ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN COVID-19
Laporan
Diskusi
Asuhan
Keperawatan Pada Pasien Dengan Covid-19
Kelompok
7
1. Maria
Felisitas Were NIM I1B018075
2. May
Worabay NIM
I1B018100
3. Fatma
Fathunni'mah NIM I1B020012
4. Lusi
Setiawati NIM
I1B020014
5. Farah
Triandari NIM
I1B020015
6. Faridhatul
Izza NIM I1B020016
Program
Studi Sarjana Keperawatan Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan
Universitas
Jenderal Soedirman
BAB 1. PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Pada 31 Desember 2019, WHO China
Country Office melaporkan kasus pneumonia yang tidak diketahui etiologinya di
Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Setelah dilakukan identifikasi, kasus
tersebut disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru teridentifikasi
menginfeksi manusia, yaitu Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2
(SARS-CoV-2). Virus ini menyebabkan penyakit menular yang disebut dengan
Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Gejala yang sering timbul dari Covid-19
yaitu demam, batuk kering dan rasa lelah. Pada beberapa orang juga dapat merasa
nyeri, hidung tersumbat, konjungtivis, nyeri kepala, sakit tenggorokan dan
konjungtivis (Kemenkes, 2020).
Pada tanggal 30 Januari 2020 WHO
menetapkan kejadian tersebut sebagai Kedaruratan
Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (KKMMD)/Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) dan
pada tanggal 11 Maret 2020, WHO
sudah menetapkan Covid-19 sebagai pandemi (Kemenkes, 2020). Saat ini,
per tanggal 24 September 2021 tercatat
kasus terkonfirmasi Covid-19 di Indonesia sebanyak 4.204.116 dengan penambahan
harian sebanyak 2.557 kasus (Kemenkes, 2021). Hal ini menunjukkan masih
tingginya tingkat penularan Covid-19 di Indonesia. Penularan Covid-19 sendiri
dapat terjadi melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi maupun tidak
langsung melalui benda yang dipakai oleh orang yang terinfeksi. Upaya yang
dapat dilakukan dalam mencegah penularan Covid-19 yaitu dengan menerapkan
program 5M, memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, membatasi mobilitas
dan menjauhi kerumunan. Selain itu, perlu diterapkannya strategi dalam
penanggulangan pandemi dengan penilaian surveilans dalam mengidentifikasi
sebagian besar kasus dan kontak pada masyarakat untuk memantau tren penularan
Covid-19 dan deteksi cepat wilayah
dengan atau tanpa transmisi virus (Kemenkes, 2020). Penatalaksanaan Covid-19
juga perlu dipatuhi, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
- Tujuan
1.
Menganalisis
data identitas diri pada pasien COVID-19 dengan sistem pendokumentasian
berbasis komputer.
2.
Menganalisis
dan mengklasifikasi data riwayat kesehatan pada pasien COVID-19 dengan sistem
pendokumentasian berbasis komputer.
3.
Menganalisis
dan mengklasifikasi data pemeriksaan fisik pada pasien COVID-19 dengan sistem
pendokumentasian berbasis komputer.
4.
Menganalisis
data pemeriksaan penunjang pada pasien COVID-19 dengan sistem pendokumentasian
berbasis komputer.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
- Overview Kasus
Pada tanggal 31 Desember 2019 telah
dilaporkan terdapat 27 kasus pneumonia misterius dengan penyebab yang tidak
diketahui di Wuhan, China. Otoritas China dan (WHO) World Health Organization mengatakan bahwa virus tersebut merupakan
penyakit coronavirus (COVID-19). Pada akhirnya tanggal 19 Februari 2020, (WHO) World Health Organization secara resmi
mendeklarasikan virus SARS-CoV-2 sebagai penyebab dari penyakit COVID-19. Tanda
dan gejala klinis utama yang muncul apabila terinfeksi COVID-19 yaitu demam
(suhu >38ºC), batuk, dan kesulitan bernapas. Beberapa pemeriksaan penunjang
digunakan untuk menunjukkan apakah seseorang terinfeksi COVID-19 atau tidak
seperti foto toraks, CT Scan toraks, RT-PCR, pemeriksaan saraf perifer lengkap,
dan kimia darah. Apabila seseorang yang terinfeksi COVID-19 tidak diberikan
perawatan intensif dan ditangani dengan cepat maka dapat memperburuk keadaan
bahkan dapat menyebabkan kematian. Sehingga diperlukan penatalaksanaan medis
yang tepat guna untuk mengurangi risiko komplikasi maupun kematian. Upaya
penatalaksanaan medis harus tepat baik di rumah sakit, rumah, hotel, maupun
lainnya sebagai tempat perawatan serta
isolasi mandiri pasien COVID-19.
- Pembahasan
a.
Definisi
Penyakit Coronavirus 2019 (COVID-19) adalah salah
satu jenis pneumonia yang disebabkan oleh Severe
Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2)(Harahap, 2020). Virus
COVID-19 pertama kali ditemukan di provinsi Hubei, China, pada tanggal 31
Desember 2019 dengan dilaporkan terdapat 27 kasus pneumonia misterius dengan
penyebab yang tidak diketahui. Pada akhirnya tanggal 11 Februari 2020, (WHO) World Health Organization secara resmi
mendeklarasikan nama virus tersebut dengan Severe
Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) sebagai penyebab dari
penyakit Coronavirus Disease 2019
(COVID-19) (WHO, 2020).
b.
Patofisiologi
Coronavirus merupakan
salah satu jenis dari virus zoonotik yaitu virus yang dapat ditransmisikan dari
hewan ke manusia. Beberapa host yang
dapat menularkan virus yaitu kelelawar, tikus bambu, unta, musang, dll. Tahapan
Coronavirus menginfeksi tubuh manusia yaitu pertama, penempelan dan masuk virus
ke sel host diperantarai oleh Protein S yang ada dipermukaan virus. Kedua,
ACE-2 dapat ditemukan pada mukosa oral dan nasal, nasofaring, paru, lambung,
usus halus, usus besar, kulit, timus, sumsum tulang, limpa, hati, ginjal, otak,
sel epitel alveolar paru, sel enterosit usus halus, sel endotel arteri vena,
dan sel otot polos. Setelah berhasil masuk, selanjutnya translasi replikasi gen
dari RNA genom virus. Selanjutnya, replikasi dan transkripsi dimana sintetis
virus RNA melalui translasi dan perakitan dari kompleks replikasi virus.
Selanjutnya, perakitan dan rilis virus. Setelah terjadi transmisi, virus masuk
ke saluran napas atas, kemudian bereplikasi di sel epitel saluran napas atas
(melakukan siklus hidupnya). Setelah itu menyebar ke saluran napas
bawah. Pada infeksi akut terjadi peluruhan virus dari saluran napas dan virus
dapat terlanjur meluruh beberapa waktu di sel gastrointestinal setelah
penyembuhan (Yuliana, 2020).
c.
Manifestasi Klinis
Gejala yang ditimbulkan
oleh infeksi COVID-19 dapat diklasifikasi menjadi tiga golongan yaitu gejala
ringan, sedang, dan berat. Gejala klinis utama yang muncul yaitu demam (suhu
>38ºC), batuk, dan kesulitan bernapas. Berikut ini merupakan gejala klinis
yang muncul jika terinfeksi COVID-19 (Lam, Muravez and Boyce, 2015) :
-
Tidak berkomplikasi
Kondisi ini merupakan
kondisi teringan. Gejala yang muncul berupa gejala yang tidak spesifik. Gejala
utama tetap muncul seperti demam, batuk, dapat disertai dengan nyeri tenggorok,
kongesti hidung, malaise, sakit kepala, dan nyeri otot. Perlu diperhatikan
bahwa pada pasien dengan lanjut usia dan pasien immunocompromises presentasi
gejala menjadi tidak khas atau atipikal. Selain itu, pada beberapa kasus
ditemui tidak disertai dengan demam dan gejala relatif ringan. Pada kondisi ini
pasien tidak memiliki gejala komplikasi diantaranya dehidrasi, sepsis atau
napas pendek.
-
Pneumonia ringan
Gejala utama dapat
muncul seperti demam, batuk, dan sesak. Namun tidak ada tanda pneumonia berat.
Pada anak-anak dengan pneumonia tidak berat ditandai dengan batuk atau susah
bernapas atau tampak sesak disertai napas cepat atau takipnea
tanpa adanya tanda pneumonia berat.
-
Pneumonia berat
Pada pasien dewasa:
●
Gejala yang muncul diantaranya demam atau curiga infeksi saluran
napas
●
Tanda yang muncul yaitu takipnea (frekuensi napas:> 30x/menit),
distress pernapasan berat atau saturasi oksigen pasien
d.
Data Pemeriksaan Pasien
COVID-19
1.
Data Identitas Klien
-
Nama
-
Umur
-
Jenis Kelamin
-
Agama
-
Suku bangsa
-
Pendidikan
-
Pekerjaan
-
Status perkawinan
Perlunya data mengenai identitas
klien adalah sebagai cara yang dapat dipercaya/reliable mengidentifikasi pasien
sebagai individu yang dimaksudkan untuk mendapatkan pelayanan atau pengobatan
dan untuk mencocokkan pelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut.
Identitas diri bermanfaat bagi klien agar klien dapat mendapatkan pengobatan dan
pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan klien, klien terhindar dari
kesalahan dalam pemberian layanan kesehatan.
2.
Data Pemeriksaan Fisik
-
Inspeksi
-
Palpasi
-
Perkusi
-
Auskultasi
3.
Data Riwayat Kesehatan
a.
Riwayat kontak erat dengan kasus konfirmasi COVID-19
b. Adanya gejala
demam/riwayat demam, sesak napas, batuk/pilek, gejala nyeri tenggorokan,
menggigil, atau sakit kepala.
Riwayat kondisi demam
dengan suhu 38°C, serta ada tidaknya gejala gangguan pernafasan. Adanya demam
merupakan gejala yang umum ditemukan pada tahap awal pasien yang terinfeksi
virus SARS-CoV-2, meskipun demam pula merupakan gejala umum pada berbagai kasus
infeksi lainnya. Di samping itu, ada tidaknya gangguan pernapasan yang
ditimbulkan pada pasien COVID-19 berupa batuk serta dispnea (sesak napas).
Dalam satu studi klinis, menunjukkan bahwa manifestasi klinis utama pada pasien
COVID-19 meliputi demam (90% ataupun lebih), batuk (sekitar 75%), dan dispnea
(hingga 50%) (Jiang et al., 2020).
c. Riwayat perjalanan ke
luar negeri atau kota – kota terjangkit di Indonesia dalam waktu 14 hari
sebelum timbul gejala kota – kota terjangkit
d. Bekerja atau mengunjungi
fasilitas kesehatan yang berhubungan dengan pasien konfirmasi COVID-19
e. Dalam keadaan hamil
Seseorang dengan keadaan
hamil memerlukan asupan nutrisi yang lebih dibandingkan dalam keadaaan tidak
hamil. Kemudian, kondisi fisik seseorang yang sedang hamil rentan terhadap
gangguan infeksi maupun penyakit lainnya.
f. Adanya riwayat penyakit
diabetes, hipertensi, atau jantung.
Pada penderita diabetes,
kadar gula darah yang tinggi dapat merusak sistem kekebalan tubuh seseorang.
Semakin lemah sistem kekebalan tubuh, semakin rendah kemampuan melawan infeksi,
seperti COVID-19; dengan demikian, virus dapat menyebabkan lebih banyak
kerusakan pada tubuh (Haybar, Kazemnia, & Rahim, 2020). Secara spesifik,
peningkatan risiko kematian pada penderita diabetes serta hipertensi diduga
disebabkan pula oleh peningkatan ekspresi ACE2 (Angiotensin-Converting Enzyme
2). Peningkatan ekspresi ACE2 mampu memudahkan virus SARS-CoV-2 untuk berikatan
dengan permukaan sel epitel dan masuk ke dalam sel inang (Ma & Holt, 2020).
Berikutnya pada pasien
COVID-19 dengan adanya riwayat penyakit kardiovaskuler, seperti penyakit
jantung dan stroke, memiliki kerentanan yang tinggi untuk memberikan
representasi klinis lebih buruk dibandingkan pasien tanpa riwayat penyakit
kardiovaskuler. Berdasarkan data Chinese Center for Disease Control and
Prevention, menunjukkan bahwa dari studi klinis terhadap 44.672 kasus yang
terkonfirmasi COVID-19, nilai Case Fatality Rate (CFR) yang dihasilkan dalam
studi kohort menghasilkan nilai 6%, 7%, dan 10,5% untuk pasien COVID-19 dengan
riwayat hipertensi, diabetes dan kardiovaskuler (Wu & McGoogan, 2020).
g. Adanya riwayat
komplikasi seperti gangguan imunologi, gagal ginjal kronis, gagal hati kronis,
maupun TBC.
e.
Pemeriksaan Penunjang
-
Foto toraks
Pemeriksaan foto toraks
memiliki sensitivitas lebih rendah dibandingkan CT Scan dalam mendeteksi adanya
suatu penyakit. Meskipun begitu pemeriksaan foto toraks dapat digunakan sebagai
modalitas lini pertama untuk mengidentifikasi apakah pasien terinfeksi virus
Covid-19 di dalam tubuhnya atau tidak (Pandekali & Mulani, 2020). Selain
itu, pemeriksaan foto toraks juga digunakan untuk mengevaluasi pada pasien
kritis yang tidak dapat melakukan pemeriksaan CT Scan.
-
CT scan toraks
Pemeriksaan CT scan
toraks merupakan pemeriksaan utama yang dilakukan untuk mengidentifikasi adanya
lesi pada paru-paru, mendiagnosa keadaan
klinis, observasi pengaruh dari obat, serta sebagai bahan evaluasi adanya
prognosis seseorang terinfeksi virus Covid-19. Menurut penelitian dari Fang, et. al untuk membandingkan tingkat
deteksi virus Covid-19 dari CT Scan dan RT-PCR, hasilnya ditemukan deteksi CT
Scan lebih tinggi dibandingkan dengan RT-PCR pertama (Andansari et al.,
2020). Pemeriksaan CT scan toraks terbukti
dalam mendeteksi adanya suatu penyakit memiliki sensitivitas lebih tinggi dibandingkan
rontgen toraks. Selain itu, pemeriksaan CT
scan toraks juga dapat mendeteksi tingkat keparahan suatu penyakit dibandingkan
dengan pemeriksaan radiologi lainnya.
-
RT-PCR
Metode amplifikasi asam
nukleat dengan real-time
reversetranscription polumerase chain reaction (rRt-PCR) merupakan metode
pemeriksaan yang direkomendasikan oleh WHO pada seluruh pasien dengan kategori
suspek Covid-19. Sampel dikatakan positif (konfirmasi SARS-CoV-2) bila rRT-PCR
positif pada minimal dua target genom (N, E, S, atau RdRP) yang spesifik SARS CoV-2;
ATAU rRT-PCR positif betacoronavirus, ditunjang dengan hasil sequencing
sebagian atau seluruh genom virus yang sesuai dengan SARS-CoV-2(Susilo et al.,
2020).
-
Darah perifer lengkap
Pemeriksaan hematologi merupakan
salah satu pemeriksaan penunjang dalam diagnostik untuk menilai tingkat
keparahan penyakit dan memprediksi risiko pada pasien Covid-19(Mus et al.,
2021). Hasil pemeriksaan hematologi pada pasien terkonfirmasi Covid-19 sebagian
besar menunjukkan ada limfopenia. Limfopenia merupakan penurunan jumlah
limfosit dibawah normal (1.0- 3.0*109/L), sedangkan leukopenia
adalah rendahnya kadar sel darah putih dalam darah yang dapat menyebabkan mengganggu kemampuan tubuh untuk melawan infeksi.
-
Kimia darah
Pemeriksaan kimia darah
merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk mengukur tingkat beberapa zat dalam
darah. Hasil pemeriksaan kimia darah dapat membantu dokter dalam menentukan
pengobatan yang sesuai pada pasien.
f.
Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medis
secara umum yaitu sebagai berikut.
1. Isolasi pada semua kasus
2. Implementasi pencegahan
dan pengendalian infeksi (PPI)
3. Serial foto toraks untuk
menilai
perkembangan penyakit
4. Suplementasi oksigen
5. Kenali kegagalan nafas
hipoksemia berat
6. Terapi cairan
7. Pemberian antibiotik
empiris
8. Terapi simptomatik
9. Pemberian kortikosteroid
sistemik tidak rutin diberikan pada tatalaksana pneumonia viral atau ARDS
selain ada indikasi lain
10. Observasi ketat
11. Pahami komorbid pasien
Sedangkan, beberapa hal yang harus
dilakukan ketika pasien dilakukan perawatan di rumah yaitu sebagai berikut.
-
Pasien dengan curiga infeksi COVID-19 dengan gejala respirasi
ringan:
a.
Lakukan cuci tangan sesering mungkin (dengan sabun atau alkohol).
b.
Jaga jarak dengan individu sehat minimal 1 meter.
c.
Etika batuk dan bersin.
d.
Gunakan masker medis, jika tidak bisa, praktikkan etika batuk dan
bersin.
e.
Ventilasi rumah yang baik (buka jendela dan pintu), ruangan
privat.
f.
Batasi jumlah perawat yang merawat pasien, pastikan perawat sehat
serta tidak ada penyakit penyerta atau faktor risiko. Tidak boleh ada
pengunjung.
g.
Batasi perpindahan pasien, pastikan ruangan bersama (seperti
dapur) memiliki ventilasi yang baik.
-
Keluarga atau perawat pasien yang curiga infeksi COVID-19 dengan
gejala respirasi ringan:
a.
Lakukan hand hygiene.
b.
Jaga jarak minimal 1 meter, atau tinggal di ruangan
berbeda dengan pasien.
c.
Gunakan masker bedah ketika satu ruangan sama dengan pasien.
d.
Buang benda segera setelah digunakan, cuci tangan setelah kontak
dengan sekret saluran napas.
e.
Tingkatkan ventilasi ruangan dengan membuka jendela sesering
mungkin.
f.
Hindari kontak dengan
cairan tubuh, secret mulut atau saluran napas
g.
Gunakan sarung tangan ketika melakukan perawatan mulut atau urin,
feses dan lainnya.
h.
Tisu sarung tangan, dan benda lain yang tidak terpakai oleh
pasien harus di masukkan ke wadah linen di ruangan pasien sebelum dibawa keluar kamar.
i.
Hindari pemakaian barang bersama seperti sikat gigi, rokok, alat
makan, minum, handuk dan lainnya.
j.
Pembersihan dan desinfektan rutin area yang tersentuh oleh pasien
seperti furniture
kasur menggunakan diluted bleach solution (5% sodium hypochlorite).
k.
Pembersihan dan desinfektan kamar dan toilet setidaknya sehari
sekali.
l.
Pembersihan pakaian, sprei, alat mandi secara rutin dengan sabun
dan air dengan mesin bersuhu 60-900C dengan deterjen biasa. Hindari kontak
langsung dengan kulit pakaian yang terkontaminasi.
m. Menggunakan sarung
tangan dan baju pelindung (apron) ketika mencuci baju dan membersihkan
lingkungan sekitar. Praktikan hand hygiene sebelum dan sesudah melepas sarung
tangan.
n.
Seseorang dengan gejala harus tetap di rumah sampai gejala
menghilang berdasarkan klinis atau pemeriksaan laboratorium (2 hasil negatif
dari rT- PCR
dengan jarak setidaknya 24 jam).
o.
Semua anggota keluarga harus memperhatikan kontak dan harus
memantau kesehatan.
p.
Jika anggota keluarga mengalami gejala infeksi saluran napas akut,
segera.
q.
Kontak atau datang ke pelayanan kesehatan (Lam, Muravez
and Boyce, 2015).
KASUS
Kasus Client Profile: Perawat Flo bertugas di
Puskesmas Kaliaja, mendapat laporan bahwa keluarga bapak Soiman sedang
menjalani isolasi mandiri karena Pak Soiman kontak erat dengan salah satu rekan
kerjanya yang positif Covid-19. Perawat Flo melakukan kunjungan rumah untuk
mendata keluarga bapak Soiman yang terdiri dari 5 orang.
PENGKAJIAN
Anggota Keluarga 1
1. Identitas Klien
Nama : May Worabay
Umur : 21Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Protestan
Suku bangsa : Jawa
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Mahasiswa
Status perkawinan : Belum menikah
2. Riwayat kesehatan
-
Riwayat kesehatan sekarang : Klien kontak erat dengan klien
terkonfirmasi Covid-19, klien mengalami demam, klien mengalami batuk/pilek dan
nyeri tenggorokan. Klien mengeluh lemas saat beraktivitas karena
beberapa hari istirahat kurang.
-
Riwayat kesehatan terdahulu : Klien mengatakan tidak memiliki
riwayat penyakit.
3. Pemeriksaan Fisik
- Keadaan umum :
-
Tingkat kesadaran: Compas Mentis (Normal)
-
TTV
:
a. BB : 53 Kg
b. TB :154 cm
c. TD :128/100 mmHg
d.
RR : 18x/menit (sebelum
beraktivitas), 24x/menit (setelah beraktivitas)
e. Nadi :70x/menit
f. Suhu :38 C
b. Inspeksi
-
Kepala:
Simetris, terdapat rambut penuh, tidak ada lesi dan bau
-
Wajah:
Simetris, lesu
-
Mata: Simetris, gerakan bola mata
normal, penglihatan normal
-
Telinga: Simetris
-
Hidung: Simetris, hidung tersumbat
akibat adanya sekret
-
Mulut: Simetris, bibir, rongga
mulut, gusi, dan gigi normal
-
Leher: Simetris
-
Dada:
Simetris
-
Abdomen: Simetris
c.
Palpasi
Denyut nadi teraba kuat dan cepat, turgor kulit baik.
Tidak ada nyeri tekan di daerah abdomen.
d.
Perkusi
Tidak ada pembesaran baik hepar, linen, maupun ginjal.
Batas jantung normal.
e.
Auskultasi
Suara nafas normal,
BJ1 dan BJ2 normal.
4. Pemeriksaan Penunjang
1.
Foto
Toraks: Menunjukkan adanya gambaran pneumonia
2.
CT Scan toraks: Konsolidasi
3.
RT-PCR: Positif
4.
Kimia darah: D-Dimer
5.
Darah perifer lengkap:
●
Leukosit: 10.000 dl
●
Eritrosit: 4,5
g/dl
●
Hemoglobin: 17
g/dl
● Hemotokrit: 40%
● Trombosit: 150 mikrol
● PCO2: 35 mmol
● PO2: 80 mmol
●
pH:
7,35
ANALISIS DATA
|
Data |
Etiologi |
Masalah Keperawatan |
|
Anggota Keluarga 1 Data Subjektif : -
Klien mengeluh mengalami batuk/pilek dan nyeri tenggorokan -
Klien
mengeluh lemas saat beraktivitas dan mengalami sesak nafas. Data Objektif : -
RR: 18x/menit (sebelum
beraktivitas), 24x/menit (setelah beraktivitas) -
Suhu:
38 C -
TD:128/100 mmHg -
Wajah
lesu -
Hidung
tersumbat akibat
adanya sekret -
Foto
Toraks: Menunjukkan adanya gambaran pneumonia -
CT
Scan toraks: Konsolidasi -
RT-PCR:
Positif -
Hemoglobin:
17 g/dl |
Virus
COVID-19à Masuk ke dalam saluran
pernapasan melalui kontak langsung dengan penderita à Menuju paru-paru à Mengganggu kerja makrofag à Infeksi à Peradangan à Peningkatan prostaglandin à Peningkatan penggunaan energi à Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen à Keletihan/ kelelahan à Intoleransi aktivitas |
Intoleransi Aktivitas (D.0056) |
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Intoleransi aktivitas b.d kelemahan fisik
INTERVENSI
|
Diagnosa Keperawatan |
Tujuan |
Intervensi |
|
Intoleransi aktivitas b.d kelemahan fisik |
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan klien dengan diagnosa
Intoleransi aktivitas dengan kriteria hasil : Terapi
Aktivitas 1. Evaluasi respon
pasien terhadap aktivitas. Catat laporan dyspnea, peningkatan kelemahan dan
perubahan RR, nadi, Saturasi O2. 2. Pertimbangkan
kemampuan klien dalam berpartisipasi melalui aktivitas spesifik 3. Rujuk ke pusat
komunitas maupun program aktivitas jika memang diperlukan |
Manajemen
Energi (0180) 1. Kaji status
fisiologis pasien yang menyebabkan kelelahan sesuai dengan konteks usia dan
perkembangan 2. Anjurkan pasien
mengungkapkan perasaan secara verbal mengenai keterbatasan yang dialami. 3. Perbaiki defisit
status fisiologi (missal kemoterapi yang menyebabkan anemia) sebagai
prioritas utama 4. Monitor intake
nutrisi untuk mengetahui sumber energi yang adekuat 5. Kurangi ketidaknyamanan fisik yang dialami pasien yang bisa mempengaruhi fungsi
kognitif, pemantauan diri |
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
|
Diagnosa Keperawatan |
Implementasi |
Evaluasi |
|
Intoleransi
aktivitas b.d kelemahan fisik |
1. Mengkaji kelelahan beserta
penyebabnya 2. Memperbaiki status fisiologi 3. Membantu klien mengungkapkan
perasaan. 4. Memonitor intake nutrisi 5. Mengurangi ketidaknyamanan pasien |
S: Klien mengatakan lemas dan sesak napas sudah berkurang O: Klien tampak sudah dapat melakukan aktivitas tanpa
lemas A: Masalah teratasi sebagian P: Tindakan dilanjutkan: Kaji status fisiologi pasien |
Anggota Keluarga 2
1. Identitas Klien
Nama : Anjani
Umur : 40 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa
Pendidikan : S1 Keperawatan
Pekerjaan : Perawat
Status perkawinan : Menikah
2. Riwayat kesehatan
-
Riwayat kesehatan sekarang: Klien kontak erat dengan kasus
konfirmasi Covid-19, klien mengalami demam, batuk/pilek, nyeri tenggorokan,
sesak nafas, menggigil, dan sakit kepala lebih dari 14 hari. Klien bekerja atau mengunjungi fasilitas
kesehatan yang berhubungan dengan pasien konfirmasi Covid-19.
-
Riwayat kesehatan terdahulu: klien
mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit tertentu.
3.
Pemeriksaan Fisik
- Keadaan
Umum
-
Tingkat kesadaran: Apatis (menurun)
-
TTV :
a. BB : 57 Kg
b. TB : 160 cm
c. TD : 110/70
d.
RR : 25x/menit
e. Nadi : 90x/menit
f. Suhu : 39ºC
b. Inspeksi
-
Kepala:
Simetris,
rambut penuh, tidak ditemukan lesi
-
Wajah:
Simetris, lesu
-
Mata:
Gerakan bola
mata normal, mata cekung, terlihat sayu, dan kelopak mata membesar
-
Telinga:
Simetris dan
bersih
-
Hidung:
Simetris, hidung tersumbat akibat adanya sekret
-
Mulu:
Simetris,
bibir pecah-pecah, lidah pucat, kerongkongan kering, mampu mengunyah dengan
baik, gigi dan gusi normal
-
Leher:
Simetris,
tidak ada pembesaran kelenjar limfe
-
Dada:
Simetris
-
Abdomen: Simetris
c.
Palpasi
Denyut nadi teraba kuat dan cepat, turgor kulit baik.
Tidak ada nyeri tekan di daerah abdomen.
d.
Perkusi
Tidak ada pembesaran baik hepar, linen, maupun ginjal. Batas
jantung normal.
e.
Auskultasi
Suara nafas ronchi basah. BJ1 dan BJ2 normal (lup dup).
4. Pemeriksaan Penunjang
1. Foto Toraks: Menunjukkan
adanya gambaran pneumonia
2. CT Scan
toraks: Konsolidasi
3. RT-PCR: Positif
4. Kimia darah: D-dimer
5. Darah perifer lengkap:
●
Leukosit: 10.000 dl
●
Eritrosit: 4.0 g/dl
●
Hemoglobin: 12 g/dl
●
Hemotokrit: 40 45-55%
●
Trombosit: 150 mikrol
●
PCO2: 35mmol
●
PO2: 80 mmol
● pH: 7,35
ANALISIS DATA
|
Data |
Etiologi |
Masalah Keperawatan |
|
-
Anggota Keluarga 2 Data Subjektif : -
Ny. Anjani mengeluh batuk/pilek, nyeri tenggorokan, sesak
nafas, menggigil, dan sakit kepala selama>14
hari. -
Bekerja atau mengunjungi
fasilitas kesehatan yang berhubungan dengan pasien konfirmasi Covid-19 Data Objektif : -
RR : 25x/menit -
Demam (Suhu 39 C) -
Tingkat kesadaran: Apatis (menurun) -
Mata : mata cekung, terlihat
sayu, dan kelopak mata membesar -
Wajah lesu -
Simetris, bibir
pecah-pecah, lidah pucat, kerongkongan kering. -
Suara nafas ronchi
basah. -
Foto
Toraks : Menunjukkan adanya gambaran pneumonia -
CT
Scan toraks: Konsolidasi -
RT-PCR:
Positif |
Virus
COVID-19 à Masuk ke dalam saluran
pernapasan melalui kontak langsung dengan penderita à Menuju paru-paru à Mengganggu kerja makrofag à Infeksi à Obstruksi saluran nafas à Bersihan jalan nafas tidak
efektif |
Bersihan Jalan Nafas
Tidak Efektif (D.0001) |
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Bersihan jalan nafas
tidak efektif b.d penyebab d.d tanda dan gejala
INTERVENSI
|
Diagnosa Keperawatan |
Tujuan |
Intervensi |
|
Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d penyebab d.d tanda dan
gejala |
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan 2 x 24 jam diharapkan klien dengan diagnosa
jalan nafas tidak efektif dengan kriteria hasil : Airway
Suction 1. Pastikan kebutuhan
oral/tracheal suctioning 2. Auskultasi suara
nafas sebelum dan sesudah suctioning 3. Informasikan pada
pasien dan keluarga tentang suctioning 4. Minta Pasien Nafas Dalam Sebelum suction dilakukan 2. Berikan O2 dengan
menggunakan nasal untuk memfasilitasi suksion nasotrakeal 3. Gunakan alat yang
steril setiap melakukan tindakan 4. Anjurkan pasien untuk
istirahat dan nafas dalam setelah kateter dikeluarkan dari nasotrakeal 5. Monitor status
oksigen pasien 6. Ajarkan keluarga
bagaimana cara melakukan suksion 7. Hentikan suksion dan
berikan oksigen apabila pasien
menunjukan bradikardi, peningkatan saturasi O2, dll. |
Manajemen
Jalan Nafas (3140) 1. Buka jalan nafas,
gunakan Teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu 2. Posisikan pasien
untuk memaksimalkan ventilasi 3. Identifikasi pasien
perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan 4. Pasang mayo jika
perlu 5. Lakukan fisioterapi
dada jika perlu 6. Keluarkan secret
dengan batuk atau suction 7. Auskultasi suara
nafas, catat adanya suara tambahan 8. Lakukan suction pada mayo 9. Berikan bronkodilator
bila perlu 10. Berikan pelembab
udara kassa basah nacl lembab 11. Atur intake untuk
cairan mengoptimalkan keseimbangan 12. Monitor respirasi dan
status 02 |
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
|
Diagnosis Keperawatan |
Implementasi |
Evaluasi |
|
Bersihan
jalan nafas tidak efektif b.d penyebab d.d tanda dan gejala |
1. Membuka jalan napas dengan teknik
chin lift. 2. Memposisikan klien untuk
mendapatkan ventilasi. 3. Mengeluarkan secret dengan
suction. 4. Melakukan suction dengan mayo. 5. Mengatur intake cairan. 6. Memonitor respirasi dan status O2 |
S: Klien mengatakan batuk/pilek, nyeri tenggorokan, dan
sesak nafas berkurang. O: Klien tampak sudah mudah bernapas lega. A: Masalah teratasi sebagian. P: Tindakan dilanjutkan: Kaji jalan napas. |
Anggota Keluarga 3
1. Identitas Klien
Nama: Zhafla Alamsyah
Umur: 20 Tahun
Jenis Kelamin: Perempuan
Agama: Islam
Suku bangsa: Jawa
Pendidikan : S1
Pekerjaan: Belum bekerja
Status perkawinan : Belum menikah
2. Riwayat kesehatan
-
Riwayat kesehatan sekarang: Klien kontak erat dengan kasus
konfirmasi Covid-19, klien tidak mengalami demam, klien mengeluh adanya sesak nafas disertai pusing.. Klien tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar
negeri atau kota-kota terjangkit di Indonesia dalam waktu 14 hari sebelum
timbul gejala.
-
Riwayat kesehatan terdahulu: Klien tidak memiliki riwayat penyakit.
3. Pemeriksaan Fisik
- Keadaan Umum
-
Tingkat
kesadaran: Compos
Mentis (Normal)
-
TTV
:
a.
BB
: 42 Kg
b.
TB
: 159 cm
c.
TD
: 120/100 mmHg
d.
RR : 24x/menit
e.
Nadi
: 70
kali/menit
f.
Suhu
: 37,8 C
b. Inspeksi
-
Kepala:
Simetris
-
Wajah:
Simetris
-
Mata:
Gerakan bola
mata normal, simetris
-
Telinga:
Simetris dan
tidak ada cairan yang keluar
-
Hidung
: Simetris
-
Mulut:
Simetris,
bibir, kerongkongan, gigi dan gusi normal.
-
Leher:
Simetris,
tidak ada pembesaran kelenjar limfe
-
Dada:
Simetris
-
Abdomen: Simetris
c.
Palpasi
Denyut
nadi teraba kuat dan cepat, turgor kulit baik. Tidak ada nyeri tekan di daerah
abdomen.
d.
Perkusi
Tidak ada pembesaran baik hepar, linen, maupun ginjal.
Batas jantung normal.
e.
Auskultasi
Suara nafas ronchi basah. Pernapasan cuping hidung, dan
irama dangkal.
4. Pemeriksaan Penunjang
- Foto toraks: Menunjukkan adanya gambaran pneumonia
- CT Scan
toraks: Konsolidasi
- RT-PCR: Positif
- Kimia darah: D-dimer
- Darah perifer lengkap:
●
Leukosit: 7000
dl
●
Eritrosit: 4.6
g/dl
●
Hemoglobin: 13.2
g/dl
●
Hemotokrit: 40%
●
Trombosit: 52x109 mikrol
●
PCO2: 45 mmol
●
PO2: 130 mmol
●
pH: 7,40
ANALISIS DATA
|
Data |
Etiologi |
Masalah Keperawatan |
|
Anggota Kelompok 3 Data Subjektif -
Klien
mengeluh sesak nafas dan pusing Data Objektif -
Suara nafas ronchi
basah. -
Pernapasan cuping hidung -
Irama nafas dangkal -
Foto
toraks: Menunjukkan adanya gambaran pneumonia -
CT
Scan toraks: Konsolidasi -
RT-PCR:
Positif -
PCO2:
45 mmol -
PO2:
130 mmol |
Virus
COVID-19 à Masuk ke dalam saluran pernapasan
melalui udara à Menuju paru-paru à Mengganggu kerja makrofag à Infeksi à Disfungsi gas O2 dan CO2 terganggu à Kapasitas transportasi O2 menurun àGangguan Pertukaran Gas |
Gangguan Pertukaran Gas (D.0003) |
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Gangguan pertukaran gas b.d pola
nafas abnormal
INTERVENSI
|
Diagnosa Keperawatan |
Tujuan |
Intervensi |
|
Gangguan
pertukaran gas b.d pola nafas abnormal |
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam diharapkan klien dengan diagnosa gangguan
pertukaran gas b.d pola nafas abnormal dengan kriteria hasil : 1. Dispnea menurun 2. Pusing menurun 3. Suara nafas abnormal menurun 4. Irama nafas normal 5. Gangguan pernafasan menurun |
Monitoring
Pernafasan(3350)
|
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
|
Diagnosa keperawatan |
Implementasi |
Evaluasi |
|
Gangguan
pertukaran gas b.d pola nafas abnormal |
1. Memonitor kecepatan, irama dan
kesulitan napas. 2. Memonitor suara napas tambahan. 3. Melakukan auskultasi suara napas. 4. Memantau hasil.peningkatan
kelelahan, kecemasan dan kekurangan udara. 5. Memantau sesak napas klien. 6. Memantau hasil foto thoraks. |
S: Klien mengatakan sesak napas dan pusing berkurang. O: Klien tampak bernafas lebih normal dan suara napas
abnormal menurun. A: Masalah teratasi sebagian. P: Tindakan dilanjutkan : Pantau pola pernapasan |
Anggota Keluarga 4
1. Identitas Klien
Nama: Lusi
Umur: 20 Tahun
Jenis Kelamin: Perempuan
Agama: Islam
Suku bangsa: Jawa
Pendidikan: S1
Pekerjaan: Mahasiswa
Status perkawinan: Belum
menikah
2. Riwayat kesehatan
-
Riwayat kesehatan sekarang: Klien kontak erat dengan kasus
konfirmasi Covid-19, klien
mengalami gejala yang menandakan terjangkit Covid-19
seperti demam, batuk, sakit tenggorokan, sesak napas, menggigil. Klien
menyatakan tidak ada riwayat perjalanan ke luar daerah dan mengunjungi tempat
yang berpotensi tertular Covid-19.
-
Riwayat kesehatan terdahulu: Klien tidak memiliki riwayat penyakit
penyerta.
3. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
-
Tingkat
kesadaran: Compos
Mentis (Normal)
-
TTV
:
a.
BB
: 61 Kg
b.
TB
:163 cm
c.
TD
:110/90
d.
RR : 22x/menit
e.
Nadi
:70x/menit
f.
Suhu
:38 C
b. Inspeksi
-
Kepala:
Simetris
-
Wajah:
Simetris
-
Mata:
Gerakan bola
mata normal, simetris
-
Telinga:
Simetris dan
tidak ada cairan yang keluar
-
Hidung:
Tersumbat karena adanya sekret
-
Mulut:
Simetris,
bibir, kerongkongan, gigi dan gusi normal.
-
Leher:
Simetris,
tidak ada pembesaran kelenjar limfe
-
Dada:
Simetris
-
Abdomen: Simetris
c.
Palpasi
Denyut nadi teraba kuat dan cepat, turgor kulit baik.
Tidak ada nyeri tekan di daerah abdomen.
d.
Perkusi
Tidak ada pembesaran baik hepar, linen, maupun ginjal.
Batas jantung normal.
e.
Auskultasi
Suara nafas ronchi basah. BJ1 dan BJ2 normal.
4. Pemeriksaan Penunjang
1. CT scan toraks: Menunjukkan adanya gambaran
pneumonia
2. RT-PCR: Positif
3. Kimia darah: D-dimer
4. Darah perifer lengkap:
●
Leukosit: 6000 dl
●
Eritrosit: 4.5 juta g/dl
●
Hemoglobin: 13,2 g/dL
●
Hemotokrit: 40%
●
Trombosit: 1700 mikrol
●
PCO2: 40
mmol
●
PO2: 90
mmol
●
pH: 7,36
ANALISIS DATA
|
Data |
Etiologi |
Masalah Keperawatan |
|
Anggota Kelompok 4 Data Subjektif : -
Klien
kontak erat dengan kasus konfirmasi Covid-19 -
Klien
mengatakan mengalami gejala yang menandakan terjangkit Covid-19 seperti
demam, batuk, sakit tenggorokan, sesak napas, menggigil. Data Objektif : -
Suara nafas ronchi basah -
CT
scan toraks: Menunjukkan adanya gambaran pneumonia -
RT-PCR : Positif -
Kimia
darah : D-dimer |
Virus
COVID-19 à Masuk ke dalam saluran
pernapasan melalui udara à Menuju paru-paru àMengganggu kerja makrofag à Infeksi àDisfungsi gas O2 dan CO2
terganggu à Kapasitas transportasi O2
menurun à Pola pernapasan
abnormal à Ketidakefektifan
pola nafas |
Ketidakefektifan pola
nafas (D.00032) |
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Ketidakefektifan pola nafas b.d proses inflamasi saluran pernafasan
INTERVENSI
|
Diagnosa Keperawatan |
Tujuan |
Intervensi |
|
Ketidakefektifan pola nafas b.d proses inflamasi saluran pernafasan |
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan 2 x 24 jam diharapkan klien dengan diagnosa
jalan nafas tidak efektif dengan kriteria hasil : Airway
Suction 1. Pastikan kebutuhan
oral/tracheal suctioning 2. Auskultasi suara
nafas sebelum dan sesudah suctioning 3. Informasikan pada
pasien dan keluarga tentang suctioning 4. Minta pasien nafas
dalam sebelum suction dilakukan 5. Berikan O2 dengan
menggunakan nasal untuk memfasilitasi suksion nasotrakeal 6. Gunakan alat yang
steril setiap melakukan tindakan 7. Anjurkan pasien untuk
istirahat dan nafas dalam setelah kateter dikeluarkan dari nasotrakeal 8. Monitor status
oksigen pasien 9. Ajarkan keluarga
bagaimana cara melakukan suksion 10. Hentikan suksion dan
berikan oksigen apabila pasien menunjukan bradikardi, peningkatan saturasi
O2, dll. |
Manajemen
Jalan Nafas (3140) 1. Buka jalan nafas,
gunakan Teknik chin lift atau jaw thrust bila perlu. 2. Posisikan pasien
untuk memaksimalkan ventilasi 3. Identifikasi pasien
perlunya pemasangan alat jalan nafas buatan 4. Pasang mayo jika
perlu 5. Lakukan fisioterapi
dada jika perlu 6. Buang secret dengan batuk
atau suction 7. Auskultasi suara
nafas, catat adanya suara tambahan 8. Lakukan suction pada mayo 9. Berikan bronkodilator
bila perlu 10. Berikan pelembab
udara kassa basah nacl lembab 11. Atur intake untuk
cairan mengoptimalkan keseimbangan 12. Monitor respirasi dan
status 02 |
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
|
Diagnosa keperawatan |
Implementasi |
Evaluasi |
|
Ketidakefektifan
pola nafas b.d proses inflamasi saluran pernafasan |
1. Membuka jalan napas dengan teknik
chin lift. 2. Memposisikan klien untuk
mendapatkan ventilasi. 3. Mengeluarkan sekret dengan
suction. 4. Melakukan suction dengan mayo. 5. Mengatur intake cairan. 6. Memonitor respirasi dan status O2 |
S: klien mengatakan demam, batuk, sakit tenggorokan, dan
sesak napas sudah berkurang O: fungsi pernapasan klien tampak normal, pernapasan teratur, frekuensi
normal A: masalah teratasi sebagian P: tindakan dilanjutkan : kaji jalan napas |
Anggota Keluarga 5
1. Identitas Klien
Nama: Susanti
Umur: 20 Tahun
Jenis Kelamin: Perempuan
Agama: Islam
Suku bangsa: Jawa
Pendidikan : S1
Pekerjaan: Mahasiswa
Status perkawinan : Belum menikah
2. Riwayat kesehatan
-
Riwayat kesehatan sekarang: Klien kontak erat dengan kasus
konfirmasi Covid-19, Klien mengatakan bahwa ia merasa demam, batuk, nyeri tenggorokan, gejala
muncul melebihi 14 hari, terdapat riwayat
mengunjungi fasilitas kesehatan yang berpotensi terjangkit Covid-19 dan tidak
ada riwayat perjalanan luar daerah dan mengunjungi tempat yang berpotensi
tertular Covid-19.
-
Riwayat kesehatan terdahulu:Klien tidak memiliki riwayat penyakit
penyerta.
3. Pemeriksaan Fisik
- Keadaan umum : Baik
-
Tingkat kesadaran: Apatis (menurun)
-
Tanda-tanda vital
a. BB :
40 Kg
b. TB :160
cm
c. TD :110/90 mmHg
d. RR : 24x/menit
e. Nadi :90x/menit
f. Suhu :39.5ºC
b. Inspeksi
-
Kepala :Simetris
-
Mata: simetris, konjungtivis,
gerakan bola mata normal
-
Telinga: Simetri dan bersih
-
Hidung: Simetris
-
Mulut: Simetris, mulut terlihat kering
-
Leher: Simetris, tidak ada
pembesaran kelenjar limfe
-
Dada : Simetris
-
Abdomen:
simetris
c. Palpasi
Denyut nadi teraba kuat dan cepat,
tidak ada nyeri tekan di abdomen
d. Auskultasi: Suara napas ronkhi
basah, suara Bj1 dan BJ2 normal
4. Pemeriksaan
Penunjang
1.
Foto
toraks: menunjukkan adanya gambaran pneumonia
2.
CT scan toraks:
Konsolidasi
3.
RT-PCR: Positif
4.
Kimia darah: D-dimer
5.
Darah perifer lengkap:
● Leukosit: 10.000 dl
●
Eritrosit: 4.5 g/dl
●
Hemoglobin: 14g/dl
●
Hemotokrit: 40%
●
Trombosit: 480 mikrol
●
PCO2: 45 mmol
●
PO2: 110 mmol
●
pH: 7,40
ANALISIS DATA
|
Data |
Etiologi |
Masalah Keperawatan |
|
-
Anggota Kelompok 5 Data Subjektif -
Klien kontak erat dengan kasus konfirmasi Covid-19, -
Klien menyatakan bahwa ia merasa demam, batuk, nyeri
tenggorokan, sesak nafas,
gejala muncul melebihi 14 hari, tidak dapat mencium bau -
Bekerja atau mengunjungi fasilitas kesehatan yang berhubungan
dengan pasien konfirmasi Covid-19 Data Objektif - Demam (suhu 39.5ºC) - RR :24x/menit - Kesadaran : apatis (menurun) - Mata; konjungtivis - Suara napas ronkhi basah - Kimia darah: D-dimer - PT-PCR: positif |
Virus
COVID-19 à Masuk ke dalam saluran
pernapasan melalui udara à Menuju paru-paru àMengganggu kerja makrofag à Risiko Infeksi |
Risiko Infeksi
(D. 00004) |
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Risiko infeksi b.d kegagalan untuk menghindari patogen akibat paparan COVID-19
INTERVENSI
|
Diagnosa Keperawatan |
Tujuan |
Intervensi |
|
Risiko infeksi b.d kegagalan untuk menghindari patogen akibat
paparan COVID-19 |
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan 1 x 24 jam diharapkan klien dengan diagnosa
infeksi dengan kriteria hasil : Pencegahan
infeksi 1. Monitor tanda dan gejala infeksi
sistemik dan local 2. Monitor hasil angka leukosit dan
hasil lab lainnya 3. Batasi pengunjung 4. Pertahankan Teknik aseptic pada pasien yang
beresiko 5. Inspeksi Kulit dan membran mukosa
akan adanya kemerahan, hangat, dan dreainea 6. Ajarkan pasien dan keluarga
tentang tanda-tanda infeksi dan melaporkan pada petugas kesehatan 7.
Ajarkan
pasien dan keluarga tentang cara untuk menghindari infeksi |
Kontrol
Infeksi (6540) 1. Alokasikan kesesuaian
luas ruangan per pasien 2. Bersihkan lingkungan
dengan baik setelah digunakan untuk setiap pasien 3. Ganti peralatan
perawatan per pasien sesuai protokol institusi 4. Isolasi orang yang
terkena penyakit menular 5. Tempatkan isolasi sesuai tindakan
pencegahan yang sesuai 6. Pertahankan Teknik
isolasi yang sesuai 7. Batasi jumlah
pengunjung 8. Anjurkan pasien mengenai
teknik mencuci tangan dengan tepat 9. Anjurkan pengunjung
untuk mencuci tangan pada saat memasuki dan meninggalkan ruang pasien 10. Lakukan
tindakan-tindakan pencegahan yang universal |
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
|
Diagnosa Keperawatan |
Implementasi |
Evaluasi |
|
Risiko
infeksi b.d kegagalan untuk menghindari patogen akibat paparan COVID-19 |
1. Membersihkan lingkungan setelah
digunakan. 2. Mengganti peralatan perawatan
pasien. 3. Mengisolasi orang dengan penyakit
menular. 4. Membatasi jumlah pengunjung. 5. Mengedukasi pengunjung untuk
mencuci tangan. 6. Mengedukasi pasien untuk mencuci
tangan. 7. Melakukan tindakan pencegahan. |
S: Klien mengatakan demam, batuk, nyeri tenggorokan, dan
sesak nafas sudah berkurang O: Pernapasan klien tampak normal, dan klien dapat
mencegah penyebaran infeksi A: Masalah teratasi sebagian P: Tindakan dilanjutkan : kontrol infeksi |
Untuk menilai pemahaman pembaca, berikut link kuis yang harus dikerjakan : http://bit.ly/KuisCovid-19Kelompok7
BAB 3. PENUTUP
Kesimpulan
Penyakit Coronavirus 2019 (COVID-19) adalah salah satu jenis pneumonia yang
disebabkan oleh Severe Acute Respiratory
Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2)(Harahap, 2020). Coronavirus merupakan
salah satu jenis dari virus zoonotik yaitu virus yang dapat ditransmisikan dari
hewan ke manusia. Gejala yang ditimbulkan oleh infeksi COVID-19 dapat
diklasifikasi menjadi tiga golongan yaitu gejala ringan, sedang, dan berat.
Gejala klinis utama yang muncul yaitu demam (suhu >38ºC), batuk, dan
kesulitan bernapas. Data sangat diperlukan ketika memeriksa pasien Covid-19
seperti data identitas, data pemeriksaan fisik, data riwayat kesehatan, dan
pemeriksaan penunjang untuk menentukan diagnosa keperawatan pasien.
penatalaksanaan medis juga diperlukan untuk meminimalisir penyebaran Covid-19.
Dari kasus diatas yang melibatkan 5
orang dari keluarga Bapak Soimun didapatkan 5 diagnosis keperawatan sebagai
berikut:
1. Intoleransi aktivitas berhubungan
dengan kelemahan fisik.
Diagnosa
ini dapat diatasi dengan manajemen energi dan terapi aktivitas agar pasien
dapat mertimbangkan kemampuannya dalam berpartisipasi melalui aktivitas
spesifik.
2. Bersihan jalan nafas tidak efektif
berhubungan dengan penyebab ditandai dengan tanda dan gejala.
Diagnosa
ini dapat diatasi dengan manajemen jalan napas dan Airway Suction agar.
kebutuhan oral/tracheal suctioning pasien terpenuhi dan dapat mengatasi masalah
pernapasannya.
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan
dengan pola nafas abnormal
Diagnosa
ini dapat diatasi dengan monitoring pernapasan agar dispnea menurun, pusing
menurun, suara nafas abnormal menurun, irama nafas normal, dan gangguan
pernafasan menurun.
4. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan
dengan proses inflamasi saluran pernafasan.
Diagnosa
ini dapat diatasi dengan manajemen jalan napas dan Airway Suction agar
kebutuhan oral/tracheal suctioning pasien terpenuhi dan dapat mengatasi masalah
pernapasannya.
5. Risiko infeksi berhubungan dengan
kegagalan untuk menghindari patogen akibat paparan COVID-19
Diagnosa
ini dapat diatasi dengan kontrol infeksi dan pencegahan infeksi agar pasien
dapat memonitor tanda dan gejala infeksi dan juga agar pasien dan keluarga
tentang cara untuk menghindari infeksi.
Evaluasi pada kasus tersebut
dilakukan dengan membandingkan hasil dan tujuan yang diterapkan dalam rencana
keperawatan. Dari kelima diagnosa yang diangkat ternyata masalah sudah teratasi
sebagian tetapi masih perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut.
Referensi
Burhan,
E. (2020). Tatalaksana Klinis COVID-19. Kemenkes
RI (p. 50).
Ferdimas
Zarnobi, F. Z. (2020), Asuhan keperawatan
komunitas dengan penerapan terapi relaksasi autogenik untuk mengurangi
kecemasan kader yang akan melakukan swab covid-19 di kelurahan aur kuning kota
bukittinggi tahun 2020, (Doctoral dissertation, UNIVERSITAS PERINTIS
INDONESIA).
Harahap,
R., J., T., (2020), ‘Karakteristik Klinis Penyakit Coronavirus 2019’, Jurnal Penelitian Perawat Profesional,
pp. 89-94. Available at:
http://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JPPP/article/download/83/65.
Kartika, Yulia Dwi. (2019), ‘PENTINGNYA IDENTIFIKASI PASIEN
DALAM PEMENUHAN PELAKSANAAN KESELAMATAN PASIEN’
Lam,
N., Muravez, S., N., and Boyce, R., W. (2015), ‘A comparison of the Indian
Health Service counseling technique with traditional, lecture-style counseling’,
Journal of the American Pharmacists
Association. doi: 10.1331/JAPhA.2015.14093.
Mus,
R., Thaslifa, T., Abbas, M., & Sunaidi, Y. (2021). ‘Studi Literatur:
Tinjauan Pemeriksaan Laboratorium pada Pasien COVID-19’. Jurnal Kesehatan Vokasional, 5(4), 242.
https://doi.org/10.22146/jkesvo.58741.
Nisa, A. A., Rahayu, T., Wijayanti,
Y., Azam, M., Budiono, I., & Fauzi, L. (2021). ‘HIGEIA JOURNAL OF PUBLIC
HEALTH RESEARCH AND DEVELOPMENT’,
Pandekali,
J., & Mulani, V. (2020). Pemeriksaan
Radiologi Saat Pandemi COVID-19. https://drive.google.com/file/d/1DJxl3-uohS1xvg9MvAlht38Igl9CELyp/view
Putri, N. W., & Rahmah, S. P.
(2020), ‘Edukasi Kesehatan untuk Isolasi Mandiri dalam Upaya Penanganan
COVID-19 di Kanagarian Koto Baru, Kabupaten Solok’, Jurnal Abdidas, 1(6), 547-553.
Suaebo, N. M. (2021), Analisa Pengaruh Aktivitas Fisik Dan
Kebiasaan Makan Terhadap Kejadian Prediabetes Pada Karyawan Kantor Pemerintah
Kota Batu (Doctoral dissertation, UNIVERSITAS AIRLANGGA).
Susilo,
A., Rumende, C. M., Pitoyo, C. W., Santoso, W. D., Yulianti, M., Herikurniawan,
H., Sinto, R., Singh, G., Nainggolan, L., Nelwan, E. J., Chen, L. K., Widhani,
A., Wijaya, E., Wicaksana, B., Maksum, M., Annisa, F., Jasirwan, C. O. M.,
& Yunihastuti, E. (2020). ‘Coronavirus Disease 2019: Tinjauan Literatur
Terkini’, Jurnal Penyakit Dalam Indonesia,
7(1), 45.
https://doi.org/10.7454/jpdi.v7i1.415.
.
Wiguna, W., & Riana, D. (2020). ‘Diagnosis
of Coronavirus disease 2019 (Covid-19) surveillance using C4. 5 algorithm’, Jurnal PILAR Nusa Mandiri, 16(1), 71-80.
Yanti, N. P. E. D., Nugraha, I. M.
A. D. P., Wisnawa, G. A., Agustina, N. P. D., & Diantari, N. P. A. (2020),
‘Gambaran pengetahuan masyarakat tentang covid-19 dan perilaku masyarakat di
masa pandemi Covid-19’, Jurnal
Keperawatan Jiwa, 8(3), 485-490.
Yuliana,
Y. (2020), ‘Corona virus diseases (Covid-19): Sebuah tinjauan literatur’, Wellness And Healthy Magazine, 2(1), pp.
187–192. doi: 10.30604/well.95212020.

Comments
Post a Comment