MAKALAH BLOG CIDERA SPINAL

Disusun oleh:

Kelompok 4A

SITA IRNADIANIS IRFADA                                           I1B019005

NILA AZIZATUL MUDAWAMMAH                             I1B019021

MUHAMMAD DIMAS PRADANA                                 I1B019041

SITI AMANAH                                                                 I1B019067

DEVITA FEBRIANTI                                                       I1B019069

RAHMAH FADHILAH ASRIFQA                                   I1B019073

SALSABILA KHOIRURRUHI ROSYIDAH                    I1B019077

NITA HARTANTI                                                            I1B019079

Sistem Informasi Keperawatan/ Kelas Reguler A 2019/ Semester 3 (Tiga)

Dosen Pembimbing:

Annas Sumeru, M.Kep., Sp.Kep.MB

 

JURUSAN KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

PURWOKERTO

2020

BAB I

PENDAHULUAN

1.01  Latar Belakang

Spinal adalah tulang belakang, sedangkan medulla spinalis adalah sumsum tulang belakang yang jika bernilai +, maka otak akan menjadi Sistem Saraf Pusat (SSP).

Menurut Malcolm, 2002 dalam Fitria, 2018 tulang belakang secara medis dikenal sebagai columna vertebralis. Rangkaian tulang belakang adalah  sebuah struktur lentur yang dibentuk oleh sejumlah tulang yang  disebut vertebra atau ruas tulang belakang. Diantara setiap dua ruas tulang belakang terdapat bantalan tulang rawan. Panjang rangkaian tulang belakang pada orang dewasa mencapai 57 sampai 67 sentimeter. Seluruhnya terdapat 33 ruas tulang, 24 buah diantaranya adalah tulang terpisah dan 9 ruas sisanya dikemudian hari menyatu menjadi sakrum 5 buah dan koksigius 4 buah (Pearce, 2006).

Tulang vertebra merupakan struktur komplek yang secara  garis besar terbagi atas 2 bagian. Bagian anterior tersusun atas korpus vertebra, diskus intervertebralis (sebagai artikulasi), dan ditopang oleh ligamentum longitudinale anterior dan posterior, sedangkan bagian posterior tersusun atas pedikel, lamina, kanalis vertebralis, serta prosesus tranversus dan spinosus yang menjadi tempat otot penyokong dan pelindung kolumna vertebrae. Bagian posterior vertebra antara satu dan lain dihubungkan dengan sendi apofisial (faset). Stabilitas vertebra tergantung pada integritas korpus vertebra dan diskus intervertebralis serta dua jenis jaringan penyokong yaitu ligamentum (pasif) dan otot (aktif) (Pearce, 2006).

fokus kasus adalah cedera saraf spinal karena dengan spine/ vertebrae memiliki arti tulang belakangnya yang melindungi saraf/ sumsum tulang belakang, biasanya kasus cedera bagian paling bahaya dan banyak kasus pada sarafnya contohnya kelainan skoliosis, lordosis, kifosis. Namun, terdapat pula kasus seperi fraktur, dll yang muncul akibat adanya cidera spinal.

1.02  Tujuan

1.02.1 Tujuan Umum

Mahasiswa diharapkan dapat mencapai learning outcome yang telah ditetapkan yaitu mampu menjelaskan dampak teknologi informasi pada pelayanan keperawatan.

1.02.2 Tujuan Khusus

a. Mahasiswa mampu mengetahui konsep cidera spinal

b. Mahasiswa mampu menganalisa etiologi cidera spinal

c. Mahasiswa mampu mengetahui patofisiologi cidera spinal

d. Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan cidera spinal


 

BAB II

PEMBAHASAN

2.01 Definisi

Medula spinalis adalah kumpulan susunan saraf-saraf yang terhubung ke saraf pusat yang berjalan disepanjang kanalis spinalis yang dibentuk oleh tulang vertebra. Jika terjadi kerusakan pada medula spinalis maka fungsi sensoris, gerakan dari bagian tertentu tubuh dan involunter seperti pernapasan dapat terganggu atau bahkan hilang. Kerusakan pada spinal dapat menyebabkan cedera tulang belakang atau dikenal pula dengan spinal cord injury (SCI). Cedera spinal merupakan suatu keadaan yang mencederai spinal baik secara keseluruhan ataupun sebagian. Mekanisme cedera spinal dapat dibedakan menjadi dua yaitu primer dan skunder. Cedera primer atau langsung biasanya disebabkan oleh keadaan mekanik (Muskananfola, 2018). Gejala yang muncul akibat cedera spinal dapat bermacam-macam mulai dari nyeri, paralisis, sampai terjadinya inkontinensia, gejala tergantung pada letak kerusakan.  Sistem regenerasi yang buruk dari sistem saraf pusat meneyebabkan seseorang yang mengalami lesi atau cedera spinal dapat menderita cacat seumur hidup. Kecacatan yang dapat berupa kerusakan secara parsial maupun komplit. Sebanyak 40.000 penderita cedera spinal traumatik di Inggris, sedangkan sebanyak 250.000-400.000 di Amerika serikat dan peningkatan kasus sebanyak 78.000 setiap tahunnya (Tirus et al., 2007 dalam Mauliana dan Kalanjati, 2013). Perlunya telaah lebih lanjut terkait cedera  spinal karena kematian akbiat cedera spinali 12-16 kali lebih besar dibandingkan dengan trauma lainnya (Mahadewa, 2009 dalam Mauliana dan Kalanjati, 2013).

2.02 Etiologi

Cedera spinal dapat disebabkan karena trauma ataupun nontrauma. Terdapapat beberapa penyebab utama trauma spinalis diantaranya kecelakan kendaraan bermotor sebanyak 40%, jatuh 20%, luka tembak 14%, dan kecelakaan kerja 13%. Kecelakaan kendaraan bermotor banyak terjadi pada anak-anak, jatuh menjadi penyebab utama cedera pada lansia. Laki-laki berumur kurang dari 30-40 tahun menjadi populasi yang sering mengalami cedera spinali (Mahadewa, 2009 dalam Mauliana dan Kalanjati, 2013). Kasus tetrapelgi tidak komplit menjadi salah satu faktor penyebab disabilitas neurologis tersering di Amerika Serikat sebesar 29,5% (Pinzon, 2007 dalam Mauliana dan Kalanjati, 2013).  Lebarnya canalis vertebralis merupakan faktor anatomis yang menjadi penentu keparahan cedera spinal. Canalis vertebralis yang lebar pada segmen servical seringkali mencegah terjadinya cedera yang berat (Snell, 1997 dalam Mauliana dan Kalanjati, 2013 ). Infeksi, penyakit degeneratif, toksik, dan gangguan metabolik merupakan penyebab cedera spinal nontrauma. Sedangkan penyebab paling sering yang disebabkan oleh tumor yang menimbulkan cedera spinal non traumatik adalah tumor ektradural mencapai 78% (Lindsay, et al., 2004 dalam Mauliana dan Kalanjati, 2013).

2.03 Patofisiologi 

Patofisiologi spinal cord injury (cedera spinal) menjelaskan dua mekanisme cedera yaitu cedera primer, kerusakan awal akibat cedera mekanis. Serta cedera sekunder, cedera yang terjadi akibat cedera primer yang ditandai dengan perdarahan, edema, dan iskemia.

1.      Cedera Primer

Cedera primer ini bersifat irreversible, dan diikuti dengan kaskade inflamasi yang memicu cedera lebih lanjut.

Cedera primer pada medula spinalis dapat bersifat komplit ataupun inkomplit. Hal ini disebabkan oleh cedera mekanik, berupa :

§ Kompresi

§ Distraksi

§ Laserasi

§ Transeksi

§ Hiperekstensi

§ Fleksi-rotasi

Cedera tersebut menyebabkan kerusakan pada akson, pembuluh darah, ataupun  membran sel. Kebanyakan, cedera meninggalkan ”subpial rim” dari akson terdemielinisasi atau tidak terdemielinisasi yang berpotensi untuk terjadinya regenerasi. Selain itu, timbul edema akut pada medula yang berkontribusi terhadap kejadian iskemia pada medula spinalis. Fase-fase ini menyerupai patofisiologi molekuler pada cedera otak traumatik.

Secara seluler, beberapa menit setelah cedera, terjadi peningkatan sitokin termasuk tumor necrosis factor alpha (TNF-α) dan interleukin 1-beta (IL-1β). Selanjutnya, terjadi pembuangan cadangan glutamat dan disfungsi transporter astrosit glutamat yang menyebabkan meningkatnya kadar sitotoksik glutamat. Periode ini dikenal dengan immediate phase, yang dapat bertahan hingga 2 jam pasca cedera.

2.      Cedera Sekunder

Cedera sekunder bersifat reversible dan disebabkan oleh pelepasan sitokin dari berbagai sel. Hal itu berakibat pada terjadinya kerusakan traktus spinal lebih lanjut karena hipoksia, vasospasme, apoptosis, dan deposisi jaringan granulasi.

Cedera sekunder dimulai setelah cedera primer berlangsung. Proses patologis ini didasari oleh berbagai mekanisme yang menyebabkan kekurangan energi akibat gangguan perfusi seluler dan iskemia. Cedera sekunder dibagi menjadi tiga fase, yaitu:

a.       Fase Akut

Fase akut berlangsung dalam 48 jam pertama. Kerusakan vaskularisasi, perdarahan dan iskemia terjadi dalam fase ini. Gangguan mikrosirkulasi tersebut mengakibatkan perubahan patologik seperti disregulasi ionik, eksitotoksisitas, produksi radikal bebas dan respon inflamasi yang berlebihan menyebabkan kerusakan lebih lanjut pada neuron dan glial.

b.      Fase Subakut/Intermediate

Periode subakut diperkirakan terjadi hingga dua minggu setelah cedera. Karakteristik dari fase ini adalah respons fagositosis untuk membersihkan debris seluler dan proliferasi aktif dari astrosit yang membentuk scar yang mencegah regenerasi aksonal. Meskipun begitu, proliferasi astrosit berperan penting dalam homeostasis ionik dan pembentukan kembali sawar darah otak, sehingga membatasi imunitas sel dan edema. Minggu kedua hingga bulan keenam setelah cedera ditandai dengan maturasi scar astrositik dan regenerasi aksonal yang berkelanjutan.

c.       Fase Kronik

Fase intermediate diikuti oleh fase kronik yang ditandai dengan maturasi dan stabilisasi scar astrositik, pembentukan syrinx dan kavitas, dan degenerasi wallerian (degenerasi akson di bagian distal cedera). Sekuele jangka panjang meliputi nyeri kronik dan spastisitas. Target terapi pada periode ini adalah remyelinisasi dan plastisitas sistem saraf.

Kompresi, Distraksi, Laserasi, Transeksi, Hiperekstensi, Fleksi-rotasi



 

 


Kerusakan medulla spinalis



 

 


Hemoragi



 

 


                   Serabut-serabut saraf membengkak/hancur     



 

 


                                      Trauma Medula Spinalis















 

 

 


                                    Rasa nyeri, Tidak nyaman

Kerusakan T1-T2            Kerusakan C5       Kerusakan lumbal 1            Kerusakan lumbal 2-5              Gangguan fungsi

Text Box: nNyeri Akut                                                      rectum dan Ves.Urinaria

                                                            Kehilangan intervasi otot intercostal        HR turun                                                               Ketidakmampuan ejakulasi        Peraplegia paralisis              



 

                                                                                                                                        Batuk                  Penurunan curah jantung  Disfungsi seksual       Fungsi pergerakan    Inkonentia     Inkonentia

                                                                                                                                                                                                                                                                    Sendi                    usus                  urin

    Bersihan jalan napas tidak efektif                                                                                                                                                fungsional

                                                                                                                                                                                                                                                        

                                                                                                                                                                                                                                                         Penekanan setempat                                                                                                                                                                                           Sindrom defisit                                                                                                                                                                                            Kerusakan mobilitas fisik

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           self care

                                                                                                                                                                                           Resiko kerusakan

                                                                                                                                                                                            integritas kulit


 

PENATALAKSANAAN CIDERA SPINAL

Penatalaksanaan pada pasien dengan cidera spinal diantaranya yaitu melakukan imobilisasi dan pemantauan tanda-tanda vital perlu dilakukan. Hal tersebut didukung dalam hasil penelitian yang dilakukan oleh Kanwar, Delasobera, Hudson, & Frohna (2015), setelah melakukan imobilisasi pasien, maka perlu untuk menjamin jalan napas dan pertahankan sirkulasi yang baik.  (Satyanegara, dkk., 2010) Hal tersebut berkaitan dengan perhatian utama pada pasien yang mengalami cedera spinal terutama pada bagian leher atas khususnya pada fungsi respirasi. Pemeriksaan penunjang seperti X-Ray dan MRI atau CT scan untuk menentukan diagnosa cedera.

(George Dewantoro, dkk., 2009) Penatalaksanaan yang dilakukan sebagai penanganan awal pada pasien cedera medila spinal difokuskan pada 3 hal, yaitu mempertahankan usaha bernafas, mencegah terjadinya syok, dan imobilisasi leher. Fokus selanjutnya yaitu mempertahankan tekanan darah dan pernafasan, stabilitas leher, dan mencegah komplikasi. Adapun jalur terapi yang dapat diberikan yaitu terapi farmakologi, imobilisasi, dan bedah.

(Satyanegara, dkk., 2010) Pada prinsipnya, terapi yang dilakukan untuk mengatasi cedera spinal traumatika bertujuan untuk memperkecil kemungkinan terjadi defisit neurologis pada klien, mengembalikan integritas kolum spinalis semaksimal mungkin, mengurangi resiko terjadinya infeksi, dan tentunya mengoptimalkan rehabilitasi fungsional. Pemberian metilprednisolon direkomendasikan oleh National Institute of Health (Amerika Serikat) sebagai terapi cedera medulla spinalis traumatika. Obat ini sebaiknya diberikan dalam dosis tinggi berfungsi untuk menurunkan respon inflamasi dengan menekan migrasi netrofil, menghambat peningkatan permeabilitas vascular, menghambat kerja lipid peroksidase, dan hidrolisis yang menghambat destruksi membrane sel. Metilprednisolon merusak membrane sel dan mencapai puncak dalam waktu 8 jam  sehingga dapat diberikan dalam rentang waktu tersebut. Penelitian lain juga menyebutkan penggunaan glukokortikoid pada  8 jam pertama setelah cedera untuk perbaikan fungsi neorologis. Pencegahan komplikasi juga penting. Selain itu, dilakukan fisioterapi teratur untuk mempertahankan range of movement (ROM) dan kemampuan mobilitas. (George Dewantoro, dkk., 2009) Pada terapi imobilisasi, dapat dilakukan traksi yang berfungsi untuk menstabilkan medula spinalis. Pada terapi bedah, dapat dilakukan untuk mengeluarkan sesuatu yang menekan medula spinalis dan menstabilisasi vertebra untuk mencegah nyeri kronis.

 


Kesimpulan

Cedera spinal merupakan suatu keadaan yang mencederai spinal baik secara keseluruhan ataupun sebagian.Gejala yang muncul akibat cedera spinal tergantung pada letak kerusakan dan dapat bermacam-macam mulai dari nyeri, paralisis, sampai terjadinya sinkontinensia.

Cedera spinal dapat disebabkan karena trauma ataupun nontrauma. Terdapapat beberapa penyebab utama trauma spinalis diantaranya kecelakan kendaraan bermotor, jatuh, luka tembak, dan kecelakaan kerja .untuk yang non trauma ada Infeksi, penyakit degeneratif, toksik, dan gangguan metabolik.

Ada dua mekanisme cedera yaitu cedera primer, kerusakan awal akibat cedera mekanis. Serta cedera sekunder, cedera yang terjadi akibat cedera primer yang ditandai dengan perdarahan, edema, dan iskemia.

Penatalaksanaan pada pasien dengan cidera spinal diantaranya yaitu melakukan imobilisasi dan pemantauan tanda-tanda vital juga memfokuskan pada 3 hal, yaitu mempertahankan usaha bernafas, mencegah terjadinya syok, dan imobilisasi leher. Fokus selanjutnya yaitu mempertahankan tekanan darah dan pernafasan, stabilitas leher, dan mencegah komplikasi. Adapun jalur terapi yang dapat diberikan yaitu terapi farmakologi, imobilisasi, dan bedah.

Pemberian metilprednisolon juga direkomendasikan untuk menurunkan respon inflamasi dengan menekan migrasi netrofil, menghambat peningkatan permeabilitas vascular, menghambat kerja lipid peroksidase, dan hidrolisis yang menghambat destruksi membrane sel.

Saran

Terapi dan pemberian metilprednisolon perlu dilakukan untuk mengatasi cedera spinal traumatika agar memperkecil kemungkinan terjadi defisit neurologis pada klien, mengembalikan integritas kolum spinalis semaksimal mungkin, mengurangi resiko terjadinya infeksi, dan tentunya mengoptimalkan rehabilitasi fungsional.

 

Daftar Pustaka

Dewantoro, George., dkk. 2009. Panduan Praktis Diagnosis dan Tata Laksana Penyakit Saraf. Jakarta: EGC

Fitria, Anis (2018) Hubungan Posisi Duduk terhadap Keluhan Low Back Pain pada Pengayuh Becak di Kota Malang. Undergraduate (S1) thesis, University of Muhammadiyah Malang

Maja P. S., Junita.  2013. “Diagnosis dan penatalaksanaan cedera servikal medula spinalis”. Jurnal Biomedik (JBM). 3(5): 181-189.

Martiana, Ketut, dkk.2019.Traumatic Cervical Spinal Cord Injury. Is Urgent Intervention Superior To Delayed Intervention? A Meta-Analysis Evaluation”. Vol 8 No. 1, April 2019

Mauliana, Meutia dan Viskasari Pintoko Kalanjati. 2013. “Lesi Medula Spinalis”. Majalah Biomorfologi. 26(1): 1-5.

Muskananfola, Istha Leanni. 2018. “Penanganan Pasien dengan Cedera Tulang Belakang di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit”. CHMK Applied Scientific Journal. 1(2): 49-59.

Satyanegara, dkk. 2010. Ilmu Bedah Saraf Satyanegara Ed. 4. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Yeon, Gee. 2018. “Patofisiologi Cedera Medula Spinalis”. id.scribd.com/document/388723734. Diakses pada 18 Oktober 2020


 

Soal Quis Cidera Spinal

https://www.surveymonkey.com/r/BSRF28W

 

Comments

Popular posts from this blog

MAKALAH DISLOKASI

SINDROM KOMPARTEMEN

Penting! Waspada Gejala Gastritis Sejak Dini