabetes Melitus tipe II
(BENAR/SALAH)
6. Poliuria merupakan
gejala dari penyakit Diabetes Melitus tipe II (BENAR/SALAH)
7. Hiperglikemia merupakan komplikasi
akut dari Diabetes Melitus tipe II (BENAR/SALAH)
8. Apakah penyakit Diabetes Melitus tipe II dapat menular? (BENAR/SALAH)
9. Polidipsia merupakan salah satu faktor risiko dari penyakit Diabetes Melitus tipe II (BENAR/SALAH)
- Untuk mengukur pemahaman Anda mengenai penyakit Diabetes Melitus tipe II. Jawablah soal di atas dengan link berikut : https://forms.gle/pM93mHjHTvG6ag3W9
- Link blogspot : https://simkepkelasaunsoed.blogspot.com/2021/09/diabetes-melitus-tipe-ii.blogspot.com.html
BAB
3. PENUTUP
A. Kesimpulan
Diabetes
melitus merupakan suatu penyakit yang ditandai oleh adanya hiperglikemia yang
terjadi karena adanya kerusakan sekresi insulin maupun kerja dari insulin. Dari
tiga tipe diabetes melitus, banyak pasien terkena Diabetes Melitus tipe II. Diabetes
Melitus II merupakan penyakit hiperglikemia yang diakibatkan oleh penurunan
sensitivitas sel terhadap insulin (resistensi insulin) atau terjadi karena
produksi jumlah insulin yang menurun. Banyak faktor resiko dan komplikasi dari
adanya Diabetes Melitus II, bisa dilakukan pencegahan untuk penyakit ini.
Dari
kasus Ny. Z dapat disimpulkan bahwa didapatkan tiga diagnosa keperawatan
sebagai berikut:
1. Defisit
volume cairan berhubungan dengan gejala poliuria.
Diagnosa ini dapat diatasi dengan fluid managemen
agar pasien dapat mertahankan catatan intake dan output yang kuat dan memonitor
vital sign pasien agar pasien dapat mempertahankan urine output sesuai dengan
usia dan BB, BJ urine normal, HT normal serta tekanan darah, nadi suhu tubuh
dalam batas normal.
2. Kerusakan
integritas sistem integumen berhubungan dengankerusakan jaringan nekrosis.
Diagnosa ini dapat diatasi dengan
pressure ulcer prevention wound care dengan cara memonitor kulit akan adanya
kemerahan, mengoleskan lotion atau minyak/ baby oil
pada daerah yang tertekan, memonitor
aktivitas dan mobilisasi pasien, status nutrisi pasien, memandikan pasien
dengan sabun dan air hangat, observasi luka, dan mengajarkan keluarga tentang
luka dan perawatan luka agar kulit tetap bersih dan kering, perfusi jaringan
normal, tidak ada tanda infeksi, ketebalan dan tekstur jaringan normal, dan
menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya
cedera berulang.
3. Hambatan
mobilitas fisik adanya berhubungan denganluka gangren diabetik.
Diagnosa ini dapat diatasi
denganexercise therapy yaitu ambulation
dengan memonitor vital sign sebelum dan sesudah latihan dan lihat respon pasien
saat latihan, konsultasi dengan terapi fisik tentang rencana ambulasi sesuai
dengan kebutuhan, dan membantu pasien untuk menggunakan tongkat saat berjalan
dengan cegah terhadap cedera agar pasien meningkat dalam aktivitas fisik dan
mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas.
Evaluasi keperawatan
terhadap Ny. Z dilakukan dengan mebandingkan hasil dan tujuan yang diterapkan
dalam rencana keperawatan. Dari ketiga diagnosa yang di angkat ternyata masalah
belum dapat diatasi sehingga perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut.
Referensi
Brunner & Suddarth. 2010, Text Book Of Medical Surgical Nursing, 12 th
Edition, China, LWW.
Corwin, E., J. 2009, Buku Saku Patofisiologi, 3 Edisi Revisi,
Jakarta, EGC.
Fatimah, R., N. 2015, ‘Diabetes
Melitus 2’, Jurnal Majority, 4(5),
93-101.
Kemenkes RI. 2020, Tetap
Produktif, Cegah dan Atasi Diabetes Melitus.
Widiastuti, L. 2020, ‘Acupressure dan Senam Kaki terhadap
Tingkat Peripheral Arterial Disease pada Klien DM Tipe 2’, Jurnal
Keperawatan Silampari, 3(2),
694-706.





Comments
Post a Comment