Makalah Bagaimana Cara Penatalaksanaan Balut Bidai yang Baik dan Benar

 

Makalah

Bagaimana Cara Penatalaksanaan Balut Bidai yang Baik dan Benar



Disusun Oleh:

Kelompok 5

1.      Sri Adinda                                         I1B019003

2.      Aniq Dzakirotuzzakiya                      I1B019007

3.      Anita Permata Sari                             I1B019023

4.      Valerio Basuni Carlo C.                     I1B019053

5.      Helda Budi Rahmawati                     I1B019065

6.      Irmawati                                             I1B019071

7.      Siti Ngaisah                                        I1B019081

 

 

 

 

JURUSAN KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

2020





KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmatnya penulis bisa menyelesaikan makalah yang  berjudul “Bagaimana Cara Penatalaksanaan Balut Bidai yang Baik dan Benar”  dengan tepat waktu.

Terima kasih kepada Dosen yang telah memberikan tugas pembuatan makalah ini yang tentunya menambah pengetahuan dan wawasan penulis. Terima kasih juga kepada teman-teman yang telah berkontribusi dengan memberikan ide-idenya sehingga makalah ini bisa disusun dengan baik dan rapi. Hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa penulis menyerahkan semuanya, kiranya segala bantuan yang telah diberikan akan mendapat berkat.

Semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan para pembaca. Namun terlepas dari itu, makalah ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga sangat diharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah yang lebih baik lagi. Semoga makalah dengan judul “Bagaimana Cara Penatalaksanaan Balut Bidai yang Baik dan Benar” dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca pada umumnya.

 

Purwokerto, 19 Oktober 2020

                                                                                                                                   Penulis



     



DAFTAR PUSTAKA

 

KATA PENGANTAR.. ii

DAFTAR PUSTAKA.. iii

BAB I. 1

PENDAHULUAN.. 1

1.    Latar belakang. 1

2.    Tujuan. 2

BAB II. 3

PEMBAHASAN.. 3

1.    Definisi Balut Bidai 3

2.    Pentingnya pengetahuan balut bidai 4

3.    Komplikasi Pembalutan dan Pembidaian. 4

4.    Jenis-Jenis Balut Bidai 5

5.    Prosedur Pembalutan. 7

6.    Prosedur Pembidaian. 8

BAB III. 12

PENUTUP. 12

A    Kesimpulan. 12

B     Saran. 12

DAFTAR PUSTAKA.. 13

KASUS. 14

 



BAB I

PENDAHULUAN

 

1.      Latar belakang

Emergency atau gawat darurat merupakan suatu kondisi yang bersifat mengancam jiwa dan membutuhkan pertolongan dengan segera yang dapat terjadi pada siapa saja, kapan saja dan dimana saja (susilowati, 2015).  Yang membutuhkan pertolongan segera adalah salah satunya kecelakaan pada system muskulosceletal karena dapat menimbulakan cedera, kelainan dan perdarahan hingga kematian, oleh karena itu perlu dilakukannya  balut bidai untuk menghindari terjadinya hal tersebut.

Balut adalah suatu benda, dapat berbentuk kain maupun kassa bersih yang digunakan untuk menutup luka. Sedangkan pembalutan adalah suatu tindakan menggunakan balut yang bertujuan untuk menutup luka atau menghentikan suatu pendarahan agar luka tidak terpapar langsung dengan lingkungan bebas untuk menghindari terjadinya infeksi dan mengurangi nyeri (Susilowati, 2015).

Bidai adalah suatu alat yang bersifat kaku atau keras yang di gunakan pada patah tulang (Saputri, 2017). Pembidaian merupakan tindakan imobilisasi eksternal bagian tubuh yang mengalami patah tulang menggunakan alat bernama bidai dan dipasang dengan menyesuaikan bentuk tubuh agar tidak terjadi deformitas atau perubahan bentuk tubuh tidak sesuai anatomis tubuh (Asikin, Nasir, Podding, & Takko, 2016).

Balut bidai merupakan salah satu keterampilan yang harus dikuasai dengan baik oleh perawat dan pemberi layanan kesehatan lainnya. Membalut merupakan suatu keterampilan yang akan sangat sering dilakukan oleh seseorang perawat ditempatnya bekerja khususnya pada pasien yang mengalami luka. Keterampilan dalam pembalutan dan pembidaian ini  sangatlah penting dalam dunia kesehatan. Oleh karena itu makalah ini dibuat dengan harapan agar banyak mahasiswa kesehatan dan tenaga kesehatan khususnya perawat mempelajari tentang pentingnya balut bidai, jenis-jenis balut bidai dan prosedur pembalutan dan pembidaian  yang dilakukan dengan cara yang baik dan benar sehingga menghindari terjadinya komplikasi dan juga dapat menambah keterampilan dan  profesionalitas dalam dunia kerja. 

 

2.      Tujuan

a.       Mampu mengetahui pengertian dari balut bidai.

b.      Mampu memahami mengenai pentingnya penatalaksanaan balut bidai.

c.       Mampu mengetahui komplikasi yang dapat ditimbulkan dari penatalaksanaan balud dan bidai yang tidak sesuai.

d.      Mampu memahami jenis-jenis dari balut bidai.

e.       Mampu mengetahui penatalaksanaan prosedur dalam proses pembalutan dan pembidaian.

 

 

 

 

 

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

1.      Definisi Balut Bidai

            Kecelakaan pada sistem musculoskeletal (otot,tulang,rangka) harus ditangani dengan cepat dan tepat. Jika tidak akan menimbulkan cedera yang semakin parah, mengakibatkan kelainan bentuk tulah dan dapat memicu terjadinya pendarahan bahkan kematian. Untuk mencegah terjadinya hal tersebut dibutuhkan pertolongan balut bidai (Thygerson, 2011 dalam Sari, 2015).

            Balut adalah suatu benda, dapat berbentuk kain maupun kassa bersih yang digunakan untuk menutup luka. Pembalutan merupakan tindakan menggunakan balut yang bertujuan untuk menutup luka atau menghentikan suatu pendarahan agar luka tidak terpapar langsung dengan lingkungan bebas untuk menghindari terjadinya infeksi dan mengurangi nyeri (Susilowati, 2015 dalam Saputri, 2017). Selain itu pembalutan juga bertujuan untuk mencegah pembengkakan, membatasi pergerakan dan mengikat bidai (Ramsi, 2016 dalam Saputri, 2017). Prinsip pembalutan, membersihkan luka sebelum dilakukan pembalutan, pembalutan dilakukan pada bagian tubuh yang cidera, tidak boleh terlalu ketat dan tidak boleh terlalu longgar (Ramsi, 2016 dalam Saputri, 2017).

            Bidai adalah suatu alat yang bersifat kaku atau keras yang di gunakan pada patah tulang (Saputri, 2017). Pembidaian adalah alat bantu untuk menstabilkan bagian tubuh yang nyeri, bengkak atau biru. Tujuan utama pembidaian adalah untuk mengurangi terjadinya pergerakan pada bagian tubuh yang cedera, imobisisasi luka patah tulang dan fiksasi eksternal untuk mencegah bertambah parahnya suatu luka patah tulang, mengurangi nyeri dan mengurangi timbulnya kecacatan (Asikin, Nasir, Podding, & Takko, 2016 dalam Saputri, 2017), Prinsip pembidaian, jika cidera terjadi pada tulang maka bidai harus melewati 2 sendi, namun jika yang cidera adalah sendi maka pembidaian harus melewati 2 tulang pada sendi yang cidera (Ramsi, 2016 dalam Saputri, 2017).

 

2.      Pentingnya pengetahuan balut bidai

Menurut WHO diperkirakan 70% kecelakaan lalu lintas dialami oleh pelajar. Jenis cedera atau luka dari kecelakaan lalu lintas dapat berupa luka benturan atau memar 49%, luka lecet 65,9%, luka terbuka 26,7%, luka bakar 1,9%, terkilir 21%, patah tulang 8,5% dan putusnya anggota gerak 1,0% (Sari, Dwi P. A., 2015). Hal tersebut dapat menyebabkan memar, keseleo, luka, pendarahan hingga farktur. Sedangkan cedera dapat terjadi pada sistem musculoskeletal (tendon, otot, ligamen, kulit dan tulang). Kalangan masyarakat yang merupakan kawasan banyak orang, tetapi orang di sekitar kejadian kebanyakan tidak tahu harus berbuat pertolongan sehingga terkadang hanya dibiarkan saja (Listiana, D., dkk., 2019). Padahal, jika hal tersebut dibiarkan maka akan menimbulkan cedera yang semakin parah hingga kelainan bentuk tulang sampai kematian. Untuk mencegah terjadinya kecacatan, dibutuhkan pertolongan balut bidai. Pembidaian merupakan teknik yang dapat menurunkan rasa nyeri pada pasien fraktur yang bertujuan merelaksasikan otot-otot skelet sehingga kejadian menjadi tidak lebih parah (Alfi Fakhrurrizal, 2015). Oleh karena itu, perlunya banyak masyarakat yang harus mempelajari dasar keilmuan tentang keterampilan Penanggulangan Penderita Gawat Darurat dengan balut bidai.

 

3.      Komplikasi Pembalutan dan Pembidaian

a.       Komplikasi Pembalutan

Pembalutan yang kurang tepat dapat menimbulkan komplikasi, seperti  infeksi  karena balutan yang di pakai menggunakan kain yang tidak steril, menghambat aliran darah sehingga menyebabkan kerusakan pada syaraf dan pembuluh darah karena pembalutan terlalu kencang, dan pendarahan yang berlebih pada vena karena pembalutan terlalu kendor (Lukman & Ningsih, 2013).

b.      Komplikasi Pembidaian

Komplikasi dalam pembidaian yang kurang tepat dapat menimbulkan luka tekan yang berakibat adanya ulkus dan anoreksia jaringan yang berada pada lokasi punggung kaki, tumit, dan permukaan patella (Asikin, Nasir, Podding, & Takko, 2016).

 

4.      Jenis-Jenis Balut Bidai

a.    Pembalut:

·           Pembalutan cepat, dapat dipasang secara cepat, pembalutan menggunakan pembalut gulung dan kain steril.


 

 


·           Pembalut segitiga yang disebut Mitela, terbuat dari kain tipis dengan ukuran alas 125cm dan tinggi 50cm. Mitela dapat di lipat-lipat sehingga dapat digunakan sesuai kebutuhan.


 


·           Pembalut gulung atau pita, mempunyai berbagai macam ukuran sesuai tempat luka.



 

 

 

 

 




b.   Bidai :

·           Bidai Rigid: bidai ini terbuat dari bahan yang keras seperti kayu atau aluminium, menggunakan bidai rigid harus dilapisi terlebih dahulu menggunakan kain agar bidai tidak menambah luka pada korban

 



 

 

 

 

 

 


·           Bidai Soft: bidai yang terbuat dari bahan yang lunak contohnya handuk, bantal atau selimut



 

 

 

 

 

 



·           Bidai Traksi: untuk menstabilkan tulang yang patah



 

 

 

 

 

 

 

 


5.      Prosedur Pembalutan

1)      Perhatikan  tempat cidera, luka terbuka/tertutup, perkiraan lebar/diameter luka, dan gangguan pada pergerakan sendi akibat luka.

2)      Pilih pembalut yang benar dan dapat dikombinasikan.

3)      Jika terdapat luka dibersihkan dahulu dengan disinfektan

4)      Jika terdapat dislokasi sendi diposisikan seanatomis mungkin.

5)      Tentukan posisi pembalut dengan benar berdasarkan, imobilisasi, tidak menggangu pergerakan sendi normal dan peredaran darah, nyaman, dan tidak mudah lepas.

Contoh Penggunaan Balutan

a)      Cara membalut luka terbuka dengan plester:

·         Luka dibersihkan dengan antiseptik

·         Tutup luka dengan kassa

·         Letakkan pembalut plester




b)      Cara membalut anggota badan (tangan/kaki) dengan balut gulung/pita:

·         Sangga anggota badan yang cedera dengan posisi tetap

·         Pastikan perban tergulung dengan kencang

·         Balutan pita dilakukan hingga beberapa lapis, dimulai dari salah satu ujung proksimal ke distal menutup sepanjang bagian tubuh. Bisa dimulai  dari bawah luka lalu  balut lurus 2 kali. Setiap balutan menutupi dua pertiga bagian sebelumnya

 

c)      Cara membalut menggunakan mitela

·         Salah satu sisi mitela dilipat 3-4 kali cm sebanyak 1-3 kali

·         Pertengahan sisi yang telah terlipat diletakkan di luar bagian yang akan dibalut, kemudian tarik secukupnya dan kedua ujung sisi diikatkan

·         Salah satu ujung yang bebas lainnya ditarik dan dapat diikatkan pada ikatan atau diikatkan pada tempat lain maupun dapat dibiarkan bebas, hal ini tergantung pada tempat dan kepentingannya.



 

6.      Prosedur Pembidaian

1)      Mempersiapkan alat yang dibutuhkan.

2)      Melepas asesoris pasien sebelum memasang bidai.

3)      Ukur panjang bidai pada sisi kontralateral pasien yang tidak mengalami kelainan.

4)      Pembidaian dilakukan melalui dua sendi dengan tidak terlalu ketat/longgar.

5)      Bungkus bidai dengan pembalut untuk memberikan kenyamanan.

6)      Ikat bidai dengan pembalut di sebelah proksimal dan distal dari tulang yang patah.

Contoh Penggunaan Bidai

a)      Fraktur humerus (patah tulang lengan atas).

·         Meletakkan lengan bawah di dada dengan telapak tangan menghadap ke dalam.

·         Pasang bidai dari siku sampai ke atas bahu.

·         Ikat pada daerah atas dan bawah tulang yang patah. Lengan bawah ditopang.

·         Jika siku patah dan tangan tidak dapat dilipat, pasang spalk ke lengan bawah dan biarkan tangan tergantung. Bawa korban ke rumah sakit.

Gambar Pemasangan bidai pada fraktur humerus

 

b)      Fraktur Antebrachii (patah tulang lengan bawah).

·         Meletakkan tangan pada dada kemudia pasang bidai dari siku sampai punggung tangan.

·         Ikat pada daerah atas dan bawah tulang yang patah.

·         Lengan ditopang.

·         Bawa korban ke rumah sakit


Gambar Pemasangan bidai pada fraktur antebrachii

 

c)      Fraktur clavicula (patah tulang selangka).

·         Bagian yang patah diberi alas.

·         Dipasang ransel verban jika korban tidak dapat mengangkat tangan sampai ke atas bahu dan nyero tekan pada daerah yang patah.

·         Pembalut dipasang dari pundak kiri dan disilangkan melalui punggung ke ketiak kanan kemudian ke depan dan atas pundak kanan.

·         Dari pundak kanan disilangkan ke ketiak kiri kemudian ke pundak kanan hingga  diberi peniti/ diikat. Bawa korban ke rumah sakit.

Gambar Ransel Verban

d)     Fraktur Femur (patah tulang paha).

·         Pasang bidai dari proksimal sendi panggul hingga melalui lutut.

·         Beri bantalan kapas/kain antara bidai dengan tungkai yang patah.

·         Bila perlu ikat kedua kaki di atas lutut menggunakan pembalut untuk mengurangi pergerakan.

·         Bawa korban ke rumah sakit.


Gambar Pemasangan bidai pada fraktur femur

 

e)      Fraktur Cruris (patah tulang tungkai bawah).

·         Pasang bidai sebelah dalam dan sebelah luar tungkai kaki yang patah, kadangjuga bisa ditambahkan pada sisi posterior dari tungkai (syarat : do no harm).

·         Di antara bidai dan tungkai beri kapas atau kain sebagai alas.

·         Bidai dipasang mulai dari sisi proximal sendi lutut hingga distal dari pergelangan kaki.

·         Bawa korban ke rumah sakit.


Gambar Pemasangan bidai pada fraktur cruris

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Berdasarkan seluruh pembahasan yang sudah dijelaskan diatas dapat disimpulkan bahwa balut merupakan suatu benda yang berbentuk kain atau kassa bersih dan digunakan untuk menutup luka, sedangkan pembalutan adalah tindakan menggunakan balut untuk menutup luka atau menghentikan suatu pendarahan agar luka tidak terpapar langsung lingkungan bebas sehingga dapat mencegah terjadinya infeksi. Bidai merupakan alat yang bersifat kaku atau keras yang digunakan pada saat patah tulang, sedangkan pembidaian adalah alat bantu yang digunakan untuk menstabilkan bagian tubuh yang nyeri, bengkak atau biru sehingga dapat mengurangi pergerakan pada bagian tubuh yang cedera. 

Perlu diperhatikan tentang jenis-jenis balut bidai dan prosedur pembalutan dan pembidaian yang baik dan tepat sebelum melakukan balut bidai. Hal ini penting dilakukan untuk mencegah terjadinya kecacatan dan komplikasi lain seperti infeksi karena balutan menggunakan kain yang tidak steril, terhambatnya aliran darah karena pembalutan terlalu kencang, atau mengakibatkan terjadinya luka tekan.

B.     Saran

Dari kesimpulan yang ada saran penulis untuk semua orang yang melakukan balut bidai sebaiknya lakukanlah sesuai dengan prosedur yang baik dan tepat sehingga pembalutan maupun pembidaian yang dilakukan tidak akan mencederai pasien. Jangan panik dalam melakukan pembalutan maupun pembidaian karena pada saat kondisi panik dapat menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran pada diri pasien.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Alfi Fakhrurrizal. (2015). Pengaruh Pembidaian Terhadap Penurunan Rasa Nyeri Pada Pasien Fraktur Tertutup Di Ruang Igd Rumah Sakitumum Daerah A.M, Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 3. No 2. Parikesit Tenggarong.

Asikin, Nasir, M., Podding, M., & Takko, I. (2016). Keperawatan Medical Bedah : Muskuloskeletal. Jakarta: Erlangga.

Iwansyah. (2018). Gini Cara Menggunakan Berbagai Jenis Perban. Diakses pada Kamis, 15 Oktober 2020. Laman : http://suaraliterasiperawatindonesia.blogspot.com/2017/05/gini-cara-menggunakan-berbagai-jenis.html.

Listiana, D., Effendi, dan Oktarina, A. R. (2019). “Pengaruh Pelatihan Balut Bidai Terhadap Pengetahuan dan Keterampilan Siswa/i Pakang Merah Remaja (PMR) di SMA N. 4 Kota Bengkulu”.  CHMK Nursing Scientific Journal. 3(2): 145-156.

Lukman dan Ningsih, N. (2013). Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jakarta : Salemba Medika.

Saputri, Rizka. (2017). “Hubungan Tingkat Pengetahuan Baut Bidai dengn Sikap Pertolongn Pertama Fraktur Pada Mahasiswa Keperawatan”. Skripsi. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Ilmu Keperawatan, Universitas Muhammadiyah, Yogyakarta.

Sari, Dwi Pemtiyanti Aryuna. (2015). “Pengaruh Pelatihan Balut Bidai Terhadap Pengetahuan dan Keterampilan Siswa di SMA Negeri 2 Sleman Yogyakarta”. Skripsi. Program Studi Ilmu Keperawatan, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ‘Aisyiyah, Yogyakarta.

Subandono, Jarot, Maftuhah, A., Nurwati, I., Listiyaningsih, E., Qadrijati, I., Ariningrum, D., Ermawan, E., Mutmainah, Tandiyo, D. K., dan Anaka Agung Alit Kirti. (2019). Pembebatan dan Pembidaian. FK UNS : Surakarta."

Widyaningrum, Widha. (2012). “Pembalutan dan Pembidaian”. Makalah. Program Studi Ilmu Keperawatan, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Jombang.

 



KASUS

 

Pada suatu hari siswa X dan temanya Y mengendarai motor di daerah Jalan Kusuma akan menuju kesebuah toko swalayan. Saat ditengah jalan siswa X dan Y terlihat bercanda dan kurang memperhatikan sekitar. Pada akhirnya ketika ditengah jalan siswa X terkaget saat tiba-tiba melihat seekor kucing yang akan menyebrang. Siswa X Berusaha menghindar dari kucing dengan membelokkan motornya ke kiri, akan tetapi Akibat kurang seimbang motor tersebut oleng dan akhirnya jatuh.

Akibatnya siswa X menderita sakit di bagian kaki kiri nya karena tertimpa beban motor, sedangkan siswa Y menderita siku tangan yang memar dan sakit ketika digerakkan serta kaki kirinya yang kesleo. Orang-orang disekitar berusaha untuk membantu siswa X dan siswa Y dengan melakukan pertolongan pertama.

Tindakan apa yang bisa dilakukan sebagai pertolongan pertama untuk kedua korban?



KUIS
Halo teman-teman, setelah membaca makalah tentang penatalaksanaan balut bidai, kami harap teman-teman bisa mengisi kuis di bawah ini untuk mengasah kembali pengetahuan teman-teman semua.


Terima kasih dan selamat belajar :))


Comments

Popular posts from this blog

MAKALAH DISLOKASI

SINDROM KOMPARTEMEN

Penting! Waspada Gejala Gastritis Sejak Dini