ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN COVID-19
Laporan Diskusi
Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Covid-19
Kelompok 5
Program Studi Sarjana Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Keperawatan
Universitas Jenderal Soedirman
Bab 1. Pendahuluan
Latar Belakang
Dunia saat ini tengah waspada dengan penyebaran sebuah virus yang dikenal dengan virus corona. COVID-19 atau coronavirus merupakan jenis virus yang menyebar secara cepat apabila melakukan kontak dengan penderita (Mona, N., 2020; 110). Munculnya COVID-19 telah menarik perhatian global, dan Pada 30 Januari WHO telah menyatakan COVID-19 sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Berdasarkan data dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2020, penambahan jumlah kasus COVID-19 berlangsung cukup cepat dan sudah terjadi penyebaran antar negara. Sampai dengan tanggal 25 Maret 2020, dilaporkan total kasus konfirmasi 414.179 dengan 18.440 kematian (CFR 4,4%) dimana kasus dilaporkan di 192 negara/wilayah. Diantara kasus tersebut, sudah ada beberapa petugas kesehatan yang dilaporkan terinfeksi. Karena itu, penting untuk melakukan social distancing dan isolasi untuk mencegah penularan virus ini.
Wabah covid-19 ini tidak hanya meresahkan masyarakat saja, tetapi pelayanan kesehatan merupakan ujung tombak penanganan covid-19 ini. Kelompok resiko yang paling rentan terkena covid-19 ini adalah orang yang melakukan kontak langsung dengan penderita COVID-19 (Putri, R. N., 2020). Ketika seseorang telah melakukan kontak langsung maka hal dapat dilakukan adalah melakukan pemeriksaan PCR, yang dilakukan oleh tenaga kesehatan. Seiring dengan perkembangan zaman dalam mengkaji hasil pemeriksaan PCR ini dapat dilakukan dengan mengisi data secara online karena hal ini juga dapat lebih mempermudah seseorang sebelum melakukan tes PCR.
Tujuan
Untuk mengetahui tentang penyakit Covid-19.
Untuk mengetahui asuhan keperawatan pasien Covid-19.
Untuk mengetahui data pengkajian pasien Covid-19 berupa kelengkapan identitas pasien.
Untuk mengetahui data pengkajian pasien Covid-19 berupa data riwayat Kesehatan.
Untuk mengetahui data pengkajian pasien Covid-19 berupa pemeriksaan fisik.
Untuk mengetahui data pengkajian pasien Covid-19 berupa pemeriksaan penunjang.
Untuk mengidentifikasi strategi pengkajian dengan sistem pendokumentasian berbasis komputer dan pengaplikasiannya
Bab 2. Tinjauan Pustaka
Overview kasus
Pengertian
Menurut World Health Organization (2021), Coronavirus adalah suatu kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Beberapa jenis coronavirus diketahui menyebabkan infeksi saluran nafas pada manusia mulai dari batuk pilek hingga yang lebih serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus jenis baru yang ditemukan menyebabkan penyakit COVID-19. COVID-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru ditemukan. Virus baru dan penyakit yang disebabkannya ini tidak dikenal sebelum mulainya wabah di Wuhan, Tiongkok, bulan Desember 2019. COVID-19 ini sekarang menjadi sebuah pandemi yang terjadi di banyak negara di seluruh dunia.
Etiologi
Coronavirus merupakan virus zoonotik, RNA virus, bersirkulasi di hewan, seperti unta, kucing, dan kelelawar. Hewan dengan coronavirus dapat berkembang dan menginfeksi manusia seperti pada kasus MERS dan SARS seperti kasus outbreak saat ini. Epidemi dua betacoronavirus SARS dan MERS sekitar 10.000 kasus; tingkat kematian 10 % untuk SARS dan 37% untuk MERS. Studi saat ini telah mengungkapkan bahwa COVID-19 mungkin berasal dari hewan liar, tetapi asal pastinya masih belum jelas (Morfi, et al. 2020).
Coronavirus yang menjadi etiologi COVID-19 termasuk dalam genus betacoronavirus. Hasil analisis filogenetik menunjukkan bahwa virus ini masuk dalam subgenus yang sama dengan coronavirus yang menyebabkan wabah Severe Acute Respiratory Illness (SARS) pada 2002-2004 silam, yaitu Sarbecovirus. Atas dasar ini, International Committee on Taxonomy of Viruses mengajukan nama SARS-CoV-2 (Susilo, et al. 2020).
Patogenesis
Partikel virion memasuki sel inang melalui pengikatan ACE2. Selanjutnya, genom (ss RNA) terikat pada ribosomes, menghasilkan terjemahan dari 2 co-terminal dan polyprotein besar yang diproses lebih lanjut oleh enzim proteolitik/proteolisis. Selama infeksi virus, sel T dan sitokin memainkan peran penting dalam perkembangan penyakit. Secara evolusioner melestarikan reseptor pengenalan pola bawaan (PRRs) mengenali molekul yang terkait dengan patogen, atau dilepaskan oleh sel yang rusak ditemukan terlibat dalam modulasi bawaan dan respon imun adaptif terhadap infeksi SARS-CoV2. Selain sel T, antibodi humoral telah dilaporkan berperan penting dalam infeksi yang disebabkan oleh CoV. Replikasi virus terjadi di epitel mukosa saluran pernapasan bagian atas (rongga hidung dan faring), selain itu, proliferasi terjadi di saluran pernapasan bagian bawah dan mukosa gastrointestinal yang menyebabkan viremia ringan. Mekanisme molekuler dari pengikatan virus masuk, multiplikasi dan patogenesis sedang dijelaskan dengan subunit S1 virus, lonjakan protein (S) yang menunjukkan indikasi awal pengikatan ACE2 sebagai reseptor dan subunit S2. Pada tahap 1: Keadaan tanpa gejala (awal 1 - 2 hari setelah infeksi) Virus SARS-CoV-2 yang dihirup kemungkinan mengikat sel epitel di rongga hidung dan mulai bereplikasi. ACE2 adalah reseptor utama untuk SARS-CoV2 dan SARS-CoV. Tahap 2: Jalan napas atas dan melakukan respons jalan napas (beberapa hari ke depan). Virus menyebar dan bermigrasi ke saluran pernapasan dan respons imun bawaan yang kuat dipicu. Menentukan inang respon imun bawaan mungkin membaik prediksi pada perjalanan penyakit selanjutnya dan perlu pemantauan yang lebih agresif. Tahap 3: Hipoksia, infiltrat dan perkembangan menjadi ARDS. Virus sekarang mencapai pertukaran gas unit paru-paru dan menginfeksi sel tipe II alveolar. Baik SARS-CoV dan influenza lebih memilih tipe infeksi sel II dibandingkan dengan sel tipe I. Unit alveolar yang terinfeksi cenderung perifer dan subpleural. SARS-CoV menyebar dalam sel tipe II, sejumlah besar partikel virus dilepaskan, dan sel-sel menjalani apoptosis dan mati. Hasil akhirnya adalah partikel virus yang dilepaskan menginfeksi sel tipe II di unit yang berdekatan. Umumnya, sel tipe II adalah sel prekursor untuk sel tipe I. Hasil patologis dari SARS dan COVID-19 adalah kerusakan alveoli. Silia pada sel saluran napas dan mikrovili pada sel tipe II mungkin menjadi penting untuk memfasilitasi masuknya virus (Sari, 2020).
Manifestasi Klinis
Gejala yang dialami pasien Covid-19 diantaranya, demam dengan suhu diatas 38°c,batuk, kelelahan dan nyeri otot, dan apabila pasien memiliki imunitas kurang baik akan berlanjut dengan gejala sesak nafas. Sejumlah pasien juga mengembangkan ekspektorasi (28%), sakit kepala (8%), hemoptisis (5%), dan diare (3%), dengan kasus usia tua dan pemilik penyakit komorbid serta ARDS akan memiliki prognosis lebih buruk ketika terinfeksi virus ini (Grace, C., 2020: 53-54). Gejala detail yang terjadi pada beberapa organ yaitu :
Pernapasan : batuk, sesak nafas, sakit tenggorokan, hemoptisis atau batuk darah, nyeri dada
Gastrointestinal : diare, mual, muntah
Neurologis : kebingungan dan sakit kepala (Levani, Y., 2021: 48).
Klasifikasi Covid-19
Menurut tim penulis kedokteran FK UI, 2020 klasifikasi pasien Covid-19 yang terdiri dari :
Orang Tanpa Gejala
Orang yang terinfeksi Covid-19, tetapi tidak menunjukkan gejala dan OTG dapat menularkan ke orang lain.
Orang Dalam Pemantauan
Seseorang dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA): disertai salah satu gejala/tanda penyakit pernapasan dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala, memenuhi salah satu kriteria berikut:
Memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di luar negeri yang melaporkan transmisi lokal
Memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal di Indonesia
2) Seseorang dengan gangguan sistem pernapasan dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi atau probable Covid-19.
Pasien Dalam Pengawasan
Seseorang yang mengalami demam (≥38oC) atau riwayat gejala gangguan sistem pernapasan dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala, memenuhi salah satu kriteria berikut :
Memiliki perjalanan atau tinggal di luar negeri yang melaporkan transmisi lokal
Memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal di Indonesia
Seseorang yang mengalami demam (≥38oC) atau riwayat demam atau gejala gangguan sistem pernapasan dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi atau probabel Covid-19.
Seseorang yang mengalami ISPA berat/pneumonia berat yang memerlukan perawatan di rumah sakit dan tidak ada penyebab lain yang memungkinkan berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.
Kasus Probable
Pasien dalam pengawasan yang diperiksakan untuk Covid-19, tetapi inkonklusif atau tidak dapat disimpulkan atau seseorang dengan hasil konfirmasi positif pan-coronavirus atau betacoronavirus.
Kasus terkonfirmasi
Seseorang yang secara laboratorium terkonfirmasi Covid-19.
Pemeriksaan penunjang
Anti IL-6 (Tocilizumab)
Cytokine storm pada COVID-19 dapat meningkatkan permeabilitas vaskuler, terjadi perpindahan cairan dan sel darah dalam alveolus yang mengakibatkan acute respiratory distress syndrome (ARDS) hingga kematian. Dengan demikian, menghambat kerja IL-6 merupakan salah satu terapi potensial untuk pasien COVID-19 dengan pneumonia berat atau kritis. (Burhan, E et al, 2020:23-25)
Anti IL-1 (Anakinra)
Anakinra merupakan antagonis reseptor IL-1 rekombinan yang memiliki mekanisme untuk menetralisir reaksi hiperinflamasi yang terjadi pada kondisi ARDS yang disebabkan oleh infeksi SARS-CoV-2. Pada sebuah studi klinis yang melibatkan 52 pasien, Anakinra dapat menurunkan kebutuhan pemakaian ventilasi mekanis invasif dan menurunkan kematian pada pasien COVID-19 tanpa efek samping yang serius. Dosis yang dapat diberikan adalah 100 mg/ 12 jam selama 72 jam dilanjutkan dengan 100 mg/24 jam selama 7 hari. (Burhan, E et al, 2020:26)
Antibiotik
WHO menganjurkan pemberian antibiotik pada kasus covid-19 yang berat dan tidak menganjurkan pemberian antibiotik rutin pada kasus covid-19 yang ringan. (Burhan, E et al, 2020:26-28)
Mesenchymal Stem Cell (MSCs)/ Sel Punca
Pada prinsipnya pemberian MSCs dapat menyeimbangkan proses inflamasi yang terjadi pada kondisi ALI/ARDS yang ditandai dengan eksudat fibromyxoid seluler, inflamasi paru yang luas, edema paru, dan pembentukan membran hyalin. MSCs bekerja sebagai imunoregulasi dengan nekan proliferasi sel T. Selain itu sel punca dapat berinteraksi dengan sel-sel dendritik sehingga menyebabkan pergeseran sel Th-2 proinflamasi menjadi Th anti-inflamasi, termasuk perubahan profil stikoin menuju anti-inflamasi. Di Indonesia sendiri, saat ini uji klinik MSCs dilakukan dengan pada empat RS yaitu RSCM, RS Persahabatan, RS UI, dan RS Sulianti Saroso. (Burhan, E et al, 2020:28-29)
Intravenous Immunoglobulin (IVIg)
Imunoglobulin intravena (IVIg) adalah konsentrat immunoglobulin G yang diisolasi dari plasma donor yang normal. Terapi IVIG menjadi satu alternatif pilihan terapi,terutama pada kasus COVID-19 yang berat. (Burhan, E et al, 2020:29)
Terapi Plasma Konvalesen
Terapi plasma konvalesen merupakan terapi antibodi yang bersifat pasif, yaitu memberikan antibodi terhadap penyakit infeksi tertentu kepada seseorang yang bertujuan untuk mengobati atau mencegah orang tersebut terhadap penyakit itu dengan cara memberikan imunitas yang bersifat cepat. Plasma konvalesen diperoleh dari pasien COVID-19 yang telah sembuh, diambil melalui metoda plasmaferesis dan diberikan kepada pasien COVID-19 yang berat atau potensial mengancam nyawa. Terapi plasma konvalesen diberikan bersama-sama dengan terapi standar COVID-19 (anti virus dan berbagai terapi suportif lainnya) dan bertujuan untuk menurunkan angka kematian dengan memberikan antibodi yang spesifik. (Burhan, E et al, 2020:30-33)
Vaksinasi
Vaksinasi merupakan salah satu cara paling efektif dalam mencegah penyakit akibat infeksi. (Burhan, E et al, 2020:33-34)
N-Asetilsistein
Infeksi SARS-CoV-2 atau COVID-19 berhubungan dengan ketidakseimbangan oksidan dan antioksidan yang mengakibatkan inflamasi dan kerusakan jaringan. Glutathione merupakan antioksidan yang banyak ditemukan di tubuh dan berperan dalam melindungi sel dari stres oksidatif. N Asetilsistein (NAC), yang sering digunakan sebagai obat mukolitik, memiliki sifat antioksidan secara langsung maupun secara tidak langsung melalui pelepasan gugus sistein sebagai senyawa prekursor dalam proses sintesis glutation. (Burhan, E et al, 2020:34-35)
Kolkisin
Penelitian menunjukkan bahwa pemberian kolkisin dapat menurunkan kebutuhan penggunaan oksigen,menurunkan lama rawat, dan menurunkan CRP. (Burhan, E et al, 2020:35)
Spironolakton
Spironolakton merupakan salah satu jenis mineralokortikoid yang memiliki efek antagonis reseptor androgen, antihipertensi, kardio protektif, dan nefron protektif. Spironolakton dihipotesiskan mampu memitigasi abnormalitas ekspresi ACE-2, memperbaiki keseimbangan ACE-2 yang tersirkulasi dan terikat pada membrane, menghambat aktivitas TMPRSS2 yang termediasi androgen,dan memperbaiki disfungsi RAAS yang berpotensi mengurangi pematangan virus. (Burhan, E et al, 2020:35-36)
Bronkoskopi
Tindakan bronkoskopi merupakan tindakan yang dapat membuat aerosol ataupun droplet yang dapat menjadi media penularan COVID-19 yang sangat menular sehingga sebisa mungkin sebaiknya ditunda dengan mempertimbangkan berbagai hal terutama keselamatan tenaga kesehatan serta indikasi tindakan bronkoskopi diagnostik maupun terapeutik. (Burhan, E et al, 2020:36-37)
Therapeutic Plasma Exchange (TPE)
TPE adalah pemisahan plasma dari komponen darah lain yang mana TPE dapat mengeluarkan antibody, kompleks imun, lipoprotein, macromolecules, juga toksin dan molekul inflamasi yang ada dalam plasma. (Burhan, E et al, 2020:37)
Penatalaksanaan
A. Pada pasien terkonfirmasi covid-19
Pengambilan swab di hari ke-1 dan 2 (bila pemeriksaan di hari pertama sudah positif, tidak perlu lagi pemeriksaan di hari kedua)
Pada pasien rawat inap, pemeriksaan PCR dilakukan sebanyak tiga kali selama perawatan
Untuk kasus tanpa gejala, ringan, dan sedang tidak perlu dilakukan pemeriksaan PCR untuk follow-up (hanya dilakukan pada pasien yang berat dan kritis.)
Untuk PCR follow-up pada kasus berat dan kritis, dapat dilakukan setelah sepuluh hari dari pengambilan swab yang positif.
Bila diperlukan, pemeriksaan PCR tambahan dapat dilakukan dengan disesuaikan kondisi kasus sesuai pertimbangan DPJP dan kapasitas di fasilitas kesehatan masing-masing.
Untuk kasus berat dan kritis, bila setelah klinis membaik, bebas demam selama tiga hari namun pada follow-up PCR menunjukkan hasil yang positif, kemungkinan terjadi kondisi positif persisten yang disebabkan oleh terdeteksinya fragmen atau partikel virus yang sudah tidak aktif. Pertimbangkan nilai Cycle Threshold (CT) value untuk menilai infeksius atau tidaknya dengan berdiskusi antara DPJP dan laboratorium pemeriksa PCR karena nilai cut off berbeda-beda sesuai dengan reagen dan alat yang digunakan. (Burhan, E et al, 2020:8)
B.Tanpa Gejala
Isolasi dan Pemantauan
Non Farmakologis
• Menggunakan masker
• Cuci tangan atau menggunakan hand sanitizer
• Jaga jarak (physical distancing)
• Upayakan kamar tidur sendiri / terpisah
• Menerapkan etika batuk
• Alat makan-minum dan pakaian segera dicuci serta pisahkan
• Berjemur
• Ukur dan catat suhu tubuh 2 kali sehari (pagi dan malam hari)
• Segera beri informasi ke petugas pemantau/FKTP atau keluarga jika
terjadi peningkatan suhu tubuh >38C
• Perhatikan ventilasi, cahaya dan udara, dan kebersihan kamar/ruangan
• Menggunakan APD saat membersihkan kamar
• Bagi anggota keluarga yang berkontak erat dengan pasien sebaiknya
memeriksakan diri ke FKTP/Rumah Sakit.
Farmakologis
Jika terdapat penyakit penyerta maka obat tetap dilanjutkan,Vitamin C untuk 14 hari,Vitamin D,Obat-obatan suportif baik tradisional (Fitofarmaka) maupun Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) yang teregistrasi di BPOM,Obat-obatan yang memiliki sifat antioksidan. (Burhan, E et al, 2020:9-11)
C. Derajat Ringan
Isolasi dan pemantauan
Non farmakologis
Edukasi terkait tindakan yang harus dilakukan (sama dengan edukasi tanpa gejala).
Farmakologis
Jika terdapat penyakit penyerta maka obat tetap dilanjutkan,Vitamin C,Vitamin D,Azitromisin,Antivirus,Parasetamol(bila demam),Obat-obatan suportif baik tradisional (Fitofarmaka) maupun Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) yang teregistrasi di BPOM. (Burhan, E et al, 2020:11-13)
D. Derajat Sedang
Isolasi dan pemantauan
Non farmakologis
Istirahat total, asupan nutrisi adekuat, kontrol elektrolit, status hidrasi, oksigen, pemantauan laboratorium darah perifer lengkap
Farmakologis
Vitamin C.Azitromisin,Antivirus,Antikoagulan LMWH/UFH, Pengobatan simtomatis (Parasetamol dan lain-lain),Pengobatan komorbid dan komplikasi yang ada. (Burhan, E et al, 2020:13-14)
E. Derajat Berat atau kritis
Isolasi dan pemantauan
Non farmakologis
• Status hidrasi (terapi cairan), dan oksigen
• Pemantauan laboratorium Darah Perifer Lengkap
• Pemeriksaan foto toraks
• Monitor TTV
• Monitor keadaan kritis
• Terapi oksigen
• NIV (Noninvasive Ventilation)
• Ventilasi mekanik invasif (ventilator)
• ECMO (Extra Corporeal Membrane Oxygenation)
Farmakologis
Vitamin C, Vitamin D, Vitamin B1, Azitromisin, Antibiotik, Antivirus, Antikoagulan LMWH/UFH, Deksametason, Pengobatan komorbid. (Burhan, E et al, 2020:14-22)
Komplikasi
Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS)
Onset baru atau gejala respirasi memburuk dalam satu minggu klinis diketahui
Foto dada (X-ray; CT Scan; atau USG paru): opasitas bilateral, tidak sepenuhnya oleh efusi, lobar atau kolaps paru, atau nodul
Asal edema: gagal napas tidak sepenuhnya oleh gagal jantung atau overload cairan. Perlu penilaian objektif seperti ekokardiografi
Sepsis
Dewasa: disfungsi organ disebabkan disregulasi respon tubuh terhadap infeksi (Score SOFA). Tanda organ disfungsi: perubahan status mental; susah napas atau napas cepat, saturasi oksigen rendah, urine output berkurang; HR meningkat; nadi teraba lemah, extremitas dingin, tekanan darah rendah, kulit mottling, hasil lab: koagulopati, trombositopenia, asidosis, tinggi laktat atau hiperbilirubinemia
Anak: curiga infeksi atau terbukti infeksi dan 2≥ kriteria SIRS, yang salah satunya suhu abnormal atau leukosit abnormal
Syok septik
Dewasa: persisten hipotensi walaupun sudah dilakukan resusitasi cairan, membutuhkan vasopressor untuk mempertahankan MAP ≥ 65 mmHg dan serum laktat >2 mmol/L
Anak: hipotensi atau 2-3 dari berikut: perubahan status mental atau bradikardi atau CRT meningkat; vasodilatasi hangat dengan nadi bounding; takipnea; kulit motling atau petekie atau purpura; peningkatan laktat; oliguria; hiper atau hipotermia (WHO, 2020).
Pembahasan
Kasus:
Client Profile: Perawat Flo bertugas di Puskesmas Kaliaja, mendapat laporan keluarga bapak Soiman sedang menjalani isolasi mandiri karena pak Soiman kontak erat dengan salah satu rekan kerjanya yang positif Covid-19. Perawat Flo melakukan kunjungan rumah untuk mendata keluarga bapak Soiman yang terdiri dari 5 orang.
Pengkajian:
Identitas diri
Nama : Tn. Soiman (Teguh Triana)
Usia : 50 tahun
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status kekeluargaan : Suami
Pekerjaan : Pekerja kantoran
Alamat : Desa Kaliaja
Nama : Ny. Ziella Ruth Kristantia
Usia : 48 tahun
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Perempuan
Status kekeluarga : Istri
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Desa Kaliaja
Nama : An. Naila Karima
Usia : 20 tahun
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Perempuan
Status kekeluargaan : Anak
Pekerjaan : Pelajar/Mahasiswa
Alamat : Desa Kaliaja
Nama : An. Lu’lu Nurhaliza
Usia : 18 tahun
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Perempuan
Status kekeluargaan : Anak
Pekerjaan : Pelajar/Mahasiswa
Alamat : Desa Kaliaja
Nama : An. Fashihah Salsabilla
Usia : 15 tahun
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Perempuan
Status kekeluargaan : Anak
Pekerjaan : Pelajar/Mahasiswa
Alamat : Desa Kaliaja
Tanggal isolasi mandiri : 19 September 2021
Tanggal pengkajian : 20 September 2021
Riwayat kesehatan saat ini
Keluhan
Saat ditanya, hanya bapak Soiman yang memiliki keluhan sesak nafas, batuk disertai dahak, pilek dan merasa demam.
Alasan Isolasi mandiri
Bapak Soiman melakukan kontak erat dengan salah satu rekan kerjanya yang positif Covid-19, sehingga keluarga pak Soiman melakukan isolasi mandiri.
Riwayat kesehatan dahulu
Penyakit yang pernah dialami
Tidak ada
Pernah dirawat
Bapak Soiman pernah melakukan operasi patah tulang lengan atas pasca kecelakaan sepeda motor dan dirawat 7 hari.
Alergi
Tidak ada
Kebiasaan
Merokok
Riwayat kesehatan keluarga
Semua anggota keluarga tidak memiliki penyakit keturunan.
Riwayat Psikososial
Keluarga pak Soiman merasa takut dan gelisah jika terkena Covid-19 karena takut terkena diskriminasi sosial.
Pemeriksaan Fisik
Tn. Soiman (Teguh Triana)
TB : 165 cm
BB : 65 kg
TTV : TD = 130/85 mmHg, RR = 24x/menit, S = 38, N = 100x/menit
Pemeriksaan fisik paru: Ditemukan suara ronki kering
Ny. Ziella Ruth Kristantia
TB : 160 cm
BB : 60 kg
TTV : TD = 109/78mmHg, RR = 16x/menit, S = 37C, N = 90x/menit
Pemeriksaan fisik paru: normal
An. Naila Karima
TB : 158 cm
BB : 50 kg
TTV : TD 100/70= mmHg, RR = 18x/menit, S = 36 C, N = 80x/menit
Pemeriksaan fisik paru: normal
An. Lulu Nurhazila
TB : 162cm
BB : 50kg
TTV : TD = 110/80mmHg, RR = 17x/menit, S = 37 C, N = 80x/menit
Pemeriksaan fisik paru: normal
An. Fashihah Salsabilla
TB : 156cm
BB : 48 kg
TTV : TD = 95/65mmHg, RR = 18x/menit, S = 36,5 C, N = 85x/menit
Pemeriksaan fisik paru: normal
Pemeriksaan Penunjang
Tn. Soiman
Pemeriksaan swab orofaring/nasofaring : Positif
Ny. Ziella Ruth Kristantia
Pemeriksaan swab orofaring/nasofaring : Negatif
An. Naila Karima
Pemeriksaan swab orofaring/nasofaring : Negatif
An. Lulu Nurhaliza
Pemeriksaan swab orofaring/nasofaring : Negatif
An. Fasiha Salsabila
Pemeriksaan swab orofaring/nasofaring : Negatif
Analisis data
Dari pengkajian yang dilakukan pada keluarga bapak Soiman, didapatkan bahwa ketiga anak dan istrinya tidak memiliki gejala Covid-19 dan hasil swab negatif, hanya bapak Soiman yang memiliki keluhan sehingga dibutuhkan diagnosis keperawatan.
Perencanaan Keperawatan Prioritas
Bab 3. Penutup
Kesimpulan
Virus Covid-19 bukanlah penyakit biasa yang telah ada sejak lama sehingga wajar jika masih banyak orang yang mengalami kepanikan atau bingung saat dinyatakan terkonfirmasi. Namun, dengan berkembangnya zaman dan teknologi tentu informasi juga berkembang jauh lebih pesat, seperti contohnya saat ini sudah banyak tersebar informasi seputar covid-19 di media online seperti blog sehingga dapat dibaca dengan mudah kapan saja. Selain itu, fasilitas screening mandiri secara online melalui google form atau aplikasi lain juga sudah banyak tersedia, sehingga akan jauh lebih mudah dan meminimalkan adanya mobilitas pada masyarakat.
KUIS
Referensi
Burhan, E . et.al . 2020. Pedoman Tatalaksana Covid-19 , Edisi 3, Jakarta: PDPI, PERKI, PAPDI, PERDATIN, IDAI.
Morfi, C. W., et al. 2020. Kajian Terkini CoronaVirus Disease 2019 (COVID-19). Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol. 1, No. 1.
PPNI 2016, Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik,
Edisi 1, Jakarta: DPP PPNI
PPNI 2018, Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil
Keperawatan, Edisi 1, Jakarta: DPP PPNI
PPNI 2018a, Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi dan Tindakan Keperawatan,
Edisi 1, Jakarta: DPP PPNI
Putri, R. N. 2020. Indonesia dalam Menghadapi Pandemi Covid-19. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol. 20, No.2.
Sari, G. A. 2020. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19): Review. Jurnal Sains Kesehatan Vol. 2, No. 4.
Susilo, A., et al. 2020. Coronavirus Disease 2019: Tinjauan Literatur Terkini. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia Vol. 7, No. 1.
Comments
Post a Comment