ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN COVID-19

 Laporan Diskusi

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Covid-19












Kelompok 5


Ziella Ruth Kristantia NIM I1B020026
Fashihah Salsabilla NIM I1B020027
Lu’lu Nurhaliza         NIM I1B020029
Teguh Triana NIM I1B020031
Naila Karima NIM I1B020033







Program Studi Sarjana Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Keperawatan

Universitas Jenderal Soedirman





Bab 1. Pendahuluan

  1. Latar Belakang

     Dunia saat ini tengah waspada dengan penyebaran sebuah virus yang dikenal dengan virus corona. COVID-19 atau coronavirus  merupakan jenis virus yang menyebar secara cepat apabila melakukan kontak dengan penderita (Mona, N., 2020; 110). Munculnya COVID-19 telah menarik perhatian global, dan Pada 30 Januari WHO telah menyatakan COVID-19 sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Berdasarkan data dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2020, penambahan jumlah kasus COVID-19 berlangsung cukup cepat dan sudah terjadi penyebaran antar negara. Sampai dengan tanggal 25 Maret 2020, dilaporkan total kasus konfirmasi 414.179 dengan 18.440 kematian (CFR 4,4%) dimana kasus dilaporkan di 192 negara/wilayah. Diantara kasus tersebut, sudah ada beberapa petugas kesehatan yang dilaporkan terinfeksi. Karena itu, penting untuk melakukan social distancing dan isolasi untuk mencegah penularan virus ini. 

    Wabah covid-19 ini tidak hanya meresahkan masyarakat saja, tetapi pelayanan kesehatan merupakan ujung tombak penanganan covid-19 ini. Kelompok resiko yang paling rentan terkena covid-19 ini adalah orang yang melakukan kontak langsung dengan penderita COVID-19 (Putri, R. N., 2020). Ketika seseorang telah melakukan kontak langsung maka hal dapat dilakukan adalah melakukan pemeriksaan PCR, yang dilakukan oleh tenaga kesehatan. Seiring dengan perkembangan zaman dalam mengkaji hasil pemeriksaan PCR ini dapat dilakukan dengan mengisi data secara online karena hal ini juga dapat lebih mempermudah seseorang sebelum melakukan tes PCR.

  1. Tujuan

  1. Untuk mengetahui tentang penyakit Covid-19.

  2. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pasien Covid-19.

  3. Untuk mengetahui data pengkajian pasien Covid-19 berupa kelengkapan identitas pasien.

  4. Untuk mengetahui data pengkajian pasien Covid-19 berupa data riwayat Kesehatan.

  5. Untuk mengetahui data pengkajian pasien Covid-19 berupa pemeriksaan fisik.

  6. Untuk mengetahui data pengkajian pasien Covid-19 berupa pemeriksaan penunjang.

  7. Untuk mengidentifikasi strategi pengkajian dengan sistem pendokumentasian berbasis komputer dan pengaplikasiannya




Bab 2. Tinjauan Pustaka

  1. Overview kasus

  1. Pengertian

Menurut World Health Organization (2021), Coronavirus adalah suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Beberapa jenis coronavirus diketahui menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia mulai dari batuk pilek hingga yang lebih serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus jenis baru yang ditemukan menyebabkan penyakit COVID-19. COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru ditemukan.  Virus baru dan penyakit yang disebabkannya ini tidak dikenal sebelum mulainya wabah di Wuhan, Tiongkok, bulan Desember 2019. COVID-19 ini sekarang menjadi sebuah pandemi yang terjadi di banyak negara di seluruh dunia.


  1. Etiologi

Coronavirus merupakan virus zoonotik, RNA virus, bersirkulasi di hewan, seperti unta, kucing, dan kelelawar. Hewan dengan coronavirus dapat berkembang dan menginfeksi manusia seperti pada kasus MERS dan SARS seperti kasus outbreak saat ini. Epidemi dua betacoronavirus SARS dan MERS sekitar 10.000 kasus; tingkat kematian 10 % untuk SARS dan 37% untuk MERS. Studi saat ini telah mengungkapkan bahwa COVID-19 mungkin berasal dari hewan liar, tetapi asal pastinya masih belum jelas (Morfi, et al. 2020).

Coronavirus yang menjadi etiologi COVID-19 termasuk dalam genus betacoronavirus. Hasil analisis filogenetik menunjukkan bahwa virus ini masuk dalam subgenus yang sama dengan coronavirus yang menyebabkan wabah Severe Acute Respiratory Illness (SARS) pada 2002-2004 silam, yaitu Sarbecovirus. Atas dasar ini, International Committee on Taxonomy of Viruses mengajukan nama SARS-CoV-2 (Susilo, et al. 2020). 


  1. Patogenesis

Partikel virion memasuki sel inang melalui pengikatan ACE2. Selanjutnya, genom (ss RNA) terikat pada ribosomes, menghasilkan terjemahan dari 2 co-terminal dan polyprotein besar yang diproses lebih lanjut oleh enzim proteolitik/proteolisis. Selama infeksi virus, sel T dan sitokin memainkan peran penting dalam perkembangan penyakit. Secara evolusioner melestarikan reseptor pengenalan pola bawaan (PRRs) mengenali molekul yang terkait dengan patogen, atau dilepaskan oleh sel yang rusak ditemukan terlibat dalam modulasi bawaan dan respon imun adaptif terhadap infeksi SARS-CoV2. Selain sel T, antibodi humoral telah dilaporkan berperan penting dalam infeksi yang disebabkan oleh CoV. Replikasi virus terjadi di epitel mukosa saluran pernapasan bagian atas (rongga hidung dan faring), selain itu, proliferasi terjadi di saluran pernapasan bagian bawah dan mukosa gastrointestinal yang menyebabkan viremia ringan. Mekanisme molekuler dari pengikatan virus masuk, multiplikasi dan patogenesis sedang dijelaskan dengan subunit S1 virus, lonjakan protein (S) yang menunjukkan indikasi awal pengikatan ACE2 sebagai reseptor dan subunit S2. Pada tahap 1: Keadaan tanpa gejala (awal 1 - 2 hari setelah infeksi) Virus SARS-CoV-2 yang dihirup kemungkinan mengikat sel epitel di rongga hidung dan mulai bereplikasi. ACE2 adalah reseptor utama untuk SARS-CoV2 dan SARS-CoV. Tahap 2: Jalan napas atas dan melakukan respons jalan napas (beberapa hari ke depan). Virus menyebar dan bermigrasi ke saluran pernapasan dan respons imun bawaan yang kuat dipicu. Menentukan inang respon imun bawaan mungkin membaik prediksi pada perjalanan penyakit selanjutnya dan perlu pemantauan yang lebih agresif. Tahap 3: Hipoksia, infiltrat dan perkembangan menjadi ARDS. Virus sekarang mencapai pertukaran gas unit paru-paru dan menginfeksi sel tipe II alveolar. Baik SARS-CoV dan influenza lebih memilih tipe infeksi sel II dibandingkan dengan sel tipe I. Unit alveolar yang terinfeksi cenderung perifer dan subpleural. SARS-CoV menyebar dalam sel tipe II, sejumlah besar partikel virus dilepaskan, dan sel-sel menjalani apoptosis dan mati. Hasil akhirnya adalah partikel virus yang dilepaskan menginfeksi sel tipe II di unit yang berdekatan. Umumnya, sel tipe II adalah sel prekursor untuk sel tipe I. Hasil patologis dari SARS dan COVID-19 adalah kerusakan alveoli. Silia pada sel saluran napas dan mikrovili pada sel tipe II mungkin menjadi penting untuk memfasilitasi masuknya virus (Sari, 2020).


  1. Manifestasi Klinis

Gejala yang dialami pasien Covid-19 diantaranya, demam dengan suhu diatas 38°c,batuk, kelelahan dan nyeri otot, dan apabila pasien memiliki imunitas kurang baik akan berlanjut dengan gejala sesak nafas. Sejumlah pasien juga mengembangkan ekspektorasi (28%), sakit kepala (8%), hemoptisis (5%), dan diare (3%), dengan kasus usia tua dan pemilik penyakit komorbid serta ARDS akan memiliki prognosis lebih buruk ketika terinfeksi virus ini (Grace, C., 2020: 53-54). Gejala detail yang terjadi pada beberapa organ yaitu :

  1. Pernapasan : batuk, sesak nafas, sakit tenggorokan, hemoptisis atau batuk darah, nyeri dada

  2.  Gastrointestinal : diare, mual, muntah

  3.  Neurologis : kebingungan dan sakit kepala (Levani, Y., 2021: 48).


  1. Klasifikasi Covid-19

Menurut tim penulis kedokteran FK UI, 2020 klasifikasi pasien Covid-19 yang terdiri dari :

  1. Orang Tanpa Gejala

Orang yang terinfeksi Covid-19, tetapi tidak menunjukkan gejala dan OTG dapat menularkan ke orang lain.

  1. Orang Dalam Pemantauan

  1. Seseorang dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA): disertai salah satu gejala/tanda penyakit pernapasan dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala, memenuhi salah satu kriteria berikut:

  1. Memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di luar negeri yang melaporkan transmisi lokal

  2. Memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal di Indonesia

2) Seseorang dengan gangguan sistem pernapasan dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi atau probable Covid-19.

  1. Pasien Dalam Pengawasan

  1. Seseorang yang mengalami demam (≥38oC) atau riwayat gejala gangguan sistem pernapasan dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala, memenuhi salah satu kriteria berikut :

  1. Memiliki perjalanan atau tinggal di luar negeri yang melaporkan transmisi lokal

  2. Memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal di Indonesia

  1. Seseorang yang mengalami demam (≥38oC) atau riwayat demam atau gejala gangguan sistem pernapasan dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi atau probabel Covid-19.

  2. Seseorang yang mengalami ISPA berat/pneumonia berat yang memerlukan perawatan di rumah sakit dan tidak ada penyebab lain yang memungkinkan berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.


  1. Kasus Probable

Pasien dalam pengawasan yang diperiksakan untuk Covid-19, tetapi inkonklusif atau tidak dapat disimpulkan atau seseorang dengan hasil konfirmasi positif pan-coronavirus atau betacoronavirus.

  1. Kasus terkonfirmasi

Seseorang yang secara laboratorium terkonfirmasi Covid-19.

  1. Pemeriksaan penunjang

  1. Anti IL-6 (Tocilizumab)

Cytokine storm pada COVID-19 dapat meningkatkan permeabilitas vaskuler, terjadi perpindahan cairan dan sel darah dalam alveolus yang mengakibatkan acute respiratory distress syndrome (ARDS) hingga kematian. Dengan demikian, menghambat kerja IL-6 merupakan salah satu terapi potensial untuk pasien COVID-19 dengan pneumonia berat atau kritis. (Burhan, E et al, 2020:23-25)

  1. Anti IL-1 (Anakinra)

Anakinra merupakan antagonis reseptor IL-1 rekombinan yang memiliki mekanisme untuk menetralisir reaksi hiperinflamasi yang terjadi pada kondisi ARDS yang disebabkan oleh infeksi SARS-CoV-2. Pada sebuah studi klinis yang melibatkan 52 pasien, Anakinra dapat menurunkan kebutuhan pemakaian ventilasi mekanis invasif dan menurunkan kematian pada pasien COVID-19 tanpa efek samping yang serius. Dosis yang dapat diberikan adalah 100 mg/ 12 jam selama 72 jam dilanjutkan dengan 100 mg/24 jam selama 7 hari. (Burhan, E et al, 2020:26)

  1. Antibiotik

WHO menganjurkan pemberian antibiotik pada kasus covid-19 yang berat dan tidak menganjurkan pemberian antibiotik rutin pada kasus covid-19 yang ringan. (Burhan, E et al, 2020:26-28)

  1. Mesenchymal Stem Cell (MSCs)/ Sel Punca

Pada prinsipnya pemberian MSCs dapat menyeimbangkan proses inflamasi yang terjadi pada kondisi ALI/ARDS yang ditandai dengan eksudat fibromyxoid seluler, inflamasi paru yang luas, edema paru, dan pembentukan membran hyalin. MSCs bekerja sebagai imunoregulasi dengan nekan proliferasi sel T. Selain itu sel punca dapat berinteraksi dengan sel-sel dendritik sehingga menyebabkan pergeseran sel Th-2 proinflamasi menjadi Th anti-inflamasi, termasuk perubahan profil stikoin menuju anti-inflamasi. Di Indonesia sendiri, saat ini uji klinik MSCs dilakukan dengan pada empat RS yaitu RSCM, RS Persahabatan, RS UI, dan RS Sulianti Saroso. (Burhan, E et al, 2020:28-29)

  1. Intravenous Immunoglobulin (IVIg)

Imunoglobulin intravena (IVIg) adalah konsentrat immunoglobulin G yang diisolasi dari plasma donor yang normal. Terapi IVIG menjadi satu alternatif pilihan terapi,terutama pada kasus COVID-19 yang berat. (Burhan, E et al, 2020:29)

  1. Terapi Plasma Konvalesen

Terapi plasma konvalesen merupakan terapi antibodi yang bersifat pasif, yaitu memberikan antibodi terhadap penyakit infeksi tertentu kepada seseorang yang bertujuan untuk mengobati atau mencegah orang tersebut terhadap penyakit itu dengan cara memberikan imunitas yang bersifat cepat. Plasma konvalesen diperoleh dari pasien COVID-19 yang telah sembuh, diambil melalui metoda plasmaferesis dan diberikan kepada pasien COVID-19 yang berat atau potensial mengancam nyawa. Terapi plasma konvalesen diberikan bersama-sama dengan terapi standar COVID-19 (anti virus dan berbagai terapi suportif lainnya) dan bertujuan untuk menurunkan angka kematian dengan memberikan antibodi yang spesifik. (Burhan, E et al, 2020:30-33)

  1. Vaksinasi

Vaksinasi merupakan salah satu cara paling efektif dalam mencegah penyakit akibat infeksi. (Burhan, E et al, 2020:33-34)

  1.  N-Asetilsistein

Infeksi SARS-CoV-2 atau COVID-19 berhubungan dengan ketidakseimbangan oksidan dan antioksidan yang mengakibatkan inflamasi dan kerusakan jaringan. Glutathione merupakan antioksidan yang banyak ditemukan di tubuh dan berperan dalam melindungi sel dari stres oksidatif. N Asetilsistein (NAC), yang sering digunakan sebagai obat mukolitik, memiliki sifat antioksidan secara langsung maupun secara tidak langsung melalui pelepasan gugus sistein sebagai senyawa prekursor dalam proses sintesis glutation. (Burhan, E et al, 2020:34-35)

  1. Kolkisin

Penelitian menunjukkan bahwa pemberian kolkisin dapat menurunkan kebutuhan penggunaan oksigen,menurunkan lama rawat, dan menurunkan CRP. (Burhan, E et al, 2020:35)

  1. Spironolakton

Spironolakton merupakan salah satu jenis mineralokortikoid yang memiliki efek antagonis reseptor androgen, antihipertensi, kardio protektif, dan nefron protektif. Spironolakton dihipotesiskan mampu memitigasi abnormalitas ekspresi ACE-2, memperbaiki keseimbangan ACE-2 yang tersirkulasi dan terikat pada membrane, menghambat aktivitas TMPRSS2 yang termediasi androgen,dan memperbaiki disfungsi RAAS yang berpotensi mengurangi pematangan virus. (Burhan, E et al, 2020:35-36)

  1.  Bronkoskopi

Tindakan bronkoskopi merupakan tindakan yang dapat membuat aerosol ataupun droplet yang dapat menjadi media penularan COVID-19 yang sangat menular sehingga sebisa mungkin sebaiknya ditunda dengan mempertimbangkan berbagai hal terutama keselamatan tenaga kesehatan serta indikasi tindakan bronkoskopi diagnostik maupun terapeutik. (Burhan, E et al, 2020:36-37)

  1. Therapeutic Plasma Exchange (TPE)

TPE adalah pemisahan plasma dari komponen darah lain yang mana TPE dapat mengeluarkan antibody, kompleks imun, lipoprotein, macromolecules, juga toksin dan molekul inflamasi yang ada dalam plasma. (Burhan, E et al, 2020:37)

  1. Penatalaksanaan

A. Pada pasien terkonfirmasi covid-19

  1. Pengambilan swab di hari ke-1 dan 2 (bila pemeriksaan di hari pertama sudah positif, tidak perlu lagi pemeriksaan di hari kedua)

  2. Pada pasien rawat inap, pemeriksaan PCR dilakukan sebanyak tiga kali selama perawatan

  3. Untuk kasus tanpa gejala, ringan, dan sedang tidak perlu dilakukan pemeriksaan PCR untuk follow-up (hanya dilakukan pada pasien yang berat dan kritis.)

  4. Untuk PCR follow-up pada kasus berat dan kritis, dapat dilakukan setelah sepuluh hari dari pengambilan swab yang positif.

  5. Bila diperlukan, pemeriksaan PCR tambahan dapat dilakukan dengan disesuaikan kondisi kasus sesuai pertimbangan DPJP dan kapasitas di fasilitas kesehatan masing-masing. 

  6. Untuk kasus berat dan kritis, bila setelah klinis membaik, bebas demam selama tiga hari namun pada follow-up PCR menunjukkan hasil yang positif, kemungkinan terjadi kondisi positif persisten yang disebabkan oleh terdeteksinya fragmen atau partikel virus yang sudah tidak aktif. Pertimbangkan nilai Cycle Threshold (CT) value untuk menilai infeksius atau tidaknya dengan berdiskusi antara DPJP dan laboratorium pemeriksa PCR karena nilai cut off berbeda-beda sesuai dengan reagen dan alat yang digunakan. (Burhan, E et al, 2020:8)

  B.Tanpa Gejala 

  1. Isolasi dan Pemantauan 

  2. Non Farmakologis 

Menggunakan masker 

Cuci tangan atau menggunakan hand sanitizer 

Jaga jarak (physical distancing)

Upayakan kamar tidur sendiri / terpisah

Menerapkan etika batuk

Alat makan-minum dan pakaian segera dicuci serta pisahkan

Berjemur 

Ukur dan catat suhu tubuh 2 kali sehari (pagi dan malam hari)

Segera beri informasi ke petugas pemantau/FKTP atau keluarga jika 

   terjadi peningkatan suhu tubuh >38C

Perhatikan ventilasi, cahaya dan udara, dan kebersihan kamar/ruangan

Menggunakan APD saat membersihkan kamar 

Bagi anggota keluarga yang berkontak erat dengan pasien sebaiknya 

memeriksakan diri ke FKTP/Rumah Sakit.

  1. Farmakologis

Jika terdapat penyakit penyerta maka obat tetap dilanjutkan,Vitamin C untuk 14 hari,Vitamin D,Obat-obatan suportif baik tradisional (Fitofarmaka) maupun Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) yang teregistrasi di BPOM,Obat-obatan yang memiliki sifat antioksidan. (Burhan, E et al, 2020:9-11)


C. Derajat Ringan

  1. Isolasi dan pemantauan

  2. Non farmakologis 

Edukasi terkait tindakan yang harus dilakukan (sama dengan edukasi tanpa gejala).

  1. Farmakologis

Jika terdapat penyakit penyerta maka obat tetap dilanjutkan,Vitamin C,Vitamin D,Azitromisin,Antivirus,Parasetamol(bila demam),Obat-obatan suportif baik tradisional (Fitofarmaka) maupun Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) yang teregistrasi di BPOM. (Burhan, E et al, 2020:11-13)

D. Derajat Sedang

  1. Isolasi dan pemantauan

  2. Non farmakologis 

Istirahat total, asupan nutrisi adekuat, kontrol elektrolit, status hidrasi, oksigen, pemantauan laboratorium darah perifer lengkap

  1. Farmakologis

Vitamin C.Azitromisin,Antivirus,Antikoagulan LMWH/UFH, Pengobatan simtomatis (Parasetamol dan lain-lain),Pengobatan komorbid dan komplikasi yang ada. (Burhan, E et al, 2020:13-14)

E. Derajat Berat atau kritis

  1. Isolasi dan pemantauan

  2. Non farmakologis 

Status hidrasi (terapi cairan), dan oksigen

Pemantauan laboratorium Darah Perifer Lengkap

Pemeriksaan foto toraks 

Monitor TTV

Monitor keadaan kritis

Terapi oksigen

NIV (Noninvasive Ventilation)

Ventilasi mekanik invasif (ventilator)

ECMO (Extra Corporeal Membrane Oxygenation)

  1. Farmakologis

Vitamin C, Vitamin D, Vitamin B1, Azitromisin, Antibiotik, Antivirus, Antikoagulan LMWH/UFH, Deksametason, Pengobatan komorbid. (Burhan, E et al, 2020:14-22)


  1. Komplikasi

  • Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS)

  • Onset baru atau gejala respirasi memburuk dalam satu minggu klinis diketahui

  • Foto dada (X-ray; CT Scan; atau USG paru): opasitas bilateral, tidak sepenuhnya oleh efusi, lobar atau kolaps paru, atau nodul

  • Asal edema: gagal napas tidak sepenuhnya oleh gagal jantung atau overload cairan. Perlu penilaian objektif seperti ekokardiografi

  • Sepsis

  • Dewasa: disfungsi organ disebabkan disregulasi respon tubuh terhadap infeksi (Score SOFA). Tanda organ disfungsi: perubahan status mental; susah napas atau napas cepat, saturasi oksigen rendah, urine output berkurang; HR meningkat; nadi teraba lemah, extremitas dingin, tekanan darah rendah, kulit mottling, hasil lab: koagulopati, trombositopenia, asidosis, tinggi laktat atau hiperbilirubinemia

  • Anak: curiga infeksi atau terbukti infeksi dan 2≥ kriteria SIRS, yang salah satunya suhu abnormal atau leukosit abnormal

  • Syok septik

  • Dewasa: persisten hipotensi walaupun sudah dilakukan resusitasi cairan, membutuhkan vasopressor untuk mempertahankan MAP ≥ 65 mmHg dan serum laktat >2 mmol/L

  • Anak: hipotensi atau 2-3 dari berikut: perubahan status mental atau bradikardi atau CRT meningkat; vasodilatasi hangat dengan nadi bounding; takipnea; kulit motling atau petekie atau purpura; peningkatan laktat; oliguria; hiper atau hipotermia (WHO, 2020).


  1. Pembahasan

Kasus:

Client Profile: Perawat Flo bertugas di Puskesmas Kaliaja, mendapat laporan keluarga bapak Soiman sedang menjalani isolasi mandiri karena pak Soiman kontak erat dengan salah satu rekan kerjanya yang positif Covid-19. Perawat Flo melakukan kunjungan rumah untuk mendata keluarga bapak Soiman yang terdiri dari 5 orang. 


Pengkajian:

  1. Identitas diri

  1. Nama : Tn. Soiman (Teguh Triana)

Usia : 50 tahun

Agama : Islam

Jenis Kelamin : Laki-laki

Status kekeluargaan : Suami

Pekerjaan : Pekerja kantoran

Alamat : Desa Kaliaja

  1. Nama : Ny. Ziella Ruth Kristantia

Usia : 48 tahun

Agama : Islam

Jenis Kelamin : Perempuan

Status kekeluarga : Istri

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Alamat : Desa Kaliaja

  1. Nama : An. Naila Karima

Usia : 20 tahun

Agama : Islam

Jenis Kelamin : Perempuan

Status kekeluargaan : Anak

Pekerjaan : Pelajar/Mahasiswa

Alamat : Desa Kaliaja

  1. Nama : An. Lu’lu Nurhaliza

Usia : 18 tahun

Agama : Islam

Jenis Kelamin : Perempuan

Status kekeluargaan : Anak

Pekerjaan : Pelajar/Mahasiswa

Alamat : Desa Kaliaja

  1. Nama : An. Fashihah Salsabilla

Usia : 15 tahun

Agama : Islam

Jenis Kelamin : Perempuan

Status kekeluargaan : Anak

Pekerjaan : Pelajar/Mahasiswa

Alamat : Desa Kaliaja


  1. Tanggal isolasi mandiri : 19 September 2021

  2. Tanggal pengkajian : 20 September 2021

  3. Riwayat kesehatan saat ini

  • Keluhan

Saat ditanya, hanya bapak Soiman yang memiliki keluhan sesak nafas, batuk disertai dahak, pilek dan merasa demam.

  • Alasan Isolasi mandiri

Bapak Soiman melakukan kontak erat dengan salah satu rekan kerjanya yang positif Covid-19, sehingga keluarga pak Soiman melakukan isolasi mandiri. 


  1. Riwayat kesehatan dahulu

  • Penyakit yang pernah dialami

Tidak ada

  • Pernah dirawat

Bapak Soiman pernah melakukan operasi patah tulang lengan atas pasca kecelakaan sepeda motor dan dirawat 7 hari. 

  • Alergi

Tidak ada

  • Kebiasaan

Merokok


  1. Riwayat kesehatan keluarga

Semua anggota keluarga tidak memiliki penyakit keturunan.


  1. Riwayat Psikososial

Keluarga pak Soiman merasa takut dan gelisah jika terkena Covid-19 karena takut terkena diskriminasi sosial.


  1. Pemeriksaan Fisik

  1. Tn. Soiman (Teguh Triana)

  1. TB : 165 cm

  2. BB : 65 kg

  3. TTV : TD = 130/85 mmHg, RR = 24x/menit, S = 38, N = 100x/menit 

  4. Pemeriksaan fisik paru: Ditemukan suara ronki kering

  1. Ny. Ziella Ruth Kristantia

  1. TB : 160 cm 

  2. BB : 60 kg

  3. TTV : TD = 109/78mmHg, RR = 16x/menit, S =  37C, N = 90x/menit 

  4. Pemeriksaan fisik paru: normal

  1. An. Naila Karima

  1. TB : 158 cm

  2. BB : 50 kg

  3. TTV : TD 100/70= mmHg, RR = 18x/menit, S = 36 C, N = 80x/menit 

  4. Pemeriksaan fisik paru: normal

  1. An. Lulu Nurhazila

  1. TB : 162cm

  2. BB : 50kg

  3. TTV : TD = 110/80mmHg, RR = 17x/menit, S = 37 C, N = 80x/menit 

  4. Pemeriksaan fisik paru: normal

  1. An. Fashihah Salsabilla

  1. TB : 156cm

  2. BB : 48 kg

  3. TTV : TD = 95/65mmHg, RR = 18x/menit, S = 36,5 C, N = 85x/menit 

  4. Pemeriksaan fisik paru: normal


  1. Pemeriksaan Penunjang

  1. Tn. Soiman

Pemeriksaan swab orofaring/nasofaring : Positif

  1. Ny. Ziella Ruth Kristantia

Pemeriksaan swab orofaring/nasofaring : Negatif

  1. An. Naila Karima

Pemeriksaan swab orofaring/nasofaring : Negatif

  1. An. Lulu Nurhaliza

Pemeriksaan swab orofaring/nasofaring : Negatif

  1. An. Fasiha Salsabila

Pemeriksaan swab orofaring/nasofaring : Negatif






Analisis data

Dari pengkajian yang dilakukan pada keluarga bapak Soiman, didapatkan bahwa ketiga anak dan istrinya tidak memiliki gejala Covid-19 dan hasil swab negatif, hanya bapak Soiman yang memiliki keluhan sehingga dibutuhkan diagnosis keperawatan.

Data

Etiologi

Masalah

DS:

  • bapak Soiman mengeluh sesak nafas

  • batuk disertai dahak

  • pilek 


DO:

  • TTV: TD = 130/85 mmHg, RR = 24x/menit, S = 38, N = 100x/menit 

  • Terdapat ronki kering

Mukus berlebih

Bersihan jalan nafas tidak efektif

DS: 

  • Keluarga pak Soiman merasa takut dan gelisah jika terkena Covid-19 karena takut terkena diskriminasi sosial

DO:

  • Frekuensi nafas meningkat

  • Frekuensi nadi meningkat

  • Keluarga tampak gelisah

Krisis situasional

Ansietas



Perencanaan Keperawatan Prioritas


Diagnosis

Tujuan dan Hasil

Intervensi Keperawatan

Bersihan jalan nafas tidak efektif bd mukus berlebih dibuktikan dengan dyspnea, sputum berlebih (batuk berdahak), pilek, suara nafas tambahan (ronkhi), dan TD = 110/70 mmHg, RR = 24x/menit, S = 38, N = 90x/menit.

(PPNI, 2016)

.

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam diharapkan bersihan jalan nafas meningkat dengan kriteria hasil:

-          Batuk efektif meningkat 

-          Produksi sputum meningkat

-          Mengi, wheezing, ronchi menurun

(PPNI, 2018)

Latihan Batuk Efektif

Observasi

-          Identifikasi kemampuan batuk

-          Monitor adanya retensi sputum

-          Monitor tanda dan gejal infeksi saluran nafas

Terapeutik

-          Atur posisi semi fowler atau fowler

-          Buang secret pada tempat sputum

Edukasi

-          Jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif

-          Anjurkan Tarik nafas dalam melalui hidung selama 4 detik ditahan selama 2 detik kemudian keluarkan dari mulut dengan bibir mencucu selama 8 detik dan ulangi sebanyak 3x

-          Anjurkan batuk dengan kuat langsung setelah Tarik nafas dalam yang ke-3x

Kolaborasi

Kolaborasi pemberian terapi mukolitik atau ekspektoran jika perlu.


Manajemen Jalan Nafas

Observasi

  • Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)

  • Monitor bunyi napas tambahan (mis. Gurgling, mengi, weezing, ronkhi kering)

  • Monitor sputum (jumlah, warna, aroma)

Terapeutik

  • Pertahankan kepatenan jalan napas dengan head-tilt dan chin-lift (jaw-thrust jika curiga trauma cervical)

  • Posisikan semi-Fowler atau Fowler

  • Berikan minum hangat

  • Lakukan fisioterapi dada, jika perlu

  • Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik

  • Lakukan hiperoksigenasi sebelum

  • Penghisapan endotrakeal

  • Keluarkan sumbatan benda padat dengan forsepMcGill

  • Berikan oksigen, jika perlu

Edukasi

  • Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak kontraindikasi.

  • Ajarkan teknik batuk efektif

Kolaborasi

  • Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik, jika perlu.

(PPNI, 2018a)





Bab 3. Penutup

Kesimpulan

Virus Covid-19 bukanlah penyakit biasa yang telah ada sejak lama sehingga wajar jika masih banyak orang yang mengalami kepanikan atau bingung saat dinyatakan terkonfirmasi. Namun, dengan berkembangnya zaman dan teknologi tentu informasi juga berkembang jauh lebih pesat, seperti contohnya saat ini sudah banyak tersebar informasi seputar covid-19 di media online seperti blog sehingga dapat dibaca dengan mudah kapan saja. Selain itu, fasilitas screening mandiri secara online melalui google form atau aplikasi lain juga sudah banyak tersedia, sehingga akan jauh lebih mudah dan meminimalkan adanya mobilitas pada masyarakat.

 



KUIS


Referensi

Burhan, E . et.al . 2020. Pedoman Tatalaksana Covid-19 , Edisi 3, Jakarta: PDPI, PERKI, PAPDI, PERDATIN, IDAI.

Morfi, C. W., et al. 2020. Kajian Terkini CoronaVirus Disease 2019 (COVID-19). Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 1, No. 1.

PPNI 2016, Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik

Edisi 1, Jakarta: DPP PPNI

PPNI 2018, Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil 

Keperawatan, Edisi 1, Jakarta: DPP PPNI

PPNI 2018a, Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan, 

Edisi 1, Jakarta: DPP PPNI

Putri, R. N. 2020. Indonesia dalam Menghadapi Pandemi Covid-19. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol. 20, No.2.

Sari, G. A. 2020. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19): Review. Jurnal Sains Kesehatan Vol. 2, No. 4.

Susilo, A., et al. 2020. Coronavirus Disease 2019: Tinjauan Literatur Terkini. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 7, No. 1.


Comments

Popular posts from this blog

MAKALAH DISLOKASI

SINDROM KOMPARTEMEN

Penting! Waspada Gejala Gastritis Sejak Dini