Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Corona Virus Disease (Covid-19)

 

LAPORAN DISKUSI

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

DENGAN CORONA VIRUS DISEASE(COVID-19)

 

 

 

 


 

 

 

Kelompok 3 Alih Jenjang (AJ)

 

1

Dian Priyana Sari

NIM I1F020013

2

Eni Setyawati

NIM I1F020014

3

Rokhanto Wicaksono

NIM I1F020015

4

Ariyani Diah Rakhmawati

NIM I1F020016

5

Putut Anggara Susetiya

NIM I1F020017

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

2021


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Corona Virus Disease (COVID-19) telah dinyatakan sebagai pandemi di dunia oleh WHO. Kasus positif virus Corona atau Covid-19 di Indonesia pertama kali terdeteksi pada Senin 2 Maret 2020. Sejak hari tu, jumlah kasus positif Corona semakin bertambah dari hari ke hari (DPP PPNI, 2020).

Hingga Agustus 2021, pandemi Covid-19 di Indonesia telah berlangsung lebih dari satu tahun. Dalam bulan Agustus, kasus positif Covid-19 mencapai 4.089.801 orang. Pasien sembuh bertambah 16.781 menjadi 3.760.497 orang. Pasien meninggal bertambah 532 menjadi 133.023 orang (Agiesta, 2021).

Pelayanan Kesehatan dalam menangani wabah COVID-19 ini menjadi prioritas dari semua pelayanan yang diberikan oleh pemerintah, termasuk pelayanan keperawatan. Salah satu aspek penting dalam strategi penanganan COVID-19 yaitu melakukan tracing kasus untuk mengetahui sumber penularan dan sekaligus meminimalkan risiko penularan yang lebih besar. Kondisi ini terjadi di area komunitas atau keluarga pada level yang terkecil (DPP PPNI, 2020).

Kasus terkonfirmasi memiliki tanda dan gejala yang berbeda-beda. Beberapa kasus bahkan tidak memunculkan gejala (Orang Tanpa Gejala) tetapi memiliki risiko tertular dari orang yang terkonfirmasi COVID-19 karena kontak erat dengan kasus terkonfirmasi. Dengan demikian, perawat harus jeli dalam mengkaji pasien yang memiliki kontak erat dengan pasien terkonfirmasi COVID-19 untuk dapat melacak kasus baru. Prinsip kerja pelaksanaan penyelidikan epidemiologis meliputi telusur, tanyakan, dengarkan, edukasi dan catat/laporkan.

B.    Tujuan

Makalah ini disusun dengan tujuan sebagai gambaran pengkajian dan asuhan keperawatan yang dapat dilakukan pada pasien yang memiliki kontak erat dengan kasus terkonfirmasi COVID-19.

C.    Manfaat

Manfaat dari penulisan makalah ini adalah memberikan panduan dalam melakukan proses tracing, pengkajian dan asuhan keperawatan yang dapat diberikan dalam merawat pasien yang memiliki kontak erat dengan kasus terkonfirmasi COVID-19.

 

 


 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A.    Pengertian

Covid-19 atau disebut juga dengan Corona Virus adalah kelompok virus yang bisa menyebabkan penyakit, baik itu pada manusia maupun pada hewan, pada manusia bisa menyebabkan infeksi saluran pernafasan mulai dari flu biasa sampai penyakit yang serius seperti Middle East Respiratory Syndroma (MERS) dan syndroma pernafasan akut berat/ Severe Acute Respiratory Syndroma (SARS) menurut (WHO, 2020). Covid-19 adalah penyakit menular disebabkan oleh corona virus yang baru ditemukan di Wuhan Tiongkok pada bulan Desember 2019. Komisi Kesehatan Nasional (NHC) Republik Rakyat Tiongkok kemudian mengumumkan hal itu dengan Corona Virus Novel, yang sekarang bernama Covid-19. Covid-19 inilah yang menjadi pandemi yang terjadi di banyak negara di seluruh dunia pada saat sekarang ini.

B.    Manifestasi Klinis

Masa inkubasi Covid -19 ini rata – rata 5 – 6 hari dengan masa inkubasi terpanjang adalah 14 hari (buku pedoman pencegahan dan pengendalian Covid-19, Maret ,2020) . Adapun tanda dan gejala dari Covid 19 ini dapat menyebabkan dari gejala ringan hingga berat. Temuan klinis yang dapat diklasifikasi dari penyakit ini menurut tingkat keparahannya (Dianty Sevina Salma Elmasri, Juli 2020) yaitu : 

1.     Tahap awal (ringan) menunjukan gejala infeksi dini dan non spesifik seperti malaise, demam, dan batuk kering, diare Pada tahap ini dapat diketahui dengan pemeriksaan Reverse transcriptase –polymerase chain reaction (RTPCR), foto thorak, tes darah lengkap dan fungsi hati.

2.     Tahap II Moderat: dapat terjadi penyakit paru yang terbentuk karena adanya penggandaan virus dan peradangan lokal di paru. Pada tahap ini pasien akan mengalami batuk, pneumoni, demam tinggi dan mungkin hipoksia, pada hasil rontgen dada atau Computed Tomograpy menggambarkan infiltrasi bilateral.

3.      Stadium III (berat) peradangan sistemik. Pada tahap ini merupakan tahap yang paling parah pada pasien covid 19 dari seluruh stadium yang memanifestasikan sebagai sindrom hiper peradangan sistemik ekstra paru bahkan sebuah penelitian di propinsi Hubei Cina juga dapat memeberikan gejala pada mata misal konjuctiva hiperemi, kemosis, epifora, dan peningkatan sekresi pada mata

C.    Transmisi Covid-19

Menurut WHO (detik.com agustus 2020) cara penyebaran virus Covid-19 bisa melalui udara dengan cara:

1.     Penyebaran virus Covid-19 melalui droplet: Penularan virus Covid-19 bisa terjadi pada saat bersin, batuk, berbicara, bernyanyi, hingga bernafas. Saat melakukan hal- hal tersebut udar yang keluar dari mulut dan hidung mengeluarkan partikel kecil atau aerosol dalam jarak dekat.

2.     Penyebaran virus Covid-19 melalui udara: Virus Covid-19 dapat menyebar melalui partikel-partikel kecil yang melayang diudara.

3.     Penyebaran virus covid-19 melalui permukaan yang terkontaminasi: Penularan virus covid-19 terjadi bila seseorang menyentuh permukaan yang sudah terkontaminasi virus misalnya pada saat batuk atau bersin.

4.     Penyebaran virus covid-19 melalui Fecal Oral atau limbah manusia: Laporan sampai sekarang ini belum ada yang dipublikasikan.

5.     Penyebaran virus covid-19 bisa melalui darah, dari ibu ke anak, dari hewan ke manusia.

6.     Kelompok orang yang paling rentan terhadap virus Covid-19.

D.    Pemeriksaan Penunjang

1.     Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium lain seperti hematologi rutin, hitung jenis, fungsi ginjal, elektrolit, analisis gas darah, hemostasis, laktat, dan prokalsitonin dapat dikerjakan sesuai dengan indikasi. Trombositopenia juga kadang dijumpai, sehingga kadang diduga sebagai pasien dengue. Yan, dkk.67 di Singapura melaporkan adanya pasien positif palsu serologi dengue, yang kemudian diketahui positif COVID-19. Karena gejala awal COVID-19 tidak khas, hal ini harus diwaspadai.

2.     Pemeriksaan Pencitraan

Modalitas pencitraan utama yang menjadi pilihan adalah foto toraks dan Computed Tomography Scan (CT scan) toraks. Pada foto toraks dapat ditemukan gambaran seperti opasifikasi ground-glass, infiltrat, penebalan peribronkial, konsolidasi fokal, efusi pleura, dan atelectasis. Foto toraks kurang sensitif dibandingkan CT scan, karena sekitar 40% kasus tidak ditemukan kelainan pada foto toraks (Guan W.J et al dalam Susilo et al,2020). Studi dengan USG toraks menunjukkan pola yang difus sebagai temuan utama. Konsolidasi subpleural posterior juga ditemukan walaupun jarang. Studi lain mencoba menggunakan 18F-FDG PET/CT, namun dianggap kurang praktis untuk praktik sehari-hari.

Berdasarkan telaah sistematis oleh Salehi, dkk. temuan utama pada CT scan toraks adalah opasifikasi ground-glass (88%), dengan atau tanpa konsolidasi, sesuai dengan pneumonia viral (Salehi et al dalam Susilo et al,2020) Keterlibatan paru cenderung bilateral (87,5%), multilobular (78,8%), lebih sering pada lobus inferior dengan distribusi lebih perifer (76%). Penebalan septum, penebalan pleura, bronkiektasis, dan keterlibatan pada subpleural tidak banyak ditemukan.Gambaran CT scan yang lebih jarang ditemukan yaitu efusi pleura, efusi perikardium, limfadenopati, kavitas, CT halo sign, dan pneumotoraks. Walaupun gambaran-gambaran tersebut bersifat jarang, namun bisa saja ditemui seiring dengan progresivitas penyakit. Studi ini juga melaporkan bahwa pasien di atas 50 tahun lebih sering memiliki gambaran konsolidasi (Salehi et al dalam Susilo et al,2020).

E.    Pemeriksaan Diagnostik SARS-Cov-2

1.     Pemeriksaan Antigen Antibodi

Ada beberapa perusahaan yang mengklaim telah mengembangkan uji serologi untuk SARS-CoV-2, namun hingga saat ini belum banyak artikel hasil penelitian alat uji serologi yang dipublikasi. Salah satu kesulitan utama dalam melakukan uji diagnostik tes cepat yang sahih adalah memastikan negatif palsu, karena angka deteksi virus pada rRT-PCR sebagai baku emas tidak ideal. Selain itu, perlu mempertimbangkan onset paparan dan durasi gejala sebelum memutuskan pemeriksaan serologi. IgM dan IgA dilaporkan terdeteksi mulai hari 3-6 setelah onset gejala, sementara IgG mulai hari 10-18 setelah onset gejala (Guo L.et al dalam Ssusilo et al,2020).Pemeriksaan jenis ini tidak direkomendasikan WHO sebagai dasar diagnosis utama. Pasien negatif serologi masih perlu observasi dan diperiksa ulang bila dianggap ada faktor risiko tertular (Xiang dalam Susilo et al,2020)

2.     Pemeriksaan virologi

Saat ini WHO merekomendasikan pemeriksaan molekuler untuk seluruh pasien yang termasuk dalam kategori suspek. Pemeriksaan pada individu yang tidak memenuhi kriteria suspek atau asimtomatis juga boleh dikerjakan dengan mempertimbangkan aspek epidemiologi, protokol skrining setempat, dan ketersediaan alat. Pengerjaan pemeriksaan molekuler membutuhkan fasilitas dengan biosafety level 2 (BSL-2), sementara untuk kultur minimal BSL-3.76 Kultur virus tidak direkomendasikan untuk diagnosis rutin (WHO 2019 dalam Susilo et al,2020)

Metode yang dianjurkan untuk deteksi virus adalah amplifikasi asam nukleat dengan real-time reversetranscription polymerase chain reaction (rRT PCR) dan dengan sequencing. Sampel dikatakan positif (konfirmasi SARS-CoV-2) bila rRT-PCR positif pada minimal dua target genom (N, E, S, atau RdRP) yang spesifik SARS CoV-2; ATAU rRT-PCR positif betacoronavirus, ditunjang dengan hasil sequencing sebagian atau seluruh genom virus yang sesuai dengan SARS-CoV-2.(WHO 2019 dalam Susilo et al,2020)

F.     Diagnosis

Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisis dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis terutama gambaran riwayat perjalanan atau riwayat kontak erat dengan kasus terkonfirmasi atau bekerja di fasyankes yang merawat pasien infeksi COVID-19 atau berada dalam satu rumah atau lingkungan dengan pasien terkonfirmasi COVID-19 disertai gejala klinis dan komorbid. Gejala klinis bervariasi tergantung derajat penyakit tetapi gejala yang utama adalah demam, batuk, mialgia, sesak, sakit kepala, diare, mual dan nyeri abdomen. Gejala yang paling sering ditemui hingga demam (98%),batuk dan mialgia (WHO 2020 dalam Feni Fitriani 2020)

G.    Pencegahan

COVID-19 merupakan penyakit yang baru ditemukan oleh karena itu pengetahuan terkait pencegahannya masih terbatas. Kunci pencegahan meliputi pemutusan rantai penularan dengan isolasi, deteksi dini, dan melakukan proteksi dasar (WHO 2020,dalam Susilo et al 2020)

1.     Vaksin

Salah satu upaya yang sedang dikembangkan adalah pembuatan vaksin guna membuat imunitas dan mencegah transmisi.Saat ini, sudah berlangsung 2 uji klinis fase I vaksin COVID-19. Studi pertama dari National Institute of Health (NIH) menggunakan mRNA-1273 dengan dosis 25, 100, dan 250 µg.Studi kedua berasal dari China menggunakan adenovirus type 5 vector dengan dosis ringan, sedang dan tinggi (Shang W.et al dalam Susilo et al,2020)

2.     Deteksi dini dan Isolasi

Seluruh individu yang memenuhi kriteria suspek atau pernah berkontak dengan pasien yang positif COVID-19 harus segera berobat ke fasilitas kesehatan.86 WHO juga sudah membuat instrumen penilaian risiko bagi petugas kesehatan yang menangani pasien COVID-19 sebagai panduan rekomendasi tindakan lanjutan. Bagi kelompok risiko tinggi, direkomendasikan pemberhentian seluruh aktivitas yang berhubungan dengan pasien selama 14 hari, pemeriksaan infeksi SARS-CoV-2 dan isolasi. Pada kelompok risiko rendah, dihimbau melaksanakan pemantuan mandiri setiap harinya terhadap suhu dan gejala pernapasan selama 14 hari dan mencari bantuan jika keluhan memberat.126 Pada tingkat masyarakat, usaha mitigasi meliputi pembatasan berpergian dan kumpul massa pada acara besar (social distancing) (WHO 2020 dalam Susilo et al 2020)

3.     Higiene, Cuci Tangan, dan Disinfeksi

Rekomendasi WHO dalam menghadapi wabah COVID-19 adalah melakukan proteksi dasar, yang terdiri dari cuci tangan secara rutin dengan alkohol atau sabun dan air, menjaga jarak dengan seseorang yang memiliki gejala batuk atau bersin, melakukan etika batuk atau bersin, dan berobat ketika memiliki keluhan yang sesuai kategori suspek. Rekomendasi jarak yang harus dijaga adalah satu meter.122 Pasien rawat inap dengan kecurigaan COVID-19 juga harus diberi jarak minimal satu meter dari pasien lainnya, diberikan masker bedah, diajarkan etika batuk/bersin, dan diajarkan cuci tangan (WHO 2020 dalam Susilo et al,2020)

4.     Alat Pelindung Diri

SARS-CoV-2 menular terutama melalui droplet. Alat pelindung diri (APD) merupakan salah satu metode efektif pencegahan penularan selama penggunannya rasional. Komponen APD terdiri atas sarung tangan, masker wajah, kacamata pelindung atau face shield, dan gaun nonsteril lengan panjang. Alat pelindung diri akan efektif jika didukung dengan kontrol administratif dan kontrol lingkungan dan teknik.128 Penggunaan APD secara rasional dinilai berdasarkan risiko pajanan dan dinamika transmisi dari patogen. Pada kondisi berinteraksi dengan pasien tanpa gejala pernapasan, tidak diperlukan APD. Jika pasien memiliki gejala pernapasan, jaga jarak minimal satu meter dan pasien dipakaikan masker. Tenaga medis disarankan menggunakan APD lengkap.Alat seperti stetoskop, thermometer, dan spigmomanometer sebaiknya disediakan khusus untuk satu pasien. Bila akan digunakan untuk pasien lain, bersihkan dan desinfeksi dengan alcohol 70% (WHO 2020 dalam Susilo et al,2020)

5.     Penggunaan Masker N95 dibandingkan Surgical Mask

Berdasarkan rekomendasi CDC, petugas kesehatan yang merawat pasien yang terkonfirmasi atau diduga COVID-19 dapat menggunakan masker N95 standar.130 Masker N95 juga digunakan ketika melakukan prosedur yang dapat menghasilkan aerosol, misalnya intubasi, ventilasi, resusitasi jantung-paru, nebulisasi, dan bronkoskopi (WHO 2020 dalam Susilo et al,2020)

H.    Penatalaksanaan

Saat ini belum tersedia rekomendasi tata laksana khusus pasien COVID-19.Tata laksana yang dapat dilakukan adalah terapi simtomatik dan oksigen. Pada pasien gagal napas dapat dilakukan ventilasi mekanik.88 National Health Commission (NHC) China telah meneliti beberapa obat yang berpotensi mengatasi infeksi SARS-CoV-2, antara lain interferon alfa (IFN-α), lopinavir/ritonavir (LPV/r), ribavirin (RBV), klorokuin fosfat (CLQ/CQ), remdesvir dan umifenovir (arbidol). Selain itu, juga terdapat beberapa obat antivirus lainnya yang sedang dalam uji coba di tempat lain.

1.     Terapi Etilogi atau definitif

Biarpun belum ada obat yang terbukti meyakinkan efektif melalui uji klinis, China telah membuat rekomendasi obat untuk penangan COVID-19 dan pemberian tidak lebih dari 10 hari. Rincian dosis dan administrasi sebagai berikut (Dong L. dalam Susilo et al,2020)

a.     IFN-alfa, 5 juta unit atau dosis ekuivalen, 2 kali/hari secara inhalasi; • LPV/r, 200 mg/50 mg/kapsul, 2 kali 2 kapsul/hari per oral; •

b.     RBV 500 mg, 2-3 kali 500 mg/hari intravena dan dikombinasikan dengan IFN-alfa atau LPV/r;

c.      Klorokuin fosfat 500 mg (300 mg jika klorokuin), 2 kali/ hari per oral;

d.     Arbidol (umifenovir), 200 mg setiap minum, 3 kali/ hari per oral

2.     Manajemen simtomatis dan suportif

a.     Oksigen

Pastikan patensi jalan napas sebelum memberikan oksigen. Indikasi oksigen adalah distress pernapasan atau syok dengan desaturase, target kadar saturasi oksigen >94%. Oksigen dimulai dari 5 liter per menit dan dapat ditingkatkan secara perlahan sampai mencapai target. Pada kondisi kritis, boleh langsung digunakan nonrebreathing mask. (WHO, dalam Susilo et al,2020)

b.     Antibiotik

Pemberian antibiotik hanya dibenarkan pada pasien yang dicurigai infeksi bakteri dan bersifat sedini mungkin. Pada kondisi sepsis, antibiotik harus diberikan dalam waktu 1 jam. Antibiotik yang dipilih adalah antibiotik empirik berdasarkan dengan profil mikroba lokal.(WHO,dalam Susilo et al,2020)

c.     Kortikosteroid

Shang, dkk.109 merekomendasikan pemberian kortiksteroid. Landasannya adalah studi Chen, dkk.110 pada 401 penderita SARS yang diberikan kortiksteroid, 152 di antaranya termasuk kategori kritis. Hasil studi menunjukkan kortikosteroid menurunkan mortalitas dan waktu perawatan pada SARS kritis. Dosis yang diberikan adalah dosis rendah-sedang (≤0.5-1 mg/kgBB metilprednisolon atau ekuivalen) selama kurang dari tujuh hari. Dosis ini berdasarkan konsensus ahli di China.(Chen RC. Dalam Susilo et al,2020)

d.     Vitamin C

Vitamin C diketahui memiliki fungsi fisiologis pleiotropik yang luas. Kadar vitamin C suboptimal umum ditemukan pada pasien kritis yang berkorelasi dengan gagal organ dan luaran buruk. Penurunan kadar vitamin C disebabkan oleh sitokin inflamasi yang mendeplesi absorbsi vitamin C. Kondisi ini diperburuk dengan peningkatan konsumsi vitamin C pada sel somatik. Oleh karena itu, dipikirkan pemberian dosis tinggi vitamin C untuk mengatasi sekuens dari kadar yang suboptimal pada pasien kritis.114 CITRIS-ALI merupakan studi terbaru yang menilai efektivitas dosis tinggi vitamin C pada sepsis dan gagal napas. Hasil studi menunjukkan tidak terdapat perbedaan antara grup vitamin C dengan dosis 50 mg/kgBB setiap 6 jam selama 96 jam dengan plasebo pada penurunan skor SOFA. Namun, terdapat perbedaan bermakna pada mortalitas 28-hari, bebas ICU sampai 28 hari dan bebas perawatan rumah sakit sampai 60 hari.Oleh karena itu, dosis tinggi vitamin C dapat dipertimbangkan pada ARDS walaupun perlu dilakukan studi pada populasi khusus COVID-19. Saat ini, terdapat satu uji klinis yang melihat efektivitas vitamin C dosis 12 gram terhadap waktu bebas ventilasi pada COVID-19.

e.     Ibuprofen dan Tiazolidindion

Muncul kontroversi akibat artikel yang menuliskan ibuprofen dan golongan tiazolidindion dapat meningkatkan ekspresi ACE2 sehingga dikhawatirkan akan terjadi infeksi yang lebih berat.42 Pernyataan ini dibuat tanpa sitasi bukti yang sahih sehingga saat ini tidak ada rekomendasi untuk melarang penggunaan kedua obat ini.

f.      Profilaksis Tromboemboli Vena

Profilaksis menggunakan antikoagulan low molecular-weight heparin (LMWH) subkutan dua kali sehari lebih dipilih dibandingkan heparin. Bila ada kontraindikasi, WHO menyarankan profilaksis mekanik, misalnya dengan compression stocking (WHO,dalam Susilo et al,2020)

g.     Plasma Konvalesen

Plasma dari pasien yang telah sembuh COVID-19 diduga memiliki efek terapeutik karena memiliki antibodi terhadap SARS-CoV-2. Shen C, dkk. melaporkan lima serial kasus pasien COVID-19 kritis yang mendapatkan terapi plasma ini. Seluruh pasien mengalami perbaikan klinis, tiga diantaranya telah dipulangkan.117 Biarpun studi masih skala kecil dan tanpa control. plasma konvalesen telah disetujui FDA untuk terapi COVID-19 yang kritis. Donor plasma harus sudah bebas gejala selama 14 hari, negatif pada tes deteksi SARS-CoV-2, dan tidak ada kontraindikasi donor darah (Tanne J.dalam Susilo et al,2020)

h.     Imunoterapi

Wang C, dkk melakukan identifikasi antibodi yang berpotensial sebagai vaksin dan antibodi monoklonal. Mereka menggunakan ELISA untuk menemukan antibodi yang sesuai, sampel berasal dari tikus percobaan. Hasil akhir menemukan bahwa antibodi 47D11 memiliki potensi untuk menetralisir SARS-CoV-2 dengan berikatan pada protein S. Penelitian selanjutnya diperlukan untuk mempelajari perannya dalam COVID-19.(Wang C.et al dalam Susilo et al,2020)

 

I.      Asuhan Keperawatan Pasien Covid-19

Berdasarkan panduan asuhan keperawatan pada pasien dewasa dengan pneumonia COVID-19 dari PPNI (2020), asuhan keperawatan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :

a.     Definisi operasional

1.     Kasus Suspek Seseorang yang memiliki gejala ISPA yaitu demam (≥38°C) atau riwayat demam dan disertai salah satu gejala/tanda berupa batuk, sesak, napas, sakit tenggorokan, pilek, pneumonia ringan hingga berat) yang: a. Pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah Indonesia yang melaporkan transmisi lokal, ATAU b. Pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi atau probable COVID-19, ATAU c. Mengalami pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit DAN tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.

2.     Kasus Probable Kasus suspek dengan ISPA berat/ARDS/meninggal dengan gambaran klinis yang meyakinkan COVID-19 DAN belum ada hasil pemeriksaan laboratorium RT-PCR.

3.     Kasus Konfirmasi Seseorang yang dinyatakan positif terinfeksi virus COVID-19 yang dibuktikan dengan pemeriksaan laboratorium RT-PCR. Kasus konfirmasi dibagi menjadi 2:

a.     Kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik)

b.     Kasus konfirmasi tanpa gejala (asimptomatik).

4.     Kontak Erat Seseorang yang memiliki riwayat kontak dengan kasus probable atau konfirmasi COVID-19. Riwayat kontak yang dimaksud antara lain: a. Kontak tatap muka/berdekatan dengan kasus probable atau kasus konfirmasi dalam radius 1 (satu) meter dan dalam jangka waktu ≥15 menit b. Sentuhan fisik langsung dengan kasus probable atau konfirmasi (seperti bersalaman, berpegangan tangan, dan lain-lain) c. Orang yang memberikan perawatan langsung terhadap kasus probable atau konfirmasi tanpa menggunakan APD yang sesuai standar d. Situasi lainnya yang mengindikasikan adanya kontak berdasarkan penilaian risiko lokal yang ditetapkan oleh tim penyelidikan epidemiologi setempat.

5.     Pelaku Perjalanan Seseorang yang melakukan perjalanan dari dalam negeri (domestik) maupun luar negeri pada 14 hari terakhir.

6.     Discarded

Discarded apabila memenuhi salah satu kriteria berikut: a. Seseorang dengan status kasus suspek dengan hasil pemeriksaan RTPCR 2 kali negatif selama 2 hari berturut-turut dengan selang waktu >24 jam b. Seseorang dengan status kontak erat yang telah menyelesaikan masa karantina selama 14 hari.

7.     Selesai Isolasi

Selesai isolasi jika memenuhi salah satu kriteria berikut:

a.     Kasus konfirmasi tanpa gejala (asimptomatik) yang tidak dilakukan pemeriksaan follow up RT-PCR dengan ditambah 10 hari isolasi mandiri sejak pengambilan spesimen diagnosis konfirmasi

b.     Kasus probable/kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik) yang tidak dilakukan pemeriksaan follow up RT-PCR dihitung 10 hari sejak tanggal onset dengan ditambah minimal 3 hari setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan

c.     Kasus probable/kasus konfirmasi dengan gejala (simptomatik) yang mendapatkan hasil pemeriksaan follow up RT-PCR 1 kali negatif, dengan ditambah minimal 3 hari setelah tidak lagi menunjukkan gejala demam dan gangguan pernapasan.

8.     Kematian

Kematian COVID-19 untuk kepentingan surveilans adalah kasus konfirmasi atau probable COVID-19 yang meninggal

b.     Pengkajian Keperawatan

Pengkajian keperawatan meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dengan komponen-komponen sebagai berikut:

1.     Keluhan utama Gejala infeksi saluran pernapasan akut seperti demam atau riwayat deman yang disertai tanda/gejala batuk, sesak, napas, sakit tenggorokan, pilek, pneumonia ringan hingga berat).

2.     Kondisi/riwayat

a.     Pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah Indonesia yang melaporkan transmisi lokal.

b.     Pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi atau probable COVID-19,

c.     Mengalami pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit dan tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan,

d.     Kontak erat dengan kasus probable atau konfirmasi COVID-19.

3.     Psikososial

Pasien dapat mengalami kecemasan atau stress

4.     Spiritual

Pengkajian meliputi agama, kepercayaan, pola ibadah, distres spiritual.

5.     Penatalaksanaan Obat-obatan yang diminum sebelum masuk rumah sakit.

6.     Tanda-tanda vital dan kesadaran

Tanda-tanda vital meliputi tekanan darah; frekuensi, kekuatan dan irama nadi; frekuensi, kedalaman dan pola napas; suhu tubuh; dan saturasi oksigen; serta tingkat kesadaran (GCS).

7.     Pemeriksaan fisik Dilakukan pemeriksaan head to toe, terutama difokuskan pada pengkajian manifestasi klinis yang diakibatkan oleh pneumonia, yaitu:

a.     Pasien dewasa dengan Uncomplicated illness yaitu pasien dengan gejala non-spesifik seperti demam, batuk, nyeri tenggorokan, hidung tersumbat, malaise, sakit kepala, nyeri otot. Perlu waspada pada usia lanjut dan imunocompromised karena gejala dan tanda tidak khas.

b.     Pneumonia ringan: Pasien dengan pneumonia dan tidak ada tanda pneumonia berat.

c.     Pasien remaja atau dewasa dengan Pneumonia berat / ISPA berat: demam atau dalam pengawasan infeksi saluran napas, ditambah satu dari: frekuensi napas >30 x/menit, distress pernapasan berat, atau saturasi oksigen (SpO2) pada udara kamar.

8.     Riwayat alergi Riwayat alergi terhadap obat, makanan, dan lain-lain

9.     Pengkajian nyeri

10.  Risiko jatuh Pengkajian risiko jatuh dengan menggunakan MORSE Scale

11.  Skrining nutrisi

12.  Risiko luka tekan (dekubitus) Pengkajian risiko luka tekan atau dekubitus dengan menggunakan Norton atau Braden Scale.

13.  Status Fungsional Pengkajian status fungsional dengan menggunakan Bartel Index

14.  Budaya Pengkajian budaya meliputi suku, adat, pantang makanan, pola makan, pola komunikasi, kebiasaan pasien saat sakit, kepercayaan yang dianut terhadap penyakit

15.  Kebutuhan edukasi dan hambatan menerima edukasi Pengkajian terhadap kebutuhan edukasi seperti cuci tangan yang aman, penggunaan masker, etika batuk, penggunaan obat yang aman, potensi interaksi obat dan makanan, efek samping obat, diet dan nutrisi, manajemen nyeri, dan teknik rehabilitasi. Hambatan menerima edukasi dapat terjadi akibat adanya gangguan penglihatan, gangguan pandangan, gangguan emosi, gangguan fisik, keterbatasan bahasa, bicara, tidak melek huruf.

16.  Pemeriksaan radiologi Pemeriksaan radiologi berupa rontgen dada bertujuan untuk menunjukkan adanya infiltrat pada paru.

17.  Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan darah tepi (monosit, limfosit, neutrofil, LED, CRP) serta rapid test atau RT-PCR SARS-CoV-2.

18.  Perencanaan Pemulangan (Discharge Planning)

c.     Diagnosis Keperawatan

1.     Bersihan jalan napas tidak efektif b.d. hipersekresi jalan napas dan proses infeksi.

2.     Gangguan pertukaran gas b.d. perubahan membran alveolus-kapiler.

3.     Ansietas b.d. krisis situasional, ancaman terhadap kematian.

4.     Risiko defisit nutrisi d.d. peningkatan kebutuhan metabolisme, faktor psikologis (stres, keengganan untuk makan).

5.     Defisit perawatan diri b.d. kelemahan, penurunan motivasi/minat,

d.     Luaran Keperawatan

1.     Bersihan jalan napas tidak efektif

a.     Setelah dilakukan intervensi keperawatan, bersihan jalan napas meningkat dengan kriteria hasil batuk efektif meningkat, sputum menurun, wheezing menurun

b.     Setelah dilakukan intervensi keperawatan, tingkat infeksi menurun dengan kriteria hasil demam menurun, kadar sel darah putih membaik, kepatuhan pencegahan infeksi (hand hygiene, etika batuk) meningkat.

2.     Gangguan pertukaran gas Setelah dilakukan intervensi keperawatan, pertukaran gas meningkat dengan kriteria hasil dispnea menurun, frekuensi napas 12-20 kali/menit, SpO2 ≥90%, sianosis tidak terjadi, ronkhi menurun, pemeriksaan AGD dalam batas normal (PaO2 >80 mmHg, PaCO2 35-45 mmHg, pH 7.35-7.45).

3.     Ansietas Setelah dilakukan intervensi keperawatan, tingkat ansietas menurun dengan kriteria hasil perilaku gelisah dan tegang menurun, verbalisasi khawatir akibat kondisi yang dihadapi menurun, konsentrasi membaik, pola tidur membaik.

4.     Risiko Defisit Nutrisi Setelah dilakukan intervensi keperawatan, status nutrisi membaik dengan kriteria porsi makanan dihabiskan, verbalisasi keinginan untuk menigkatkan nutrisi, IMT dalam batas normal.

5.     Defisit perawatan diri Setelah dilakukan intervensi keperawatan, perawatan diri meningkat dengan kriteria hasil perawatan diri (BAB/BAK, berpakaian, mandi, makan, minum) terpenuhi.

e.     Intervensi Keperawatan

1.     Bersihan jalan napas tidak efektif

a.     Manajemen jalan napas

1)    Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)

2)    Monitor sekret (jumlah, warna, bau, konsistensi)

3)    Monitor kemampuan batuk efektif

4)    Posisikan semi-Fowler/Fowler

5)    Berikan minum hangat

6)    Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari (jika tidak kontraindikasi)

7)    Ajarkan teknik batuk efektif

8)    Kolaborasi pemberian bronkodilator dan/atau mukolitik, jika perlu

b.     Manajemen isolasi

1)    Identifikasi pasien-pasien yang membutuhkan isolasi

2)    Monitor suhu tubuh pasien

3)    Monitor efektifitas pemberian obat antimikroba

4)    Tempatkan satu pasien untuk satu kamar

5)    Dekontaminasi alat-alat kesehatan sesegera mungkin setelah digunakan

6)    Lakukan kebersihan tangan pada 5 moment

7)    Pasang alat proteksi diri sesuai SPO (mis. sarung tangan, masker N95, gown coverall, apron)

8)    Lepaskan alat proteksi diri segera setelah kontak dengan pasien

9)     Pakaikan masker pada pasien

10)  Minimalkan kontak dengan pasien, sesuai kebutuhan

11) Pastikan kamar pasien selalu dalam kondisi bertekanan negatif

12) Tempatkan linen yang telah digunakan merawat pasien pada tempat infeksius.

13) Anjurkan membuang sekresi/ ludah/sputum pada kantong kuning yang disediakan.

2.     Gangguan pertukaran gas

a.     Pemantauan respirasi

1)    Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan upaya bernapas

2)    Monitor saturasi oksigen

3)    Monitor bunyi napas

4)    Monitor nilai AGD, jika perlu

5)    Atur pemanauan respirasi sesuai kondisi pasien

6)    Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan

7)    Informasikan hasil pemantauan, jika perlu

8)    Dokumentasikan hasil pemantauan

b.     Terapi oksigen

1)    Monitor kecepatan aliran oksigen

2)    Monitor integritas mukosa hidung akibat pemasangan oksigen

3)    Monitor efektifitas terapi oksigen (misal oksimetri nadi, AGD)

4)    Monitor rontgen dada

5)    Gunakan perangkat oksigen yang sesuai

6)    Jelaskan tujuan dan prosedur pemberian oksigen

7)    Kolaborasi penentuan dosis oksigen

3.     Ansietas

a.     Reduksi ansietas

1)    Monitor tanda-tanda ansietas (verbal dan nonverbal)

2)    Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika memungkinkan

3)    Dengarkan keluhan pasien penuh perhatian

4)    Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan

5)    Diskusikan perecanaan realistis tentang peristiwa yang akan dating

6)    Jelaskan prosedur yang akan dilakukan, termasuk sensasi yang mungkin dialami

7)    Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi

8)    Latih teknik relaksasi seperti napas dalam, dan imajinasi terpimpin.

b.     Dukungan pelaksanaan ibadah

1)    Identifikasi kebutuhan pelaksanaan ibadah sesuai agama yang dianut

2)    Fasilitasi pelaksanaan ibdah sesuai agama yang dianut (misal menghadap kiblat, menyiapkan peralatan ibadah)

3)    Anjurkan untuk melakukan ibadah sesuai agama dan kepercayaanya.

4.     Risiko defisit nutrisi

a.     Manajemen nutrisiI

1)    Identifikasi alergi makanan dan intoleransi makanan

2)    Monitor asupan makanan

3)    Monitor berat badan

4)    Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein atau sesuai program/diet

5)    Anjurkan menghabiskan porsi makan yang disediakan

6)    Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan, jika perlu.

5.     Defisit perawatan diri

a.     Dukungan perawatan diri

1)    Monitor tingkat kemandirian

2)    Fasilitasi pemenuhan kebutuhan perawatan diri

3)    Identifikasi kebutuhan alat bantu kebersihan diri, berpakaian,berhias dan makan

4)    Siapkan keperluan pasien pribadi dengan berkoordinasi dengan keluarga : sikat gigi, sabun mandi, pakaian, handuk, parfum.

b.     Dukungan perawatan diri: BAB/BAK

1)    Identifikasi kebiasaan BAB/BAB

2)    Jaga privasi selama eliminasi

3)    Sediakan alat bantu BAB/BAK

4)    Sediakan alat bantu (misal urinal, pispot), jika perlu

5)    Anjurkan BAK/BAB secara rutin

6)    Anjurkan hand hygiene setelah dari toilet/kamar mandi

c.     Dukungan perawatan diri : Berpakaian

1)    Fasilitasi mengenakan pakaian, jika perlu

2)    Fasilitasi berhias (misal menyisir rambut, merapikan kumis/jenggot), jika perlu

3)    Jaga privasi selama berganti pakaian

4)    Ajarkan mengenakan pakaian, jikaperlu

d.     Dukungan perawatan diri: makan/minum

1)    Identifikasi diet yang dianjurkan

2)    Monitor kemampuan menelan

3)    Atur posisi nyaman untuk makan/minum

4)    Berikan bantuan saat makan/minum sesuai tingkat kemandirian, jika perlu.

5)    Dokumentasikan porsi makan yang dihabiskan

e.     Dukungan perawatan diri: mandi

1)    Monitor kebersihan tubuh

2)    Monitor integritas kulit

3)    Identifikasi jenis bantuan yang dibutuhkan

4)    Fasilitasi pemenuhan kebutuhan kebersihan diri

5)    Fasilitasi mandi sesuai kebutuhan

6)    Berikan bantuan sesuai tingkat kemandirian

f.      Evaluasi

1)    Bersihan jalan napas meningkat,

2)    Pertukaran gas meningkat,

3)    Tingkat ansietas menurun,

4)    Status nutrisi membaik,

5)    Perawatan diri meningkat.

 

J.      SIMULASI KASUS

Kasus CBL 2 :

Perawat Flo bertugas di Puskesmas Kaliaja, mendapat laporan bahwa keluarga bapak Soiman sedang menjalani isolasi mandiri karena Pak Soiman kontak erat dengan salah satu rekan kerjanya yang positif Covid-19. Perawat Flo melakukan kunjungan rumah untuk mendata keluarga bapak Soiman yang terdiri dari 5 orang.

a.     Pengkajian

1)    Ny. Siti Khodijah

Tanggal Masuk     : 25/09/2021

Dx                    : Brpn. Covid 19

No Cm                  : 02178329

Alamat                  : Karangsalam Kidul Rt 01 Rw 02 Kedungbanteng, Banyumas

Nik                        : 3302235002860003

Hp                         : 085848880884

Keluhan Utama :

PB dari IGD Rujukan dari RS Ananda. Dengan confirmed Covid 19,  BRPN, datang dengan keluhan batuk ngiklik dan sesak nafas, lemas, tidak nafsu makan, riw. Perdarahan pervaginam, saat ini PPV sudah berhenti.

Pemeriksaan Penunjang:

a)     Hasil Lab 22/09/21 : Hb12.6, Tromb 558000, Kalium 4.6, Klorida 98, Natr 137, Ur 33.75, Cr 0.54, Albumin 3.50, Aptt 25.0, Crp 21.0, D-Dimer 2800, Hbsag Non Reaktif

b)    Hasil Agd 22/09/21 :  A-Ado2 347.2, Be -5.1, Hco3 20.6, Sbc 20.0, Pco2 40.0, Ph 7.33, Po2 44.6, Tco2 21.9

c)     Hasil RO Thorax 23/09/2021 : Gambaran pneumonia, Mild cardiomegaly

d)    Kultur Darah Tunggu Hasil 22/09/21

e)     Kultur Sputum 26/09/2021 Tunggu Hasil

Setelah Intervensi:

KU lemah, CM, Nafas sesek, batuk berkurang, vs belum stabil, cenderung hipotensi, terpasang N-Epi 0.1 mcg/kgbb/menit, terpasang O2 RM 6 lpm, ivfd (+), DC H6, terapi masuk sesuai program. EKG (+).

BC: + 350 cc

TD: 101/65 mm/Hg, N: 61 x/menit, RR: 21x/menit, S: 36.6 C, SpO2: 100%. EWS : 3 HIJAU

dr. Shila Sp.An visit advice :

a)     Konsul Sp.JP, EKG

b)    Heparin 3x7500 / Lovenox 2x60

c)     Motivasi keluarga jika ada perburukan

Jawaban konsul dr Rio:

a)     Digoxin 1 x 0.125mg,

b)    Spironolactone 1x12.5mg

Program:

a)     Monitor Ku, Vs

b)    Konsul Dr. Ghea (+) Jawaban (-)

c)     Hasil Thorax (+)

d)    Pro Kultur Sputum Sampel 26/09/2021 (+) Hasil (-)

e)     Tunggu Hasil Kultur Darah 22/09/21

2)    Nn. Iis Sumiyati

Tanggal Masuk     : 25/09/2021

Dx                    : Covid 19 , Pneumonia Gejala Berat

No Cm                  : 02178484

Alamat                  : Perdamean Rt 00/Rw 00 Tanjung Morawa

Nik                        : 1207025504850003

No Hp                   : 082322872294

Keluhan Utama:

Pasien datang dari IGD dg keluhan sesak nafas sejak 3 hari yll, dada terasa sakit hilang timbul, batuk+, demam, pusing, lemas, nyeri perut, mual, muntah+, diare +, riw. perjalanan ke Jogja sejak 3 hari yll, riw. TB sudah selesai pengobatan sudah lama, riwayat belum vaksin

Pemeriksaan Penunjang:

a)     Hasil Lab 24/09/21 : Hb 9, Tromb 353000, Kalium 3.8, Klorida 97, Natr 135, Ur 9.67, Cr 0.72, SGOT 37, SGPT  10, Albumin 3.67, PT 11.0, APTT 33.5, CRP 46.0, D-DIMER 990, HBSAG Non reaktif

b)    Hasil SWAB TCM 24/09/21 Positif

c)     Hasil AGD 24/09/21 :  A-aDO2 168.7, BE -5.7, HCO3 18.9, SBC 19.7, O2 SAT 96.1, PCO2 32.3, PH 7.38, PO2 90.7, TCO2 19.8

Setelah Intervensi:

KU Lemah, CM, Mual muntah, terpasang Binasal 4 lpm, vital sign belum stabil, HR cenderung rendah, terpasang N-EPI 0,2 mcg/kgBB/menit, terpasang infus NaCl 20 tpm , terpasang DC H4

GDS jam 24.00 : 175 mg/dl

GDS jam 06.00 :  92  mg/dl

BC: -500 cc

TD: 104/60 mm/Hg, N: 47 x/menit, RR: 23 x/menit, S: 36.6 C, SpO2: 100%. EWS : 5 ORANGE

dr. Shila visit advice :

a)     Weaning O2 NRM > Binasal 4 lpm.

b)    OmZ 1x40 mg untuk mual

c)     Konsul Raber Sp. JP.

d)    Weaning N-Epi.

Jawaban konsul dr Rio:

a)     Nitrokaf 2x2.5mg

b)    Spironolactone 1x12.5mg

c)     Heparin dilanjutkan

d)    Terapi lain sesuai dpjp

Program:

a)     Monitor KU & TTV, GCS

b)    GDS / Pagi

c)     Cek kultur sputum (+) Hasil (-)

d)    Cek TCM TB sampel –  (hari kerja)

 

b.     Analisis Data

1)    Pasien Ny. Siti Khadijah

Data

Etiologi

Masalah

DS :

Pasien mengeluh batuk ngiklik, sesak nafas, lemas

DO:

- Diagnosa medis BRPN Covid-19

- Gambaran Rontgen Pneumonia

-. RR 21x/menit

- PO2 44,6

Kerusakan Jaringan Paru

Gangguan Pertukaran Gas

DS

Pasien mengeluhkn tidak nafsu makan, badan lemas

 Sesak nafas

DO

TD: 101/65 mm/Hg

RR 21x/menit

Rontgen pneumonia

Diagnosa Covid-19

 PO2 44,6

Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen

Intoleransi aktifitas

2)    Pasien Nn. Iis Sumiyati

Data

Etiologi

Masalah

DS :

Keluhan sesak nafas sejak 3 hari, dada terasa sakit hilang timbul, batuk, pusing, lemas, riwayat perjalanan ke Jogja sejak 3 hari, riwayat belum vaksins

DO:

- Diagnosa medis Covid-19 Pneumonia Gejala Berat

-. RR 21x/menit

- PO2 44,6

-. Hb : 9

SWAB (+)

RR 23x/menit

Kerusakan Jaringan Paru

Gangguan Pertukaran Gas

DS :

Pasien mengeluhkan lemah, mual muntah, pusing, demam, diare, nyeri perut, sesak nafas, dada terasa sakit

DO :

-. Terpasang NaCl IV 20 tpm

-. Suhu 36,6°C

- Pemberian OmZ untuk mual

-. RR 23x/menit

-. Hb 9

-. Diagnosa medis pneumonia gejala berat

Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen

Intoleransi aktifitas

 

c.     Rencana Asuhan Keperawatan

NO

DIAGNOSA

Luaran

 

Intervensi

 

RASIONALISASI

1

Gangguan Pertukaran Gas (0003)

Pertukaran Gas (L.01003)

Setelah dilakukan tindakan Keperawatan selama 1x24 jam, diharapkan pertukaran gas meningkat dengan indikator :

1. Tingkat kesadaran pasien membaik (composmentis)

2. Dispnea menurun

3. Pola nafas membaik (12-20x/menit).

4. Tidak ada bunyi nafas tambahan

 

Terapi Oksigen (I.01026)

1. Monitor efektifitas terapi oksigen

2. Pertahankan kepatenan jalan nafas

3. Mengajarkan penggunaan oksigen kepada keluarga dan pasien

4. Kolaborasi penentuan dosis oksigen dengan dokter

1. Observasi efektifitas bertujuan untuk mengtahui perubahan yang dicapai dengan pemberian terapi tersebut

2. Dengan mempertahankan kepatenan jalan nafas, diharapkan terjadi pertukaran gas secara adekuat

3. Edukasi diperlukan dalam menciptakan kemandirian pasien dan keluarga

4. Kolaborasi dengan dokter diperlukan dalam menentukan setiap intervensi medis

 

2.

Intoleransi Aktivitas (0056)

Toleransi Aktivitas Meningkat  (L.05047)

Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan toleransi aktivitas pasien meningkat dengan indikator :

1. Keluhan lelah menurun meningkat

2. Dispnea menurun

3. Tekanan darah membaik

4. peningkatan kemampuan beraktivitas

Manajemen Energi (I.05178)

1. Mengidentifikasi gangguan fungsi tubuh penyebab kelelahan

2. Menyediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus

3. Anjurkan melakukan aktifitas secara bertahap

4. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemenuhan nutrisi

1. Identifikasi penyebab keluhan bisa memberikan fokus intetvensi secara komprehensif

2. Lingkungan yang mendukung diharapkan mendukung istirahat pasien dalam pemenuhan energi

3. Aktivitas bertahap bertujuan untuk melatih kesiapan tubuh pasien setelah mengalami keluhan

4. Kolaborasi diperlukan dalam mendapatkan perencanaan intervensi yang tepat sesuai dengan kebutuhan

 

 


 

K.    LINK G-FORM TRACING COVID-19

Berikut link google form kelompok 3 untuk tracing dan mengumpulkan data pengkajian COVID-19 : https://bit.ly/DATA_ISOMAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

BAB III

PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Corona Virus Disease (COVID-19) adalah penyakit menular disebabkan oleh corona virus yang baru ditemukan di Wuhan Tiongkok pada bulan Desember 2019 dan telah dinyatakan sebagai pandemi di dunia oleh WHO. Kasus positif Covid-19 di Indonesia pertama kali terdeteksi pada Senin 2 Maret 2020. Adapun tanda dan gejala dari Covid 19 ini dapat menyebabkan dari gejala ringan hingga berat.

Pencegahan Covid-19 meliputi pemutusan rantai penularan dengan isolasi, deteksi dini, dan melakukan proteksi dasar (WHO 2020,dalam Susilo et al 2020) . Aspek penting dalam strategi penanganan COVID-19 yaitu melakukan tracing kasus untuk mengetahui sumber penularan dan sekaligus meminimalkan risiko penularan yang lebih besar. Kondisi ini terjadi di area komunitas atau keluarga pada level yang terkecil (DPP PPNI, 2020). Prinsip kerja pelaksanaan penyelidikan epidemiologis meliputi telusur, tanyakan, dengarkan, edukasi dan catat/laporkan.

 

B.    SARAN

Dengan mengetahui penyebab, tanda gejala dan cara penularan covid -19 diharapakan kita sebagai warga negara yang baik harus mengikuti intruksi dari pemerintah guna turut berperan serta memutus mata rantai penyakit covid -19 ini, dan mengambil hikmah positif dari apa yang terjadi bertambah baik dalam berkehidupan baik dengan sesama manusia maupun dengan alam sekitar. Adapun cara yang dapat dilakukan untuk pencegahan penularan covid-19 sesaui anjuran WHO dengan cara berikut ini:

1.      Rajin mencuci tangan

2.      Batuk atau bersin pada siku yang terlipat, bukan tangan Anda

3.      Hindari menyentuh mata, hidung dan mulut

4.      Hindari atau batasi berada di tempat-tempat ramai. Ikuti anjuran pemerintah

5.      Hindari kontak dekat dengan orang sakit

6.      Bersihkan dan disinfeksi permukaan atau benda-benda mati yang sering disentuh.


 

DAFTAR PUSTAKA

Agiesta, Fellyanda S. Data Terkini Kasus Covid-19 Selaa Agustus 2021 di Indonesia. https://www.merdeka.com/peristiwa/data-terkini-kasus-covid-19-selama-agustus-2021-di-indonesia.html (diakses 25 September 2021).

Davies, P. D. O. (2002) ‘Multi-drug resistant tuberculosis’, CPD Infection, 3(1), pp. 9–12.

PPNI. (2020). Panduan Asuhan Keperawatan Di Masa Pandemi Covid-19. Edisi I. Jakarta : DPP PPNI.

Rahma, Y. (2021) ‘Gambaran Tingkat Kecemasan Perawat yang Mempunyai Lansia di Masa Pandemi COVID-19 di RSUP Dr. M.Djamil Padang Tahun 2020’, Skripsi, pp. 1–98.

Susilo, A. et al. (2020) ‘Coronavirus Disease 2019: Tinjauan Literatur Terkini’, Jurnal Penyakit Dalam Indonesia, 7(1), p. 45. doi: 10.7454/jpdi.v7i1.415.

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

MAKALAH DISLOKASI

SINDROM KOMPARTEMEN

Penting! Waspada Gejala Gastritis Sejak Dini