DIABETES MELITUS TIPE II

 

Laporan Diskusi

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Diabetes Melitus Tipe 2

 



 

Kelompok 7

1.      Maria Felisitas Were               I1B018075

2.      May Worabay                         I1B018100

3.      Fatma Fathunni'mah               I1B020012

4.      Lusi Setiawati                         I1B020014

5.      Farah Triandari                        I1B020015

6.      Faridhatul Izza                        I1B020016

 

 


Program Studi Sarjana Keperawatan Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan

Universitas Jenderal Soedirman



BAB 1. PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Diabetes melitus (DM) merupakan gangguan metabolik yang ditandai dengan adanya kadar gula dalam darah diatas normal yang disebabkan oleh berbagai aspek. Salah satu penyebab dari diabetes melitus yaitu retensi insulin. Hal ini menjadi penyebab terjadinya diabetes melitus tipe 2. Diabetes melitus merupakan penyakit global yang sering dijumpai. Berdasarkan data dari organisasi Internastional Diabetes Federation (IDF), pada tahun 2019, 463 juta orang usia 20-79 tahun  di dunia menderita diabetes atau setara dengan angka prevalensi 9,3%. Proporsi kejadian diabetes melitus yaitu 5-10% DM tipe 1 dan 90-95% DM tipe 2 (American Diabetes Association, 2020). Indonesia sendiri merupkan negara ke tujuh di dunia dengan penyandang diabetes melitus terbanyak dengan jumlah 10,7 juta orang dan oleh Perkeni (2019), diperkirakan akan naik menempati peringkat enam pada tahun 2040. Proporsi dari diabetes melitus di Indonesia sendiri yaitu 90% merupakan kasus DM tipe 2 (Kemenkes, 2018).

Tingginya kasus diabetes melitus yang terjadi dan bahaya komplikasi serius yang ditimbulkan dari diabetes melitus mengharuskan penatalaksanaan secara medis dan asuhan keperawatan harus diterapkan dengan sebaik-baiknya. Dalam menerapkan asuhan keperawatan, diperlukan perencanaan yang tepat dan rasional agar kasus diabetes melitus dapat tertangani dengan baik. Asuhan keperawatan yang disusun haruslah sesuai dengan standar intervensi yang ada. Oleh karena itu, perawat harus memiliki kompetensi dalam menyusun asuhan keperawatan berdasarkan standar yang telah ditetapkan dalam menangani kasus DM tipe 2.

 

B.     Tujuan

  1. Untuk mengetahui apa itu DM tipe II. 
  2. Untuk mengetahui etiologi dan faktor risiko  DM tipe II. 
  3. Untuk mengetahui patofisiologi dari DM tipe II.
  4. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari DM tipe II.          
  5. Untuk mengetahui cara penanganan dari penyakit DM tipe II.

 

 

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

 A.  Overview Gangguan Sistem Penyakit

Diabetes melitus merupakan suatu penyakit yang ditandai oleh adanya hiperglikemia yang terjadi karena adanya kerusakan sekresi insulin maupun kerja dari insulin.Tipe diabetes melitus ada tiga yaitu Diabetes Melitus tipe I, Diabetes Melitus tipe II, dan Diabetes Melitus Gestasional. Dari tiga tipe diabetes melitustersebut, sekitar 90-95% pasien terkena Diabetes Melitus tipe II. Menurut penelitian dari WHO, lebih dari 1,4 miliar orang dewasa memiliki risiko terkena penyakit dikarenakan kurangnya aktivitas fisik seperti olahraga. Pada tahun 2016,didapatkan lebih dari seperempat orang dewasa di seluruh dunia tidak cukup berolahraga. Hal tersebut menunjukkanntingginya risiko terkena penyakit Diabetes Melitus tipe II. Terutama pada saat pandemi Covid-19, dimana seseorang dihimbau untuk mengurangi aktivitas di luar rumah. Sehingga memicu peningkatan risiko terkena penyakit Diabetes Melitus tipe II di dunia.

Penyakit Diabetes Melitus tipe II disebabkan oleh resistensi insulin atau penurunan produlksi jumlah insulin. Diabetes Melitus tipe II  sering terjadi pada pasien dengan umur >30 tahun dan pasien dengan masalah obesitas. Penanganan pertama penyakit Diabetes Melitus tipe II yaitu dengan diet dan olahraga, serta dengan agens hipoglemikorah sesuai dengan kebutuhan pasien. Apabila tidak ditangani dengan baik, maka dapat menyebabkan komplikasi berupa komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular.

       B. Pembahasan

a.      Pengertian Diabetes Melitus II

        Diabetes Melitus merupakan sekumpulan gangguan metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) akibat kerusakan pada sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya (Brunner&Suddarth, 2010). Diabetes Melitus II merupakan penyakit hiperglikemia yang diakibatkan oleh penurunan sensitivitas sel terhadap insulin (resistensi insulin) atau terjadi karena produksi jumlah insulin yang menurun..

b.      Etiologi Diabetes Melitus II

Penyebab Diabetes Melitus II yaitu resistensi insulin atau produksi jumlah insulin. menurun.

c.       Faktor Risiko Diabetes Melitus II

-          Obesitas

-          Hipertensi

-          Riwayat keluarga terkena DM

-          Dislipedimia (kenaikan kadar lemak darah)

-          Umur

-          Faktor genetik

-          Alkohol dan rokok

d.      Manifestasi Klinis Diabetes Melitus II

-          Poliuria (banyak kencing)

-          Pholiphagia (banyak makan)

-          Polidipsia (banyak minum)

-          Keletihan dan mudah lelah

-          Kebas di tangan atau kaki

-          Perubahan pandangan menjadi kabur

-          Luka yang lambat sembuh

 

e.       Patofisiologi

Menurut (Corwin, EJ. 2009) masalah utama dari Diabetes Melitus tipe II yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Pada keadaan normal insulin akan berikatan dengan reseptor khusus di permukaan sel. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya reaksi dalam metabolisme glukosa di intrasel. Resistensi insulin pada penyakit Diabetes Melitus tipe II  bersamaan dengan  penurunan reaksi intrasel. Oleh sebab itu, insulin tidak bekerja secara efektif dalam menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan.

Pada penderita Diabetes Melitus tipe II terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal/ sedikit meningkat. Jika sel β tidak menyeimbangkan peningkatan insulin maka akan mengakibatkan penyakit Diabetes Melitus tipe II.

 

f.       Pathway




(Corwin, EJ. 2009)

 

g.      Komplikasi Diabetes Melitus II

Komplikasi akut:

1.      Hipoglikemia

Hipoglikemia merupakan kondisi kadar glukosa darah di bawah nilai normal (<50 mg/dl).

2.      Hiperglikemia

Hiperglikemia merupakan kondisi ksdar glukosa darah meningkat secara tiba-tiba.

Komplikasi kronis:

1.      Komplikasi makrovaskuler

Komplikasi makrovaskuler (pembuluh darah besar) dapat memengaruhi sirkulasi koroner, pembuluh darah perifer, dan pembuluh darah otak sehingga dapat menyebabkan munculnya penyakit jantung koroner (PJK), gagal jantung kongestif, dan stroke.

2.      Komplikasi mikrovaskuler

Komplikasi mikrovaskuler (pembuluh darah kecil) dapat memengaruhi mata  dan ginjal . Selain itu, dapat mengontrol glukosa darah untuk menunda atau mencegah adanya awitan komplikasi mikrovaskuler maupun makrovaskuler. Sehingga dapat mengakibatkan munculnya penyakit kebutaan, gangguan ginjal (nefropati),gangguan mata (retinopati/kebutaan), serta amputasi.

h.      Penatalaksanaan Medis Diabetes Melitus II

-          Nutrisi

Tujuan dari penatalaksanaan nutrisi yaitu untuk mencapai dan mempertahankan kadar glukosa darah dan tekanan darah dalam kisaran normal, profil lipid dan lipoprotein yang menurunkan risiko penyakit vaskuler, mencegah atau menghambat munculnya komplikasi kronik, memenuhi kebutuhan nutrisi individu, dan menjaga kepuasan untuk makan (Brunner & Suddarth, 2010).

-          Olahraga

Tujuan dari penatalaksanaan olahraga yaitu karena olahraga penting untuk meningkatkan keefektifan kerja insulin.

-          Pemantauan

Tujuan dari penatalaksanaan pemantauan yaitu untuk mengkaji dan melakukan modifikasi terhadap pengontrolan kadar glukosa darah dan asupan nutrisi klien.

-          Terapi farmakologis

1.      Terapi primer untuk Diabetes Melitus Tipe 1 yaitu insulin.

2.      Terapi primer untuk Diabetes Melitus Tipe 2 yaitu penurunan berat badan.

-          Edukasi

Pemberian edukasi bertujuan untuk upaya pencegahan secara primer, sekunder, maupun tersier.

i.        Pemeriksaan Penunjang

-          Pemeriksaan Glukosa Darah

1.      Pemeriksaaan Gula Darah Puasa (GDP)

2.      Pemeriksaan Gula Darah Sewaktu (GDS)

3.      Pemeriksaan Gula Darah 2 jam PostPradial (GD2PP)

-          Pemeriksaan glukosa per oral (TTGO)

j.        Pencegahan Diabetes Melitus II

1.      Pencegahan premordial

Contoh pencegahan premordial penyakit Diabetes Melitus 2 yaitu terciptanya kesadaran bagi masyarakat bahwa mengonsumsi makanan fastfood tidak baik bagi kesehatan, pentingnya melakukan aktivitas olahraga, dan obesitas tidak baik untuk kesehatan.

2.      Pencegahan primer

Contoh pencegahan primer penyakit Diabetes Melitus 2 seperti pencegahan secara dini pada kelompok orang yang memiliki risiko tinggi terkena penyakit Diabetes Melitus dengan cara menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

3.      Pencegahan sekunder

Contoh pencegahan sekunder yaitu kegiatan penyuluhan tentang penyakit Diabetes Melitus 2.

4.      Pencegahan tersier

Contoh pencegahan tersier yaitu pelayanan kesehatan yang holistik dan kolaborasi antardisiplin ilmu yang dibutuhkan dalam mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut.

 

KASUS

Ny. Z berumur 69 tahun memiliki keluhan badan lemas dan pusing. Dari hasil pengkajian Ny. Z, tekanan darah 110/70 mmHg, Nadi 88 x/menit, Respirasi 22 x/menit dan suhu 36, 2 C, BB 65 kg, TB 158 cm. Ny. Z mengeluh sering kali BAK sekitar 6 kali dalam sehari dan sering merasa kantuk. Ny. Z juga mengeluhkan mengenai luka di kaki yang dialaminya selama 1 bulan yang tidak sembuh-sembuh dengan balutan verban yang bersih, sering kram pada pergelangan dan mudah merasa lapar dan haus. Selain itu, Ny. Z mengatakan pandangannya menjadi kabur. Hasil pemeriksaan darah menunjukkan GDS 235 mg/dl, GDP 145 mg/dl, dan GDPP 220 mg/dl. Sehingga Ny. Z didiagnosis menderita Diabetes Melitus Tipe 2.

PENGKAJIAN

1.      Identitas pasien

Nama      : Ny. Z

Usia         : 69 tahun

2.      Alasan masuk

Klien datang dengan keluhan badan lemas, pusing, sering merasa kantuk. Klien juga mengeluhkan sering BAK sekitar 6 kali perhari, sering kram pada pergelangan kaki, sering merasa haus dan lapar.

3.      Riwayat kesehatan

-          Riwayat kesehatan sekarang: Klien dalam keadaan lemah dan pusing. Klien mengeluh sering BAK sekitar enam kali perhari. Klien mengatakan bahwa ia sering merasa haus dan lapar, dan pandangan kabur.

-          Riwayat kesehatan terdahulu: mengalami luka pada kaki yang tidak sembuh-sembuh selama satu bulan dan terpasang balutan verban yang bersih.

4.      Pemeriksaan Fisik

-          BB               : 65 kg

-          TB                : 158 cm

-          TTV             : TD 110/70 mmHg,

-          Nadi             :88 x/menit

-          Respirasi      :22 x/menit

-          Suhu                        :36,2ºC

5.      Pemeriksaan Penunjang

-          GDS 235 mg/dl

-          GDP 145 mg/dl

-          GDPP 220 mg/dl

 

ANALISIS DATA

  1. Defisit volume cairan b.d gejala poliuria ditandai dengan:

DS:

       Pasien sering buang air kecil sebanyak 6 kali

       Pasien mudah merasa haus

       Pasien merasa lemas

DO:

       GDS 235 mg/dl

       Pasien tampak sering minum

       Pasien tampak sering buang air kecil

  1. Kerusakan integritas sistem integumen b.d kerusakan jaringan nekrosis

DS:

       Pasien mengeluhkan luka tidak sembuh-sembuh

DO :

       Terdapat luka di kaki

       Terpasang verban

  1. Hambatan mobilitas fisik b.d adanya luka gangren diabetik

DS:

       Pasien mengatakan sering mengalami kram pada pergelangan kaki

DO :

       Terdapat luka di kaki

       Pasien merasa lemas

 

DIAGNOSA KEPERAWATAN

  1. Defisit volume cairan b.d gejala poliuria
  2. Kerusakan integritas sistem integumen b.d kerusakan jaringan nekrosis
  3. Hambatan mobilitas fisik b.d adanya luka gangren diabetik

 

PERENCANAAN

 

NO.

Diagnosa Keperawatan

Tujuan

Intervensi

1.

Defisit volume cairanb.d gejala poliuria

 

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan klien dengan diagnosa kelebihan volume cairan dapat teratasi dengan kriteria hasil :

      Fluid balance :

1. Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal, HT normal

2. Tekanan darah, nadi suhu tubuh dalam batas normal.

      FluidManagement

1. Pertahankan Catatan intake dan output yang kuat

2. Monitor vital sign

2.

Kerusakan integritas sistem integumen b.d kerusakan jaringan nekrosis

 

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan klien dengan diagnosa kerusakan integritas sistem integumen dapat teratasi dengan kriteria hasil :

      Tissue integrity :

1. Jaga kulit agar tetap bersih dan kering

2. Mobilisasi pasien ( ubah posisi pasien )

3. Perfusi jaringan normal

4. Tidak ada tanda infeksi

5. Ketebalan dan tekstur jaringan normal

6. Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya cedera berulang

7. Menunjukkan terjadinya proses penyembuhan luka

setiap 2 jam sekali

 

              Pressure ulcer prevention wound care :

1. Monitor kulit akan adanya kemerahan

2. Oleskan lotion atau minyak/ babyoil

pada daerah yang tertekan

3. Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien

4. Monitor status nutrisi pasien

5. Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat

6. Observasi luka: lokasi, demensi, keadaan luka, jaringan nekrotik, tanda-tanda

infeksi lokal, formasi tektur

7. Ajarkan keluarga tentang luka dan perawatan luka

 

3.

Hambatan mobilitas fisik b.d adanya luka gangrendiabetik

 

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan klien dengan diagnosa Hambatan mobilitas fisik dapat teratasi dengan kriteria hasil :

      JointMovement : Active

• Mobility Level

• Selfcare : ADLs

• Transfer performance

1. Klien meningkat dalam aktivitas fisik

2. Mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas

3. Memverbalisasikan perasaan dalam meningkatkan kekuatan dan kemampuan berpindah

4. Memperagakan penggunaan alat bantu

 

              Exercise therapy : ambulation

1. Monitor vital sign sebelum dan sesudah latihan dan lihat respon pasien saat latihan

2. Konsultasi dengan terapi fisik tentang rencana ambulasi sesuai dengan kebutuhan

3. Bantu pasien untuk menggunakan tongkat saat berjalan dengan cegah terhadap cedera

4. Ajarkan pasien atau tenaga kesehatan lain tentang teknik ambulasi untuk mobilisasi (walker)

5. Kaji kemampuan dalam mobilisasi

6. Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan ADL secara mandiri sesuai

kemampuan

7. Dampingi dan bantu pasien saat

mobilisasi dan bantu penuhi kebutuhan

ADL

8. Berikan alat bantu jika klien memerlukan

9. Ajarkan pasien bagaimana merubah

posisi dan berikan bantuan jika diperlukan

 

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

    

Diagnosis Keperawatan

Implementasi

Evaluasi

Defisit volume cairan b.d gejala poliuria

1.      Mengkaji keadaan umum dan TTV pasien

2.      Mengkaji intake dan output pasien

3.      Mengkaji status nutrisi pasien

4.      Memberikan edukasi tentang asupan nutrisi adekuat

5.      Memberikan edukasi terkait kebersihan alat reproduksi

S :

- Pasien mengatakan sering buang air kecil sebanyak 6 kali

- Pasien mudah merasa haus

- Pasien merasa lemas

O:

- GDS 235 mg/dl

- Pasien tampak sering minum

- Pasien tampak sering buang air kecil

A : Masalah belum teratasi

P : Intervensi dilanjutkan

Kerusakan integritas sistem integumen b.d kerusakan jaringan nekrosis

1.      Mengkaji adanya warna kemerahan pada kulit pasien

2.      Mengkaji pengetahuan pasien tentang perawatan luka

3.      Memberikan lotion pada area yang tertekan

4.      Mengajarkan kepada pasien terkait cara relaksasi yang benar untuk mengurangi adanya area tekanan

5.      Mengkaji status nutrisi pasien

6.      Mengobservasi luka pasien

7.      Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarganya tentang luka dan perawatan luka

S:

- Pasien mengeluhkan luka tidak sembuh-sembuh

O:

- Terdapat luka di kaki

- Terpasang verban

A: Masalah belum teratasi

P: Intervensi dilanjutkan

Hambatan mobilitas fisik b.d adanya luka gangrendiabetik

1.      Mengkaji keadaan umum dan TTV pasien

2.      Mengkaji adanya infeksi pada luka

3.      Mengkaji pengetahuan pasien tentang gerakan relaksasi

4.      Melakukan kolaborasi dengan terapis terkait pemberian ambulasi sesuai dengan kebutuhan pasien

5.      Mengajarkan kepada pasien tentang upaya mobilisasi yang baik dan benar

6.      Mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami

 

S:

- Pasien mengatakan sering mengalami kram pada pergelangan kaki

O:

- Terdapat luka dikaki

- Pasien merasa lemas

A: Masalah belum teratasi

P: Intervensi dilanjutkan

DOKUMENTASI




 

SOAL

1.      Menurut pemahaman Anda, seperti apakah penyakit diabetes melitus 2? (Short essay)

2.      Penyakit Diabetes Melitus tipe II disebabkan oleh resistensi insulin (BENAR/SALAH)

3.      Apakah penyakit Diabetes Melitus tipe II merupakan penyakit turunan (BENAR/SALAH)

4.      Berikut ini merupakan faktor risiko dari Diabetes Melitus tipe II, kecuali ( pilihan ganda )

a.       Umur

b.      Obesitas

c.       Kebas

d.      Hipertensi

5.      Pola makan yang baik merupakan salah satu tindakan pencegahan dari penyakit Diabetes Melitus tipe II (BENAR/SALAH)

6.      Poliuria merupakan gejala dari penyakit Diabetes Melitus tipe II (BENAR/SALAH)

7.      Hiperglikemia merupakan komplikasi akut dari Diabetes Melitus tipe II (BENAR/SALAH)

8.      Apakah penyakit Diabetes Melitus tipe II dapat menular? (BENAR/SALAH)

9. Polidipsia merupakan salah satu faktor risiko dari penyakit Diabetes Melitus tipe II (BENAR/SALAH)

- Untuk mengukur pemahaman Anda mengenai penyakit Diabetes Melitus tipe II. Jawablah soal di atas  dengan link berikut : https://forms.gle/pM93mHjHTvG6ag3W9 

- Link blogspot : https://simkepkelasaunsoed.blogspot.com/2021/09/diabetes-melitus-tipe-ii.blogspot.com.html


 

BAB 3. PENUTUP

A. Kesimpulan

Diabetes melitus merupakan suatu penyakit yang ditandai oleh adanya hiperglikemia yang terjadi karena adanya kerusakan sekresi insulin maupun kerja dari insulin. Dari tiga tipe diabetes melitus, banyak pasien terkena Diabetes Melitus tipe II. Diabetes Melitus II merupakan penyakit hiperglikemia yang diakibatkan oleh penurunan sensitivitas sel terhadap insulin (resistensi insulin) atau terjadi karena produksi jumlah insulin yang menurun. Banyak faktor resiko dan komplikasi dari adanya Diabetes Melitus II, bisa dilakukan pencegahan untuk penyakit ini.

Dari kasus Ny. Z dapat disimpulkan bahwa didapatkan tiga diagnosa keperawatan sebagai berikut:

1.      Defisit volume cairan berhubungan dengan gejala poliuria.

Diagnosa ini dapat diatasi dengan fluid managemen agar pasien dapat mertahankan catatan intake dan output yang kuat dan memonitor vital sign pasien agar pasien dapat mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal, HT normal serta tekanan darah, nadi suhu tubuh dalam batas normal.

2.      Kerusakan integritas sistem integumen berhubungan dengankerusakan jaringan nekrosis.

Diagnosa ini dapat diatasi dengan pressure ulcer prevention wound care dengan cara memonitor kulit akan adanya kemerahan, mengoleskan lotion atau minyak/ baby oil

pada daerah yang tertekan, memonitor aktivitas dan mobilisasi pasien, status nutrisi pasien, memandikan pasien dengan sabun dan air hangat, observasi luka, dan mengajarkan keluarga tentang luka dan perawatan luka agar kulit tetap bersih dan kering, perfusi jaringan normal, tidak ada tanda infeksi, ketebalan dan tekstur jaringan normal, dan menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya cedera berulang.

3.      Hambatan mobilitas fisik adanya berhubungan denganluka gangren diabetik.

Diagnosa ini dapat diatasi denganexercise therapy  yaitu ambulation dengan memonitor vital sign sebelum dan sesudah latihan dan lihat respon pasien saat latihan, konsultasi dengan terapi fisik tentang rencana ambulasi sesuai dengan kebutuhan, dan membantu pasien untuk menggunakan tongkat saat berjalan dengan cegah terhadap cedera agar pasien meningkat dalam aktivitas fisik dan mengerti tujuan dari peningkatan mobilitas.

Evaluasi keperawatan terhadap Ny. Z dilakukan dengan mebandingkan hasil dan tujuan yang diterapkan dalam rencana keperawatan. Dari ketiga diagnosa yang di angkat ternyata masalah belum dapat diatasi sehingga perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut.

 

Referensi

Brunner & Suddarth. 2010, Text Book Of Medical Surgical Nursing, 12 th Edition, China, LWW.

Corwin, E., J. 2009, Buku Saku Patofisiologi, 3 Edisi Revisi, Jakarta, EGC.

Fatimah, R., N. 2015, ‘Diabetes Melitus 2’, Jurnal Majority, 4(5), 93-101.

Kemenkes RI. 2020, Tetap Produktif, Cegah dan Atasi Diabetes Melitus.

Widiastuti, L. 2020, ‘Acupressure dan Senam Kaki terhadap Tingkat Peripheral Arterial Disease pada Klien DM Tipe 2’, Jurnal Keperawatan Silampari, 3(2), 694-706.

 

 



Comments

Popular posts from this blog

MAKALAH DISLOKASI

SINDROM KOMPARTEMEN

Penting! Waspada Gejala Gastritis Sejak Dini