Obesitas
Laporan
Diskusi
Asuhan
Keperawatan Pada Pasien dengan
Obesitas
Kelompok 5
Ziella Ruth Kristantia NIM I1B020026
Fashihah Salsabilla NIM I1B020027
Lu’lu Nurhaliza NIM I1B020029
Teguh Triana NIM I1B020030
Naila Karima NIM I1B020033
Program
Studi Sarjana Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Keperawatan
Universitas Jenderal Soedirman
Bab 1. Pendahuluan
- Latar belakang
Salah satu penyakit di rumah sakit yang sering dialami dewasa adalah obesitas. Obesitas atau kelebihan berat badan dapat disebabkan karena beberapa faktor, diantaranya tingkat pendidikan dan pekerjaan, asupan makanan, stress, aktivitas fisik, jenis kelamin, dan usia (Ira, 2018; 229). Tingkat pendidikan seseorang menjadi salah satu faktor terjadinya obesitas dikarenakan apabila seseorang memiliki tingkat pengetahuan yang rendah maka mereka kurang dapat mengatur pola makan yang baik. Oleh karena itu, perlu untuk seorang yang sudah berpengalaman untuk membagikan pengalamannya mengenai pengetahuannya mengenai obesitas supaya memberikan pengetahuan yang lebih bagi yang membutuhkan. Penyaluran pengalaman ini, dapat diberikan melalui teknologi yang sudah berkembang, misalnya internet. Dengan adanya internet ini maka dapat dimanfaatkan untuk memberikan pengetahuan tentang obesitas di dalam sebuah blog ataupun sejenisnya.
- Tujuan
Pembuatan
laporan ini bertujuan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai penyakit obesitas
dan asuhan keperawatan yang tepat diberikan kepada pasien obesitas.
Bab 2. Tinjauan Pustaka
- Overview obesitas
Obesitas
merupakan suatu kondisi dimana tubuh mengalami penimbunan lemak yang berlebih
yang dapat menimbulkan berbagai resiko pada kesehatan (Ira, 2018; 228). Obesitas dapat mengenai orang dewasa, lansia,
bahkan anak-anak. Penyakit ini dianggap sebagai salah satu penyakit yang serius
karena berperan dalam meningkatnya morbiditas dan mortalitas. Obesitas atau
kegemukan dapat menjadi faktor resiko yang besar bagi penyakit kronis, termasuk
hipertensi dan stroke, dan berbagai penyakit kanker (Peni, t.t). Berdasarkan
data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kasus kelebihan berat badan
yang terjadi pada orang dewasa usia 18 tahun ke atas adalah sebanyak 13,5%
(Kemenkes RI, t.t; 2).
1. Pengertian
Obesitas merupakan penumpukan lemak
yang berlebihan akibat ketidakseimbangan asupan energi (energy intake) dengan
energi yang digunakan (energy expenditure) dalam waktu lama (WHO,2000).
Obesitas seringkali disebut
dengan kelebihan berat badan, karena
penderitanya cukup mudah dikenali dengan postur tubuh yang overweight. Hal ini
terjadi karena asupan kalori yang lebih banyak dibanding aktivitas membakar
kalori, sehingga kalori yang berlebih menumpuk dalam bentuk lemak. Apabila
kondisi tersebut terjadi dalam waktu yang lama, maka akan menambah berat badan
hingga mengalami obesitas.
Obesitas digolongkan menjadi 3
kelompok :
1) Obesitas ringan. Kelebihan berat
badan 20-40%, BMI 23-24.9 kg /m2
2) Obesitas sedang (derajat 1).
Kelebihan berat badan 41-100% . BMI 25-29.9 kg/m2
3) Obesitas berat (derajat II). Kelebihan
berat badan >100% (Obesitas berat ditemukan sebanyak 5%dari antara
orang-orang yang gemuk). BMI 30 kg/m2
Penetapan suatu obesitas dengan
menggunakan penghitungan dengan cara mengukur BMI (Body Mass Index). BMI untuk
melihat status gizi pada orang dewasa yang berhubungan dengan kekurangan dan
kelebihan berat badan.
2. Etiologi
Obesitas merupakan penyakit dengan
etiologi yang sangat kompleks dan belum sepenuhnya diketahui. Pada umumnya,
berbagai faktor yang menentukan keadaan obesitas seseorang seperti:
1) Herediter
Bila ayah atau ibu memiliki
kelebihan berat badan, hal ini dapat diturunkan pada anaknya. Dalam satu
keluarga untuk menurunkan tidak hanya berbagi gen, tetapi juga makanan dan
kebiasaan gaya hidup, yang bisa mendorong terjadinya obesitas. Seringkali sulit
untuk memisahkan faktor gaya hidup dengan faktor genetik.
2) Faktor lingkungan
Selain gen, lingkungan merupakan
salah satu faktor penting penentu obesitas. Lingkungan ini termasuk
perilaku/pola gaya hidup (misalnya apa yang dimakan dan berapa kali seseorang
makan serta bagaimana aktivitasnya).
3) Faktor psikis
Apa yang ada di dalam pikiran
seseorang bisa mempengaruhi kebiasaan makannya. Banyak orang yang memberikan
reaksi terhadap emosinya dengan makan.
4) Faktor kesehatan
Beberapa penyakit bisa menyebabkan
obesitas, diantaranya:
a. Hipotiroidisme
b. Sindrom Cushing
c. Sindrom Prader-Willi
d. Beberapa kelainan saraf yang bisa
menyebabkan seseorang banyak makan.
5) Obat-obatan
Obat-obat tertentu misalnya steroid
dan beberapa anti depresi bisa menyebabkan
penambahan berat badan.
6) Faktor perkembangan.
Penambahan ukuran atau jumlah
sel-sel lemak (atau keduanya) menyebabkan bertambahnya jumlah lemak yang
disimpan dalam tubuh. Jumlah sel-sel lemak tidak dapat dikurangi, karena itu
penurunan berat badan hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi jumlah lemak
di dalam setiap sel.
7) Aktivitas fisik.
Kurangnya aktivitas fisik
kemungkinan merupakan salah satu penyebab utama dari meningkatnya angka
kejadian obesitas di tengah masyarakat yang makmur. Orang-orang yang tidak
aktif memerlukan lebih sedikit kalori. Seseorang yang cenderung mengkonsumsi
makanan kaya lemak dan tidak melakukan aktivitas fisik yang seimbang, akan
mengalami obesitas.
3. Patofisiologi
Beberapa studi menunjukkan bahwa
patofisiologi obesitas sebagian besar berhubungan dengan faktor genetik.
Diantaranya:
a. Gen fat mass and obesity-associated
(FTO) dikaitkan dengan adipositas.
b. hormon perifer pada sistem saraf
pusat yang berperan dalam kontrol nafsu makan, intake makanan, food reward, dan
adiksi makanan.
c. Leptin, memberi sinyal rasa kenyang
pada hipotalamus dan kemudian akan mengurangi intake makanan dan menyimpan
lemak sambil memodulasi pengeluaran energi dan metabolisme karbohidrat untuk
mencegah pertambahan berat badan. Kadar leptin lebih tinggi pada orang yang
obesitas dibanding orang dengan berat badan normal.
d. Insulin, sebagai hormon pankreas,
memiliki peranan dalam homeostasis glukosa. Insulin dapat menembus sawar darah
otak dan berikatan dengan reseptor di nukleus arkuata hipotalamus untuk
mengurangi asupan makanan.
e. Substansi yang berasal dari saluran pencernaan seperti kolesistokinin
(CCK), glucagon-like peptide-l (GLP-1), peptide YY3-36 (PYY3-36), dan ghrelin,
juga terlibat dalam menyampaikan
informasi tentang status energi melalui hormonal gut-brain axis primarily
targeting the hypothalamus (HPAL) dan batang otak, serta dapat secara langsung
atau tidak langsung berinteraksi dengan jalur mesolimbik dopamin otak tengah
untuk mempengaruhi intake makanan.
4. Manifestasi Klinis
Seseorang
yang menderita obesitas biasanya mudah dikenali. Ciri yang khas pada obesitas
diantaranya adalah wajah membulat, pipi tembem, dagu rangkap, leher pendek,
payudara membesar karena adanya deposit lemak, kedua tungkai membentuk X serta
pangkal paha bergesekan dan menempel yang akan menimbulkan ulserasi, dan perut
yang membuncit (Sjarif, 2011).
Distribusi
lemak pada obesitas juga mempengaruhi bentuk fisik seseorang yang menderitanya.
Pada obesitas terdapat tiga bentuk distribusi lemak yaitu: apple shape body
(android), pear shape body (gynoid), dan intermediate. Pada apple shape body
(android), distribusi lemak cenderung bertumpuk pada bagian atas tubuh (dada
dan pinggang). Pada pear shape body (gynoid), distribusi lemak cenderung lebih
banyak pada bagian bawah (pinggul dan paha). Sedangkan bentuk tubuh
intermediate lemak terdistribusi ke seluruh bagian tubuh secara hampir merata
(Sjarif, 2011).
Sementara
itu, berdasarkan kondisi selnya maka obesitas dapat digolongkan dalam beberapa
tipe (Purwati, 2001) yaitu :
● Tipe Hiperplastik, adalah obesitas yang
terjadi karena jumlah sel yang lebih banyak dibandingkan kondisi normal, tetapi
ukuran sel-selnya sesuai dengan ukuran sel normal terjadi pada masa
anak-anak.Upaya menurunkan berat badan ke kondisi normal pada masa anak-anak
akan lebih sulit.
● Tipe Hipertropik, obesitas ini
terjadi karena ukuran sel yang lebih besar dibandingkan ukuran sel normal.
Kegemukan tipe ini terjadi pada usia dewasa dan upaya untuk menurunkan berat
akan lebih mudah bila dibandingkan dengan tipe hiperplastik.
● Tipe Hiperplastik dan Hipertropik,
obesitas tipe ini terjadi karena jumlah dan ukuran sel melebihi normal.
Obesitas tipe ini dimulai pada masa anak-anak dan terus berlangsung sampai
setelah dewasa. Upaya untuk menurunkan berat badan pada tipe ini merupakan yang
paling sulit, karena dapat beresiko terjadinya komplikasi penyakit, seperti
penyakit degeneratif.
5. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan
fisik lengkap pada obesitas harus dilakukan mulai dari pemeriksaan indeks massa
tubuh, lingkar pinggang, dan kadar
lemak tubuh.
Pemeriksaan
fisik yang dapat ditemukan pada pasien obesitas adalah sebagai berikut :
● Kepala: wajah membulat, pipi tembem,
dagu rangkap, pemeriksaan kelenjar tiroid, hipertrofi tonsil pada pasien yang
mengalami obstructive sleep apnea.
● Kulit: rash intertriginosa akibat gesekan kulit, akne, hirsutisme, acanthosis nigricans,
dan skin tag.
● Dada: membusung dengan payudara
membesar, singkirkan kardiomegali dan insufisiensi respirasi (wheezing dapat ditemukan terkait asma,
sindrom hipoventilasi obesitas).
● Abdomen: perut membuncit disertai
dinding perut yang berlipat-lipat, bedakan striae distensae dengan striae
berwarna pink yang luas akibat kelebihan kortisol, singkirkan kemungkinan
hepatomegali terkait non-alcoholic
steatohepatitis, evaluasi penyebab nyeri abdomen terkait gangguan refluks
esofagus, penyakit kandung empedu, non-alcoholic fatty
liver disease/NAFLD.
● Sistem reproduksi: evaluasi ciri
seksual sekunder, mikropenis anak (penis dapat berukuran normal yang terpendam
dalam lemak suprapubik).
● Ekstremitas: evaluasi deformitas
sendi, osteoarthritis, abnormalitas gait.
● Indeks Massa Tubuh
Indeks Massa Tubuh (IMT) mudah
digunakan dan dapat mengidentifikasi individu yang memiliki kemungkinan overweight atau obesitas, namun
pemeriksaan ini masih belum sempurna sebagai penanda adipositas karena tidak
mampu membedakan massa otot dan lemak.
● Lingkar Pinggang
Lingkar pinggang serta rasio lingkar
perut terhadap lingkar pinggul (waist to
hip ratio/WHR), sebagai penanda obesitas sentral, dinilai memiliki korelasi
lebih baik dengan tampilan klinis, serta dapat digunakan sebagai prediktor
mortalitas dan morbiditas dibandingkan dengan IMT. International Diabetes Federation menetapkan cut-off lingkar pinggang ≥ 90 cm pada pria dan ≥ 80 cm pada wanita untuk
wilayah Asia Selatan, Cina, dan Jepang.
6. Penatalaksanaan
● Gaya hidup
Pola makan yang mengandung gizi seimbang
disertai dengan aktivitas fisik seperti olahraga yang teratur dapat membantu
pencegahan terjadinya obesitas. Mengurangi asupan kalori dan lemak melalui
peraturan diet ditambah aktivitas fisik merupakan pilar utama dalam
penatalaksanaan obesitas. Perubahan gaya hidup menjadi sasaran lain yang harus
dicapai pasien. Gaya hidup sehat yang diterapkan untuk mengatasi obesitas ini
harus terus dijalankan sehingga obesitas dapat dicegah agar tidak terulang
kembali di masa yang akan datang. Pasien perlu melakukan pengawasan mandiri
terhadap kebiasaan makan dan aktivitas fisik, manajemen stres, pemecahan
masalah berkaitan dengan gaya hidup, serta dukungan sosial (Tanto et al.,
2014).
● Terapi farmakologis
Obat-obatan farmakologis dapat
digunakan untuk menurunkan nafsu makan, mengurangi asupan kalori, serta
menghambat reseptor cannabinoid-1 yang diduga berperan dalam beberapa aspek
metabolisme manusia termasuk obesitas. Beberapa obat yang digunakan yaitu
sibutramin HCL (Meridia), orlistat (xenical), dan rimonabant (acomplia) (Brunner and Suddarth, 2013).
● Terapi bedah
1) Bedah bariatrik (untuk obesitas
morbid) mencakup prosedur restriksi lambung seperti pintas lambung dan
gastroplasty yang diikat secara vertikal (dilakukan melalui laparoskopi atau
teknik pembedahan terbuka).
2) Pembentukan kontur tubuh setelah
penurunan berat badan mencakup lipoplasty untuk menghilangkan deposit lemak
atau panikulektomi untuk menghilangkan kelebihan lipatan kulit abdomen.
(Brunner
and Suddarth, 2013)
7. Pemeriksaan Penunjang
● Darah perifer lengkap
● Profil lipid: trigliserida,
kolesterol total, HDL (High-density lipoprotein) dan LDL (Low-density
lipoprotein)
● Tes toleransi glukosa oral, insulin
puasa
● Fungsi hati: SGPT (Serum glutamic
pyruvic transaminase), SGOT (Serum glutamic oxaloacetic transaminase).
● Fungsi ginjal: ureum, kreatinin,
asam urat
8. Komplikasi
● Diabetes Mellitus
Orang gemuk dengan BMI diatas 25,
tiap peningkatan BMI 1 angka mempunyai kecenderungan menjadi kencing manis
sebesar 25%. Dengan bertambahnya ukuran lingkaran perut dan panggul, terutama
pada obesitas tipe sentral atau android, menimbulkan resistensi insulin, suatu
keadaan yang menyebabkan insulin tubuh tidak dapat bekerja dengan baik, maka
terjadilah kencing manis.
● Hipertensi
Tekanan darah tinggi atau di atas
140/90 mmHg, terdapat pada lebih dari sepertiga orang obesitas. Gagal Jantung
Sekalipun tanpa tekanan darah yang tinggi, obesitas sendiri sudah dapat
mengakibatkan kelemahan otot jantung atau cardiomyopathy, sehingga mengganggu
daya pompa jantung.
● Stroke
Seiring dengan meningkatnya tekanan
darah, gula dan lemak darah, maka orang obesitas sangat mudah terserang stroke.
● Gagal Nafas
Akibat kegemukan menyebabkan
kesukaran bernafas terutama pada waktu tidur malam (sleep apnea), keadaan yang
berat dapat menimbulkan penurunan kesadaran sampai koma.
● Nyeri Sendi
Osteoarthritis biasanya terjadi pada
obesitas, nyeri sendi umumnya pada sendi-sendi besar penyanggah berat badan,
misalnya lutut dan kaki. Pengapuran dan bengkak sendi akan bertambah dengan
bertambahnya usia atau memasuki masa menopause.
● Batu Empedu
Pada obesitas dengan BMI diatas 30
didapatkan kecenderungan timbul batu empedu dua kali lipat dibandingkan orang
normal; pada obesitas dengan BMI lebih dari 45, ditemukan angka 7 kali lipat.
● Psikososial
Masalah obesitas bukan semata-mata
masalah medis, tetapi juga menimbulkan banyak persoalan psikososial, si gemuk
sukar mendapatkan pekerjaan yang baik, termasuk hubungan sosial, keluarga,
dalam hal berteman, umumnya mengalami hambatan yang berdampak pada kepribadian
dan kejiwaan seseorang. Depresi, reaksi cemas, atau stres, banyak didapatkan
pada orang gemuk, terutama kaum wanita.
● Kanker
Laporan terbaru WHO memperkirakan
obesitas dan hidup yang santai bertanggung jawab atas timbulnya kanker
payudara, usus besar, endometrium, ginjal, dan esofagus obesitas dengan risiko
timbulnya kanker pankreas, rahim, prostat, dan indung telur.
● Angka Kematian Meningkat
Penelitian dari Framingham Heart
Study di Amerika Serikat menemukan bahwa pria maupun wanita dengan usia lebih
dari 40 tahun dan berat badan berlebihan atau BMI lebih dari 30, diperkirakan
umurnya 7 tahun lebih pendek daripada orang dengan berat badan normal
- Pembahasan
1. Kasus
Ny.A (35
tahun) bekerja sebagai desainer terkenal di butik ternama di Purwokerto. Pada
saat dilakukan anamnesa kepada Ny.A, Ny.A mengatakan berat badannya terus
bertambah karena dirinya tidak memiliki waktu luang untuk berolahraga di tengah
padatnya deadline pekerjaan. Ny. A juga merasa jenuh dan stress akan
pekerjaannya sehingga melampiaskannya kepada makanan,dengan porsi makan berat
sebanyak 4 kali sehari ditambah camilan disela-sela kesibukannya dan sebelum
tidur.
Pada saat
dilakukan inspeksi Ny. A tampak sedikit kesulitan dalam berjalan dan berpindah
posisi dari duduk menjadi berdiri sehingga memerlukan pegangan untuk menopang
tubuhnya. Ny.A juga mengatakan bahwa berat badan tubuhnya sebenarnya cukup
mengganggu dan membuatnya malu. Ny.A saat ditanya mengenai keluhan-keluhannya
ia mengatakan bahwa nafasnya sering ngos-ngosan pada saat berjalan jauh dan
menaiki tangga serta pada saat tidur juga mendengkur. Ny.A juga mengaku bahwa
ia memiliki riwayat penyakit hipertensi yang merupakan keturunan dari ayahnya.
Pada saat
dilakukan pemeriksaan TTV didapatkan data: TD: 150/100 mmHg, N: RR: 32x/menit
,Suhu: 36°C dan pengkajian antropometri didapatkan data: TB: 158 cm BB: 110 Kg,
BMT: 44,1.
2. Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
1)
Identitas Diri
Nama
: Ny. A
Usia : 35 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Desainer
Alamat : Purwokerto
2)
Keluhan Utama
Saat ditanya mengenai
keluhan-keluhannya Ny. A mengatakan bahwa nafasnya sering ngos-ngosan pada saat
berjalan jauh dan menaiki tangga serta pada saat tidur juga mendengkur.
3)
Riwayat Penyakit Sekarang
Ny.A
memiliki penyakit hipertensi. Selain itu Ny.A juga mengatakan bahwa
berat badan tubuhnya sebenarnya cukup mengganggu.
4)
Riwayat Penyakit Dahulu
Ny.A memiliki riwayat penyakit
hipertensi
5)
Riwayat Penyakit Keluarga
Ayah kandung dari Ny.A juga mengidap
penyakit hipertensi
6)
Riwayat Psikososial
Ny.A saat di anamnesa mengatakan
bahwa ia juga sebenarnya malu akan bentuk tubuhnya dan berat badanya yang
semakin bertambah akan tetapi dirinya tidak memiliki waktu luang untuk
berolahraga di tengah padatnya deadline pekerjaan. Ny A juga merasa jenuh dan
stress akan pekerjaannya sehingga melampiaskannya kepada makanan.
b. Pemeriksaan Fisik
● B1 (Breathing)
RR: 32x/menit frekuensi pernafasan
dapat meningkat karena penimbunan lemak yang berlebihan di bawah diafragma dan
di dalam dinding dada sehingga timbul gangguan pernafasan dan sesak nafas.
Gangguan napas juga bisa terjadi pada saat tidur sehingga dapat menyebabkan
terhentinya pernafasan untuk sementara waktu (sleep apnea) meskipun hanya
melakukan aktivitas ringan.
● B2 (Blood)
TD 150/100 mmHg. Konsumsi makanan
berlemak dan tinggi kolesterol dapat membuat kondisi hiperlipidemia dan
menyebabkan penebalan pada dinding vaskular. Aliran darah menjadi tidak lancar
menyebabkan tekanan darah menjadi naik.
● B3 (Brain)
Normal
● B4 (Bladder)
Penderita morbid obesitas beresiko
menderita inkontinensia urin atau dapat mengalami penyakit komorbiditas ginjal.
● B5 (Bowel)
Inkontinensia fekal juga resiko
keadaan yang dapat terjadi, hal ini diakibatkan karena ada tekanan dari
pembesaran abdomen pada usus besar yang nantinya akan menekan pada sfingter.
Asites atau cairan pada abdomen dapat juga menjadi masalah karena pada pasien
morbid obesitas mengalami hipertensi portal karena tekanann pada pembuluh darah
di abdomen.
● B6 (Bone)
Ny.G sedikit kesulitan dalam
berjalan terkadang pada saat posisi duduk dan akan berdiri Ny.G tampak
kesulitan. Kesulitan dalam menggerakkan tubuh dapat membuat penderita morbid
obesitas cenderung malas untuk bergerak sehingga lambat laun akan mengalami
kelemahan otot, tulang dapat menjadi rapuh dan beresiko mengalami patah tulang.
c. Analisa Data
|
No |
Data |
Etiologi |
Masalah |
|
1. |
DS : 1. Klien mengatakan bahwa napasnya
sering ngos-ngosan pada saat berjalan jauh dan menaiki tangga. 2. Klien mengeluh mempunyai kebiasaan
mendengkur saat tidur. DO : 1. RR = 32X/menit |
Obesitas |
Pola
napas tidak efektif |
|
2. |
DS : 1. Klien mengatakan berat badannya
terus bertambah. DO : 1. BB = 110 Kg 2. TB = 158 Kg |
Gangguan kebiasaan makan |
Obesitas |
d. Diagnosa Keperawatan
1) Pola napas tidak efektif (D.0005)
berhubungan dengan obesitas dibuktikan dengan klien mengatakan bahwa nafasnya
sering ngos-ngosan pada saat berjalan dan menaiki tangga serta mendengkur pada
saat tidur, dan RR=32x/menit.
2) Obesitas (D.0030) berhubungan dengan
gangguan kebiasaan makan dibuktikan dengan klien mengatakan berat badannya
terus bertambah, BB=110 Kg dan TB=158 Kg.
e. Perencanaan Keperawatan
|
Diagnosa |
Tujuan |
Rencana Intervensi |
|
Pola nafas tidak efektif
berhubungan dengan obesitas yang dibuktikan dengan klien mengatakan bahwa
nafasnya sering ngos-ngosan pada saat berjalan jauh dan menaiki tangga, klien
mengeluh mempunyai kebiasaan mendengkur saat tidur, dan RR = 32x/menit (PPNI, 2016) |
Setelah dilakukan intervensi
keperawatan selama 1x24 jam maka diharapkan tingkat efektivitas pola nafas
meningkat, dengan kriteria hasil : 1) Ngos-ngosan/dispnea saat bernapas
menurun 2) Frekuensi nafas membaik (PPNI,
2018b) |
Manajemen Jalan Nafas Observasi -
Monitor pola nafas (frekuensi, kedalaman, usaha nafas) -
Monitor bunyi nafas tambahan -
Monitor sputum (jumlah, warna, aroma) Terapeutik -
Posisikan semi-fowler atau fowler -
Berikan minum hangat -
Lakukan fisioterapi dada, -
Berikan oksigen, jika perlu Edukasi -
Anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak
berkontradiksi -
Ajarkan teknik batuk efektif Kolaborasi -
Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran,
mukolitik, jika perlu Pemantauan Respirasi Observasi -
Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan upaya nafas -
Monitor pola nafas -
Monitor kemampuan batuk efektif -
Monitor adanya sumbatan jalan nafas -
Palpasi kesimetrisan ekspansi paru -
Auskultasi bunyi nafas Terapeutik -
Atur interval pemantauan respirasi sesuai kondisi pasien -
Dokumentasi hasil pemantauan Edukasi -
Jelaskan tujuan pemantauan dan prosedur pemantauan -
Informasikan hasil pemantauan, jika perlu (PPNI,
2018) |
|
Obesitas berhubungan dengan
gangguan kebiasaan makan yang dibuktikan dengan klien mengatakan berat
badannya terus bertambah, BB = 110 Kg, dan TB = 158 Kg (PPNI,
2016) |
Setelah dilakukan intervensi
keperawatan selama 2x24 jam maka diharapkan tingkat obesitas mulai menurun,
dengan kriteria hasil :
(PPNI,
2018b) |
Edukasi Berat Badan Efektif Observasi: -
Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi Terapeutik -
Sediakan materi dan media edukasi -
Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan -
Beri kesempatan pada keluarga untuk bertanya Edukasi -
Jelaskan hubungan asupan makanan, latihan, peningkatan,
dan penurunan berat badan -
Jelaskan kondisi medis yang dapat mempengaruhi berat badan -
Jelaskan risiko kondisi kegemukan dan kurus -
Jelaskan kebiasaan, tradisi dan budaya serta faktor
genetik yang mempengaruhi berat badan -
Ajarkan cara mengelola berat badan secara efektif Manajemen Berat Badan Observasi: -
Identifikasi kondisi kesehatan pasien yang mempengaruhi
berat badan Terapeutik -
Hitung berat badan ideal pasien -
Hitung persentase lemak dan otot pasien -
Fasilitasi menentukan target berat badan yang realistis Edukasi -
Jelaskan hubungan antara asupan makanan, aktivitas fisik,
penambahan berat badan dan penurunan berat badan -
Jelaskan faktor risiko berat badan berlebih dan berkurang -
Anjurkan mencatat berat badan setiap minggu, jika perlu -
Anjurkan melakukan pencatatan asupan makan, aktivitas
fisik, dan perubahan berat badan (PPNI,
2018) |
Bab 3. Penutup
Kesimpulan
Pengalaman yang dimiliki seseorang
mengenai obesitas, baik dari segi pemahaman umum maupun asuhan keperawatan
dapat dibagikan kepada masyarakat umum maupun perawat. Pengalaman tersebut
dapat dibagikan dengan berbagai cara, salah satunya dengan membagikan blog yang
berisi materi-materi tentang obesitas dan asuhan keperawatan yang diberikan
kepada pasien dewasa dengan gangguan obesitas. Dengan adanya blog tersebut maka
akan meningkatkan pemahaman pembaca mengenai penyakit obesitas pada orang
dewasa.
Referensi
Brunner and Suddarth (2013) Keperawatan Medikal Bedah.
12th edn. Jakara: EGC.
Eslita, Lilis Rohani dan Ali Rosidi (2018)
Hubungan Antara Tingkat Pendidikan dan Pekerjaan dengan Obesitas pada Wanita
Dewasa, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali. Undergraduate thesis, Universitas
Muhammadiyah Semarang.
Kemenkes RI. t.t. Epidemi Obesitas.
PPNI (2016) Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Indikator Diagnostik. 1st edn. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI (2018a) Standar Intervensi Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Tindakan Keperawatan. Jakarta: DPP PPNI.
PPNI (2018b) Standar Luaran Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan. Jakarta: DPP PPNI.
Pujiastuti, Peni. t.t. Obesitas dan Penyakit Periodontal. Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas
Jember.
Sofa, Ira Maya (2018)
Kejadian Obesitas, Obesitas Sentral, dan Kelebihan Lemak Viseral pada Lansia
Wanita.
Tanto, C. et
al. (eds) (2014) Kapita Selekta Kedokteran. IV. Jakarta: Media
Aesculapius.

Comments
Post a Comment