ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN CA MAMMAE
Laporan Diskusi
Asuhan
Keperawatan Pada Pasien Dengan Ca Mammae
Kelompok 1 Alih
Jenjang
1.
Nailis Sangadah Fiddaraini NIM I1F020001
2.
Siwi Kurniasari NIM I1F020002
3.
Ian Rizky Vandani NIM I1F020003
4.
Agata Sekar Rumaras NIM I1F020004
5.
Mutmainah NIM I1F020005
6.
Agus Dwi Putra Setiawan NIM I1F020006
Program Studi Sarjana Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan
Universitas
Jenderal Soedirman
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar
Belakang
Kanker merupakan jenis tumor ganas yang hingga saat ini menjadi pembunuh
nomor dua setelah kanker paru-paru (Solehati dkk, 2020). Kanker cenderung
meningkat dari waktu ke waktu. WHO (2012 dalam Komite Penanggulangan Kanker
Nasional, 2019) memperkirakan tahun 2030 akan ada 26 juta orang yang akan
menderita kanker dan 17 juta diantaranya diperkirakan akan meninggal.
Prevalensi kanker di Indonesia tercatat 1,4 per 1000 penduduk (Riskesdas, 2013
dalam Komite Penanggulangan Kanker Nasional, 2019).ca mammae merupakan
keganasan pada jaringan payudara yang dapat berasal dari epitel duktus maupun
lobusnya. ca mammae merupakan salah satu jenis kanker terbanyak di Indonesia.
Saat ini, hampir sebagian penyakit ca mammae ditemukan pada stadium lanjut,
sehingga angka kesembuhan dan angka harapan hidup pasien ca mammae belum
seperti yang diharapkan meskipun tatalaksana kanker telah berkembang pesat.
Menurut Septadina, Kesuma, Handayani, Suciati dan Liana (2015) kesadaran dan
pengetahuan masyarakat tentang kanker termasuk faktor-faktor risiko dan upaya
pencegahannya masih kurang. Sebanyak 90-95% faktor risiko terkena ca mammae
berhubungan dengan perilaku dan lingkungan. Karena itu perlu adanya suatu
gerakan bersama, menyeluruh dan berkesinambungan untuk meningkatkan kepedulian
masyarakat terhadap ca mammae. Estimasi insiden ca mammae di Indonesia adalah
36 kejadian per 100.000 perempuan. Sedangkan jumlah kunjungan pasien kanker di
RSUD Margono Soekarjo Purwokerto dalam 3 bulan terakhir (Januari-Maret 2021).
Sehingga perlu adanya kesadaran dari masyarakat untuk melakukan deteksi dini
untuk mencegah terjadinya insiden ca mammae untuk meningkatkan harapan hidup
perempuan di Indonesia.
- Tujuan
Tujuan makalah ini antara lain :
1. Mengetahui
konsep teori dari ca mammae
2. Mengetahui
asuhan keperawatan ca mammae
3. Mengetahui
penatalaksanaan kasus ca mammae
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
- Overview Kasus
Terdapat pasien Ny. A usia 28th datang ke poli rsms untuk dilakukan biopsi.
Pasien mengeluh nyeri pada payudara sebelah kanan karena adanya luka yang
bernanah dan mengeluarkan darah serta berbau. Pasien mengatakan rasa nyerinya
seperti ditusuk-tusuk dengan skala nyeri 7, nyeri dirasa hilang timbul dan
bertambah saat beraktivitas dan berkurang saat istirahat. Pasien mengatakan
sudah menjalani pengobatan herbal selama 2 tahun akan tetapi hasilnya payudara
belum sembuh, tetapi malah tambah membesar. Hasil pemeriksaan benjolan
berdiameter kira-kira 10 cm. Pasien tampak menyeringai dan menahan nyeri.
Pasien juga mengeluh tidak nafsu makan, makan hanya menghabiskan 2 sendok
makan. Pasien tampak lemas, pucat, anemis, berat badan pasien turun 5kg. Pasien
juga mengatakan cemas karena akan menjalani biopsi, pasien terlihat gelisah dan
selalu bertanya-tanya tentang tindakan yang akan dilakukan. Pasien tampak
tegang. Hasil pemeriksaan laborat di dapatkan Hb 8,2 g/d, Leukosit 12.000mcL.
Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan tekanan darah 120/82 mmHg, suhu
37,2oC, nadi 110 x/menit, respirasi 24 x/menit. BB saat ini 38 kg, TB 152 cm.
- Pembahasan
1.
Konsep Teori Ca Mammae
a)
Pengertian
ca mammae
adalah keganasan pada payudara yang berasal dari sel kelenjar, saluran kelenjar,
serta jaringan penunjang payudara, namun tidak termasuk kulit payudara. Sel
kanker dapat timbul apabila telah terjadi mutasi genetik sebagai akibat dari
adanya kerusakan DNA pada sel normal (Azmi, Kurniawan, Siswandi, Detty, 2020)
b)
Tanda dan gejala
Tanda dan
gejala yang khas pada ca mammae menurut Irianto (2015) adalah sebagai berikut:
1)
Adanya retraksi/inversi nipple
2)
Keluarnya cairan dari puting susu
3)
ca mammae yang sudah lanjut mudah
dikenali dengan kriteria operbilitas Heagensen
4)
Adanya nodul satelit
5)
Kulit terfiksasi pada dinding thorax
6)
Perubahan pada kulit payudara atau
puting susu
c)
Penyebab
Menurut
Suryaningsih dan Sukaca (2009) dalam Dewi & Hendrati (2015) penyebab ca
mammae belum diketahui secara pasti namun bersifat multifaktorial atau banyak
faktor diantaranya:
1)
Kelemahan genetik pada sel tubuh
sehingga mempermudah timbulnya sel kanker
2)
Iritasi dan inflamasi kronis
3)
Radiasi sinar matahari dan sinar-x
4)
Senyawa kimia
5)
Makanan yang bersifat karsinogenik,
misalnya makanan yang kaya karbohidrat yang diolah dengan digoreng, ikan asin,
dan sebagainya.
d)
Faktor resiko
Adapun faktor
resiko terjadinya ca mammae menurut Azmi, Kurniawan, Siswandi, Detty (2020)
adalah :
1)
Usia diatas 50 tahun
2)
Adanya riwayat ca mammae pada keluarga
3)
Obesitas
4)
Kebiasaan merokok
5)
Konsumsi alkohol
6)
Pemakaian alat kontrasepsi hormonal
dalam jangka waktu yang lama
7)
Paparan radiasi
8)
Tidak pernah melahirkan atau melahirkan
pertama kali pada usia lebih dari 35 tahun
9)
Tidak menyusui
e)
Patofisiologi
ca mammae berasal dari jaringan epitelium dan paling sering terjadi hiperplasia
sel-sel dengan perkembangan sel-sel atipik. Sel-sel ini berlanjut menjadi
karsinoma insitu dan menginvasi stroma. Kanker membutuhkan waktu 7 tahun untuk
bertumbuh dari sebuah sel tunggal sampai menjadi massa yang cukup besar untuk
dapat teraba (diameter 1 cm). Pada ukuran tersebut, kira-kira seperempat dari
ca mammae telah bermetastasis. Karsinoma payudara 95% merupakan karsinoma yang
berasal dari epitel saluran dan kelenjar payudara. Karsinoma muncul sebagai
akibat sel sel yang abnormal terbentuk pada payudara dengan kecepatan tidak
terkontrol dan tidak beraturan. Penyebaran tumor terjadi melalui pembuluh getah
bening, deposit dan tumbuh di kelenjar getah bening sehingga kelenjar getah
bening aksila ataupun supraklavikular membesar.Pertumbuhan dimulai di dalam
duktus atau kelenjar lobulus yang disebut karsinoma non invasif. Kemudian tumor
menerobos keluar dinding duktus atau kelenjar di daerah lobulus dan invasi ke
dalam stroma , yang dikenal dengan nama karsinoma invasif, Pada pertumbuhan
selanjutnya tumor meluas menuju fasia otot pektoralis atau daerah kulit yang
menimbulkan 19 perlengketan-perlengketan. Pada kondisi demikian tumor
dikategorikan stadium lanjut inoperable. kemudian melalui pembuluh darah, tumor
menyebar ke organ jauh antara lain paru, hati, tulang dan otak. Payudara
ditemukan benjolan di ketiak atau di kelenjar getah bening lainnya. Bahkan
muncul pula kanker pada liver dan paru-paru sebagai kanker metastasisnya.
f) Pathway
g)
Stadium kanker
Stadium kanker menurut Pudiastuti
(2011) antara lain :
1)
Stadium 0 : kanker in situ dimana del
kanker berada pada tempatnya didalam jaringan payudara normal
2)
Stadium I : tumor dengan garis tengah
kurang 2 cm dan belum menyebar ke luar payudara
3)
Stadium IIA : tumor dengan garis tengah
2-5 cm dan belum menyebar ke kelenjar getah bening ketiak atau tumor dengan
garis tengah kurang 2 cm tetapi sudah menyebar ke kelenjar getah bening ketiak.
4)
Stadium IIB : tumor dengan garis tengah
lebih besar dari 5 cm dan belum menyebar ke kelenjar getah bening ketiak atau
tumor dengan garis tengah 2- 5 cm tetapi sudah menyebar ke kelenjar getah
bening ketiak
5) Stadium III A:
tumor dengan garis tengah kurang dari 5 cm dan sudah menyebar ke kelenjar getah
bening ketiak disertai perlengketan satu sama lain atau perlengketan ke
struktur lainnya atau tumor dengan garis tengah lebih dari dari 5 cm dan sudah
menyebar ke kelenjar getah bening ketiak.
6) Stadium IIIB :
Tumor telah menyusup keluar payudara yaitu kedalam kulit payudara atau ke dinding
dada atau telah menyebar ke kelenjar getah bening di dalam dinding dada dan
tulang dada.
7) Stadium IV :
tumor telah menyebar keluar daerah payudara dan dinding dada misalnya ke hati,
tulang atau paru-paru.
h)
Pemeriksaan Penunjang
Terdapat beberapa pemeriksaan penunjang untuk dilakukan diagnostik, antara
lain :
1)
Mammografi
Mammografi
dapat mendeteksi tumor-tumor yang secara palpasi teraba, jadi sangat baik untuk
diagnosis dini dan screening.
2)
Ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ini
hanya dapat membedakan lesi solid dan kistik. Pemeriksaan lain dapat
dibedakan termografi dan xerografi
(Reksoprodjo dkk, 2010).
i)
Pengobatan
Pengobatan ca
mammae dengan cara pengobatan lokal dan regional, meliputi :
1)
Operasi
Pembedahan pada
pasien ca mammae tergantung pada tahapan penyakit, jenis tumor, umur dan
kondisi kesehatan secara umum.
2)
Pengangkatan kelenjar getah bening
3)
Radiotherapy
Penggunaan
sinar berenergi tinggi setelah operasi mengurangi kekambuhan 50-75%.
Sedangkan
pengobatan sistemik, meliputi :
1)
Hormonal
2)
Tamoksifen
Obat ini
bekerja langsung terhadap reseptor estrogen yang terdapat pada sel kanker
sehingga dapat mengecilkan kanker 30%.
3)
Goserelin
Sekitar 40%
wanita premenopause dengan estrogen reseptor positif atau dengan metastatik
berespon terhadap goserelin.
4)
Kemoterapi
Penggunaan obat
anti kanker, melalui injeksi atau infus ataupun oral.
2. Asuhan Keperawatan Ca Mammae
a)
Pengkajian
1)
Identitas klien
Nama : Ny. A
Umur : 28 tahun
TTL : Jakarta, 29 Februari 1993
Alamat : Kedungbanteng, RT 07/ RW 10
No. RM : 08652xxxx
Diagnosa medis : Ca Mammae
2)
Identitas penanggung jawab
Orang yang
terdekat dengan pasien
3)
Riwayat kesehatan sekarang
Klien masuk ke
poli dengan keluhan nyeri pada payudara sebelah kanan karena adanya luka yang
bernanah dan mengeluarkan darah serta berbau. Pasien mengatakan rasa nyerinya
seperti ditusuk-tusuk dengan skala nyeri 7, nyeri dirasa hilang timbul dan
bertambah saat beraktivitas dan berkurang saat istirahat, klien tampak
lemas,pucat,gelisah dan tegang. Pada pemeriksaan fisik didapatkan TTV TD 120/82
mmHg, Nadi 110X/menit, Rr 24x/menit, Suhu 37, BB saat ini 38kg sebelumnya 42kg,
TB 152cm, sedangkan pada pemeriksaan mata sklera tampak anemis, raut muka
tampak menahan nyeri, pada pemeriksaan dada terdapat luka pada payudara kanan.
4)
Riwayat kesehatan dahulu
Klien
mengatakan sudah 2 tahun menjalani terapi herbal, tetapi tidak sembuh malah
tambah membesar.
5)
Riwayat kesehatan keluarga
Klien
mengatakan keluarganya tidak ada yang menderita penyakit seperti ini
6)
Pemeriksaan penunjang
Hb : 8,2 g/d
Leukosit : 12.000 mcL
b) Analisa Data
|
No |
Data Fokus |
Etiologi |
Masalah Keperawatan |
|
1 |
DS : Pasien
mengeluh nyeri pada payudara sebelah kanan P : Nyeri
saat beraktivitas Q : Seperti
tertusuk-tusuk R : Nyeri
pada payudara sebelah kanan S : Skala
nyeri 7 T : Nyeri
hilang timbul
DO : Pasien tampak
menyeringai dan menahan nyeri |
Agens pencedera |
Nyeri kronis |
|
2 |
DS : Pasien
mengeluh tidak nafsu makan, makan hanya menghabiskan 2 sendok makan DO : Pasien tampak
lemas, pucat, anemis, BB saat ini 38 kg (berat badan pasien turun 5 kg) |
Penurunan nafsu makan |
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh |
|
3 |
DS : Pasien
mengatakan cemas karena akan menjalani biopsi, pasien terlihat gelisah dan
selalu bertanya-tanya tentang tindakan yang akan dilakukan DO : Pasien tampak
tegang dan gelisah, nadi 110 x/menit, RR 24 x/menit |
Krisis situasi (tindakan biopsi) |
Ansietas |
c)
Diagnosa Keperawatan
1)
Nyeri kronis berhubungan dengan agens
pencedera
2) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan nafsu makan
3)
Ansietas berhubungan dengan krisis
situasi (tindakan biopsi)
d) Intervensi Keperawata
|
No |
DX |
Tujuan |
Intervensi |
|||||||||||||||
|
1. |
Nyeri kronis
b.d agens pencedera |
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan nyeri klien
berkurang dengan kriteria hasil : NOC : Kontrol
nyeri (1605)
Keterangan : 1 = Sangat
terganggu 2 = Banyak
terganggu 3 = Cukup
terganggu 4 = Sedikit
terganggu 5 = Tidak
terganggu |
NIC:
Manajemen Nyeri (1400) Observasi 1.
Lakukan pengkajian secara menyeluruh 2.
Observasi respon verbal Nursing
Intervensi 1.
Monitor tanda-tanda vital 2.
Kendalikan faktor lingkungan Edukasi 1.
Edukasi untuk tingkatkan istirahat 2.
Ajarkan teknik Non-Farmakologi (relaksasi) Collaboration 1.
Kolaborasi pemberian analgetik |
|||||||||||||||
|
2. |
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d penurunan nafsu makan |
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi
klien dapat terpenuhi dengan kriteria hasil : NOC : Nafsu
makan (1014)
Keterangan : 1 = Sangat
terganggu 2 = Banyak
terganggu 3 = Cukup
terganggu 4 = Sedikit
terganggu 5 = Tidak
terganggu |
NIC :
Manajemen Nutrisi (1100) Observation : 1.
Identifikasi adanya alergi atau intoleransi makanan
yang dimiliki Nursing
Intervensi : 1.
Berikan pilihan makanan sambil menawarkan bimbingan
terhadap pilihan (makanan) yang lebih sehat, jika diperlukan 2.
Pastikan makanan disajikan dengan cara yang menarik dan
pada suhu yang paling cocok untuk konsumsi secara optimal 3.
Tawarkan makanan yang ringan yang padat gizi Education : 1.
Anjurkan keluarga untuk membawa makanan favorit
sementara (pasien) berada di rumah sakit Collaboration
: 1.
Beri obat-obatan sebelum makan (misalnya penghilang
rasa sakit, antiemetik) |
|||||||||||||||
|
3. |
Ansietas b.d
krisis situasi (tindakan biopsi) |
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan cemas klien dapat
teratasi dengan kriteria hasil : NOC : Tingkat
kecemasan (1211)
Keterangan : 1 = Berat 2 = Cukup
berat 3 = Ringan 4 = Sedang 5 = Tidak ada |
NIC:
Pengurangan Kecemasan (5820) Observasi 1.
Kaji tanda verbal dan non verbal kecemasan Nursing Intervensi 1.
Lakukan usapan pada punggung/ leher dengan cara yang
tepat 2.
Kontrol stimulasi untuk kebutuhan klien secara tepat Edukasi 1.
Instruksikan klien untuk menggunakan teknik relaksasi 2.
Anjurkan klien untuk melakukan terapi musik Kolaborasi 1.
Atur penggunaan obat-obatan untuk mengurangi kecemasan
secara tepat |
3. Integrasi Teori dengan Penelitian yang Relevan
a.
Nurlina,
Syam. Y, dan Saleh. A. (2021). Terapi Musik Efektif Terhadap Penurunan
Kecemasan pada Pasien Kanker. Jurnal Keperawatan Silampari, Volume 4 No 2, pp
634-642.
Berdasarkan penelitian Nurlina, et
all (2021). Terapi musik merupakan intervensi keperawatan , dimana musik
dijadikan sebagai media untuk aktifitas terapetik dengan tujuan untuk
memelihara, memperbaiki, serta mengembangkan kesehatan mental, kesehatan emosi
dan kesehatan fisik pasien kanker sehingga mempunyai keefektifan terhadap
penurunan kecemasan pada pasien kanker. Musik memiliki efek psikologis, fisik,
sosial dan spiritual yang dapat meningkatkan dukungan pada perawatan pasien
kanker dengan meningkatkan mood dan meningkatkan kualitas hidup sehingga dapat
diaplikasikan dalam pemberian intervensi keperawatan untuk menurunkan tingkat
kecemasan.
Hasil penelitian ini membuktikan
bahwa intervensi terapi musik efektif mengurangi rasa sakit dan kecemasan pada
pasien pasien kanker yang menjalani tindakan kemoterapi. Penelitian ini
menggunakan study double blind, RCT, dimana bertujuan untuk melihat efektifitas
terapi musik terhadap pengurangan kecemasan dan depresi dari pasien kanker
payudara yang akan menjalani tindakan kemoterapi. Terapi ini diberikan selama
24 minggu, setiap sesi terdiri dari 30 menit. Penelitian ini terdiri dari 60
pasien yang direkrut secara acak, yang terdiri dari 30 pasien dimasukkan dalam
kelompok intervensi sedangkan 30 lainnya dimasukkan dalam kelompok control.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi terapi musik menunjukkan dampak
terhadap penurunan kecemasan (p<5). Efektifitas penurunan kecemasan pada
pasien kanker terlihat lebih baik pada minggu ke 6. Sehingga terapi musik ini
dapat direkomendasikan sebagai intervensi untuk menurunkan kecemasan pasien
kanker yang akan menjalani tindakan kemoterapi (Çelebi et al., 2020)
Kecemasan
pada pasien kanker merupakan gangguan psikologi yang disebabkan karena pasien
menghadapi ketidakpastian, kekhawatiran tentang efek pengobatan kanker, takut
akan perkembangan kanker yang mengakibatkan kematian, dalam beberapa situasi
mereka merasa marah, takut sedih dan tertekan serta seringkali mengalami
perubahan suasana hati (Baqutayan, 2019). Pasien kanker dengan kondisi
kecemasan kronis yang ditandai dengan kurangnya minat, suasana hati terkadang
tidak menentu, disertai hilangnya kesenangan secara terus menerus perlu upaya
penanganan agar bisa berfungsi secara normal (Roddis & Tanner, 2020).
Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa terapi musik efektif terhadap penurunan kecemasan pasien kanker, hal ini dibuktikan dari penelitian Rossetti et al., (2017) guide imagery and music memiliki efek, psikologis, fisik, sosial dan spiritual yang dapat meningkatkan dukungan pada perawatan pasien kanker. terapi musik mampu meningkatkan mood dan meningkatkan kualitas hidup pasien kanker. Sebuah literature menjelaskan bahwa terapi musik mampu menstabilkan denyut jantung, laju pernafasan dan juga menstabilkan tekanan darah penderita (Nuwa & Kiik, 2020; Wang et al., 2018). Terapi musik sebagai salah satu terapi komplementer yang dapat diaplikasikan dalam pemberian intervensi keperawatan di Rumah sakit untuk menurunkan kecemasan penderita kanker.
b. Solehati, et all (2020),
Penatalaksanaan Keperawatan Pasien Kanker Payudara : Sistematik Review. Jurnal
Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Volume 10 No 1, pp 71-82.
Berdasarkan
penelitian Solehati, et all (2020). Penatalaksanaan yang dilakukan untuk pasien
kanker payudara dalam menurunkan gejala psikologis (kecemasan, depresi) terdiri
dari latihan baduanjin, self-care toolkit(SCT), Mind Body Skills Groups
(MBSGs), Terapi musik dan perawatan suportif.
Intervensi
keperawatan menurunkan kecemasan yaitu menggunakan SCT dan badjuanjin.
Badjuanjin dilakukan 3hari/ minggu di RS dan 4hari/ minggu dirumah selama 6
bulan. Setelah 6 bulan pelaksanaan, variabilitas denyut jantung dan rentang
bahu meningkat secara signifikan. Intervensi MGDSGs dilakukan 2 jam selama 2
minggu, terapi ini dapat menurunkan kecemasan, stres, dan kelelahan, terapi ini
berguna untuk menurunkan kadar hormon koristol dan sitokin IL-6 Level setelah
penatalaksanaan selama 6 minggu, intervensi selanjutnya yaitu Terapi Musik,
terapi ini dilakukan 5x/ minggu dan dilakukan selama 5 bulan. Tujuanya yaitu
untuk meningkatka ketenangan.
Intervensi
untuk mengurangi nyeri pasien kanker payudara yaitu menggunakan yoga. Latihan
yoga dilakukan selama 1jam selama 10 minggu. Intervensi untuk menurunkan
kelelahan yaitu menggunakan Mind Body Skills Groups. Mind Body Skills Groups
(MBSGs) dilakukan 2 jam selama 9 minggu Intervensi ini dilakukan oleh terapis
yang terlatih. Intervensi untuk menurunkan gejala menopause yaitu diberikan
propolis. Propolis diberikan selama siklus kemoterapi pertama, dimulai pada
hari setelah menerima kemoterapi, dan berlangsung selama 15 hari. Pasien
menerima pembilasan mulut dengan natrium bikarbonat 3x sehari plus tablet dari
ekstrak propolis kering yang dibagi menjadi 2-3 kali / hari di antara waktu
makan. Profolis efektif untuk menurunkan gejala menipous pada kanker payudara.
Intervensi untuk mengatasi mual dengan aroma terapi minyak atsiri jahe. Aroma
terapi minyak atsiri jahe. Aroma terapi dihirup dalam-dalam 3x sehari selama 3
periode durasi 2 menit. Intervensi ini efektif dalam menurunkan mual setealh
kemoterapi. Intervensi untuk meningkatkan kualitas hidup dapat dilakukan dengan
perawatan suportif dan hidroterapi dilakukan selama 3 minggu.
c. Pujianto dan Zainuddin (2019). Penerapan Terapi Musik Klasik Dalam MEnurunkan Nyeri pada pasien Ca Mammae Literature Review, Vol 4 No 2, hal 74-120
Berdasarkan
penelitian Pujianto dan Zainuddin (2019) bahwa terapi yang dapat menurunkan
intensitas nyeri yaitu dengan terapi farmakologi dan non farmakologi. Untuk
menurunkan nyeri secara farmakologi meliputi analgesik dengan penggunaan
opioid. Opioid berfungsi untuk penghilang rasa sakit yang bekerja dengan
reseptor opioid di dalam sel tubuh, obat ini dibuat dengan tanaman opium
seperti morfin. Dengan efek samping seperti memperlambat pernafasan dan detak
jantung (Rahayuwati et al, 2018). Sedangkan untuk terapi non farmakologi adalah
dengan terapi musik. Terapi musik adalah suatu bentuk terapi dibidang
kesehatan yang menggunakan musik dan aktivitas musik
untuk mengatasi masalah dalam berbagai aspek
fisik, psikologis, kognitif dan
kebutuhan sosial individu yang mengalami cacat fisik. Tujuan terapi musik untuk
membantu mengekspresikan perasaan, memberi pengaruh positif terhadap kondisi
suasana hati dan emosi. Efek yang ditimbulkan dapat menurunkan nyeri dan
membuat relaksasi.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Ca mammae merupakan keganasan pada jaringan payudara yang dapat berasal
dari epitel duktus maupun lobusnya. Ca mammae merupakan salah satu jenis kanker
terbanyak di Indonesia. Diagnosa keperawatan yang sering muncul pada pasien ca
mammae adalah nyeri kronis, ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh dan ansietas. Ketiga diagnosa keperawatan tersebut dapat diatasi dengan
intervensi keperawatan yang menggunakan NOC dan NIC.
DAFTAR PUSTAKA
Azmi, A. N., Kurniawan, B., Siswandi, A., & Detty, A. U. (2020). Hubungan Faktor Keturunan Dengan Kanker Payudara DI RSUD Abdoel Moeloek. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada, 12(2), 702–707. https://doi.org/10.35816/jiskh.v12i2.373
Komite Penanggulangan Kanker Nasional. (2019). Panduan Penatalaksanaan
Kanker Payudara (Breast Cancer Treatment Guideline). Jurnal Kesehatan Masyarakat, 4(4), 1–50. http://kanker.kemkes.go.id/guidelines/PPKPayudara.pdf
Nurlina, Syam. Y, dan Saleh. A. (2021). Terapi Musik Efektif Terhadap Penurunan Kecemasan pada Pasien Kanker. Jurnal Keperawatan Silampari, Volume 4 No 2, pp 634-642.
Pujianto dan Zainuddin (2019). Penerapan Terapi Musik Klasik Dalam MEnurunkan Nyeri pada pasien Ca Mammae Literature Review, Vol 4 No 2, hal 74-120
Reksoprodjo dkk. (2010). Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Ciputat Tangerang : EGC.
Septadina, I. S., Kesuma, H., Handayani, D., Suciati, T., & Liana, P. (2014). Upaya Pencegahan Kanker Serviks Melalui Peningkatan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Wanita Dan Pemeriksaan Metode Iva ( Inspeksi Visual Asam Asetat ) Di Wilayah Kerja Puskesmas. Upaya Pencegahan Kanker Serviks Melalui Peningkatan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Wanita Dan Pemeriksaan Metode Iva ( Inspeksi Visual Asam Asetat) Di Wilayah Kerja Puskesmas, 222–228.
Solehati dkk (2020). Penatalaksanaan Keperawatan Pada Pasien Kanker Payudara : Sistematika Review. Jurnal Ilmiah Permas : Jurnal Ilmiah Stikes Kendal, Vol. 10, No. 1, Hal 71-82
Setelah membaca
materi diatas mohon untuk mengisi google form dibawah ini sebagai bahan
evaluasi bagi pembaca dan penulis
https://bit.ly/EvaluasiCaMammae


Comments
Post a Comment