ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN COVID-19
Laporan Diskusi
Manajemen Keperawatan dalam Penanganan Pasien Covid-19
Kelompok
4
1. Magista Ade Damayanti I1B02000 6
2. Putri Handoyo I1B020007
3. Khoirunnisa Zinifara I1B020009
4. Hervinda Yasfa Imaniar I1B0200 10
5. Riska Nurhidayani I1B020011
Program Studi Sarjana Keperawatan Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan
Universitas Jenderal Soedirma n
BAB I
A.
Latar Belakang
Virus Corona ( CoV) merupakan virus yang dapat menginfeksi burung, mamalia, termasuk manusia. Sifat virus ini adalah zoonosis , yang artinya dapat menular antara hewan dan manusia. Menurut WHO virus ini menyebabkan penyakit mulai dari flu ringan sampai infeksi pernapasan. Pada akhir tahun 2019 di Kota Wuhan, Cina ditemukan jenis corona baru yang disebut Covid-19. Covid-19 ini menyebabkan berbagai komplikasi penyakit seperti gangguan saluran pernapasan dam organ-organ lain yang dapat menyebabkan kematian. Sejak awal kemunculan Covid-19 terus menyebar ke berbagai negara termasuk Indonesia.Peningkatan kasus Covid-19 terus meningkat membuat pemerintah berupaya menekan laju penyebaran Covid-19 dengan berbagai macamnya seperti menjaga jarak fisik, bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah dari rumah. Selain ITU different bauan Mengenai gaya Hidup Sehat, Menjaga kebersihan, Olahraga, Menjaga Stres Dan Istirahat Yang Cukup, Hingga 15 September 2021 , Pemerintah Republik Indonesia Telah melaporkan 4.178.164 orangutan terkonfirmasi positif Covid-19 Dan ADA 139.682 Kematian (CFR: 3,3%) Berlangganan Covid-19 Yang dilaporkan Dan 3.953.519 Pasien Telah Sembuh Dari penyakit tersebut (Kemenkes) .
Segala upaya terus dilakukan untuk mematikan rantai virus Covid - 19, segala usaha dilakukan untuk mencegah dan mengobati orang yang terpapar Covid-19. Upaya pencegahan Covid 19 dengan lima tingkat pencegahan seperti promosi kesehatan dengan cara penyuluhan, bina suasana, advokasi; perlindungan khusus dengan cara masker, handsanitaizer dan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, melindungi diri untuk tetap berada di rumah, diagnosis dini dengan skrining rapid test dan PCR (Handayani WR, 2020 ). Penderita yang terinfeksi Covid-19 biasanya mengalami beberapa gejala atau manifestasi seperti pernapasan akut, demam, kelelahan, batuk, anoreksia, malaise, nyeri tenggorokan, sakit kepala, dan sesak napas.Pasien dalam proses penyembuhannya perlu melakukan isolasi dari aktivitas sosialnya, isolasi ini bias dilakukan secara mandiri maupun di rumah sakit.
B.
Tujuan
A. Tujuan Umum :
Menganalisis data pengkajian yang diperlukan dalam sebuah formulir.
B. Tujuan Khusus :
1. Mengetahui Tingkat gejala yang dialami Oleh Penderita Covid-19
2. Mengetahui Pemeriksaan Penujang Yang dilakukan ditunjukan kepada Penderita Covid-19
3. Mengetahui Proses mobilisasi berpengaruh PADA penularan Covid-19
4. Pengetahuan Pencegahan Yang dilakukan agar terhindar dari Covid-19
5. Data Mengetahui Membentuk Yang Diberikan PADA Keluarga Bapak Soiman l
6. Pengetahuan Asupan Apa yang Perlu
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Gambaran Umum Covid-19
Covid-19 atau yang dikenal dengan virus corona merupakan penyakit menular yang menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan manusia. Tidak hanya manusia, tetapi juga dapat menyebabkan penyakit pada hewan. Virus ini pertama kali ditemukan di kota Wuhan pada bulan Desember 2019 dan menular dengan sangat cepat hingga menyebar ke semua Negara termasuk Indonesia. Tidak hanya menyebabkan infeksi ringan, virus ini juga dapat menyebabkan infeksi berat seperti pneumonia. Sampai saat ini terdapat 7 jenis coronavirus yang telah diidentifikasi, yaitu HCoV-229E, HCoV-OC43, HCoV-NL63, HCoV-HKU1, SARS-COV (menyebabkan sinrom pernafasan akut), MERS-COV (sindrom pernafasan Timur Tengah) dan Covid- 19.
Virus covid-19 ketika menular melalui partikel kecil yang keluar dari orang yang terkena covid-19 batuk, bersin, berbicara, bernafas atau lainnya. Virus ini juga dapat menyebar melalui permukaan benda yang terkontaminasi karena virus lebih mudah menyebar di dalam ruangan dan di tempat ramai. Selain itu, Penularannya juga bisa ditularkan melalui kontak jarak dekat dengan penderita covid-19 tanpa menggunakan masker. Menurut Central of Disease Control (CDC) dan World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa covid-19 dapat menular melalui aerosol (partikel zat di udara).
Covid-19 diawali dengan interaksi protein spike virus dengan sel manusia. Setelah memasuki sel, encoding genome akan terjadi dan memberikan fasilitas kepada ekspresi gen untuk membantu adaptasi virus SARS-CoV-2 (Severe Acute Resiratory Syndrome Virus Corona 2) pada inang. Virus-virus yang dikeluarkan akan menginfeksi sel organ organ seperti ginjal, hati, usus dan limfosit T serta traktus respiratorius di bawah sehingga menyebabkan gejala pada pasien.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan AS (CDC), penderita covid-19 memiliki berbagai gejala, mulai dari gejala ringan hingga parah. Gejala yang mungkin dialami nyeri oleh penderita covid-19 adalah rasa dan sakit, hidung terumbat, sakit kepala, konjungtivitas, sakit tenggorokan, diare, kehilangan indera rasa atau penciuman, ruam pada kulit atau perubahan warna jari tangan atau kaki. Achmad Yurianto mengatakan bahwa covid-19 meyerang sepanjang saluran pernafasan mulai dari rongga hidung, mulut, paru-paru, sampai ke gelembung paru-paru. Biasanya virus ini tumbuh di sepanjang dinding saluran pernafasan.
B. Pembahasan
Untuk mempertimbangkan kasus yang sudah ada, maka diperlukan anamnesa lebih lanjut untuk mengetahui riwayat dan diagnosa yang tepat untuk mengatasi permasalahan pada kasus, dengan memeriksa beberapa aspek pada:
1. gejala
Setiap orang memiliki respon yang berbeda terhadap covid-19. Orang yang terpapar virus covid-19 pada umumnya akan mengalami gejala ringan, sedang, hingga berat yang rata-rata akan muncul pada 5-6 hingga 14 hari setelah seseorang pertama kali terinfeksi virus, dan akan pulih tanpa perlu perawatan intensif di rumah sakit (WHO , 2020).
A.
Gejala Umum
·
Demam
·
Batuku
·
Kelelahan
B. Gejala Sedikit Tidak Umum
·
Rasa tidak nyaman dan nyeri
·
nyeri pada tenggorokan
·
Diare
·
Mata merah (konjungtivitis)
·
Sakit kepala
·
Hilangnya indera perasa dan penciuman
·
Ruam pada kulit
· Perubahan warna pada jari tangan atau jari kaki
C.
Gejala Serius
·
Sesak nafas
·
nyeri dada
· Hilangnya kemampuan berbicara atau bergerak
2. Pemeriksaan Penunjang
Menurut WHO, tes swab menggunakan metode polymerase chain reaction (PCR) lebih direkomendasikan untuk diagnosa covid-19. Namun, rapid test juga memiliki peran penting dalam deteksi dini penularan virus di masyarakat. Dari deteksi dini, tim petugas penanganan covid-19 dapat menentukan langkah selanjutnya untuk mencegah menualaran yang lebih luas.
A.
Pemeriksaan RT-PCR (Swab Test) SARS COV-2
Real-Time Revere Transcriptase Polimerase Chain Reaction
(RT-PCR) merupakan pemeriksaan yang dilakukan untuk mendeteksi materi genetik virus. Pemeriksaan PCR dapat dilakukan dengan menggunakan sampel swab nasofaring (melalui hidung) dan swab orofaring (melalui tenggorokan). Alat yang digunakan dalam pemeriksaan ini menggunakan swab khusus yang digunakan untuk pemeriksaan PCR yang dimasukkan ke dalam tabung penampung (viral transport media/VTM).
Metode PCR terdiri dari beberapa tahap yaitu proses pembukaan dan penggandaan materi genetik virus sehingga dapat dideteksi dengan alat. Pemeriksaan ini dilakukan dengan peralatan PCR yang sesuai dengan standar Biosafety Level 2. Faktor yang berpengaruh pada pemeriksaan PCR yaitu pengambilan sampel, transportasi sampel, dan proses pengerjaan sampel. Proses pengerjaan sampel dalam mengeluarkan hasil tes dapat memakan waktu yang cukup lama dibandingkan pemeriksaan laboratorium lainnya (Meilinda, 2020).
B.
Pemeriksaan Serologis (Rapid Test)
Rapid test lebih berperan sebagai awal dari kasus positif covid-19. Hasil rapid test tidak dapat dijadikan penopang diagnosa pasien covid-19, karena pemeriksaan serologi ini hanya bertujuan untuk melihat ada atau tidaknya sistem kekebalan tubuh yang muncul sebagai respon terhadap masuknya virus. Jika akan ditegakkannya suatu diagnosa, maka diperlukannya tes berulang agar hasilnya maksimal. Pemeriksaan serologi ini dapat dilakukan dengan mengambil sampel darah dari ujung jari lalu diperiksa menggunakan alat rapid test untuk melihat sistem kekebalan tubuh dan hasilnya bisa diketahui dalam hitungan menit hingga jam sejak pengambilan sampel (Meilinda, 2020).
C.
CT-Scan Thoraks
Pemeriksaan utama yang memiliki peran penting dalam mendiagnosis kondisi klinis, pengamatan efek pengobatan, dan evaluasi prognostik covid-19 dengan mengidentifikasi lesi pada paru-paru pasien covid-19. Sehingga pemeriksaan CT-Scan Thoraks dapat membantu penegakan diagnosis dan dapat mengetahui gambar CT-Scan Thoraks pada pasien(Andansari dkk ., 2020).
3. Riwayat mobilisasi
Menurut Mubarak dkk, (2015:307). Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas, mudah, dan teratur yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehat. Seseorang yang dikatakan covid-19 sebagian orang adalah dengan riwayat mobilitas dan kontak erat dengan penderita positif covid-19. COVID-19 paling utama ditransmisikan oleh tetesan aerosol penderita dan melalui kontak langsung. Aerosol kemungkinan ditransmisikan ketika orang memiliki kontak langsung dengan penderita dalam jangka waktu yang terlalu lama. Konsentrasi aerosol di ruang yang relatif tertutup akan semakin tinggi sehingga penyebarannya akan semakin mudah.
Seseorang Yang
melakukan Kontak Fisik
ATAU berada hati ruangan
ATAU berkunjung (hati radius 1
meter yang Yang Yang Yang Yang Yang Yang DENGAN KASUS
Pasien hati Pengawasan, probabel
ATAU Konfirmasi) hati
2 hari SEBELUM KASUS
Timbul gejala Dan Hingga
14 hari Penghasilan kena Pajak KASUS Timbul gejala. Kontak fisik dengan pasien penderita dapat terjadi apabila petugas kesehatan yang memeriksa, merawat, mengantardan
membersihkan ruangan di
tempat perawatan kasus
tanpa menggunakan APD sesuai standar, orang yang berada dalam satu ruangan
yang sama dengan kasus,
orang yang bergerak bersama (radius 1 meter) dengan segala jenis alat angkut dalam 2 hari sebelum timbul gejala hingga 14 hari setelah timbul gejala.
Dikutip dari Kompas.com, Ketua Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI RS Persahabatan, Dokter Agus Dwi Susanto, menjelaskan bahwa laporan BNPB menemukan cukup banyak anggota keluarga yang menularkan virus ini setelah kejadian ke luar rumah. Peneliti menemukan, orang yang paling mungkin menularkan Covid-19 kepada orang lain adalah kerabat atau pasangan yang tidak tinggal serumah:
A. Orang dewasa mungkin menyebarkan virus
Tinggal serumah mungkin tinggi menularkan Covid-19 kepada anggota keluarga, tetapi yang paling rentan adalah pasangan suami istri. Interaksi yang intens, tidur di ruangan yang sama, serta paparan langsung, menjadi penyebab.
B. Tidak menularkan virus kepada anak
Secara keseluruhan, para peneliti melihat 16,6 persen dari orang dengan Covid-19 dalam studi menularkan virus ke anggota keluarga mereka yang tinggal serumah. Namun, hanya 16,8 pasien positif Covid-19 yang menularkan virus kepada anak-anak.
C. Orang yang menyebarkan virus
Studi juga mengungkap, orang dengan gejala berisiko menularkan virus ke anggota keluarga yang tinggal serumah sebesar 18 persen. Sedangkan orang tanpa gejala hanya berisiko 0,7 persen untuk menyebarkan virus.
D. Berisiko tertular dari orang yang tinggal serumah
Di saat berada di luar, kita cenderung menjaga diri dari paparan virus dengan menerapkan protokol ketat seperti menjaga, memakai masker dan cuci tangan. Namun, tingkat kewaspadaan kita akan berkurang saat kita di rumah. Sebuah studi yang dilakukan Centers of Disease Control and Prevention (CDC) mengungkap, 53 persen orang yang tinggal dengan kerabat yang terinfeksi Covid-19 tertular virus tersebut dalam tujuh hari.
Selain dari klaster keluarga covid-19 juga mungkin menular dari klaster kerja yang berasal dari pemukiman atau bahkan dalam perjalanan menuju kantor. Area perkantoran biasanya sebagai klaster yang rawan karena budaya saling percaya antar teman sehingga rendah dalam peneapan protokol kesehatan. Oleh karena itu, perlu adanya penerapan budaya interaksi yang berbeda di era kebiasaan baru masa pandemi covid19 ini. Dimasa pandemi sekarang ini kita tidak boleh ragu terhadap orang yang sering kontak atau kantor, karena semua area kerja mungkin menularkan. Untuk itu kita harus selalu waspada akan lingkungan kerja kita.
4.
pencegahan
A. Olahraga
Olahraga di tengah pandemi Covid-19 tidak dilakukan. Bahkan seharusnya olahraga meningkatkan digitalkan untuk menjaga kebugaran tubuh. Tubuh yang bugar dan sehat akan lebih sulit dimasuki virus karena daya tahan tubuh yang lebih kuat. Dibarengi dengan kedisiplinan menerapkan protokol kesehatan, olahraga dapat memberikan manfaat besar bagi setiap orang. Olahraga dengan intensitas sedang akan meningkatkan aktivitas anti-patogenik dan sirkulasi makrofag, imunoglobulin dan anti-inflamasi sitokin, sehingga mengurangi beban patogen dan kerusakan pada paru. Selama olahraga rutin, terjadi penurunan respons peradangan dan stres hormon, serta peningkatan limfosit, sel NK, sel B imatur dan monosit, sehingga mencegah infeksi, termasuk Covid-19. Olahraga rutin dengan intensitas sedang akan memicu pertukaran sel darah putih antara sistem peredaran darah dan jaringan sehingga mengurangi morbiditas dan mortalitas (angka kematian) akibat infeksi pernapasan akut.
B. Konsumsi vitamin C
Vitamin C merupakan zat gizi mikro yang berperan penting bagi manusia. Antioksidan kuat ini penting untuk produksi kolagen dan kartinin yang meningkatkan peningkatan dan kekebalan tubuh. Bahkan vitamin C juga berperan sebagai agen antimikroba yang dapat melawan berbagai mikroorganisme penyebab infeksi. Dengan demikan konsumsi vitamin C dapat meningkatkan daya tahan tubuh kita agar terhindar dari covid-19.
C. Berjemur
Salah satu
cara yang dianggap
paling mudah dan
praktis adalah dengan bertumpu.
Meski sinar matahari
tidak dapat membunuh
virus Covid-19, aktivitas memiliki manfaat yang tidak sedikit bagi kesehatan. Sinar matahari pagi, terutama sebelum
pukul 10.00 pagi,
memang memiliki banyak manfaat untuk
kesehatan. Ketika terserap
oleh kulit, sinar
ultraviolet pada cahaya
matahari akan membangkitkan tubuh untuk menghasilkan vitamin D (Wacker and Holick, 2013). Vitamin D yang diproduksi oleh tubuh dari proses penemuan di bawah sinar matahari memiliki banyak manfaat
bagi kesehatan (Lucas et al.,
2018). Vitamin D
dapat meningkatkan kadar
kalsium dan fosfor dalam tubuh, menjaga fungsi otot dan saraf, serta meningkatkan daya tahan atau sistem kekebalan tubuh
dalam melawan infeksi (González Maglio,
Paz and Leoni,
2016; Alodokter, 2020).
D. Perilaku hidup bersih dan sehat
Kesehatan merupakan kebutuhan yang sangat berharga, jika seseorang tidak sehat maka segala aktivitas yang dilakukan akan mengalami gangguan. Untuk menjadi sehat harus dengaan perilaku yang sehat. Perilaku hidup sehat adalah segala aktivitas, baik yang dapat diamati maupun yang tidak dapat diamati, yang berkaitan dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan (Kriswanto, Prasetyawati Tri PS, Meikahani, & Suharjana, 2019). bersih dan sehat menggabungkan dasar-dasar seperti kebersihan diri dan lingkungan, tingkat asupan makanan sehat, dan partisipasi dasar dalam aktivitas fisik yang pasti (Giles, 2011). Pastinya hidup bersih dan sehat juga lebih diperhatikan dan dilaksanakan. Kebiasaan yang mengarah pada upaya pencegahan harus benar-benar dilakukan bila tidak ingin terpapar covid-19.
5. Kasus
Perawat merupakan perawat yang mencatat di Puskesmas Kaliaja, yang mendapat laporan bahwa keluarga pak Soiman sedang menjalani isolasi mandiri karena pak Soiman kontak erat dengan salah satu rekan kerja yang positif Covid-19. Perawat Flo melakukan kunjungan rumah untuk mendata keluarga pak Soiman yang membuka 5 orang. Ketika perwat Flo melakukan kunjungan didapati data keluarga pak Soiman dinyatakan positif Covid-19 kecuali anak yang terakhir. Keluarga yang positif Covid-19 mengeluh demam tinggi dan tidak bisa mencium bau, dengan TTV: suhu 39°C, TD 130/80 dan respirasi 25x/menit sehingga harus dilakukan isolasi mandiri. Selain itu, mereka juga mengalami batuk dan pilek yang membuat mereka kesulitan bernapas.Keluarga merasa cemas, takut, panik dan tidak bisa menerima keadaan bahwa mereka terkonfirmasi virus covid-19.
6.
Kuesioner
|
No. |
Nama |
Tempat Tanggal Lahir |
Jenis Kelamin |
alamat |
Golongan Darah |
Status |
Riwayat Penyakit |
gejala |
|
1.
|
Putri Handoyo |
Banyumas, 22 November 1985 |
Laki-laki |
Jalan Mangga Besar No.21, RT 06 RW 03, |
AB |
suami |
tidak ada |
1. anosmia total (indra penciuman dan perasa) |
|
2. |
Khoirunnisa Zinifara |
Banyumas, 22 Desember 1985 |
perempuan |
Jalan Mangga Besar No.21, RT 06 RW 03, |
A |
Istri |
tidak ada |
1. anosmia total (indra penciuman dan perasa) |
|
3.
|
Magista Ade Damayanti |
Banyumas, 27 Juli 2000 |
perempuan |
Jalan Mangga Besar No.21, RT 06 RW 03, |
A |
Anak ke-1 |
tidak ada |
1. anosmia total (indra penciuman dan perasa) |
|
4.
|
Hervinda Yasfa Imaniar |
Banyumas, 24 Juni 2005 |
perempuan |
Jalan Mangga Besar No.21, RT 06 RW 03, |
B |
Anak ke-2 |
tidak ada |
1. batu 2. pilek 3. demam (37 C) |
|
5.
|
Riska Nurhidayani |
Banyumas 30 pasar 2008 |
perempuan |
Jalan Mangga Besar No.21, RT 06 RW 03, |
B |
Anak ke-3 |
tidak ada |
1. batuk |
|
Aktivitas Isoman |
Kontak dengan pak Soiman |
Kebutuham Sehari-hari |
Tes Swab / PCR |
Masa Isoman |
Masyarakat dan Saudara |
|
1. Berjemur di halaman rumah pada pagi hari |
sudah |
tercukupi |
Belum |
6 hari |
ya |
|
1. Berjemur |
sudah |
tercukupi |
Belum |
3 hari |
ya |
|
1. Berjemur |
sudah |
tercukupi |
Belum |
7 hari |
tidak tahu |
|
1. Berjemur |
sudah |
tercukupi |
Belum |
4 hari |
ya |
|
1. Olahraga |
sudah |
tercukupi |
Belum |
5 hari |
tidak |
7.
Asuhan Keperawatan
Pada pasien yang terpapar virus Covid-19 memiliki gejala utama yaitu demam, batuk, dan sesak. Tetapi reaksi setiap orang bisa berbeda, ada yang gejala ringan da nada juga yang memiliki gejala berat. Gejala ini akan muncul pada 2-14 hari setelah seseorang terinfeksi virus Covid-19.
A. Pengkajian
Perawat perlu melakukan pengkajian sebelum membuat diagnosis, pengkajian yang dilakukan berupa riwayat perjalanan dan pemeriksaan fisik jika pasien mengalami demam, batuk, sesak, dan melakukan perjalanan ke negara atau daerah yang telah ditemukan kasus Covid-19 maka pasien harus mandiri selama 14 hari.
|
Diagnosa |
Tujuan |
Intervensi |
Kriteria hasil |
|
1. Infeksi bd kegagalan untuk menghindari patogen akibat Covid-19 : -
Pasien mengeluh sempat demam lalu normal dan demam kembali MELAKUKAN : -
Suhu Pasien 39 C
|
-
mencegah penyebaran infeksi dan mempelajari lebih lanjut tentang penyakit serta penatalaksanaannya - |
Pantau tanda vital -
Memantau suhu pasien -
monitor napas -
Pantau saturasi oksigen pasien Pertahankan isolasi pernapasan -
tisu di samping tempat tidur pasien -
Membuang rahasia dengan benar -
menginstruksikan pasien untuk memakai masker dan menerapkan etika batuk -
membatasi kunjungan dan menyarankan kepada pengunjung pasien untuk tetap memakai masker dan menerapkan prokes
|
-
pasien mampu mencegah penyebaran infeksi -
pasien belajar lebih banyak terkait dengan penyakit dan penatalaksanaanya
|
|
2.
Hipertemia bd peningkatan laju metabolisme : -
Pasien merasa demam beberapa hari terakhir MELAKUKAN : -
Suhu Pasien 39 C
|
Suhu tubuh pasien kembali normal
|
Kelola hipertermia -
menggunakan terapi yang tepat untuk suhu tinggi untuk mempertahankan normotermia dan mengurangi kebutuhan metabolisme |
-
suhu tubuh pasien menurun -
pasien dapat mengontrol suhu tubuhnya |
|
3.
Pola napas tidak efektif bd sesak napas : -
Pasien berbatuk
MELAKUKAN : -
Pasien batuk dan
|
Frekuensi napas kembali normal dan dapat dikontrol normal
|
Memonitor pola napas -
Posisikan pasien semiflower -
Beri minuman hangat -
Beri oksigen jika perlu |
-
Pernapasan pasien normal -
Pasien tidak mengalami sesak saat bernafas |
|
4.
Kecemasan bd kurangnya informasi dan pengetahuan tentang Covid-19 : -
Pasien merasa cemas, takut , p ani k , dan tidak bisa menerima dirinya positif Covid-19 MELAKUKAN : -
pasien ketakutan dengan raut wajah yang panik
|
menurun |
pendidikan -
Menyediakan informasi penyebaran, pengujian diagnostik, proses, komplikasi, dan perlindungan dari virus. |
-
Kecemasan berkurang -
Pasien dapat menerima dirinya sendiri sebagai seorang yang positif Covid-19
|
|
5. Anosmia bd kerusakan pada saraf ( indra penciuman dan indra rasa) |
Indra penciuman dan indra rasa pasien kembali normal |
- Mengedukasi untuk mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi,
- Melatih penciuman aroma serta
- Melatih merasakan makanan dengan rasa tajam |
-
Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan indera perasa dan penciuman pasien kembali normal |
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Virus corona atau yang dikenal dengan covid-19 menyebabkan infeksi pada saluran pernafasan. Penyebaran covid-19 meningkat dengan begitu cepat sehingga pemerintah berupaya untuk menekan laju penyebaran covid-19 dengan berbagai cara seperti menghimbau masyarakat untuk menjaga jarak, menjaga kebersihan, olahraga dan masih banyak lagi. Umunya penderita yang terinfeksi covid-19 akan mengalami beberapa gejala, berupa gejala ringan sedang hingga gejala berat yang akan terjadi pada 5-6 hari setelah seseorang terinfeksi virus ini. Biasanya untuk mengetahui seseorang terkena virus atau tidak, bisa dilakukan dengan pemeriksaan RT-PCR (swab test) dan pemeriksaan rapid test. Dalam proses penyembuhan covid-19, penderita perlu melakukan isolasi mandiri dari aktivitas sosialnya.Isolasi ini bisa dilakukan secara mandiri ataupun di rumah sakit. Selain itu,
bisa mengetahui jauh Anda mengetahui tentang Covid-19?
Yuk Coba Quiznya: https://bit.ly/E-KuesionerCovid-19
REFERENSI
Andansari, N., Restuningdyah, P., Amalia, E., & Amalia, E. (2020). Pemeriksaan CT-SCAN Thorax Pada Kasus Covid-19 di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Jurnal Pengandian Magister Pendidikan IPA , 3 (1), 1-4. https://doi.org/10.29303/jpmpi.v3i1.447
Buheli, KL, Usman, L., Ischak, WI, & Tomayahu, M. (2020). Peningkatan Daya Tahan Tubuh Melalui Hidup Bersih Sehat, Konsumsi Vitamin C Serta Madu Dalam Pencegahan COVID-19 Di Desa Yosonegoro. Dalam Prosiding Seminar Nasional Unimus (Vol. 3).
Hidayani, WR (2020). Faktor Faktor Risiko Yang Berhubungan Dengan COVID 19: Tinjauan Pustaka. Jurnal Untuk Masyarakat Sehat (JUKMAS) , 4 (2), 120-134.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Situasi Terkini Perkembangan Coronavirus Disease (Covid-19) 16 September 2021, infeksiemerging, https://infeksiemerging.kemkes.go.id/situasi-infeksi-emerging/situasi-terkini-perkembangan-coronavirus-disease- covid -19-16-september-2021 dapat diakses pada 19 September 2021.
Meilinda, Regina A. (2020). Jenis Pemeriksaan Untuk Diagnosis Covid-19. https://primayahospital.com/covid-19/jenis-pemeriksaan-untuk-diagnosis-covid-19/. RS Primaya. Diakses pada 18 September 2021.
Morfi, CW, Junaidi, A., Elsesmita, E., Asrini, DN, Lestari, DM, Medison, I., ... & Yani, FF (2020). Kajian terkini Coronavirus 2019 (COVID-19). Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia , 1 (1).
Syougie, S., Widianto, E., Afian, F., & Anditiarina, D. (2020). POTENSI PENULARAN COVID-19 DI DALAM KABIN PESAWAT KOMERSIL. JURNAL KEDOKTERAN , 6 (1), 77-85.
Sunardi, J., & Kriswanto, ES (2020). Perilaku hidup bersih dan sehat mahasiswa pendidikan olahraga Universitas Negeri Yogyakarta saat pandemi Covid-19. Jurnal Pendidikan Jasmani Indonesia , 16 (2), 156-167.
Yunianto, AE, Elya, E., Ningsih, WIF, Yuliantini, E., Haya, M., Faridi, A., & Eliza, E. (2020). Kebiasaan Cuci Tangan, Berjemur, Dan Media Informasi Pada Masyarakat Sumatera Selatan Selama Masa Pandemi Covid-19. Jurnal Media Kesehatan , 13 (2), 59-66.

Comments
Post a Comment