ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN CKD

 

 LAPORAN DISKUSI

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

DENGAN CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD)

 

 

 

 



 

 

 

Kelompok 3 Alih Jenjang (AJ)

 

1

Dian Priyana Sari

NIM I1F020013

2

Eni Setyawati

NIM I1F020014

3

Rokhanto Wicaksono

NIM I1F020015

4

Ariyani Diah Rakhmawati

NIM I1F020016

5

Putut Anggara Susetiya

NIM I1F020017

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

2021


 

 

BAB 1

PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Chronic Kidney Disease (CKD) adalah suatu proses patofisiologis dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang irreversibel dan progresif dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga menyebabkan uremia (Black & Hawk dalam Dwy Retno Sulystianingsih, 2018).Gagal Ginjal Kronik atau Chronic Kidney Disease (CKD) saat ini merupakan masalah kesehatan yang penting mengingat selain insidens dan pravelensinya yang semakin meningkat, pengobatan pengganti ginjal yang harus di jalani oleh penderita gagal ginjal merupakan pengobatan yang sangat mahal.

 Dialisa adalah suatu tindakan terapi pada perawatan penderita gagal ginjal terminal. Tindakan ini sering juga di sebut sebagai terapi pengganti karena berfungsi menggantikan sebagian fungsi ginjal. Terapi pengganti yang sering di lakukan adalah hemodialisis dan peritonealialisa. Diantara kedua jenis tersebut, yang menjadi pilihan utama dan metode perawatan yang umum untuk penderita gagal ginjal adalah hemodialisis (Arliza dalam Nita Permanasari, 2018) .Penyakit ginjal kronik stadium awal sering tidak terdiagnosis, sementara PGK stadium akhir yang disebut juga gagal ginjal memerlukan biaya perawatan dan penanganan yang sangat tinggi untuk hemodialisis atau transplantasi 1 ginjal. Penyakit ini baik pada stadium awal maupun akhir memerlukan perhatian. Penyakit ginjal kronik juga merupakan faktor risiko penyakit kardiovaskuler. Kematian akibat penyakit kardiovaskuler pada PGK lebih tinggi daripada kejadian berlanjutnya PGK stadium awal menjadi stadium akhir (Delima, 2014).

Estiminasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan pertumbuhan jumlah penderita gagal ginjal pada tahun 2013 telah meningkat 50% dari tahun sebelumnya. Di amerika Serikat, kejadian dan prevalensi gagal ginjal meningkat 50% ditahun 2014. Data menunjukkan bahwa setiap tahun 200.000 orang amerika menjalani hemodialisa karena gangguan ginjal kronis, yang artinya 1.140 dalam satu juta orang Amerika adalah pasien dialisis (Widyastuti dalam Elisa, 2017). Indonesia Renal Registry (IRR) menyatakan bahwa penderita gagal ginjal di Indonesia data yang didapatkan tahun 2007-2014 tercatat 28.882 pasien, dimana pasien sebanyak 17.193 pasien dan pasien lama sebanyak 11.689 pasien. Di Jawa Tengah terdapat 3.363 pasien, dimana 2.192 pasien baru dan 1.171 pasien aktif. Angka kejadian gagal ginjal kronik terbanyak di Indonesia disebabkan oleh hipertensi yang meningkat menjadi 37% diikuti oleh Nefropati Diabetika sebanyak 27%. Glomerulopati primer memberi proporsi yang cukup tinggi sampai 10% dan Nefropati Obstruktifpun masih memberi angka 7% (IRR dalam Elisa, 2017)

 

B.    TUJUAN

1. Tujuan Umum

Mahasiswa mampu memahami dan melakukan Asuhan Keperawatan pada klien dengan Chronic Kidney Disease (CKD).

2. Tujuan Khusus

a. Mahasiswa mampu memahami konsep teori tentang Chronic Kidney Disease     (CKD).

b. Mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan teoritis dengan Chronic Kidney Disease (CKD) : Pengkajian, Diagnosa keperawatan, Intervensi, Implementasi, dan Evaluasi

C.    MANFAAT

1.     Bagi Pelayanan Kesehatan Dapat dijadikan sebagai bahan referensi dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien dengan Chronic Kidney Disease (CKD) ,sehingga dapat dilakukan tindakan yang segera untuk mengatasi masalah yang terjadi pada pasien dengan Chronic Kidney Disease (CKD).

2.     Bagi Pembaca Memberikan pengertian / pengetahuan dan pengambilan keputusan yang tepat kepada pembaca. Khususnya dalam menyikapi dan mengatasi jika ada penderita Chronic Kidney Disease (CKD)

3.     Bagi Mahasiswa Diharapkan mahasiswa dapat menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman yang lebih mendalam dalam memberikan Asuhan Keperawatan khususnya pada pasien dengan Chronic Kidney Disease (CKD)

4.     Bagi Klien Diharapkan klien dapat menerima asuhan keperawatan yang diberikan dan mampu mencegah komplikasi lebih lanjut.

 

 

 

 

 

 


 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.    PENGERTIAN

Chronic Kidney Disease (CKD) adalah suatu proses patofisiologis dengan etiologi yang beragam, mengakibatkan penurunan fungsi ginjal yang irreversibel dan progresif dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga menyebabkan uremia (Black & Hawk dalam Dwy Retno Sulystianingsih, 2018). CKD adalah suatu proses patofisiologis dengan etiologi beragam, mengakibatkan penurunan flingsi ginjal yang progresif, dan pada umumnya berakhir dengan gagal ginjal. Selanjutnya, gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang ireversibel, pada suatu derajat yang memerlukan terapi pengganti ginjal yang tetap, berupa dialisis atau transplantasi ginjal (Sudoyo, 2009).

Gagal Ginjal Kronik atau Chronic Kidney Disease (CKD) saat ini merupakan masalah kesehatan yang penting mengingat selain insidens dan pravelensinya yang semakin meningkat, pengobatan pengganti ginjal yang harus di jalani oleh penderita gagal ginjal merupakan pengobatan yang sangat mahal. Dialisa adalah suatu tindakan terapi pada perawatan penderita gagal ginjal terminal. Tindakan ini sering juga di sebut sebagai terapi pengganti karena berfungsi menggantikan sebagian fungsi ginjal. Terapi pengganti yang sering di lakukan adalah hemodialisis dan peritonealialisa. Diantara kedua jenis tersebut, yang menjadi pilihan utama dan metode perawatan yang umum untuk penderita gagal ginjal adalah hemodialisis (Arliza dalam Nita Permanasari, 2018)

B.    ETIOLOGI

Gagal ginjal kronik terjadi setelah berbagai macam penyakit yang merusak nefron ginjal. Sebagian besar merupakan penyakit parenkim ginjal difus dan bilateral.

1.     Infeksi, misalnya Pielonefritis kronik.

2.     Penyakit peradangan, misalnya Glomerulonefritis.

3.     Penyakit vaskuler hipertensif, misalnya Nefrosklerosis benigna, nefrosklerosis maligna, stenosis arteri renalis.

4.     Gangguan jaringan penyambung, seperti lupus eritematosus sistemik (SLE), poli arteritis nodosa, sklerosis sistemik progresif.

5.     Gangguan kongenital dan herediter, misalnya Penyakit ginjal polikistik, asidosis tubuler ginjal.

6.     Penyakit metabolik, seperti DM, gout, hiperparatiroidisme, amiloidosis.

7.     Nefropati toksik, misalnya Penyalahgunaan analgetik, nefropati timbale.

8.     Nefropati obstruktif

a.      Saluran Kemih bagian atas: Kalkuli neoplasma, fibrosis, netroperitoneal.

b.     Saluran Kemih bagian bawah: Hipertrofi prostate, striktur uretra, anomali congenital pada leher kandung kemih dan uretra.

C.    PATOFISIOLOGI

Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomerulus dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak (hipotesa nefron utuh). Nefron-nefron yang utuh hipertrofi dan memproduksi volume filtrasi yang meningkat disertai reabsorpsi walaupun dalam keadaan penurunan GFR / daya saring. Metode adaptif ini memungkinkan ginjal untuk berfungsi sampai ¾ dari nefron–nefron rusak. Beban bahan yang harus dilarut menjadi lebih besar daripada yang bisa direabsorpsi berakibat diuresis osmotik disertai poliuri dan haus.

Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak oliguri timbul disertai retensi produk sisa. Titik dimana timbulnya gejala-gejala pada pasien menjadi lebih jelas dan muncul gejala-gejala khas kegagalan ginjal bila kira-kira fungsi ginjal telah hilang 80% - 90%. Pada tingkat ini fungsi renal yang demikian nilai kreatinin clearance turun sampai 15 ml/menit atau lebih rendah itu. Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang normalnya diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah.

Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah, akan semakin berat.

1.     Gangguan Klirens Ginjal

Banyak masalah muncul pada gagal ginjal sebagai akibat dari penurunan jumlah glomeruli yang berfungsi, yang menyebabkan penurunan klirens substansi darah yang sebenarnya dibersihkan oleh ginjal Penurunan laju filtrasi glomerulus (GFR) dapat dideteksi dengan mendapatkan urin 24-jam untuk pemeriksaan klirens kreatinin. Menurut filtrasi glomerulus (akibat tidak berfungsinya glomeruli) klirens kreatinin akan menurunkan dan kadar kreatinin akan meningkat. Selain itu, kadar nitrogen urea darah (BUN) biasanya meningkat. Kreatinin serum merupakan indicator yang paling sensitif dari fungsi karena substansi ini diproduksi secara konstan oleh tubuh. BUN tidak hanya dipengaruhi oleh penyakit renal, tetapi juga oleh masukan protein dalam diet, katabolisme (jaringan dan luka RBC), dan medikasi seperti steroid.

2.     Retensi Cairan dan Ureum

Ginjal juga tidak mampu untuk mengkonsentrasi atau mengencerkan urin secara normal pada penyakit ginjal tahap akhir, respon ginjal yang sesuai terhadap perubahan masukan cairan dan elektrolit sehari-hari, tidak terjadi. Pasien sering menahan natrium dan cairan, meningkatkan resiko terjadinya edema, gagal jantung kongestif, dan hipertensi. Hipertensi juga dapat terjadi akibat aktivasi aksis rennin angiotensin dan kerja sama keduanya meningkatkan sekresi aldosteron. Pasien lain mempunyai kecenderungan untuk kwehilangan garam, mencetuskan resiko hipotensi dan hipovolemia. Episode muntah dan diare menyebabkan penipisan air dan natrium, yang semakin memperburuk status uremik

3.     Asidosis

Dengan semakin berkembangnya penyakit renal, terjadi asidosis metabolic seiring dengan ketidakmampuan ginjal mengekskresikan muatan asam (H+) yang berlebihan. Penurunan sekresi asam terutama akibat ketidakmampuan tubulus gjnjal untuk menyekresi ammonia (NH3‾) dan mengabsopsi natrium bikarbonat (HCO3) .penurunan ekskresi fosfat dan asam organic lain juga terjadi

4.     Anemia

Sebagai akibat dari produksi eritropoetin yang tidak adekuat, memendeknya usia sel darah merah, defisiensi nutrisi dan kecenderungan untuk mengalami perdarahan akibat status uremik pasien, terutama dari saluran gastrointestinal. Pada gagal ginjal, produksi eritropoetin menurun dan anemia berat terjadi, disertai keletihan, angina dan sesak napas.

5.     Ketidakseimbangan Kalsium dan Fosfat

Abnormalitas yang utama pada gagal ginjal kronis adalah gangguan metabolisme kalsium dan fosfat. Kadar serum kalsium dan fosfat tubuh memiliki hubungan saling timbal balik, jika salah satunya meningkat, maka yang satu menurun. Dengan menurunnya filtrasi melalui glomerulus ginjal, terdapat peningkatan kadar serum fosfat dan sebaliknya penurunan kadar serum kalsium. Penurunan kadar kalsium serum menyebabkan sekresi parathormon dari kelenjar paratiroid. Namun, pada gagal ginjal tubuh tak berespon secara normal terhadap peningkatan sekresi parathormon dan mengakibatkan perubahan pada tulang dan pebyakit tulang. Selain itu juga metabolit aktif vitamin D (1,25-dehidrokolekalsiferol) yang secara normal dibuat di ginjal menurun.

6.     Penyakit Tulang Uremik

Disebut Osteodistrofi renal, terjadi dari perubahan kompleks kalsium, fosfat dan keseimbangan parathormon

 

D.    PATWAY



E.     MANIFESTASI KLINIS

1.     Kelainan hemopoesis, dimanifestasikan dengan anemia

a.      Retensi toksik uremia → hemolisis sel eritrosit, ulserasi mukosa sal.cerna, gangguan pembekuan, masa hidup eritrosit memendek, bilirubuin serum meningkat/normal, uji comb’s negative dan jumlah retikulosit normal.

b.     Defisiensi hormone eritropoetin Ginjal sumber ESF (Eritropoetic Stimulating Factor) → def. H eritropoetin → Depresi sumsum tulang → sumsum tulang tidak mampu bereaksi terhadap proses hemolisis/perdarahan → anemia normokrom normositer.

2.     Kelainan Saluran cerna

a.      Mual, muntah, hicthcup dikompensasi oleh flora normal usus → ammonia (NH3) → iritasi/rangsang mukosa lambung dan usus.

b.     Stomatitis uremia Mukosa kering, lesi ulserasi luas, karena sekresi cairan saliva banyak mengandung urea dan kurang menjaga kebersihan mulut.

c.      Pankreatitis Berhubungan dengan gangguan ekskresi enzim amylase

3.     Kelainan mata

4.     Kardiovaskuler :

a.      Hipertensi

b.     Pitting edema

c.      Edema periorbital

d.     Pembesaran vena leher

e.       Friction Rub Pericardial

f.      Kelainan kulit

1.     Gatal

a.      Terutama pada klien dgn dialisis rutin karena:

b.     Toksik uremia yang kurang terdialisis

c.      Peningkatan kadar kalium phosphor

d.     Alergi bahan-bahan dalam proses HD

2.     Kering bersisik Karena ureum meningkat menimbulkan penimbunan kristal urea di bawah kulit.

3.     Kulit mudah memar

4.     Kulit kering dan bersisik

5.     rambut tipis dan kasar

6.     Neuropsikiatri

7.     Kelainan selaput serosa

8.     Neurologi :

a.      Kelemahan dan keletihan

b.     Konfusi

c.      Disorientasi

d.     Kejang

e.      Kelemahan pada tungkai rasa panas pada telapak kaki

f.      Perubahan Perilaku

g.     Kardiomegali.

Tanpa memandang penyebabnya terdapat rangkaian perubahan fungsi ginjal yang serupa yang disebabkan oleh desstruksi nefron progresif. Rangkaian perubahan tersebut biasanya menimbulkan efek berikut pada pasien : bila GFR menurun 5-10% dari keadaan normal dan terus mendekati nol, maka pasien menderita apa yang disebut Sindrom Uremik

F.     PENATALAKSANAAN

Tujuan penatalaksanaan PGK adalah untuk mempertabankan fungsi ginjal dan homeostasis selama mungkin. Penatalaksanaan PGK dibagi menjadi dua tabap. Tabap pertama adalah tindakan konservatif, untuk meredakan atau memperlambat gangguan fungsi ginjal progresif, mencegah dan mengobati komplikasi yang terjadi. Penanganan konservatif PGK meliputi: 1) Pengaturan diet; 2) Pencegaban dan pengobatan komplikasi berupa pengobatan bipertensi, biperkalemi, hiperuresimia, anemia, asidosis, osteodistrofi renal, neuropati perifer dan infeksi (Price dan Wilson, 2006).

Jika kondisi ginjal sudah tidak berfungsi diatas 75 % (gagal ginjal terminal atau tabap akbir), proses cuci darab atau bemodialisis merupakan bal yang sangat membantu penderita. Proses tersebut merupakan tindakan yang dapat dilakukan sebagai upaya memperpanjang usia penderita. Hemodialisis tidak dapat menyembubkan penyakit gagal ginjal yang diderita pasien tetapi bemodialisis dapat meningkatkan kesejabteraan kehidupan pasien yang gagal ginjal. Penatalaksaan penyakit ginjal kronik meliputi: • Terapi spesifik terbadap penyakit dasamya • Memperlambat pemburukan (progression) fungsi ginjal • Pencegaban dan terapi terbadap komplikasi • Terapi pengganti ginjal berupa dialisis atau transplantasi ginjal. (Sudoyo, 2009)

Selain penatalaksanaan secara medis, beberapa hal yang perlu diperhatikan pada pasien CKD adalah dari aspek psikososial, kelelahan dalam menjalankan hemodialisis, dan juga manajemen pembatasan cairan. Hal-hal tersebut berkaitan dengan kualitas hidup pasien CKD.

Beberapa jurnal terkait menyatakan bahwa pasien CKD dengan hemodialisis memerlukan support system yang baik. Beberapa jurnal menyatakan sebagai berikut:

1.     Penerapan Palliative Care Pasien Chronic Kidney Disease (CKD) terhadap Kualitas Hidup Pasien Hemodialisa di Rumah Sakit Perkebunan Jember Klinik Jember.

Penulis : Suparman, Bagaskara., dkk. (2016)

Resume :

CKD adalah kerusakan ginjal progresif dan ireversibel yang berakibat fatal dan ditandai dengan uremia (urea dan limbah nitrogen lainnya) yang beredar dalam darah serta komplikasinya (anemia, azotemia, dan asidosis metabolic) jika tidak dilakukan dialysis atau transplantasi ginjal (Nursalam dan Batticaca, 2011). Pasien bertahan hidup dengan terapi cuci darah (hemodialisis) hingga akhir hidupnya (Sagiran, 2012). Karena hal tersebut maka aspek fisik, psikologis, sosioekonomi dan lingkungan dapat terpengaruh secara negative, berdampak pada kualitas hidup pasien penyakit ginjal kronis (Nurchayati, 2011).

Palliative care adalah pendekatan yang meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga mereka dalam menghadapi masalah yang berkaitan dengan penyakit yang mengancam jiwa, melalui pencegahan dan meringankan penderitaan dengan cara identifikasi awal dan penilaian penuh dan pengobatan nyeri serta masalah fisik lainnya, psikososial dan spiritual (WHO, 2015).

Dari hasil penelitian Suparman, dkk, hal yang menjadi titik utama dalam penerapan palliative care yaitu perawat dan keluarga pasien. Menurut Campbel (2014), struktur palliative care terdiri dari struktur proses keperawatan, aspek fisik dalam perawatan, aspek psikologi dan psikiatri dalam perawatan, aspek spiritual, agama dan eksistensial dalam perawatan, aspek budaya dalam perawatan, perawatan pasien menjelang kematian, aspek legal dan etik dalam keperawatan.

Hal terpenting dalam palliative care yaitu penekanan pada komunikasi. Komunikasi yang baik dan jujur mampu meningkatkan kepercayaan pasien serta sikap asertif dari perawat dalam mendengarkan masalah pasien.Kualitas hidup pasien hemodialisa sering dikaitkan dengan faktor internal dan eksternal. Untuk faktor internal terdiri dari pendidikkan, agama, suku bangsa, pekerjaan, status pernikahan, penghasilan, dan lama menjalani hemodialisa. Masalah yang paling mempengaruhi kualitas hidup yaitu usia. Pendapat peneliti bahwasanya semakin tinggi usia pasien hemodialisa maka semakin sadar tentang arti dan tujuan hidup yang dimiliki sehingga pasien hemodialisa lebih banyak menerima kondisinya sedangkan yang membuat rendah kualitas hidupnya yaitu pada masalah fisik. Semakin tinggi usia seseorang akan mengalami penurunan kondisi fisiknya.

2.     Manajemen Masalah Psikospiritual Pasien CKD dengan Hemodialisis di Kota Semarang.

Penulis : Armiyati., dkk. (2016). Manajemen Masalah Psikospiritual Pasien Chronic Kidney Disease (CKD) Dengan Hemodialisis Di Kota Semarang. Rakernas AIPKEMA.

Resume :

Pasien CKD yang menjalani hemodialisis mungkin mengalami berbagai masalah akibat tidak berfungsinya proses ginjal dan hemodialisis. Permasalahan yang perlu diantisipasi untuk tetap kualitas hidup yang optimal tidak hanya menangani penurunan fisik tetapi juga antisipasi dan pengelolaan masalah psikososial dan spiritual.

Permasalahan pada aspek psikososial dan spiritual dapat menyebabkan permasalahan yang komplek pada pasien. Fenomena yang terjadi di lapangan bahwa pasien CKD yang menjalani hemodialisis memiliki pengalaman berbeda dalam perawatan Kesehatan dan mengatasi masalah psikososiospiritual.

Aspek psikososial menjadi penting diperhatikan karena perjalanan penyakit yang kronis dan sering membuat pasien tidak ada harapan (Andry, 2012). Pasien dapat mengalami masalah psikososial seperti merasa khawatir atas kondisi sakitnya yang tidak dapat diramalkan, depresi akibat sakit kronis, ketakutan menghadapi kematian (Smeltzer, Bare, Hinkle dan Cheever, 2010).

Temuan penelitian yang dilakukan oleh Armiyati, dkk (2016) menunjukkan bahwa manajemen masalah psikologis yang dilakukan oleh pasien hemodialisis antara lain :

a.      Peningkatan koping,

Temuan penelitian ini selaras dengan yang disampaikan Bulechek, Butcher, Dochterman dan Wagner (2012). bahwa manajemen permasalahan untuk mengatasi masalah psikologis diantaranya yaitu penurunan kecemasan dan peningkatan koping. Strategi koping penguatan diri akan meningkatkan penyesuaian diri dan adaptasi yang baik.

b.     Upaya spiritual,

Iman dan spiritual dibahas sebagai sarana untuk mengatasi dan menyesuaikan diri dengan kondisi kegagalan ginjal (John dan Thomas, 2013). Strategi koping koping religius juga akan meningkatkan penyesuaian diri pasien hemodialisis. Manajemen masalah dilakukan partisipan melalui spiritual coping antara lain berserah pada Tuhan dan berdoa.Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa manajemen pengelolaan diri yang dilakukan partisipan sudah adaptif, harus dipertahankan.

c.      Pemanfaatan dukungan sosial

Pemanfaatan dukungan sosial dalam mengatasi masalah yang dialami juga menjadi subtema yang ditemukan dalam penelitian ini. Dukungan keluarga, teman dan perawat menjadi hal penting untuk meningkatkan motivasi pasien.

Dukungan sosial diperlukan agar hidup pasien hemodialisis menjadi lebih bermakna, sehingga menjadi lebih bersemangat dalam hidup. Adanya dukungan sosial dari orang lain akan menumbuhkan harapan untuk hidup lebih lama, sekaligus dapat mengurangi kecemasan individu. Sebaliknya, kurang atau tidak, tersedianya dukungan sosial akan menjadikan individu merasa tidak berharga dan terisolasi. (Armiyati, Rahayu, Aisah, 2015).

 

3.     Hubungan Depresi dengan Fatigue pada Pasien Hemodialisis

Penulis : Suparti, S dan Nurjanah. (2018). Hubungan Depresi dengan Fatigue Pada Pasien Hemodialisis. JHeS, Volume 2, No,1

Resume :

Terapi hemodialisis saat ini menjadi terapi utama dalam penanganan pasien gagal ginjal tahap akhir (Roesli, 2006), terapi ini harus dijalani pasien seumur hidup yang tentu saja selain manfaatnya juga berdampak pada pasien End-Stage Renal Disease (ESRD). Dampak tersebut meliputi keluhan yang bersifat fisik dan psikologis. Keluhan fisik diantaranya termasuk komplikasi intradialisis yang umumnya sering terjadi adalah hipotensi, kram, mual dan muntah, sakit kepala, nyeri dada, nyeri punggung, demam dan menggigil (Barkan, et al, 2006; Armiyati, 2009).

Dampak psikologis diantaranya banyak yang mengeluhkan adanya kelemahan otot, kekuranganenergi dan merasa letih. Pasien hemodialisis mengalami ketidakstabilan emosi juga tekanan psikologis (depresi) spiritual, beban keuangan, pengetahuan penyakit yang tidak memadai, kurangnya dukungan sosial yang mempengaruhi kualitas hidup (Gorji, Mahemodavi, Janati Illayi, et al, 2013). Selain itu dampak lain yang dirasakan paling dominan pada pasien ESRD yang menjalani hemodialisis adalah fatigue.

Fatigue dikategorikan menjadi fatigue fisik dan fatigue mental (Horigan, 2012). fatigue fisik adalah kurangnya kekuatan fisik dan energi yang membuat mereka merasa hidup berkurang, seperti dicuci, lemah, dan seperti dikuras. Fatigue mental adalah kelelahan mental yang mempengaruhi kemampuan mereka untuk mengingat percakapan, nama dan tempat. Bagaimanapun fatigue adalah gejala non-spesifik dan tak terlihat, dan merupakan fenomena yang kurang dipahami oleh para profesional kesehatan. Kelelahan dapat diartikan sebagai keadaan kontinum antara kelelahan dan kepenatan yang pada akhirnya berujung pada penurunan vitalitas dan energi (Mollaoglu, 2009).

Fatigue pada pasien hemodialisis disebabkan oleh faktor fisiologis, termasuk akumulasi sampah metabolik, konsumsi energi yang abnormal dan kehilangan nafsu makan. Lebih lanjut fatigue juga disebabkan oleh karena inaktifitas fisik (kebiasaan yang menetap) dan distres emosional (Horigan, 2012; Gordon, et al 2005). Depresi, kecemasan dan dukungan sosial diindikasikan berkorelasi dengan kondisi fatigue pasien hemodialisis (Liu, 2006; Leinau, Murphy, Bradley, Fried, 2009; Wiliam, Crane & Kring, 2010), bahkan dalam penelitian Chen, His and Shu (2010) ditemukan tidak hanya depresi, namun risiko bunuh diri juga berkorelasi dengan dan fatigue pasien yang menjalani hemodialisis. Manajemen depresi dan fatigue harus menjadi standar dalam perawatan pasien hemodilisis dengan harapan bisa meningkatkan kualitas hidup pasien.

4.     Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kualitas Hidup Pasien Chronic Kidney Disease (CKD) Yang Menjalani Hemodialisis

 

Penulis : Handayani, R dan Rahmayati. (2013). Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kualitas Hidup Pasien Chronic Kidney Disease (CKD) Yang Menjalani Hemodialisis. Jurnal Keperawatan. Volume IX, No.2.

Resume :

Proses terapi hemodialisis harus dialami pasien selama hidupnya. Biasanya pasien harus menjalani dua kali sesi dialysis dalam seminggu selama paling sedikit 3 atau 4 jam per kali terapi. Terapi hemodialisa akan menimbulkan stress fisik seperti kelelahan, sakit kepala, dan keluar keringat dingin akibat tekanan darah yang menurun sehubungan dengan efek hemodialisis dan juga mempengaruhi keadaan psikologis.

Menurut Suhud (2009) banyak pasien CKD menganggap hidupnya tinggal dihitung jari dan melampiaskan keputusasaannya dengan tidak mengindahkan petunjukkan tim medis serta makan dan minum sembarangan dan juga percaya bahwa akibat dari penyakit yang diderita mereka tak mungkin lagi dapat berolahraga.

Dari hasil penelitian yang dilakukan Handayani dan Rahmayati (2013), dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara umur, tingkat pendidikan, besar penghasilan, pekerjaan, dan lama menjalani hemodialisis dengan kualitas hidup pasien Chronic Kidney Disease (CKD) yang menjalani terapi hemodialisis. Sebaliknya, terdapat hubungan yang signifikan antara penyakit penyerta, dukungan keluarga, dukungan limgkungan sosial, dan dukungan perawat dengan kualitas hidup pasien CKD yang menjalani terapi hemodialisis.

5.     Gambaran Self Care Status Cairan Pada Pasien Hemodialisa

Penulis : Fahmi, F., dkk. (2016). Gambaran Self Care Status Cairan Pada Pasien Hemodialisa (Literatur Review). Jurnal Care Vol.4, No. 2.

Resume :

Pembatasan asupan cairan pada pasien CKD yang menjalani hemodialisa merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan, karena asupan cairan yang berlebihan dapat mengakibatkan kenaikan berat abdan, edema, ronkhi basah dalam paru-paru, kelopak mata yang bengkak dan sesak nafas yang diakibatkan oleh volume cairan yang berlebihan. Cairan yang diminum pasien yang menjalani hemodialisa harus diawasi dengan seksama. Beberapa pasien mengalami kesulitan dalam membatasi asupan cairan yang masuk, namun mereka tidak mendapatkan pemahaman tentang bagaimana strategi yang dapat membantu mereka dalam pembatasan cairan (Tovazzi & Mazzoni, 2012).

Self care management pada pasien hemodialisa perlu mendapatkan perhatian dari perawat. Pada pasien hemodialisa, mengontrol cairan merupakan salah satu masalah yang utama yang mana tujuannya adalah mempertahankan status cairan yang optimal untuk mencapai kualitas hidup yang optimal. Orem dalam teorinya menyebutkan bahwa tujuan dari perawat adalah membantu pasien untuk menemukan perawatan dirinya (self care)(Basavanthappa, 2007). Selain itu juga mengetahui kemampuan serta kemauan pasien GGK yang menjalani hemodialisa dalam kaitannya dengan self care management membantu serta mendorong mereka secara aktif dalam proses pengobatan dan meningkatkan kualitas hidup mereka.

Hambatan pemenuhan self care status cairan yang sering terjadi pada pasien hemodialisa adalah adanya kurang pemahaman terkait pengelolaan status cairan tersebut seperti halnya dalam menentukan ukuran asupan cairan setiap harinya. Pasien hanya mengetahui bahwa pembatasan cairan memang diperlukan namun pasien tidak mengetahui batasan ukuran yang ditentukan.

Pengelolaan rasa haus atau rasa panas akibat pembatasan cairan, dilakukan pasien dengan menurunkan suhu tubuh dengan cara mandi ataupun berkumur. Beberapa pasien lain sudah mampu meminimalisir rasa haus dengan cara mengurangi makanan yang sifatnya merangsang rasa haus seperti garam, cabai, monosodium glutamat (MSG) serta membatasi aktivitas harian . Selain dari kurangnya pemahaman pasien terkait dengan pemasukan cairan setiap harinya, disebabkan juga oleh keputusasaan pasien terhadap penyakitnya. Pasien merasa tidak sanggup jika minumnya dibatasi. Penggunaan es batu balok sebagai pengurang rasa haus (pengganti air) dirasa masih susah dilakukan oleh pasien. Dari telaah beberapa jurnal yang didapatkan peneliti, menyebutkan bahwa kemampuan self care dalam pengelolaan cairan pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa masih belum maksimal. Hal tersebut disebabkan karena kurangnya pemahaman pasien dan keputusasaan pasien terhadap penyakitnya.

      

G.    ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GAGAL GINJAL KRONIS

1.     Pengkajian Fokus

Pengkajian fokus gagal ginjal kronis menurut Doenges (2000) yaitu :

a.      Aktivitas / Istirahat

Gejala :

1.     Kelelahan ekstremitas, kelemahan, malaaise.

2.     Gangguan tidur (insomnia, gelisah, somnolen).

Tanda : Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak.

b.     Sirkulasi

Gejala :

1.     Riwayat hipertensi lama atau berat.

2.     Palpitasi, nyeri dada (angina).

Tanda :

1.     Hipertensi, peningkatan vena jugularis, nadi kuat, edema jaringan umum dan pitting pada telapak kaki dan telapak tangan.

2.     Disretmia jantung.

3.     Nadi lemah, dan halus, hipotensi ortostatik menunjukkan hipovolemia yang jarang pada penyakit tahap akhir.

4.     Friction rub pericardial (respon terhadap akumulasi sisa).

5.     Pucat, kulit kekuningan.

6.     Kecederungan perdarahan.

c.      Integritas Ego

Gejala :

1.     Faktor stress, contoh : finansial, hubungan, dan sebagainya.

2.     Perasaan tak berdaya, tak ada harapan, tak ada kekuatan.

Tanda :

1.     Menolak, ansietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan kepribadian.

d.     Eliminasi

Gejala

1.     Penuruna frekuensi urin, oliguri, anuria (gagal ginjal tahap lanjut)

2.     Abdomen kembung, diare, atau konstipasi.

Tanda :

1.     Perubahan warna urin, contoh : kuninng pekat, merah,coklat berawan, oliguria, dapat menjadi anuria.

e.      Makanan dan cairan

Gejala :

1.     Peningkatan BB cepat (edema) penurunan BB (malnutrisi).

2.     Anoreksia, nyeri ulu hati, mual, muntah.

3.      Rasa metalik tak sedap pada mulut (pernapasan amonia)

4.     Penggunaan diuretik.

Tanda :

1.     Distensi abdomen atau asites, pembesaran hati tahap akhir.

2.     Penuruna turgor kulit dan kelmbapan.

3.     Edema.

4.     Penurunan otot, penuruna lemak, subkutan, penampilan tak bertenaga.

f.      Neurosensori

Gejala :

1.     Sakit kepala dan penglihatan kabur.

2.     Kram otot/ kejang : sindrom “kaki gelisah” ; kebas dan rasa terbakar pada kaki.

3.     Kebas/ kesemutan dan kelmahan, khususnya ekstremita bawah (neuropati perifer)

Tanda :

1.     Gangguan status mental, contoh penurunan lapang perhatian, ketidakmampuan berkonsentrasi, kehilangan memori, kacau, penurunan tingkat kesadaran, stupor, koma.

2.     Kejang, fasikulasi otot, aktivitas kejang.

3.     Rambut tipis, kuku rapuh dan tipis.

g.     Nyeri/ kenyamanan

Gejala :

1.     Nyeri panggul, sakit kepala.

2.     Kram otot/ nyeri kaki (memperburuk saat malam hari).

Tanda :

1.     Perilaku hati-hati/ distraksi, gelisah.

h.     Pernapasan

Gejala :

1.     Napas pendek, dispnea noktural proksimal.

2.     Batuk dengan tanpa sputum kental dan banyak.

Tanda :

a.      Takipnea, dispnea, peningkatan frekuensi dan kedalaman (pernapasan kusmaul).

b.     Batuk produktif dengan sputum merah muda dan encer (edema paru).

i.       Kenyamanan

Gejala : Kulit gatal, ada berulangnya infeksi.

Tanda :

1)     Pruritus.

2)     Demam (sepsis, dehidrasi) : normotermia dapat secara aktual terjadi peningkatan pada tubuh yang mengalami suhu tubuh lebih rendah dari normal (efek gagal ginjal kronis/ depresi respon imun).

3)     Petekie, area ekimosis pada kulit.

4)     Fraktur tulang,: deposit fostfat kalsium (klasifikasi metastasi) pada kulit, jaringan lunak, sendi keterbatasan gerak sendi.

j.       Seksualitas

Gejala : Penurunan libido, amenore, infertilitas.

k.     Interaksi Sosial

Gejala : Kesulitan menentukan kondisi, contoh tak mampu bekerja, mempertahankan fungsi peran biasanya dalam berkeluarga.

l.       Penyuluhan/ pembelajaran

Gejala :

1)     Riwayat diabetes melitus (DM), keluarga (resiko tinggi untuk gagal ginjal), penyakt polikistik, netresis herediter.

2)     Riwayat terpajan pada toksin, contoh obat, racun lingkungan.

3)     Penggunaan antibiotik nefrotoksik saat ini berulang.

2. Diagnosa Keperawatan

Merupakan keputusan klinis menenai seseorang, keluarga, atau masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan atau proses kehidupan yang aktual atau potensial. Masalah aktual adalah masalah yang di temukan pada saat pengkajian, sedangkan masalah potensial adalah masalah yang kemudian hari akan terjadi(Herdman, 2011). Diagnosa keperawatan teoritis yang muncul pada gagal ginjal kronis adalah :

a.      Kelebihan volume cairan berhubangan dengan retensi Na dan H2O.

1.     Definisi : peningkatan retensi cairan isotonik

2.     Batasan karakteristik :

a.      Sesak Napas

b.     Gangguan elektrolit

c.       Anasarka

d.     Ansietas

e.      Azotemia

f.      Perubahan tekanan darah

g.     Perubahan status mental

h.     Perubahan pola pernapasan

i.       Penurunan hematokrit

j.       Penurunan hemoglobin

k.     Dispneu

3.     Faktor yang berhubungan :

a.      Gangguan mekanisme regulasi.

b.     Kelebihan asupan cairan.

c.      Kelebihan asupan cairan.

b.     Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pruritus.

1.     Definisi : perubahan atau gangguan epidermis dan atau dermis.

2.     Batasan karakteristrik :

a.      Kerusakan lapisan permukaan kulit ( epidermis )

b.     Invasi struktur tubuh.

c.       Ketidak seimbangan asupan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah.

1.     Berdifinisikan asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.

2.     Batasan karakteristik :

a.      Kram abdomen

b.      Nyeri abdomen

c.      Menghindari makanan

d.     Berat badan 20% atau lebih di bawah badan ideal

e.      Diare

f.      Bising usus hiperaktif

g.     Kurang minat pada makanan

h.      Tonus otot menurun.

3.     Faktor yang berhubungan :

a.      Faktor biologis

b.     Faktor ekonomi

c.      Ketidak mampuan untuk mengabsorbsi nutrien

d.     Ketidakmampuan untuk mencerna makanan

e.      Ketidakmampuan menelan makanan

f.      Faktor psikologis

d.     Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan suplai oksigen.

1.     Definisi : Ketidakcukupan energi psikologis fisiologis untuk melanjutkan atau menyeleseikan aktivitas kehidupan sehari-hari yang harus atau yang ingin dilakukan.

2.     Batasan karakteristik :

a.      Respon tekanan darah abnormal terhadap aktivitas.

b.     Ketidaknyamanan setelah beraktifitas.

c.       Dispneu setelah beraktifitas.

d.     Menyatakan merasa letih.

e.      Menyatakan merasa lemah.

3.     Faktor yang berhubungan :

a.      Tirah baring atau imobilisasi

b.     Kelemahan umum

c.      Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2

d.     Imobilitas

e.      Gaya hidup monoton

f.      Ketidak efektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan suplai O2.

1.     Definisi : Merupakan penurunan sirkulasi darah ke perifer yang dapat mengganggu kesehatan.

2.     Batasan karakteristik :

a.      Perubahan fungsi motorik

b.     Perubahan karakteristik kulit (warna, elastisitas, kelembapan, kuku, sensasi, suhu)

c.      Perubahan tekanan darah di ekstremitas.

d.     Penurunan nadi.

e.      Edema.

f.      Capilary reffil > 3 detik.

g.     Nyeri ekstremitas.

h.     Warna kulit pucat saat elevasi

3.     Faktor yang berhubungan :

a.      Kurang pengetahuan tentang faktor pemberat ( merokok, gaya hidup monoton, truma, obesitas, asupan garam, imobilitas)

b.     Kurang pengetahuan tentang proses penyakit (diabetes, hiperlipidemia)

c.      Dibetes melitus

d.     Hipertensi

e.      Gaya hidup monoton

f.      Nyeri berhubungan dengan fatigue dan nyeri sendi.

1.     Definisi : Merupakan pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang aktual.

 

2.      Batsan karakteristik :

a.      Perubahan tekanan darah.

b.     Perubahan frekwensi pernapasan.

c.      Laporan isyarat.

d.     Perilaku distraksi.

e.      Mengekspresikan perilaku (gelisah, merengek, menangis)

f.      Sikap melindungi area nyeri.

g.     Perubahan posisi untuk menghindari nyeri.

h.     Dilatasi pupil.

i.       Gangguan tidur.

3.     Faktor yang berhubungan : agen cidera ( biologis, zat kimia, fisik, psikologis)

g.     Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan edema paru.

1.     Definisi : Kelebihan atau kekurangan oksigen dan atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolar kapiler.

2.     Batasan karakteristik :

a.      pH darah arteri abnormal.

b.     Pernapasan abnormal (apneu, bradipneu)

c.      Warna kulit abnormal (pucat atau kehitaman)

d.      Konfusi

e.      Sakit kepala saat bengun.

f.      Hipoksemia.

g.      Samnolen.

h.     Takikardi.

i.       Gangguan penglihatan.

3.     Faktor yang berhubungan :

a.      Perubahan membran alveolarkapiler.

b.     Ventilasi perfusi.

3.  Perencanaan

a.      Kelebihan volume cairan berhubungan dengan retensi Na dan H2O.

Kriteria hasil yang di inginkan :

1.     Terbebas dari edema, efusi, anasarka

2.      Bunyi napas bersih, tidak ada dispneu atau ortopneu.

3.     Terbebas dari distensi vena jugularis, reflek hepatojugular (+)

4.     Memelihara tekanan vena sentral, tekanan kapiler paru, output jantung dan vital sign.

5.     Terbebas dari kelelahan, kecemasan atau kebingungan.

6.     Menjelaskan indikator kelebihan cairan.

Intervensi yang harus di lakukan :

Fluid management:

1.     Timbang popok/pembalut jika di perlukan.

2.     Pertahankan catatan intake dan output yang akurat.

3.     Pasang urine kateter jika diperlukan.

4.     Monitor hasil Hb yang sesuai dengan retensi cairan ( BUN, Hmt, osmolalitas urine )  

5.     Monitor status hemodinamik termasuk CVP, MAP, PAP, dan

6.     PCWP.Monitor vital sign.

7.     Monitor indikasi retensi atau kelebihan cairan ( cracles, CVP, edema, distensi vena leher, asites )

8.     Kaji lokasi dan luas edema.

9.     Monitor asupan makanan / cairan dan hitung intake kalori.

10.   Monitor status nutrisi.

11.  Kolaborasi pemberian diuretik sesuai interuksi.

12.  Batasi masukan cairan pada keadaan hiponatremi dilusi dengan serum Na < 130 mEq/l.

13.  Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebihan muncul memburuk.

Fluid monitoring :

1.     Tentukan riwayat jumlah dan tipe intake cairan dan eliminasi.

2.     Tentukan kemingkinan faktor resiko dari ketidakseimbangan cairan ( Hipertermia, terapi diuretik, kelainan renal, gagal jantung, diaporesis, disfungsi hati ).

3.     Monitor berat badan.

4.     Monitor serum dan osmolalitas urine.

5.     Monitor vital sign.

6.     Monitor perubahan irama jantung.

b.     Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pruritus.

Kriteria hasil yang di ingankan:

1.     Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi)

2.     Tidak ada luka/lesii pada kulit.

3.     Perfusi jaringan baik.

4.     Menunjukan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya cedera berulang.

5.     Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembapan kulit dan perawatan alami.

Intervensi yang harus dilakukan :

Pressure management :

1.     Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar.

2.     Hindari kerutan pada tempat tidur.

3.     Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering.

4.     Mobilisasi pasien setiap 2 jam sekali.

5.     Monitor kulit akan adanya kemerahan.

6.     Oleskan lotion atau minyak/baby oil pada daerah yang tertekan.

7.      Monitor status nutrisi pasien.

8.      Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat.

c.      Ketidak seimbangan asupan nutrisi kurang dari kebutuhanberhubungan dengan mual muntah

Kriteria hasil :

1.     Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan

2.     Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan mempu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi

3.     Tidak ada tanda-tanda malnutrisi

4.     Menunjukan peningkatan fungsi pengecapan dari menelan

5.     Tidak terjadi penurunan berat badan

Intervensi yang dilakukan :

Nutrition management :

1.     Kaji adanya alergi makanan.

2.     Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.

3.     Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe.

4.     Berikan substansi gula.

5.     Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi.

6.     Berikan makanan yang sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi.

7.     Ajarkan pasien membuat catatan makanan harian .

8.     Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori.

9.     Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi.

10.  Kaji kemampuan pasien mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan.

 Nutrition monitoring :

1.     Berat badan pasien dalam keadaaan normal.

2.     Monitor adanya penurunan berat badan.

3.     Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan.

4.     Monitor lingkungan selama makan.

5.     Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan pada jaringan konjungtiva.

d.     Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan suplai oksigen

Kriteria hasil :

1.     Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah.

2.     Mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri.

3.     Tanda tanda vital normal.

4.     Mampu berpindah tempat dengan atau tanpa bantuan alat.

5.     Status kardio pulmonari adekuat.

6.      Status sirkulasi adekuat.

7.     Status respirasi adekuat.

Intervensi yang harus dilakukan :

1.     Ketidak efektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan suplai oksigen.

Intervensi yang dilakukan :

 

Activity therapy :

1.     Kolaborasi dengan tenaga tenaga rehabilitasi medik dalam merencanakan program terapi yang tepat.

2.      Bantu klien mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan.

3.     Bantu untuk memilih kemampuan yang sesuai dengan kemampuan fisik, psikologi, dan sosial.

4.     Bantu klien membuat jadwal latihan.

5.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan fatigue dan nyeri sendi

Kriteria hasil :

1.     Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebabnya, mampu menggunakan tekhnik non farmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)

2.      Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri.

3.     Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi, dan tanda nyeri)

4.     Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang.

Intervensi yang dilakukan :

Pain management :

1.     Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteistik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi.

2.      Observasi reaksi non verbal dari ketidak nyamanan.

3.      Gunakan tekhnik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien.

4.     Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau.

5.     Kontrol ligkungan yang mempengaruhi nyeri (suhu ruangan, cahaya, dan kebisingan)

6.      Kurangi faktor presipitasi nyeri.

7.      Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi, dan interpersonal)

Evaluasi ke efektifan kontrol nyeri.

1.     Tingkatkan istirahat.

Analgesic admiinistration :

a.      Tentunkan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat.

b.     Cek instruksi tentang jenis, dosis dan frekwensi obat.

c.      Cek riwayat alergi.

d.     Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik ketika pemberian lebih dari satu.

e.      Pilih analgesik dari tipe dan beratnya nyeri.

f.      Tentukan rute pemberian dan dosis analgesik agar pemberian analgesik optimal.

g.     Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali.

h.     Berikan analgetik tepat waktu.

i.       Evaluasi efektivitas analgetik.

j.       Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan edema paru

 

Kriteria hasil :

1.     Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat.

2.     Memelihara kebersihan paru-paru dan bebas dari tanda tanda distres pernapasan.

3.     Tanda tanda vital dalam rentan normal.

Intervensi yang dilakukan :

Airway management ;

1.     Posisikan pasien unuk memaksimalkan ventilasi.

2.     Lakukan fisioterpi dada bila perlu.

3.     Auskultasi bunyi paru, catat bila ada suara tambahan paru.

4.      Perhatikan intake cairan.

5.     Monitor respirasi dan status O2.

Resiratory monitoring :

1.     Monitor rata-rata kedalaman, irama, dan usaha respirasi.

2.     Catat pergerakan dada amati kesimetrisan penggunaan otot tambahan, retraksi otot supraclavikular.

3.     Monitor suara napas.

4.     Monitor pola napas (badipneu, takipneu, kusmaul, hiperventilasi, cheyne stokes, biot)

5.     Monitor kelelahan otot diaghfrahma (gerakan paradoksis).

6.     Auskulatasi suara napas, catat area penurunan/tidak adanya ventilasi dan suara tambahan.

7.      Auskultasi suara paru untuk melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan.

4.     Evaluasi

Tahap evaluasi dapat dilkukan secara formatif dan sumatif. Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan selama proses asuhan keperawatan. Sedangkan evaluasi sumatif adalah evaluasi akhir.Evaluasi yang efektif, perlu didasarkan pada kriteria yang dapat diukur dan mencermikan hasil akhir perawatan yang diharapkan.

Subyektif : Hal-hal yang ditemukan oleh keluarga secara subjektif setelah intervensi dilakukan.

Objektif : Hal-hal yang ditemui secara objektif setelah intervensi keperawatan dilakukan.

Evaluasi dihaharapkan keadaan klien dapat memenuhi kriteria sebagai berikut (Herdman, 2011) :

a.      Kelebihan volume cairan berhubangan dengan retensi Na dan H2O.

S : Klien mengatakan sudah tidak terjadi bengkak.

O: Terbebas dari edema. Terbebas dari distensi vena jugularis.Terbebas dari kelelahan.

b.     Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pruritus.

S: Klien mengatakan tidak merasakan lagi gatal gatal di kulit

O: Integritas kulit yang baik dapat di pertahankan. Tidak ada luka atau lesi pada kulit.Perfusi jaringan baik. Menunjukan proses perbaikan kulit.

c.      Ketidak seimbangan asupan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual muntah.

S: Klien mengatakan mual muntah berkurang, asupan nutrisi meningkat, mampu menghabiskan diit yang diberikan, mengatakan berat badan meningkat.

O: Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan. Berat badan sesuai dengan tinggi badan.Tidak ada tanda tanda malnutrisi.Meningkatkkan fungsi pengecapan dan menelan.Tidak terjadi penurunan berat badan.

d.     Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan suplai oksigen.

S: Klien mengatakan tidak lagi merasa pusing, peningkatan aktiviitas individu.

O: Berpartisipasi dalam aktifitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah. Mampu melakukan aktivitas sehari hari secara mandiri.Tanda tanda vital normal. Mampu berpindah tempat menggunakan alat bantu atau mandiri. Status respirasi adekuat.

e.      Ketidak efektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan suplai O2.

S: Klien mengatakan pusing berkurang, klien mengatakan tidak kesemutan.

O: Tekanan systole dan diastole dalam rentan yang diharapkan. Tidak ada orthostatik hipertensi.Tidak ada tanda tanda peningkatan tekanan intrakranial lebih dari 15mmHg.

f.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan fatigue dan nyeri sendi.

S: Klien mengatakan nyeri berkurang, klien mengerti apa penyebab nyeri dan mampu mengatasinya.

O: Mampu mengontrol nyeri. Melaporkan bahwa nyeri berkurang.Mampu mengenali nyeri.Menyatakan bahwa timbul rasa  nyaman setelah nyeri berkurang, klien mampu melakukan aktivitas secara mandiri.

g.     Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan edema paru.

S: Klien mengatakan sudah tidak mengalami sesak nafas lagi, klien mengatakan lebih rileks.

O: Mendemonstrasikan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang

adekuat. Tanda tanda vital dalam keadaan normal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Gagal ginjal kronik merupakan suatu penyakit yang berjalan progresif
dan lambat (berlangsung dalam beberapa tahun), dimulai dengan
penurunan cadangan ginjal, insufisiensi ginjal, gagal ginjal, penyakit
ginjal tingkat akhir yang disertai dengan komplikasi-komplikasi target
organ, dan akhirnya menyebabkan kematian.
Untuk memperlambat gagal ginjal kronik menjadi gagal ginjal terminal,
perlu dilakukan diagnosa dini, yaitu dengan melihat gambaran klinis,
laboratorium sederhana, dan segera memperbaiki keadaan komplikasi
yang terjadi.

Jika sudah terjadi gagal ginjal terminal, pengobatan yang sebaiknya
dilakukan adalah: dialisis dan transplantasi ginjal. Pengobatan ini
dilakukan untuk mencegah atau memperlambat tejadinya kematian.

B.    SARAN

1.     Dengan mengetahui permasalahan penyebab penyakit gagal ginjal
kronik, diharapkan masyarakat lebih berhati-hati dan menghindari
penyebab penyakit ini serta benar-benar menjaga kesehatan melalui
makanan maupun berolaharaga yang benar.

2.     Para tenaga ahli juga sebaiknya memberikan penyuluhan secara jelas
mengenai bahayanya penyakit ini serta tindakan pengobatan yang tepat.

3.     Selain penatalaksanaan secara medis, aspek psikososial, manajemen cairan, penerapan perawatan palliative, dan mengidentifikasi adanya fatigue juga tidak kalah penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien CKD dengan hemodialisa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Arif Muttaqin dan Kumala Sari. 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta : Selemba Medika

Delima, 2014, ‘Faktor Risiko Penyakit Ginjal Kronik : Studi Kasus Kontrol di Empat Rumah Sakit di Jakarta’. [online] jurnal. Dari jurnal. https://media.neliti.com/media/publications/74905-ID-faktor-risikopenyakit-ginjal-kronik-stu.pdf. (29 Desember 2018)

Permana, Sari, 2012. ‘Asuhan Keperawatan Pada Ny. M Dengan Chronic Kidney Disease Di Ruang Hemodialisa Rsud Dr. Moewardi Surakarta’. [Online] Jurnal. Dari Jurnal. http://Eprints.Ums.Ac.Id/22368/10/Naskah_Pdf (29 Desember 2018)

Price, S., Wilson L. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Tetjemahan Oleh: Hartanto, H. EGC, Jakarta, Indonesia. Hal 917-918

Retno, Dwy, 2014. ‘Efektivitas Training Efikasi Diri Pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik Dalam Meningkatkan Kepatuhan Terhadap Intake Cairan’. [Online] Jurnal. Dari Jurnal. Media.Neliti.Com/Media/Publications/219966-None.Pdf (26 Desember 2018)

Sudoyo, Aru. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi V. Interna Publishing, Jakarta, Indonesia. Hal. 1035-1040, 1109-1115

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

Lampiran :

        Mind map CKD

Srenshoot diskusi mandiri

 

 

 

Link evaluasi asuhan kepeerawatan CKD

https://bit.ly/EVALUASI_CKD

 

 

 


 

Comments

Popular posts from this blog

MAKALAH DISLOKASI

SINDROM KOMPARTEMEN

Penting! Waspada Gejala Gastritis Sejak Dini