ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN CONGESTIVE HEART FAILURE ( CHF )

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN CONGESTIVE HEART FAILURE ( CHF )

 

 

 

 

 



 

 

 

Di susun oleh:

Kelompok 2 Kelas Alih Jenjang

 

1.      IKA KARTINI ANDRIYANI          NIM I1F020007

2.      SUTINAH                                          NIM I1F020009

3.      CANDRA ALFIANTO                     NIM I1F020010

4.      DIOS ALFITA DORA                      NIM I1F020011

5.      DWI HERI PURNOMO                    NIM I1F020012

 

 

 

PROGRAM STUDI SARJANA

 KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

 

2021

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.     Latar Belakang

            Penyakit tidak menular merupakan salah satu faktor penyebab kematian dini pada negara berpenghasilan rendah dan menengah. Setiap tahunnya lebih dari 36 juta orang meninggal karena penyakit tidak menular (PTM) atau 63 % dari seluruh kematian. Salah satu PTM yang yang merupakan penyebab kematian nomor satu setiap tahunnya adalah penyakit kardiovaskuler (Pusdatin Kemenkes RI, 2014). Salah satu gangguan fungsi jantung adalah  gagal jantung atau Congestive Heart Failure . Congestive Heart Failure (CHF) adalah kondisi dimana fungsi jantung sebagai pompa untuk mengantarkan darah yang kaya oksigen ke tubuh tidak cukup untuk memenuhi keperluan – keperluan tubuh Congestive Heart Failure masih menduduki peringkat yang tinggi. Data WHO tahun 2015 menunjukkan bahwa 70% kematian di dunia disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular (39,5 juta dari 56,4 kematian). Dari seluruh kematian akibat Penyakit Tidak Menular (PTM) tersebut, 45% nya disebabkan oleh Penyakit jantung dan pembuluh darah, yaitu 17.7 juta dari 39,5 juta kematian. Pada tahun 2030 WHO memprediksi bahwa peningkatan penderita CHF mencapai ±23 juta jiwa di dunia  (kemenkes,2019).

Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi Penyakit Jantung berdasarkan diagnosis dokter di Indonesia sebesar 1,5%, dengan peringkat prevalensi tertinggi yaitu Provinsi Kalimantan Utara 2,2%, DIY 2%, dan Gorontalo 2%. Berdasarkan jenis kelamin, Prevalensi PJK lebih tinggi pada perempuan (1,6%) dibandingkan pada laki-laki (1,3%). Sedangkan jika dilihat dari sisi pekerjaan, ironisnya penderita Penyakit Jantung tertinggi terdapat pada aparat pemerintahan, yaitu PNS/TNI/Polri/BUMN/BUMD dengan prevalensi 2,7%.  Begitu pula, jika dilihat dari tempat tinggal, penduduk perkotaan lebih banyak menderita Penyakit Jantung dengan prevalensi 1,6% dibandingkan penduduk perdesaan yang hanya 1,3% (kemenkes,2019).

 

B.     Tujuan

  1. Tujuan Umum

Penulis mampu mendeskripsikan Asuhan Keperawatan secara komprehensif dari pengkajian sampai dengan evaluasi pada pasien dengan CHF

  1. Tujuan Khusus

a.       Mampu menjelaskan tentang pengertian penyakit CHF

b.      Mampu menjelaskan tentang klasifikasi penyakit CHF

c.       Mampu menjelaskan tentang etiologi penyakit CHF

d.      Mampu menjelaskan tentang manifestasi klinis penyakit CHF

e.        Mendeskripsikan pengkajian pada pasien CHF

f.       Mendeskripsikan diagnosa keperawatan pada pasien CHF

g.      Mendeskripsikan intervensi keperawatan pada pasien CHF

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

 

A.     CHF

  1. Definisi

CHF atau gagal jantung kongestif adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadap oksigen dan nutrisi dikarenakan adanya kelainan fungsi jantung yang berakibat jantung gagal memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan dan atau kemampuannya hanya ada kalau disertai peninggian tekanan pengisian ventrikel kiri (Majid,2018: 111) dan (Padila,2012: 365)

Gagal jantung kongestif adalah keadaan ketika jantung tidak mampu lagi memompakan darah secukupnya dalam memenuhi kebutuhan sirkulasi tubuh untuk keperluan metabolisme jaringan tubuh pada konsisi tertentu, sedangkan tekanan pengisian ke dalam jantung masih cukup tinggi (Aspiani, 2015).

Kesimpulan yang bisa diambil dari definisi diatas bahwa gagal jantung adalah suatu keadaan abnormal dimana jantung tidak mampu memompa darah sehingga tidak mencukupi kebutuhan jaringan terhadap oksigen dan nutrisi untuk melakukan metabolisme.

 

  1. Kalsifikasi

Menurut New York Heart Association (NYHA) klasifikasi CHF terbagi dalam 4 kelainan fungsional  (Johnson, 2010; Wendy; 2010), yaitu :

a.       NYHA I: Timbul sesak pada aktifitas fisik berat

b.      NYHA II: Timbul sesak pada aktifitas fisik sedang

c.       NYHA III :Timbul sesak pada aktifitas fisik ringan

d.      NYHA IV :Timbul sesak pada aktifitas fisik sangat ringan/istirahat

  1. Etiologi

Menurut Padila, (2012: 365) penyebab gagal jantung antara lain:

a.       Kelainan otot jantung

Gagal jantung paling sering terjadi pada penderita kelainan otot jantung, disebabkan menurunnya kontraktilitas jantung. Kondisi yang mendasari penyebab kelainan fungsi otot mencakup aterosklerosis koroner, hipertensi arterial dan penyakit degeneratif atau inflamasi.

b.      Aterosklerosis koroner

Mengakibatkan disfungsi miokardium karena terganggunya aliran darah ke otot jantung. Terjadi hipoksia dan asidosis (akibat penumpukan asam laktat). Infark miokardium biasanya mendahului terjadinya gagal jantung. Peradangan dan penyakit miokardium degeneratif berhubungan dengan gagal jantung karena kondisi yang secara langsung merusak serabut jantung menyebabkan kontraktilitas menurun.

c.       Hipertensi sistemik atau pulmonal (peningkatan afterload)

Meningkatkan beban kerja jantung dan pada gilirannya mengakibatkan hipertrofi serabut otot jantung.

d.      Peradangan dan penyakit miokardium degeneratif

Berhubungan dengan gagal jantung karena kondisi ini secara langsung merusak serabut jantung menyebabkan kontraktilitas menurun.

e.       Penyakit jantung lain

Terjadi sebagai akibat penyakit jantung yang sebenarnya, yang secara langsung mempengaruhi jantung. Mekanisme biasanya terlibat mencakup gangguan aliran darah yang masuk jantung (misal: stenosis katup semilunar), ketidakmampuan jantung untuk mengisi darah (missal: tamponade, pericardium, perikarditis konstriktif atau stenosis Atrioventrikular), peningkatan mendadak afterload.

f.       Faktor sistemik

Terdapat sejumlah besar faktor yang berperan dalam perkembangan dan beratnya gagal jantung. Meningkatnya laju metabolisme (misal: demam, tirotoksikosis). Hipoksia dan anemia juga dapat menurunkan suplai oksigen ke jantung. Asidosis respiratorik atau metabolic dan abnormalitas elektrolit dapat menurunkan kontraktilitas jantung

  1. Manifestasi klinik

Manifestasi klinis gagal jantung dipertimbangkan berdasarkan derajat latihan fisik yang dapat menyebabkan timbulnya gejala. Pada awalnya, secara khas gejala hanya muncul saat melakukan aktivitas fisik. Namun, semakin berat kondisi gagal jantung, semakin menurun toleransi terhadap latihan, dan gejala muncul lebih awal dengan aktivitas yang lebih ringan. Menurut Asikin, Nur Alamsyah, Susaldi, (2016: 95) dampak dari curah jantung dan kongesti yang terjadi pada sistem vena atau sistem pulmonal antara lain:

a.       Sesak saat beraktivitas

b.      Sesak saat berbaring dan membaik dengan melakukan elevasi kepala menggunakan bantal 

c.       Sesak di malam hari

d.      Sesak saat beristirahat

e.       Nyeri dada dan palpitasi

f.       Anoreksia

g.      Mual, kembung

h.      Penurunan berat badan

i.        Letih, lemas

j.        Oliguria/nokturia

k.      Gejala otak bervariasi mulai dari ansietas hingga gangguan memori dan konfus

  1. Patofisiologi 


 

  1. Pemeriksaan penunjang

Menurut Majid, (2018:116) dan Padila, (2012:369) yaitu:

a.       EKG

EKG untuk mengukur kecepatan dan keteraturan denyut jantung, untuk mengetahui hipertrofi atrial atau ventrikuler, penyimpangan aksis, iskemia, dan kerusakan pola mungkin terlihat.

b.      Ekokardiogram

Ekokardiogram menggunakan gelombang suara untuk mengetahui ukuran dan bentuk jantung, serta menilai keadaan ruang jantung dan fungsi katup jantung.

c.        Tes darah BNP (B-type natriureticpeptid)

Untuk mengukur kadar hormon BNP yang pada gagal jantung akan meningkat.

d.      Sonogram

Dapat menunjukan dimensi pembesaran bilik, perubahan dalam fungsi/struktur katub atau area penurunan kontraktilitas ventricular.

e.       Scan jantung

Tindakan penyuntikan fraksi dan memperkirakan pergerakan dinding.

f.       Foto thorax

Dapat mengungkapkan adanya pembesaran jantung, edema atau efusi pleura yang menegaskan diagnosa CHF.

g.      Pemeriksaan Lab meliputi: elektrolit serum yang mengungkapkan kadar natrium yang rendah sehingga hasil hemodelusi darah dari adanya kelebihan retensi air, K, Na, Cl, Ureum, gula darah.

  1. Penatalaksanaan

Menurut Padila, (2012:369) dan Muttaqin, (2009:103) penatalaksanaan medis pada pasien CHF adalah:

a.       Terapi Non Farmakologis

1)      Istirahat untuk mengurangi beban kerja jantung

2)      Oksigenasi

3)      Dukungan diit: pembatasan natrium untuk mencegah, mengontrol, atau menghilangkan edema

b.      Terapi Farmakologis

1)       Terapi nitrat dan vasodilator koroner

Penggunaan nitrat, baik secara akut maupun kronis, sangat dianjurkan dalam penatalaksanaan gagal jantung. Jantung mengalami unloaded (penurunan afterload-beban akhir) dengan adanya vasodilatasi perifer.

2)       Terapi diuretik

Selain tirah baring, klien dengan gagal jantung perlu pembatasan garam dan air serta pemberian diuretic baik oral atau parenteral. Tujuannya agar menurunkan preload dan kerja jantung. Diuretik memiliki efek antihipertensi dengan meningkatkan pelepasan air dan garam natrium. Hal ini menyebabkan penurunan volume cairan dan menurunkan tekanan darah. Jika garam natrium ditahan, air juga akan tertahan dan tekanan darah akan meningkat.

3)      Terapi digitalis

Digitalis adalah obat utama untuk meningkatkan kontraktilitas. Pada kegagalan jantung, digitalis diberikan dengan tujuan memperlambat frekuensi jantung dan meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung serta meningkatkan efisiensi jantung. Saat curah jantung meningkat, volume cairan yang melewati ginjal akan meningkat untuk di filtrasi dan di ekskresi sehingga volume intravascular menurun.

4)      Terapi inotropik positif

Dopamin merupakan salah satu obat inotropik positif bisa juga dipakai untuk meningkatkan denyut jantung (efek-beta 1) pada keadaan bradikardia saat pemberian atropin pada dosis 5-20 mg/kg/menit tidak menghasilkan kerja yang efektif. Dobutamin (Dobutrex) adalah suatu obat simpatomimetik dengan kerja beta 1 adrenergik. Efek beta-1 adalah meningkatkan kekuatan kontraksi miokardium (efek inotropik positif) dan meningkatkan denyut jantung (efek kronotropik positif).

5)      Terapi sedatif

Pada keadaan gagal jantung berat, pemberian sedatif dapat mengurangi kegelisahan. Obat-obatan sedatif yang sering digunakan adalah Phenobarbital 15-30 mg empat kali sehari dengan tujuan untk mengistirahatkan klien dan memberi relaksasi pada klien.

  1. Komplikasi

Adapun komplikasi menurut Wijaya & Putri, (2013:160), yaitu:

a.       Edema paru akut terjadi akibat gagal jantung kiri

b.      Syok kardiogenik: stadium dari gagal jantung kiri, kongestif akibat penurunan curah jantung dan perfusi jaringan yang tidak adekuat ke organ vital (jantung dan otak)

c.       Episode trombolitik: Trombus terbentuk karena imobilisasi pasien dengan gangguan sirkulasi dengan aktivitas trombus dapat menyumbat pembuluh darah d.

d.      Efusi perikardial dan tamponade jantung: Masuknya cairan ke kantong perikardium, cairan dapat meregangkan perikardium sampai ukuran maksimal dan menyebabkan penurunan curah jantung serta aliran balik vena ke jantung. Hal akhir dari proses ini adalah tamponade jantung.

B.     Pembahasan (Integrasi teori dan penelitian yang relevan untuk menyelesaikan kasus),  termasuk asuhan keperawatan

 

  1. Kasus

Pasien datang dari IGD RSUD Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto ker ruang mawar pukul 20.00 WIB dengan keluhan Sesak napas, sesak bertambah saat melakukan aktivitas, pasien biasa tidur menggunakan 2-3 bantal, keluhan tambahan kedua kaki edema, nyeri pada dada kiri. Dengan tekanan darah 130/80 mmHg, frekuensi nadi 94x/menit, frekuensi pernapasan 26x/menit dan suhu 36,8⁰C , Ku lemah, kesadaran compos mentis , GCS E4V5M6. Terpasang oksigen nasal kanul 4l/m, dengan saturasi oksigen 98%. Terpasang DC UT : jumlah urin tampung : 600cc, terpasang infus RL 12tpm.

 

  1. Asuhan Keperawatan pada pasien dengan CHF

a.      Pengkajian

Pasien  Nama Tn. S, umur 51 tahun, jenis kelamin laki-laki, alamat: dr gumbreg purwokerto selatan status pernikahan kawin, agama islam, pekerjaan sopir, pendidikan SMP,tanggal masuk RS 12 september 2021, No. RM 787258, diagnosa medis CHF. Identitas penanggung jawab: nama Tn. R umur 25 tahun, alamat dr gumbreg purwokerto selatan pekerjaan :Wiraswasta, hubungan dengan pasien adalah anak.keluhan utama neri dada kiri,  P: nyeri timbul apabila Tn. S melakukan aktivitas dan sesak semakin bertambah, Q : nyeri seperti ditekan-tekan, R: paru sebelah kiri, S: Skala nyeri 6, T: 5-10 menit. tekanan darah 130/80 mmHg, frekuensi nadi 94x/menit, frekuensi pernapasan 26x/menit dan suhu 36,8⁰C , Ku lemah, kesadaran compos mentis , GCS E4V5M6.Terpasang oksigen nasal kanul 4l/m, dengan saturasi oksigen 98%. Terpasang DC UT : jumlah urin tampung : 600cc,dengan warna urin keruh kecoklatan, terpasang infus RL 12tpm.

Pengkajian riwayat penyakit terdahulu, didapatkan data Tn. S mengatakan pernah menderita penyakit jantung pada tahun 2015 dan keluarga klien mengatakan klien tidak mempunyai obat dan klien jarang berobat. Pengkajian riwayat penyakit keluarga didapatkan data keluarga mengatakan keluarganya pernah mengalami penyakit jantung yaitu ibu kandung Tn.S dan kakak perempuan Tn. S

Pemeriksaan head to toe didapatkan edema pada kedua kaki.

b.      Analisa Data

Tabel 3.1 Analisa Data

Data

Etiologi

Masalah

Data Subyektif : “Klien mengeluh nyeri dada pada saat beraktivitas dan kesulitan bernafas” Data Obyektif: wajah klien tampak meringis kesakitan.skala nyeri 6. Klien tampak sulit bernafas Tekanan darah : 130/80 mmHg, nadi 94 x/menit.

Penurunan kontraktilitas ventrikel kiri

penurunan curah jantung

Data subyektif :” klien mengatakan sesak nafas”

Obyektif : klien terpasang oksigen 4 lpm,tampak pernafasan cepat dan dangkal RR 26x/menit

Pengembangan paru tidak optimal

Ketidakefektifan pola nafas

Data subyektif :”klien mengatakan kaki bengkak”

Obyektif : kedua kaki tampak edema ,Terpasang DC UT : jumlah urin tampung : 600cc,

Retensi air

Kelebihan volume cairan

Data Subyektif : “Pasien mengatakan tenaga nya lemah, cepat lelah, dan sesak nafas” Data Obyektif : Klien tampak berbaring di tempat tidur, keringat dingin, dan lemah.

ketidakseimbangan antara suplai oksigen jaringan yang kebutuhan akibat sekunder dari penurunan curah jantung

intoleransi aktivitas

 

c.       Diagnosa Keperawatan

1.      Penurunan curah jantung berhubungan dengan penurunan kontraksi ventrikel kiri.

2.      Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan pengembangan paru tidak optimal

3.      Kelebihan volume cairan berhubungan dengan retensi natrium dan air.

4.       Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dengan kebutuhan oksigen, kelelahan. ( NANDA Internasional, 2015)

d.      Intervensi

Tabel 3.2 Intervensi Keperawatan

 

No

Diagnosa keperawatan

Noc

Nic

1.

Penurunan curah jantung berhubungan dengan penurunan kontraksi ventrikel kiri.

 Cardiac Pump Effectiveness Indikator :

  1. Systolic blood pressure dalam rentang normal
  2. Diastolic blood pressure dalam rentang normal
  3. Tidak ada disritmia
  4. Tidak ada bunyi jantung abnormal
  5. Tidak terjadi angina
  6. Tidak ada edema perifer
  7. Tidak ada edema paru
  8. Tidak dispnea saat istirahat
  9. Tidak dispnea ketika latihan
  10. Tidak terjadi hepatomegali
  11. Aktivitas toleran
  12. Tidak sianosis

Circulation Status Indikator :

  1. Systolic blood pressure dalam rentang normal
  2. Diastolic blood pressure dalam rentang normal
  3. Pulse pressure dalam rentang normal
  4. MAP dalam rentang normal
  5. AGD (PaO2 dan PaCO2) dalam rentang normal
  6. Saturasi O2 dalam rentang normal
  7. Tidak asites

Vital signs Indikator :

  1. Denyut jantung apikal dalam rentang normal
  2. Irama denyut jantung dalam rentang normal
  3. Denyut nadi radial dalam rentang normal
  4. Tekanan Systole dan Diastole dalam rentang normal

 Cardiac Care Aktivitas :

  1. Evaluasi adanya nyeri dada (intensitas, lokasi, durasi, frekuensi)
  2.  Catat adnya disritmia jantung
  3. Catat adanya tanda dan gejala penurunan cardiac output.
  4. Monitor status kardiovaskuler
  5. Monitor status pernafasan yang menandakan Heart Failure
  6. Monitor abdomen sebagai indicator adanya adanya penurunan fungsi
  7. Monitor balance cairan
  8. Monitor adanya perubahan perubahan tekanan darah
  9. Monitor respon pasien terhadap efek pengobatan antiaritmi
  10. Atur periode latihan dan istirahat untuk menghindari kelelaha
  11. Monitor adanya dispnea, ortopnea, dan takipnea
  12. Anjurkan untuk menurunkan stres

Vital Sign Monitoring Aktivitas :

  1. Monitor TD, nadi, suhu dan RR
  2. Catat adanya fluktuasi tekanan darah
  3. Monitor vital sign pasien saat berbaring, duduk, berdiri
  4. Auskultasi tekanan darah pada kedua lengan dan bandingkan
  5. Monitor TD, Nadi, RR sebelum, selama dan setelah aktivitas
  6. Monitor kualitas nadi.
  7. Monitor adanya pulsus paradoksus
  8. Monitor jumlah dan irama jantung
  9. Monitor bunyi jantung
  10. Monitor suara paru
  11. Monitor pola pernafasan abnormal
  12. Monitoradanya sianosis perifer
  13. Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign

2.

Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan pengembangan paru tidak optimal.

Respiratory Status : Ventilation Indikator :

  1. Respiratory dalam rentang normal
  2. Tidak ada retraksi dinding dada
  3. Tidak mengalami dispnea saat istirahat
  4. Tidak ditemukan otrhopnea
  5. Tidak ditemukan atelektasis

Respiratory : Airway Patency Indikator :

  1.  Respiratory rate dalam rentang normal.
  2. Pasien tidak cemas
  3. Menunjukkan jalan nafas yang paten

Airway Manajemen Aktivitas :

  1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
  2. Lakukan fisioterapi dada jika perlu
  3. Auskultasi suara nafas, catat adanya suara nafas tambahan
  4. Monitor resirasi dan status O2

Oxygen Therapy Aktivitas :

  1.  Pertahankan kepatenan jalan nafas
  2. Atur peralatan oksigen
  3. Monitor aliran oksigen
  4. Pertahankan posisi pasien
  5. Observasi adanya tanda-tanda hipoventilasi.
  6. Monitor adanya kecemasan

Vital Sign Monitoring Aktivitas :

  1. Monitor TD, Nadi, Suhu, dan RR
  2.  Catat adanya flutuasi tekanan darah
  3. Monitor kualitas nadi
  4. Monitor suara paru
  5.  Monitor suara pernafasan
  6. Monitor suhhu, warna, dan kelembapan kulit.

3.

Kelebihan volume cairan berhubungan dengan retensi air.

Fluid Balance Indikator :

  1. Tidak terjadi asites
  2. Ekstremitas tidak edema
  3. Tidak terjadi distensi vena jugularis

Fluid Overload Severity Indikator :

  1. Edema tungkai tidak terjadi
  2. Tidak asites
  3. Kongesti vena tidak terjadi
  4. Tidak terjadi peningkatan blood pressure
  5. Penurunan pengeluaran urine tidak terjadi
  6. Tidak terjadi perubahan warna urine
  7. Penurunan serum sodium tidak terjadi
  8. Peningkatan serum sodium tidak terjadi

 Fluid Management Aktivitas :

  1. Pertahankan catatan intake output yang akurat
  2. Monitor hasil Hb yang sesuai dengan retensi cairan (BUN, Hematokrit, Osmolaritas urine)
  3. Monitor vital sign
  4. Monitor indikasi retensi 5) Kaji luas dan lokasi edema
  5. Monitor status nutrisi
  6. Kolaborasi dengan dokter jika tanda cairan berlebuhan muncul memburuk

Fluid Monitoring Aktivitas :

  1. Tentukan riwayat jumlah dan tipe intake cairan dan eliminasi
  2. Tentukan kemungkinan faktor risiko dari ketidakseimbangan cairan
  3. Monitor berat badan
  4.  Monitor TD, Nadi, RR
  5. Monitor tekanan darah orthostatik dan perubahan irama jantung
  6. Monitor parameter hemodinamik infasif
  7. Monitor tanda dan gejala edema 

4.

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dengan kebutuhan oksigen, kelelahan

a. Energi Conservation Indikator :

  1. Menunjukkan keseimbangan antara aktivitas dengan istirahat
  2. Menggunakan teknik
  3. Mengenali keterbatasan energi
  4. Menyesuaikan gaya hidup sesuai tingkat energi
  5. Mempertahankan gizi yang cukup
  6. Melaporkan aktivitas yang sesuai dengan energi.

Activity Tolerance Indikator :

  1. Saturasi oksigen saat melakukan aktivitas membaik/dalam rentang normal
  2. nadi saat melakukan aktivitas dalam rentang normal
  3. tidak sesak napas saat melakukan aktivitas
  4. tekanan darah saat melakukan aktivitas dalam rentang normal
  5. mudah melakukan ADL

Self Care : ADL Indikator :

  1. Mampu melakukan ADL secara mandiri (seperti makan, memakai baju,toileting, mandi, berdandan, menjaga kebersihan, oral hygiene, berjalan, berpindah tempat)

Energy Management Aktivitas :

  1.  Tentukan keterbatasan pasien terhadap aktivitas
  2. Tentukan penyebab lain dari kelelahan
  3. Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan tentang keterbatasannya
  4. Observasi nutrisi sebagai sumber energi yang adekuat
  5. Observasi respon jantung-paru terhadap aktivitas (misalnya takikardia, disritmia, dispnea, pucat, dan frekuensi pernafasan)
  6. Batasi stimulus lingkungan (misalnya pencahayaan, dan kegaduhan)
  7. Dorong untuk lakukan periode aktivitas saat pasien memiliki banyak tenaga.
  8. Rencanakan periode aktivitas saat pasien memiliki banyak tenaga
  9.  Hindari aktivitas selama periode istirahat
  10. Dorong pasien untuk melakukan aktivitas sesuai sumebr energi
  11.  Instruksikan pasien atau keluarga untuk mengenal tanda dan gejala kelelahan yang memerlukan pengurangan aktivitas.
  12. Bantu pasien atau keluargauntuk menentukan tujuan akhir yang realistis
  13. Evaluasi program peningkatan tingkat aktivitas

 Actifity Therapy Aktivitas :

  1. Bantu pasien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan
  2. Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yang sesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan social
  3. Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktiivtas yang diinginkan
  4. Bantu pasien atau keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas
  5. Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan
  6. Monitor respon fisik, emosi, soial, dan spiritual

 

 

  1. Integrasi teori dengan penelitian yang relevan

JURNAL :

a.       Nirmalasari, N. (2017). Deep Breathing Exercise dan Active Range of Motion Efektif Menurunkan Dyspnea pada Pasien Congestive Heart Failure. NurseLine Journal , 159-165.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nirmalasari, N. (2017) Penatalaksanaan non farmakologi yang dapat dilakukan yaitu edukasi, exercise dan peningkatan kapasitas fungsional. Salah satu penyelesaian masalah dyspnea yang dapat dilakukan dengan pemberian oksigenasi untuk menurunkan laju pernafasan. Pemberian posisi dan breathing exercise dapat dilakukan untuk mengurangi usaha serta meningkatkan fungsi otot pernafasan. Latihan fisik yang dapat ditoleransi juga menjadi penatalaksanaan dalam meningkatkan perfusi jaringan dan memperlancar sirkulasi (Smeltzer, 2008; Sani, 2007).

American Heart Association (AHA) merekomendasikan latihan fisik dilakukan pada pasien dengan CHF yang sudah stabil. Latihan fisik dilakukan 20-30 menit dengan frekuensi 3-5 kali setiap minggu. Sebelum memulai latihan fisik, pasien dengan CHF memerlukan penilaian yang komprehensif untuk stratifikasi risiko dan dianjurkan untuk beristirahat jika kelelahan. Latihan ini merupakan salah satu latihan yang berada di rumah sakit (inpatient) yang dapat dilakukan oleh pasien dengan NYHA II dan III. Manajemen aktivitas bertahap pada pasien tersebut merupakan kegiatan fisik yang ringan dan teratur sehingga kondisi sirkulasi darah perifer dan perfusi jaringan dapat diperbaiki (Pina, 2003; Adsett, 2010).

Breathing exercise merupakan latihan untuk meningkatkan pernafasan dan kinerja fungsional (Cahalin, 20145). Salah satu breathing exercise yang dapat dilakukan adalah deep breathing exercise yaitu aktivitas keperawatan yang berfungsi meningkatkan kemampuan otot-otot pernafasan untuk meningkatkan compliance paru dalam meningkatkan fungsi ventilasi dan memperbaiki oksigenasi (Smelzer, 2008; Price, 2006). Penelitian tentang breathing exercise pada pasien gagal jantung yang dilakukan oleh Sepdianto (2013) dilakukan selama 15 menit sebanyak 3 kali sehari dalam waktu 14 hari. Hasil dari penelitian ini menunjukkan p=0,000 dalam penurunan dyspnea.Latihan pernafasan juga akan meningkatkan relaksasi otot, menghilangkan kecemasan, menyingkirkan pola aktivitas otot-otot pernafasan yang tidak berguna dan tidak terkoordinasi, melambatkan frekuensi pernafasan dan mengurangi kerja pernafasan. Pernafasan yang lambat, rileks dan berirama membantu dalam mengontrol klien saat mengalami dyspnea (Westerdahl, 2014; Muttaqin, 2012). Latihan pernapasan dapat mengoptimalkan pengembangan paru dan meminimalkan penggunaan otot bantu pernapasan. Dengan melakukan latihan pernapasan secara teratur, maka fungsi pernafasan akan membaik (Potter, 2005).

Range of motion (ROM) merupakan latihan gerak dengan menggerakkan sendi seluas gerak sendi. Latihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan aliran darah ke otot sehingga meningkatkan perfusi jaringan perifer (Babu, 2010). Pergerakan tubuh yang sifatnya teratur sangat penting untuk menurunkan resistensi pembuluh darah perifer melalui dilatasi arteri pada otot yang bekerja sehingga meningkatkan sirkulasi darah. Sirkulasi darah yang lancar akan melancarkan transportasi oksigen ke jaringan sehingga kebutuhan oksigen akan terpenuhi dengan adekuat. Latihan fisik akan meningkatkan curah jantung. Peningkatan curah jantung akan meningkatkan volume darah dan hemoglobin sehingga akan memperbaiki penghantaran oksigen di dalam tubuh. Hal ini akan berdampak pada penurunan dyspnea (Artur, 2006). Penelitian ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang menunjukkan breathing exercise pada pasien dengan gagal jantung didapatkan hasil sangat efektif dalam menurunkan derajat dispnea 2,14 poin (p=0,000) dan meningkatkan saturasi oksigen pada pasien gagal jantung sebesar 0,8% (p=0,000) (Sepdianto, 2013). Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Bernadi (1998) didapatkan bahwa dengan intervensi latihan nafas dalam selama satu bulan pada 50 pasien gagal jantung menunjukkan peningkatan saturasi dari 92,5% (SD 0,3) menjadi 93,2% (SD 0,4) dengan p<0,005. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Bosnak yang dilakukan pada pasien dengan gagal jantung juga mendukung penelitian ini. Hasil menunjukkan bahwa latihan pernafasan menurunkan dyspnea dari 2,42 1,73 menjadi 1,42 1,31 (Bosnak, 2011).

b.      Kasron (2019),Pijat Kaki Efektif Menurunkan Foot Oedema Pada Pasien Congestive Heart Failure(CHF), Jurnal Ilmu Keperawatan Bedah ,volume 2,nomor 1,pp 1-54.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Kasron.2019,Oedema kaki merupakan salah satu gejala pada pasien CHF. Oedema kaki dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup, ketidaknyamanan, perubahan postur tubuh, menurunkan mobilitas dan meningkatkan resiko jatuh, gangguan sensasi di kaki dan menyebabkan perlukaan di kulit. Oedema kaki dapat dikurangi dengan melakukan penatalaksanaan pemijatan pada kaki, dimana dengan pijat kaki akan menstimulasi pengeluaran cairan melalui saluran limfe ke bagian yang lebih proksimal, sehingga menurunkan kejadian oedema kaki (Ciocon, Galindo-Ciocon, & Galindo, 1995; Ely, Osheroff, Chambliss, & Ebell, 2006). Beberapa penelitian menjelaskan bahwa pijat kaki dapat menurunkan oedema pada kaki, hasil penelitian pada perawat setelah bekerja shift menunjukan pijat kaki mandiri dapat menurunkan tingkat nyeri dan oedema kaki perawat yang bekerja setelah shift dinas (Soran et al., 2008). Hasil penelitian pada wanita hamil yang mengalami oedema kaki dengan dilakukan pijat kaki dapat menurunkan oedema kaki (Çoban & Şirin, 2010). Berdasarkan penelitian Wei-Ling Chen dkk (2013) dengan efek pijat punggung pada pasien CHF dapat diperoleh hasil bahwa efek pijat punggung dapat menurunkan kecemasan, meningkatkan kenyamanan dan meningkatkan respon fisiologis tubuh (menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik, menurunkan denyut jantung, menurunkan respiratory rate, meningkatkan saturasi oksigen) (Chen et al., 2013)

                                     Pijatan adalah sentuhan secara sistematis yang memanipulasi jaringan lunak dari tubuh untuk meningkatkan kenyamanan dan penyembuhan (Patient, 2010). Berdasarkan penelitian bahwa keuntungan utama pemijatan adalah meningkatkan relaksasi, meningkatkan aliran darah, meningkatkan penyembuhan otot, mengurangi spasme otot, dan menurunkan kecemasan (Bayrakci Tunay, Akbayrak, Bakar, Kayihan, & Ergun, 2010; Be, Into, & Hospitals, 2013; Gazillo & Middlemas, 2001; Ragsdale, n.d.). Pijat kaki adalah gerakan sederhana yang berirama memijat kulit bagian telapak kaki untuk menstimulasi aliran getah bening ke sistem sirkulasi darah, dengan serangkain tekhnik, metode dan alat pijat tertentu (Çoban & Şirin, 2010; Hulme, Waterman, & Hillier, 1999; Shimizu, 2009)

                                     Hasil Survei awal yang dilakukan di RSUD Cilacap pada tahun 2013 (Januari-Nopember) diketahui jumlah kasus CHF yaitu pada pasien usia 30-60 tahun sebanyak 62 pasien (29,41%) dan usia lebih dari 60 tahun sebanyak 125 (70,59%) (Rekam Medis RSUDC, 2013). Penyebab CHFsebagian besar adalah diabetes, hipertensi dan penyakit arteri koronaria. Gejala yang muncul pada pasien CHF adalah sesak nafas, kelelahan, kelemahan, pusing dan oedema kaki. Pada pasien CHF yang mengalami oedema kaki di RSUD Cilacap belum dilakukan penatalaksanaan untuk mengurangi gejala oedema kaki tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pijat kaki terhadap penurunan oedema kaki pada pasien CHF.

                                     Penelitian dilakukan di RSUD Cilacap, ruang penyakit dalam. Jenis penelitian quasi experimental, dengan pendekatan pre-posttest without control group design. Metline digunakan untuk mengukur lingkar FO yaitu pada lingkar Ankle, lingkar Instep, lingkar sendi MP (metatarsal phalangs-joint). Pengambilan data dengan mengukur lingkar FO setelah tindakan pada hari ke-1,2 dan 3. Intervensi pemijatan selama 3 hari dengan durasi ± 20 menit. Pengambilan sample dengan metode accidental sampling dengan cara memilih semua individu yang ditemui selama 1 bulan berjalan dan sesuai dengan kriteria yang sudah ditetapkan yaitu: 1). Pasien gagal jantung stabil yang ditandai dengan: tidak ada nyeri dada, tidak sesak nafas saat istirahat, denyut nadi istirahat 50-90x/menit dan reguler, tekanan darah sistolik 100-150 mmHg, dan tekanan darah diastolik 60- 90 mmHg, 2). Tidak ada kontraindikasi pemijatan, memar, radang, luka, demam, infeksi kulit, 3). Bersedia menjadi responden. Sedangkan kriteria eksklusi sampel dalam penelitian ini adalah: 1). NYHA fungsional kelas IV, 2). Aritmia pada saat istirahat, 3). Denyut jantung saat istirahat lebih dari 100x/menit. Analisis menggunakan Wilcoxon test pada setiap pengukuran.

                                     Hasil penelitian ini menunjukan bahwa saat hari pertama tidak terdapat perbedaan lingkar oedema pada kaki kanan dan kiri untuk lingkar instep (kanan: p-value: 0,082; kiri: p-value: 0,082 ) dan MP joint (kanan: p-value :0,165; kiri: p-value: 0,249) saat hari pertama proses pemijatan. Namun hasil berbeda pada lingkar ankle hari pertama yaitu untuk kaki kanan menunjukan tidak ada perbedaan yang bermakna dengan p-value 0,790, sedangkan pada kaki kiri menunjukan perbedaan yang bermakna dengan p-value 0,018. 

Hasil penelitian saat hari kedua menunjukan bahwa semua lingkar oedema dibandingkan pada hari pertama menunjukan terdapat perbedaan lingkar oedema baik pada lingkar ankle, instep maupun MP joint, baik pada kaki kanan maupun pada kaki kiri dengan p-value <0,001. Demikian juga pada hari ketiga, hasil penelitian menunjukan bahwa semua lingkar oedema dibandingkan pada hari pertama menunjukan terdapat perbedaan lingkar oedema baik pada lingkar ankle, instep maupun MP joint, baik pada kaki kanan maupun pada kaki kiri dengan p-value <0,001.

Hasil penelitian menunjukan persamaan dengan beberapa penelitian sejenis tentang penggunaan pijat untuk menurunkan oedema, seperti pada kasus oedema fisiologis pada ibu hamil dapat dilakukan intervensi pijat kaki seperti penelitian yang dilakukan oleh (Çoban & Şirin, 2010), dimana pijat kaki dapat menurunkan oedema fisiologis pada ibu hamil (Çoban & Şirin, 2010). Pada kasus oedema kaki akibat limfadema juga dapat dilakukan proses pemijatan seperti penelitian yang dilakukan oleh (Kriederman et al., 2002) tentang efektifitas penggunaan pijat dan atau juga penggunaan penekan (bandage/compression) mampu mengurangi jumlah cairan pada kondisi limfedema (Kriederman et al., 2002).

Proses pemijatan dapat meningkatkan aliran darah sekaligus meningkatkan aliran sirkulasi limfatik pada jaringan tersebut. Proses pemijatan dengan penekanan akan mengenai pembuluh darah, pada pembuluh darah tersebut akan tertekan dan terdorong dengan proses pemijatan, sehingga aliran darah akan menuju ke bagian yang lebih proksimal, demikian juga akan terjadi permeabilitas dinding pembuluh darah (Goats, 1994).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

 

Kesimpulan

Gagal jantung merupakan suatu keadaan dimana jantung tidak dapat lagi memompa darah ke jaringan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh, walaupun darah balik masih dalam keadaan normal. Dengan kata lain, gagal jantung merupakan suatu ketidakmampuan jantung untuk memompakan darah dalam jumlah yang memadai untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh (forward failure) atau kemampuan tersebut hanya dapat terjadi dengan tekanan pengisian jantung yang tinggi (backward failure) atau keduanya. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya gagal jantung adalah kontraktilitas miokard, denyut jantung (irama dan kecepatan/ menit) beban awal dan beban akhir.

Asuhan keperawatan pada pasien dengan CHF dimulai dengan tindakan pengkajian, analisa data, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Asuhan keperawatan pada pasien dengan CHF bertujuan untuk mengatasi masalah penurunan curah jantung, mengurangi sesak napas dan meningkatkan aktivitas. Dengan rencana tindakan keperawatan yang dapat dilakukan diantaranya  istirahatkan klien dengan tirah baring optimal, atur posisi tirah baring yang ideal. Posisikan kepala pasien 20 sampai 30 cm atau klien duduk dikursi, memberikan istirahat psikologis dengan lingkungan tenang dengan memberikan pengarahan kepada pengunjung atau keluarga pasien yang ada di ruangan untuk memberikan suasana yang tenang, menganjurkan klien untuk menghindari maneuver dinamik seperti berjongkok sewaktu melakukan BAB dan mengepal-ngepalkan tangan, melakukan kolaborasi tentang pemberian diet jantung pada pasien.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi

 

Asikin, M., Nur Alamsyah, M., & Susaldi. (2016). Keperawatan Medikal Bedah Sistem        Kardiovaskular. Jakarta: Erlangga.

Johnson, Miriam J and Stephen G. Oxberry. 2010. The Management of Dyspnoea in Chronic Heart Failure. Current Opinion in Supportive and Palliative Care. 4: 63-68.

Majid, A. (2018). Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.

Muttaqin, A. (2009). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular. Jakarta: Salemba Medika.

Padila. (2012). Buku Ajar: Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta: Nuha Medika.

 

Wendy C. 2010. Dyspnoea and Oedema in Chronic Heart Failure. Pract Nurse. 39(9)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

1.    Link Diskusi Kelompok

     https://meet.google.com/wdv-ugov-axd

 

2.    Link Gform

https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSexdPhiEYF4wzMal8z4Ypxzl69TL-ErTrJaPy_Zb_SbrfSFhA/viewform?usp=sf_link

3.                                                        

3.Link Blog

 


Comments

Popular posts from this blog

MAKALAH DISLOKASI

SINDROM KOMPARTEMEN

Penting! Waspada Gejala Gastritis Sejak Dini