Thypus Abdominalis
1.      Pengertian
Thypus abdominalis merupakan penyakit infeksi akut pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh bakteri Salmonella thyphosa / Erberthella typhosa ditandai gejala demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dan dengan atau tanpa gangguan kesadaran. Umumnya penyakit Thypus abdominalis ini dapat menular melalui makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi tinja yang mengandung bakteri Salmonella typhosa. Sanitasi yang buruk dan keterbatasan akses air bersih, diyakini merupakan penyebab utama berkembangnya penyakit ini. Selain itu, anak-anak lebih sering terserang tifus karena belum sistem kekebalan tubuhnya belum sempurna.

2.      Etiologi
Penyakit ini disebakan oleh infeksi bakteri Salmonella thyphosa / Erberthella typhosa yang merupakan bakteri gram negatif, motil dan tidak menghasilkan spora.  Bakteri ini hidup pada suhu tubuh manusia maupun suhu yang lebih rendah sedikit serta mati pada suhu 70 derajat celcius maupun oleh antiseptik. Bakteri Salmonella typhosa mempunyai tiga macam antigen, yaitu :
  1. Antigen O (Ohne Hauch)
Antigen O  merupakan somatik antigen yang terdapat dinding sel bakteri, 
  1. Antigen H (Hauch)
Antigen ini terdapat pada flagella dan memiliki sifat termolabil.
  1. Antigen V1 (kapsul) 
Antigen V1 merupakan kapsul yang meliputi tubuh kuman dan melindungi O antigen terhadap fagositosis.
Ketiga jenis antigen di atas akan membentuk aglutinin pada tubuh manusia (Rampengan T.H. & Laurentz I.R., 1995).

4.      Patofisiologi
S. typhi masuk tubuh manusia melalui makanan dan air yang tercemar. Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus dan mencapai jaringan limfoid plak Peyeri di ileum terminalis yang hipertrofi. Bila terjadi komplikasi pendarahan dan perforasi intestinal, kuman menembus lamina  propia, masuk aliran limfe mencapai kelenjar limfe mesenterial, dan masuk aliran darah melalui duktus torasikus. s. thypibersarang di plak Peyeri, limpa, hati, dan bagian-bagian lain sistem retikuloendotelial. Endotoksin S. thypi berperan dalam proses inflamasi lokal pada jaringan tempat kuman tersebut berkembang biak. S. thypi dan endotoksinnya merangsang sintesis dan pelepasan zat pirogen dan leukosit pada jaringan yang meradang, sehingga terjadi demam (Arif, 1999).

5.      Manifestasi Klinis
Masa tunas demam tifoid berlangsung antara 10-14 hari. Gejala- gejala yang timbul bervariasi.  gejala yang ditemukan pada minggu pertama umumnya seperti demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak diperut, epitaksis dan batuk serta pada pemeriksaan fisik hanya didapatkan suhu yang meningkat (Sudoyo, dkk., 2009).. Setelah minggu kedua maka gejala menjadi semakin jelas, berupa demam remiten, lidah tifoid, pembesaran hati dan limpa, perasaan tidak nyaman dilambung, pembesaran hati dan limfa, dan dapat disertai gangguan kesadaran dari yang ringan sampai berat (Rampengan T.H. & Laurentz I.R., 1997).       
Menurut Nelwan (2012) pada sebagian kasus ditemukan ruam makular atau makulopapular (rose spots) mulai terlihat pada hari ke 7-10 dan terlihat pada dada bagian bawah dan abdomen pada hari ke 10-15 serta menetap selama 2-3 hari.

6.      Contoh Kasus
Ani, remaja 18 tahun seorang mahasiswi rantau di Universitas X, mengalami perubahan gaya hidup salah satunya adalah pola makan. Ani yang biasanya makan teratur 3 kali sehari, sekarang nafsu makannya berkurang sehingga sudah tidak teratur lagi. Jika ani makan, ia sering membeli makanannya di pinggir jalan tanpa melihat terlebih dahulu kebersihan dari tempat itu. Ani juga sering makan tanpa cuci tangan dulu, sehingga suatu hari tanggal 06 januari 2018 Ani di bawa kerumah sakit dengan kondisi tubuh yang lemah, suhu tubuh yang tidak stabil, Ani merasakan suhu tubuh meningkat dari sore hari ke malam hari dan menurun di pagi hari. Pasien mengatakan sakit kepala, menggigil, mengalami diare selama 3 hari dengan frekuensi 3-5 kali sehari, mual dan muntah, kurang nafsu makan, sehingga ia kekurangan cairan yang cukup banyak. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh perawat didapatkan data mukosa bibir kering dan pucat, T : 39oC, N : 90 x/menit, RR : 22 x/menit, Lidah tampak kotor dan kulit berkeringat

7.      Asuhan Keperawatan

A.  PENGKAJIAN
Tanggal                               : 06 Januari 2018
Jam                                     : 10.00 WIB
1.    Identitas Pasien
Nama                             : Nn. Ani
Usia                               : 18 tahun
Jenis Kelamin                : Perempuan
Pendidikan                    : Mahasiswa
Pekerjaan                                   : Pelajar
Suku Bangsa                  : Indonesia
Agama                           : Islam
Alamat                           : jl. Melati no 1, Purwokerto
Diagnosa Medis             : Demam Thypoid
2.    Pengkajian Primer
Primary Survey  :
1.    Airway
a.    Look         : Pasien dapat berbicara dengan lancar, tidak ada perdarahan.
b.    Listen       : tidak ada gurgling
c.    Feel          : Tidak terdapat tanda-tanda obstruksi jalan napas
2.    Breathing
a.    Look         : RR 22 kali/menit, napas normal
b.    Listen       : suara napas vesikuler
c.    Feel          : Terdengar sonor
3.    Circulation
a.    Look        : Bibir tampak pucat, konjungtiva anemis, ujung-ujung ekstremitas pucat, capillary refile >2 detik.
b.   Listen       : TD 90/80 mmHg, nadi teratur dan cepat.
c.    Feel          : Suhu 390C, nadi teraba cepat 90x/menit, akral dingin.
4.    Exposure
Tidak ada jejas dan fraktur
3.    Pengkajian Sekunder
a.    Riwayat Kesehatan
1)   Keluhan Utama
Suhu tubuh naik ketika malam hari dan turun ketika pagi hari.
2)   Keluhan Tambahan
Pusing, dan badan terasa lemas.
3)   Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke UGD RSUD X tanggal 06 Januari 2018 jam 10.00 WIB dengan keluhan pusing, diare, demam, badan menggigil dan bterasa lemas. Keluhan dirasakan sejak 3 hari yang lalu.
4)   Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengatakan mempunyai riwayat penyakit maag.
5)   Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien mengatakan ada anggota keluarga (bapak) menderita maag kronis.
b.    Pemeriksaan Fisik
1)   Keadaan Umum               : pasien tampak lemah
2)   Tanda-Tanda Vital           : TD:80/70mmHg, N=90x/menit, RR=22x/menit, S=390C.
3)   Head To Toe
a) Kepala    : rambut hitam, tidak ada lesi.
b) Mata      : konjungtiva anemis,
c) Hidung   : tidak terdapat polip, tidak terdapat pengeluaran sekret, lubang hidung simetris, tidak terlihat nafas cuping hidung.
d) Telinga   : tidak terdapat pengeluaran discharge, kedua telinga simetris.
e) Dada      :
Paru
Inspeksi: tidak terdapat retraksi dinding dada, bentuk dada simetris dan normal, pasien bernafas dengan menggunakan pernafasan dada, pernapasan tampak normal..
Palpasi : ekspansi dinding dada simetris.
Perkusi : perkusi dada sonor.
Auskultasi : suara nafas vesikuler
Jantung         
Inspeksi : tidak terdapat lesi, ictus cordis tidak terlihat
Perkusi : suara jantung redup
Palpasi : ictus cordis tidak kuat angkat
Auskultasi: suara jantung S1>S2 reguler terdengar cepat, tidak ada suara tambahan
f) Abdomen         :
Inspeksi: tidak terdapat luka bekas operasi, perut datar.
Auskultasi: bising usus (-).
Palpasi : supel, dan terdapat nyeri tekan diarea usus.
Perkusi: suara timpani diarea perut dan suara pekak diarea hepar.
g) Genitalia
Pasien mengatakan tidak ada keluhan di area genitalia
h) Ekstremitas      :
Tidak ada edema di kaki, akral teraba dingin, ujung-ujung ekstremitas terlihat pucat, capillary refile >2 detik.
  

B.     ANALISIS DATA
Analisa Data
Masalah
Keperawatan
Diagnosa
Keperawatan
Data subjektif :
 Pasien merasa suhu tubuhnya panas ketika sore hari dan malam hari
Data objektif :
-          Suhu : 39oc
-N : 90 x/m
- RR : 22x/m
-     -Berkeringat




Hipertermi




Proses Infeksi
Data Subjektif
- Demam (panas naik  turun).

Data Objektif
- Mukosa bibir kering
- Pasien tampak lemah
- Lidah tampak kotor
- Suhu : 39oc
-N : 90 x/m
- RR : 22x/m
-Berkeringat
Kekurangan volume cairan
Berhubungan dengan asupan cairan yang tidak adekuat.
Data subjektif :
-      Pasien mengatakan tidak nafsu makan, sakit perut, dan diare.
-      Pasien sering membeli makan di pinggir jalan tanpa melihat terlebih dahulu kebersihannya.

Data objektif :
-     Membrane mukosa  pucat.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan  tubuh.
Berhubungan dengan nutrisi yang tidak adekuat.

C.    DIAGNOSIS
1.    Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
2.    Kekurangan volume cairan berhubungan dengan asupan cairan yang tidak adekuat.
3.    Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan nutrisi yang tidak adekuat.
D.    PRIORITAS UTAMA
1.      Hipertremi berhubungan dengan proses infeksi
2.      Kurangnya volume cairan berhubungan dengan kurangnya intake cairan dan peningkatan suhu tubuh.
3.      Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan nutrisi yang tidak adekuat.

E.     INTERVENSI

No.
Diagnosa Keperawatan
Intervensi
Rasional
1.
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3x24 jam
diharapkan masalah Hipertermi
teratasi dengan kriteria hasil :
Indikator
Indikator
Skala awal
tujuan
Suhu normal
4
5
Tidak berkeringat
3
5
Nadi normal
4
5
Frekuensi Nafas Normal
4
5
1.      Berikan kompres dengan teknik TWS
2.      Monitor TTV setiap 3 jam sekali
3.      Anjurkan untuk banyak minum air putih
4.      Anjurkan klien untuk memakai pakaian yang tidak terlalu tebal

1.Vasodilatasi mampu membantu meningkatkan penguapan yang mempercepat penurunan suhu tubuh.
2.Tanda vital merupakan hal yang penting untuk  mengetahui keadaan umum pasien.
3.suhu tubuh yang berbanding lurus dengan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan intake cairan yang banyak.
4.      Pakaian tipis mampu membantu mengurangi penguapan tubuh
2.
Kekurangan volume cairan berhubungan dengan asupan cairan yang tidak adekuat.
Tujuan :   Asupan cairan adekuat dalam jangka waktu 1 x 24 jam
Hasil:
Indikator
Skala awal
tujuan
Turgor kulit
4
5
Intek cairan
2
3
Penurunan tekanan darah
3
5
Nadi cepat dan lemah
3
5
diare
3
4
Suhu tubuh
3
5
1.  Distribusikan cairan selama 24 jam.
2.  Berikan cairan dengan tepat
3.  Monitor tanda-tanda vital pasien
4.  Menitor status hidrasi (misalnya: membran mukosa lembab, denyut nadi adekuat, dan tekanan darah ortostatik)
1.   Menyuplai cairan kedalam tubuh.
2. Memberikan cairan dengan tepat.
3. memantau suhu, nadi, nafas, dan tekanan darah.
4. Menilai membran mukosa lembab, denyut nadi adekuat, dan tekanan darah ortostatik)
3.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan nutrisi yang tidak adekuat.
Tujuan : Asupan nutrisi adekuat dalam jangka waktu 1x24 jam.
Hasil :
Indikator
Skala awal
tujuan
Nafsu makan
3
4
Intek nutrisi
3
4
Keinginan untuk makan
2
4
Mencari makanan
3
4



1.    Kolaborasi dengan orang terdekat pasien dan tim kesehatan lain seperti ahli gizi.
2.    Monitor intek atau asupan dan asupan cairan secara tepat.
3.    monitor asupan kalori makanan harian.
1.      Bekerjasama dengan keluarga pasien dan ahli gizi.
2.      Memantau nutrisi kebutuhan pasien.
Memantau asupan makanan pasien.


DAFTAR PUSTAKA


Arif, Mansjoer., dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: FKUI.

Nelwan, RHH. 2012.Tata Laksana Terkini Demam Tifoid. Continuing Medical Education. 39 (4): 247-250.

Rampengan T.H., dan Laurentz I.R. 1995. Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak. Jakarta: EGC.

Sudoyo, Setiati, S., AW., Stiyohadi B, Syam AF, Alwi I,. 2010. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing.

Comments

  1. saya ingin bertanya, bagaimana cara untuk membantu memulihkan penderita tifus abdominalis bagi orang awam (misalnya dengan mengonsumsi makanan atau minuman tertentu mungkin)? Terimakasih..

    ReplyDelete
  2. Bagaimana epidemologi penyakit thypus di indonesia?

    ReplyDelete
  3. Dari pengalaman saya, ada beberapa orang yang meninggal akibat penyakit typus, Bagaimana penyakit thypus bisa menyebabkan kematian?

    ReplyDelete
  4. terimakasih infonya, sangat bermanfaat

    ReplyDelete
  5. Infonya sangat membantu kakak.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

MAKALAH DISLOKASI

SINDROM KOMPARTEMEN

Penting! Waspada Gejala Gastritis Sejak Dini