Hipertensi

 Laporan Diskusi

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Gangguan Hipertensi

 

    

      



 


Kelompok 3 :

1. Aziza Rahma Dwianti         I1B020042

2. Happy Anggeraeni Zuhri     I1B020043

3. Ardini Putri Purwitasari       I1B020044

4. Titin Murniati                      I1B020045

5. Kinanthy Handayani             I1B020046


    

 

Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan

Universitas Jenderal Soedirman

 

 

 

Bab 1

Pendahuluan

A. Latar Belakang

Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia baik negara maju maupun negara berkembang. Lebih dari separuh atau sekitar 600 juta penderita, tersebar di negara berkembang, termasuk Indonesia. Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg. Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi dalam dua golongan, yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Prevelensi hipertensi di Indonesia tergolong tinggi, namun kebanyakan dari penderitanya tidak terdeteksi.

Dalam World Health Statistik tahun 2012, WHO melaporkan bahwa sekitar 51% dari kematian akibat stroke dan 45% dari penyakit jantung koroner disebabkan oleh hipertensi. Diperkirakan bahwa sekitar 25% dari populasi orang dewasa di dunia mengalami hipertensi, dan akan cenderung meningkat 29% pada tahun 2025.

Hipertensi merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan mengendalikan faktor pemicu yang sebagian besar merupakan faktor perilaku dan kebiasaan hidup. Apabila seseorang mau menerapkan gaya hidup sehat, maka kemungkinan besar akan terhindar dari hipertensi. Jika melihat dari banyaknya kasus hipertensi, dapat diketahui bahwa sebagian besar masyarakat belum menerapkan perilaku dan kebiasaan hidup yang tepat dan sehat. Oleh  karena itu, pengetahuan tentang penyakit hipertensi harus bisa dikaji lebh lanjut.

B. Tujuan

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dibuat tujuan sebagai berikut :

1. Untuk memahami penyakit hipertensi

2. Untuk mengetahui asuhan keperawatan dari penyakit hipertensi

C.  Manfaat

1. Dapat memahami penyakit hipertensi

2. Agar dapat mengetahui asuhan keperawatan dari penyakit hipertensi

 

Bab II

Isi

A. Overview Kasus

Ny X yang berumur 51 tahun melakukan pemeriksaan ke salah satu RS di Purwokerto dengan klien mengeluh nyeri kepala bagian belakang lebih tepatnya pada bagian tengkuk, pusing, dan kesulitan untuk tertidur. Sebelumnya, klien mengatakan belum pernah menderita penyakit kronis selain penyakit hipertensi dan belum pernah melakukan operasi apapun. Kondisi sekarang badannya terlihat lemas, skala nyeri yang dirasakan pasien mencapai skala 7, ekspresi wajah klien tampak kesakitan. Pasien terlihat cemas karena nyeri yang tidak kunjung sembuh dan merasa takut, karena rasa pusing di kepalanya sangat sakit. Diketahui dalam kesehariannya Ny. X sering mengkonsumsi makanan fastfood dan jarang melakukan oalahraga. Saat dilakukan pemeriksaan TTV di dapatkan data TD: 180/140 mmHg, N: 95 x/menit, S: 36C, RR: 20 x/menit.

B. Pembahasan

1. Pengertian Hipertensi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg. Menurut Chris Tanto, dkk (2016) berdasarkan etiologinya, hipertensi diklafikasikan menjadi:

1. Hipertensi primer/esensial (Insidens 80-95%) yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya.

2. Hipertensi sekunder yaitu akibat suatu penyakit atau kelainan mendasari. seperti stenosis arteri renalis, penyakit perenklim ginjal, freonkomositoma, hiperaldosteronisme, dan sebagainya. Faktor Resiko hipertensi yang tidak dapat dimodifikasi yaitu Umur, Jenis kelamin, Riwayat keluarga (genetik). Sedangkan faktor resiko hipertensi yang dapat dimodifikasi yaitu kegemukan (obesitas), merokok, dan kurang aktifitas fisik.

2Gejala dan Manifestasi Klinis Hipertensi

Gejala penyakit hipertensi yaitu:

1. Pusing/sakit kepala

2. Mata kabur

3. Rasa berat pada tengkuk.

Menurut Elizabeth J. Corwin sebagian besar manefistasi klinis terjadi setelah mengalami hipertensi bertahun-tahun, dan berupa:

1. Sakit kepala saat terjaga, kadang-kadang disertai mual dan muntah, akibat peningkatan tekanan darah intrakranium.

2. Penglihatan kabur akibat kerusakan hipertensif pada retina.

3. Cara berjalan yang tidak mantap karena kerusakan susunan saraf pusat.

4. Nokturia yang disebabkan peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerulus.

5. Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler.

3. Patofisiologi Hipertensi

Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin I converting enzym (ACE).  ACE memegang peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah. Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi hati. Selanjutnya oleh hormon, renin (diproduksi oleh ginjal) akan diubahmenjadi angiotensin I. Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama.

Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH) dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari) dan bekerja pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Dengan meningkatnya ADH, sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis), sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya.  Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler. Akibatnya, volume darah meningkat yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan darah.

Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting pada ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi NaCl (garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkankembali dengan cara meningkatkan volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume dan tekanan darah.


 

4. Komplikasi Hipertensi

Komplikasi yang dapat timbul apabila hipertensi tidak ditangani antaralain yaitu:

a. Apabila mengenai bagian otak maka akan mengalami stroke. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri-arteri yang mendarahi otak mengalami hipertropi atau penebalan, sehingga aliran darah ke daerah-daerah yang diperdarahinya akan berkurang.

b. Kardiovaskular: infark miokard, gagal jantung

c. Ginjal: penyakit ginjal kronik

d. Mata: retinopati

5Pemeriksaan Penunjang

a. Memeriksa komplikasi yang telah atau sedang terjadi:

I. Pemeriksaan laoratorium: darah lengkap, kadar ureum, gula darah, lemak darah, elektrolit, kalsium, asam urat, dan urinalisis.

II. Pemeriksaan lain: Pemeriksaan fungsi jantung (elektrokardiografi0, Funduskopi, USG ginjal, Foto toraks, Ekokardiografi.

b. Pemeriksaan penunjang untuk kecurigaan klinis hipertensi sekunder:

I. Hipertiroidisme/hipotiroidisme: fungsi tiroid (TSH, FT4, FT3)

II. Hiperparatiroidisme: Kadar PTH, Ca2+

III. Hiperaldosteronisme: Kadar aldosteron plasma, renin plasma, CT-Scan, abdomen, Kadar serum Na+ naik, K+ turun, peningkatan ekskresi K+ dalam urin, ditemukan alkolisi metabolik.

IV. Feokromositoma: kadar metanefrin, CT-Scan/MRI abdomen.

V. Sindrom Chusing: kadar kortisol urin 24 jam.

VI. Hipertensi renovaskuler: CT-iografi arteri renalis, USG ginjal, Dopler sonografi.  

6. Penatalaksanaan

Fokus utama dalam penatalaksanaan hipertensi adalah pencapaian tekanan sistolik target <140/90 mmHg.

a. Non Farmakologi

Terapi non farmakologis terdiri dari menghentikan kebiasaan   merokok, menurunkan berat badan berlebih, konsumsi alkohol   berlebih, asupan garam dan asupan lemak, latihan fisik serta   meningkatkan konsumsi buah dan sayur.

b. Terapi Farmakologi:

Terapi farmakologis yaitu obat antihipertensi yang dianjurkan oleh JNC   VII   yaitu diuretika, terutama jenis thiazide (Thiaz) atau aldosteron antagonis, beta blocker, calcium chanel blocker atau   calcium antagonist, Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor   (ACEI), Angiotensin II Receptor Blocker atau AT1   receptor antagonist/ blocker (ARB) diuretik tiazid (misalnya   bendroflumetiazid).

7. Pengkajian

Nama : Ny. X

Umur : 51 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

 

· Data Subjektif (DS)

1) Klien mengeluh nyeri kepala bagian belakang lebih tepatnya pada bagian tengkuk.

2) Klien mengeluhkan pusing dan kesulitan untuk tidur

3) Klien mengatakan Skala nyeri 7

4) Klien sering mengkonsumsi makanan fastfood dan jarang berolahraga

· Data Objektif (DO) :

1) Kondisi badan klien lemas

2) Ekspresi wajah klien tampak kesakitan

3) Pasien merasa cemas karena nyeri yang tidak kunjung sembuh

4) Pasien merasa takut karena rasa pusing dikepalanya terasa sakit

TTV =

TD : 180/140 mmHg

N : 95x/menit

S : 350C

RR : 20x/menit


8. Diagnosa Keperawatan

No

Diagnosa Keperawatan

Etiologi

Data Objektif

Data Subjektif

1.

Nyeri Akut

Agen cedera biologis

Ekspresi wajah klien tampak kesakitan

-Klien mengeluh nyeri kepala bagian belakang lebih tepatnya pada bagian tengkuk.

-Klien mengatakan skala nyeri 7

2.

Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh

Asupan makanan kurang dari recommended daily allowance (RDA)

 

-Klien sering mengkonsumsi makanan fastfood dan jarang berolahraga

 

 

9. Intervensi

No.

Diagnosa Keperawatan

Tujuan & Kriteria Hasil

Perencanaan

1.

Nyeri Akut

-Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam. Dengan indikator:

-Skala nyeri turun 1-3

-Ekspresi wajah klien tampak rileks

-Lakukan pengkajian nyeri komprehensif yang meliputi lokasi, karakteristik, onset/durasi, frekuensi dan kualitas, intensitas serta apa yang mengurangi nyeri dan faktor yang memicu

 

-Monitor nyeri menggunakan alat pengukur yang valid dan reliable sesuai usia dan kemampuan berkomunikasi

 

-Tanyakan pasien terkait dengan tingkat nyeri yang tetap nyaman dan fungsi yang usaha untuk menjaga nyeri pada level yang lebih rendah daripada nyeri yang teridentifikasi

 

-Yakinkan bahwa pasien menerima perawatan analgesic yang tepat sebelum nyeri bertambah menjadi parah atau sebelum aktivitas yang akan memicu nyeri

2.

Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh

Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, kebutuhan nutrisi pasien seimbang. Dengan indikator:

-Asupan kalori, protein, lemak, karbohidrat, serat, vitamin, mineral, zat besi, kalsium, natrium sepenuhnya adekuat.

-Tentukan status gizi pasien dan kemampuan (pasien) untuk memenuhi kebutuhan gizi.

 

-Tentukan apa yang menjadi preferensi makanan bagi pasien

 

-Tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang dibutuhkan untuk memenuhi persyaratan gizi.

 

-Berikan pilihan makanan sambil menawarkan bimbingan terhadap pilihan (makanan) yang lebih sehat, jika diperlukan

 

-Atur diet (yaitu: menyediakan makanan protein tinggi; menyarankan menggunakan bumbu dan rempah-rempah sebagai alternatife untuk garam, menyediakan pengganti gula; menambah dan mengurangi kalori, menambah atau mengurangi vitamin, mineral, atau suplemen), sesuai kebutuhan

 

10. Implementasi Keperawatan

Berdasarkan perencanaan yang telah dibuat, implementasi keperawatan yang dapat dilakukan kepada pasien yaitu perawat mengkaji nyeri dan memonitoring nyeri. Perawat menanyakan pada pasien mengenai skala nyeri dan meyakinkan pasien bahwa, pasien menerima perawatan analgesik yang tepat. Selanjutnya perawat dapat menentukan status gizi pasien dan menentukan jumlah kalori serta nutrisi yang dibutuhkan sesuai kebutuhan dalam memenuhi persyaratan gizi.

 

11. Evaluasi Keperawatan

Setelah dilakukaanya asuhan keperawatan kepada klien. Diharapkan terjadinya perubahan pada klien.

· Setelah dilakukan asuhan keperawatan pada 3x24 jam, klien sudah melaporkan bahwa rasa nyeri yang dirasakan sedikit berkurang dan skala nyeri yang awalnya 7 menjadi 1 -3

· Setelah dilakukan asuhan keperawatan pada 3x24 jam, klien menunjukan ekspresi rileks

· Pada 3x24 jam klien melaporkan bahwa jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan telah terpenuhi


Bab III

Penutup

A. Kesimpulan

Hipertensi merupakan penyakit the silent killer yang dimana ketika tidak diatasi dengan segera dan baik maka akan menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Komplikasi yang dapat ditimbulkan dari penyakit hipertensi ialah akan stroke, infark miokard, penyakit ginjal kronik, penyakit jantung koroner, dan retinopati. Hipertensi disebut sebagai the silent killer karena penyakit ini tidak menyebabkan gejala jangka panjang. Stroke dan penyakit jantung koroner merupakan penyebab kematian akibat hipertensi tertinggi di Indonesia.

Pengobatan hipertensi yang paling utama adalah merubah gaya hidup. Pola hidup sehat seperti olahraga yang teratur, jaga berat badan yang ideal, batasi penggunaan garam, mengurangi rokok dan stress. 

Jika kita disiplin dalam menjalankan pola hidup sehat tersebut maka dipastikan akan berdampak positif bagi tekanan darah. 

B. Referensi

Butcher K. H., dkk. (2018). Nursing Interventions Classification (NIC) (Terjemahan). Elsevier

Corwin, E., 2009. Buku Saku Patofisologi. 3 ed. Jakarta: EGC. 

Dinkes.kulonprogokab.go.id, Tanpa Tahun. HIPERTENSI, THE SILENT KILLER. 

Moorhad S., dkk. (2018). Nursing Outcomes Classification (NOC) (Terjemahan). Elsevier

NANDA Internasional. (2018). Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2018-2020. Ed. 11 (Terjemahan). Penerbit Buku Kedoteran

Nuraini, B., 2015. Risk Factors Of Hypertension. J MAJORITY, 4(5), pp. 10 - 19.

Tanto, C., 2014. Kapita Selekta Kedokteran. 2 ed. Jakarta: Media Aesculaplus.

 

LAMPIRAN

A. Dokumentasi Kegiatan Diskusi

 




B. Link Google Form

Setelah mengetahui materi hipertensi, silahkan mengerjakan beberapa pertanyaan pada link di bawah ini 👇👇👇

https://forms.gle/3pBKLKsF14A7krq5A

 

 

 

 

 

 

 

Comments

Popular posts from this blog

MAKALAH DISLOKASI

SINDROM KOMPARTEMEN

Penting! Waspada Gejala Gastritis Sejak Dini